alexametrics
26.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

63 Sawa Iringi Palebon Ida Pedanda Istri Putra Kemenuh

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Griya Gede Banjar, Dusun Banjar Melanting, Desa/Kecamatan Banjar, Buleleng melangsungkan upacara Palebon Ida Pedanda Istri Putra Kemenuh, Minggu (3/4) siang. Dalam Pangabenan tersebut, juga diiringi 63 sawa yang berasal dari sisia maupun yang masiwa di griya setempat.

Sebanyak sembilan Bade (wadah) dan belasan lembu digunakan dalam upacara ini. Dengan rincian sebanyak delapan bade merupakan pengiringnya dan satu Bade sebagai palinggihan dari pamucuk layon, Ida Pedanda Istri Putra Kemenuh.

Sembilan Bade tersebut berjejer di depan Griya Gede Banjar. Sebelum berjalan ke Setra, diawali dengan Pegat Sot, Caru Tedun Sawa. Ada pula Tari Baris Dapdap, ngunggahang layon ke palinggihan.

Ribuan krama tumpah ruah mengikuti prosesi upacara ini. Begitu juga masyarakat yang menonton prosesi berjejer hampir sepanjang dua kilometer, dari jarak Griya Gede Banjar menuju ke Setra (makan). Tepat pukul 12.00, satu persatu Bade, Lembu (petulangan) yang merupakan sawa pengiringnya berjalan menuju setra. Sedangkan palinggihan pamucuk layon, Ida Pedanda Istri Putra Kemenuh berjalan paling akhir.

BANJAR : Griya Gede Banjar, Dusun Banjar Melanting, Desa/Kecamatan Banjar, Buleleng melangsungkan upacara Palebon Ida Pedanda Istri Putra Kemenuh, Minggu (3/4) kemarin. Putu Mardika/Bali Express.

Palinggihan (Bade) ini berbeda dibandingkan bade yang lainnya. Dari sisi ornamennya, menyerupai padma yang terbuka di bagian atasnya dengan warna kuning keemasan. Selama perjalanan menuju ke Setra, palinggihan mendiang Ida Pedanda Istri Putra Kemenuh diiringi dengan gambelan gender.

Sekretaris Manggala Karya (Panitia) Pelebon Geria Gede Banjar Ida Bagus Wika Krishna mengatakan, Ida Pedanda Istri Putra Kemenuh lebar (wafat) 15 Februari 2022 lalu. Istri dari almarhum Ida Pedanda Putra Kemenuh ini lebar di usia 94 tahun.

“Sudah menjadi tradisi kalau ada pendeta yang meninggal di Griya Gede Banjar, biasanya menunggu ada yang ngiring. Setelah rapat keluarga besar Griya Gede Banjar bersama sisia diputuskan yang ngiring sekitar 63 sawa. Semuanya berasal dari Desa Banjar,” ujar pria yang akrab disapa Gus Wika.

Prosesi Palebonnya dimulai dari negem dewasa pada 22 Maret lalu. Pada 24 Maret dilanjutkan dengan ngaturang rayunan atau Rsi Bojana ring Ida Pedanda se-Kabupaten Buleleng.

Kemudian pada 28 Maret, dilanjutkan dengan prosesi ngarapuh, mamitang ke Pura Dalem mungkah, meseh lawang, ngajum ukur, malaspas eteh-etehan pasucian.

Sedangkan pada Sabtu (2/4) dilanjutkan dengan prosesi nunas toya ning, padeengan, narpana lan penebusan, melaspas palinggihan.

“Prosesinya memang panjang. Mulai dari rapat keluarga besar, mapiuning, mengikat janji untuk mensukseskan acara sekala dan niskala lewat majauman, dengan tuntunan bhatara-bhatari yang berstana di Merajan Griya Gede Banjar, ” imbuhnya.

Setelah Palebon dilaksanakan, masih ada rentetan upacara yang akan berlangsung. Yakni pada Senin (4/4) dilanjutkan dengan upacara Nyegara Gunung yang pada malam harinya diteruskan dengan upacara Ngingkup.

Selanjutnya pada Rabu (6/4) dilanjutkan dengan upacara Ngadegang dalam rangka Majar-ajar di Dang Kahyangan Buleleng, dan keliling Pura Sad Kahyangan di Bali.

