alexametrics
28.8 C
Denpasar
Saturday, May 28, 2022

Tradisi Perang Api Padangbulia, Simbol Meredam Amarah Dalam Diri

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Malam pengrupukan atau sehari sebelum sipeng, para pemuda akan berkumpul di jalan. Mereka menggunakan kain dan ikat kepala bercorak poleng. Para pemuda itu pun dilengkapi dengan senjata berupa daun kelapa kering yag diikat menyerupai sapu. Nantinya daun kelapa yang disebut danyuh itu dibakar dan bersiaplah para pemuda itu untuk berperang.

 

Tradisi Amuk- amukan atau perang api di Desa Padangbulia, Kecamatan Sukasada, Buleleng ini mengandung makna filosofi yang tinggi. Tradisi ini dilakukan sebelum perayaan Hari Raya Nyepi agar dalam pelaksanaan Nyepi tidak tersimpan amarah dan dendam. Sebelum melakukan tradisi amuk-amukan terlebih dahulu dipastikan jika yang akan melakukan tradisi ini tidak memiliki sentiment pribadi. Dalam melakukan tradisi amuk-amukan dilakukan dengan melibatkan 2 (dua) orang dalam pertarungan dengan mengadu api dari danyuh yang dibakar.

 

Senjata danyuh yang tersulut api memiliki nilai filosofis yakni amarah yang muncul dari dalam diri manusia. Danyuh yang dibakar apinya membesar, kemudian mati dengan cepat. Hal tersebut mempunyai makna agar sebagai manusia tidak menyimpan amarah dan dendam yang lama. “Ini dilakukan setelah upacara pecaruan sehri sebelum Nyepi dimulai. Atau sebelum sipeng,” ujar Perbekel Desa Padangbulia, I Gusti Nyoman Suparwata.

 

Tempat dan waktu pelaksanaan tradisi ini tergolong unik, pelaksanaan tradisi ini dilakukan di jalan raya dan di depan pintu gerbang warga serta waktunya adalah pada saat sandikala usai masyarakat melakukan pecaruan di rumah masing-masing.

Tradisi amuk-amukan tidak mengenal istilah menang atau kalah, semua yang terlibat dalam tradisi ini berada pada suasana kegembiraan, rasa persatuan dalam menyongsong Hari Raya Nyepi. Danyuh yang dibakar ini sebagai cerminan simbol Dewa Agni. Masyarakat Desa Padangbulia percaya bahwa dengan melakukan tradisi ini akan dapat mengusir kekuatan negatif saat perayaan Hari Raya Nyepi. “Untuk menetralisir roh-roh jahat yang mengganggu. Baik masuk ke dalam diri maupun di luar diri,” tambahnya.

 

Sebagai sebuah tradisi di Desa Padangbulia, amuk-amukan mengandung nilai-nilai yang dapat dijadikan pedoman dan diwariskan kepada generasi muda. Nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi ini secara umum meliputi nilai religius dan nilai sosial. Nilai religius yang terkandung dalam tradisi amuk-amukan ini adalah dengan kepercayaan dengan melakukan tradisi ini dapat melenyapkan amarah dan dendam menjelang perayaan Hari Raya Nyepi, sehingga dalam perayaan Hari Raya Nyepi berlangsung dengan baik. Sedangkan nilai sosial yang terkandung dalam tradisi ini adalah kebersamaan, pengendalian diri dan tanggung jawab. Nilai kebersamaan dapat terlihat saat masyarakat Desa Padangbulia mempersiapkan pelaksanaan tradisi ini dengan cara gotong royong.

 

Nilai pengendalian diri dapat terlihat pada pelaksanaan tradisi ini, tradisi ini dilakukakan dengan pertempuran api dengan menggunakan sarana danyuh, namun dengan pengendalian diri yang kuat tidak ada satupun ada masyarakat yang terluka karena tradisi ini dilakukan tanpa rasa amarah dan dendam.

 

Nilai tanggung jawab juga dapat terlihat dari pelaksanaan tradisi amuk-amukan ini yang tetap dilaksanakan setiap tahunnya, masyarakat tetap bertanggung jawab dalam melestarikan tradisi ini turun-temurun sehingga tradisi yang penuh dengan filosofi dan nilai-nilai positif ini tetap terjaga dan terlestarikan dengan baik.

 

Tradisi ini pun telah diusulkan oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) nasional. Pengajuannya kini telah sampai ke Kemdikbud RI melalui Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. “Tahun ini ada lima yang diusulkan. Salah satunya adalah perang api atau amuk-amukan ini,” kata Kabid Sejarah dan Cagar Budaya, Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Gede Angga Prasaja.

 

Adapun tradisi lainnya selain perang api adalah, Sampi Gerumbungan Buleleng,  Gula Pedawa Buleleng, Mengarak Sokok Desa Pegayaman, Mejaran-Jaranan Banyuning.