Kemudian Sabtu (9/4) dilanjutkan dengan upacara Ngingkup. “Untuk pamuput karya pamucuknya dari Ida Pedanda Istri Rai dari Griya Gede Banjar. Tetapi karena rangkaian sangat panjang, banyak putra dharma dari Griya Gede Banjar secara bergilir muput upacara yang tersebar di seluruh Bali,” katanya.

Ida Bagus Wika Krisnha mengatakan, secara umum ada perbedaan upacara Palebon antara sulinggih dan walaka dari sisi upacara. Apabila walaka (orang biasa) saat meninggal biasanya bisa tidak langsung ngaben. Sebab, masih bisa Ngingkup atau Makingsan di geni. Sedangkan kalau sulinggih yang lebar (wafat) langsung dibuatkan upacara pelebon. Hal ini tidak lepas lantaran sulinggih tersebut telah Madwijati.

“Prosesi upacara lebar seorang sulinggih berbeda dengan walaka, karena seorang sulinggih telah terlebih dulu melaksanakan upacara yang disebut Madiksa, atau disebut dengan Dwijati (lahir dua kali),” imbuhnya.

Dikatakannya, lahir dua kali ini maksudnya, pertama lahir dari rahim (garbha) seorang ibu, dan yang kedua adalah lahir melalui proses dari seorang nabe atau guru. Sehingga disebut pula lahir dari ilmu pengetahuan. Sedangkan, yang walaka hanya lahir dari rahim seorang ibu.

Pihaknya pun tidak memungkiri jika prosesnya memang perlu waktu yang panjang. Sebab, dari awal lebar, maka di keluarga besar harus ada rapat untuk mengundang sisia, ada kepastian siapa ngiring, kemudian beberapa dadia yang akan maturan, wadah, lembu untuk palinggihan Ida Peranda. Selama proses Palebonan, yang terlibat memang semeton, sisia yang masiwa di Griya Gede Banjar. “Memang sudah dibagi untuk ngayahnya. Termasuk yang negen wadah adalah sisia dari Griya Gede,” sebutnya.

Terkait kiprah almarhum Ida Pedanda Istri Putra Kemenuh yang lebar saat ini merupakan istri dari mendiang Ida Pedanda Putra Kemenuh, keduanya memang sudah malinggih sejak 1958.

“Beliau (yang lebar) adalah istri dari Ida Pedanda Putra Kemenuh, yang dahulu menjadi Ketua PHDI Pusat masa bakti 1968-1973. Sedangkan Ida Pedanda Putra Kemenuh lebar di tahun 1980,” pungkasnya.

 






Reporter: I Putu Mardika

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Griya Gede Banjar, Dusun Banjar Melanting, Desa/Kecamatan Banjar, Buleleng melangsungkan upacara Palebon Ida Pedanda Istri Putra Kemenuh, Minggu (3/4) siang. Dalam Pangabenan tersebut, juga diiringi 63 sawa yang berasal dari sisia maupun yang masiwa di griya setempat.

Sebanyak sembilan Bade (wadah) dan belasan lembu digunakan dalam upacara ini. Dengan rincian sebanyak delapan bade merupakan pengiringnya dan satu Bade sebagai palinggihan dari pamucuk layon, Ida Pedanda Istri Putra Kemenuh.

Sembilan Bade tersebut berjejer di depan Griya Gede Banjar. Sebelum berjalan ke Setra, diawali dengan Pegat Sot, Caru Tedun Sawa. Ada pula Tari Baris Dapdap, ngunggahang layon ke palinggihan.

Ribuan krama tumpah ruah mengikuti prosesi upacara ini. Begitu juga masyarakat yang menonton prosesi berjejer hampir sepanjang dua kilometer, dari jarak Griya Gede Banjar menuju ke Setra (makan). Tepat pukul 12.00, satu persatu Bade, Lembu (petulangan) yang merupakan sawa pengiringnya berjalan menuju setra. Sedangkan palinggihan pamucuk layon, Ida Pedanda Istri Putra Kemenuh berjalan paling akhir.

BANJAR : Griya Gede Banjar, Dusun Banjar Melanting, Desa/Kecamatan Banjar, Buleleng melangsungkan upacara Palebon Ida Pedanda Istri Putra Kemenuh, Minggu (3/4) kemarin. Putu Mardika/Bali Express.