Reporter: Dian Suryantini

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Malam pengrupukan atau sehari sebelum sipeng, para pemuda akan berkumpul di jalan. Mereka menggunakan kain dan ikat kepala bercorak poleng. Para pemuda itu pun dilengkapi dengan senjata berupa daun kelapa kering yag diikat menyerupai sapu. Nantinya daun kelapa yang disebut danyuh itu dibakar dan bersiaplah para pemuda itu untuk berperang.

 

Tradisi Amuk- amukan atau perang api di Desa Padangbulia, Kecamatan Sukasada, Buleleng ini mengandung makna filosofi yang tinggi. Tradisi ini dilakukan sebelum perayaan Hari Raya Nyepi agar dalam pelaksanaan Nyepi tidak tersimpan amarah dan dendam. Sebelum melakukan tradisi amuk-amukan terlebih dahulu dipastikan jika yang akan melakukan tradisi ini tidak memiliki sentiment pribadi. Dalam melakukan tradisi amuk-amukan dilakukan dengan melibatkan 2 (dua) orang dalam pertarungan dengan mengadu api dari danyuh yang dibakar.

 

Senjata danyuh yang tersulut api memiliki nilai filosofis yakni amarah yang muncul dari dalam diri manusia. Danyuh yang dibakar apinya membesar, kemudian mati dengan cepat. Hal tersebut mempunyai makna agar sebagai manusia tidak menyimpan amarah dan dendam yang lama. “Ini dilakukan setelah upacara pecaruan sehri sebelum Nyepi dimulai. Atau sebelum sipeng,” ujar Perbekel Desa Padangbulia, I Gusti Nyoman Suparwata.

 

Tempat dan waktu pelaksanaan tradisi ini tergolong unik, pelaksanaan tradisi ini dilakukan di jalan raya dan di depan pintu gerbang warga serta waktunya adalah pada saat sandikala usai masyarakat melakukan pecaruan di rumah masing-masing.

Tradisi amuk-amukan tidak mengenal istilah menang atau kalah, semua yang terlibat dalam tradisi ini berada pada suasana kegembiraan, rasa persatuan dalam menyongsong Hari Raya Nyepi. Danyuh yang dibakar ini sebagai cerminan simbol Dewa Agni. Masyarakat Desa Padangbulia percaya bahwa dengan melakukan tradisi ini akan dapat mengusir kekuatan negatif saat perayaan Hari Raya Nyepi. “Untuk menetralisir roh-roh jahat yang mengganggu. Baik masuk ke dalam diri maupun di luar diri,” tambahnya.

 

Sebagai sebuah tradisi di Desa Padangbulia, amuk-amukan mengandung nilai-nilai yang dapat dijadikan pedoman dan diwariskan kepada generasi muda. Nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi ini secara umum meliputi nilai religius dan nilai sosial. Nilai religius yang terkandung dalam tradisi amuk-amukan ini adalah dengan kepercayaan dengan melakukan tradisi ini dapat melenyapkan amarah dan dendam menjelang perayaan Hari Raya Nyepi, sehingga dalam perayaan Hari Raya Nyepi berlangsung dengan baik. Sedangkan nilai sosial yang terkandung dalam tradisi ini adalah kebersamaan, pengendalian diri dan tanggung jawab. Nilai kebersamaan dapat terlihat saat masyarakat Desa Padangbulia mempersiapkan pelaksanaan tradisi ini dengan cara gotong royong.

 

Nilai pengendalian diri dapat terlihat pada pelaksanaan tradisi ini, tradisi ini dilakukakan dengan pertempuran api dengan menggunakan sarana danyuh, namun dengan pengendalian diri yang kuat tidak ada satupun ada masyarakat yang terluka karena tradisi ini dilakukan tanpa rasa amarah dan dendam.

 

Nilai tanggung jawab juga dapat terlihat dari pelaksanaan tradisi amuk-amukan ini yang tetap dilaksanakan setiap tahunnya, masyarakat tetap bertanggung jawab dalam melestarikan tradisi ini turun-temurun sehingga tradisi yang penuh dengan filosofi dan nilai-nilai positif ini tetap terjaga dan terlestarikan dengan baik.

 

Tradisi ini pun telah diusulkan oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) nasional. Pengajuannya kini telah sampai ke Kemdikbud RI melalui Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. “Tahun ini ada lima yang diusulkan. Salah satunya adalah perang api atau amuk-amukan ini,” kata Kabid Sejarah dan Cagar Budaya, Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Gede Angga Prasaja.

 

Adapun tradisi lainnya selain perang api adalah, Sampi Gerumbungan Buleleng,  Gula Pedawa Buleleng, Mengarak Sokok Desa Pegayaman, Mejaran-Jaranan Banyuning.






Reporter: Dian Suryantini

Most Read

Artikel Terbaru

/