Palinggihan (Bade) ini berbeda dibandingkan bade yang lainnya. Dari sisi ornamennya, menyerupai padma yang terbuka di bagian atasnya dengan warna kuning keemasan. Selama perjalanan menuju ke Setra, palinggihan mendiang Ida Pedanda Istri Putra Kemenuh diiringi dengan gambelan gender.

Sekretaris Manggala Karya (Panitia) Pelebon Geria Gede Banjar Ida Bagus Wika Krishna mengatakan, Ida Pedanda Istri Putra Kemenuh lebar (wafat) 15 Februari 2022 lalu. Istri dari almarhum Ida Pedanda Putra Kemenuh ini lebar di usia 94 tahun.

“Sudah menjadi tradisi kalau ada pendeta yang meninggal di Griya Gede Banjar, biasanya menunggu ada yang ngiring. Setelah rapat keluarga besar Griya Gede Banjar bersama sisia diputuskan yang ngiring sekitar 63 sawa. Semuanya berasal dari Desa Banjar,” ujar pria yang akrab disapa Gus Wika.

Prosesi Palebonnya dimulai dari negem dewasa pada 22 Maret lalu. Pada 24 Maret dilanjutkan dengan ngaturang rayunan atau Rsi Bojana ring Ida Pedanda se-Kabupaten Buleleng.

Kemudian pada 28 Maret, dilanjutkan dengan prosesi ngarapuh, mamitang ke Pura Dalem mungkah, meseh lawang, ngajum ukur, malaspas eteh-etehan pasucian.

Sedangkan pada Sabtu (2/4) dilanjutkan dengan prosesi nunas toya ning, padeengan, narpana lan penebusan, melaspas palinggihan.

“Prosesinya memang panjang. Mulai dari rapat keluarga besar, mapiuning, mengikat janji untuk mensukseskan acara sekala dan niskala lewat majauman, dengan tuntunan bhatara-bhatari yang berstana di Merajan Griya Gede Banjar, ” imbuhnya.

Setelah Palebon dilaksanakan, masih ada rentetan upacara yang akan berlangsung. Yakni pada Senin (4/4) dilanjutkan dengan upacara Nyegara Gunung yang pada malam harinya diteruskan dengan upacara Ngingkup.

Selanjutnya pada Rabu (6/4) dilanjutkan dengan upacara Ngadegang dalam rangka Majar-ajar di Dang Kahyangan Buleleng, dan keliling Pura Sad Kahyangan di Bali.

Kemudian Sabtu (9/4) dilanjutkan dengan upacara Ngingkup. “Untuk pamuput karya pamucuknya dari Ida Pedanda Istri Rai dari Griya Gede Banjar. Tetapi karena rangkaian sangat panjang, banyak putra dharma dari Griya Gede Banjar secara bergilir muput upacara yang tersebar di seluruh Bali,” katanya.

Ida Bagus Wika Krisnha mengatakan, secara umum ada perbedaan upacara Palebon antara sulinggih dan walaka dari sisi upacara. Apabila walaka (orang biasa) saat meninggal biasanya bisa tidak langsung ngaben. Sebab, masih bisa Ngingkup atau Makingsan di geni. Sedangkan kalau sulinggih yang lebar (wafat) langsung dibuatkan upacara pelebon. Hal ini tidak lepas lantaran sulinggih tersebut telah Madwijati.

“Prosesi upacara lebar seorang sulinggih berbeda dengan walaka, karena seorang sulinggih telah terlebih dulu melaksanakan upacara yang disebut Madiksa, atau disebut dengan Dwijati (lahir dua kali),” imbuhnya.

Dikatakannya, lahir dua kali ini maksudnya, pertama lahir dari rahim (garbha) seorang ibu, dan yang kedua adalah lahir melalui proses dari seorang nabe atau guru. Sehingga disebut pula lahir dari ilmu pengetahuan. Sedangkan, yang walaka hanya lahir dari rahim seorang ibu.

Pihaknya pun tidak memungkiri jika prosesnya memang perlu waktu yang panjang. Sebab, dari awal lebar, maka di keluarga besar harus ada rapat untuk mengundang sisia, ada kepastian siapa ngiring, kemudian beberapa dadia yang akan maturan, wadah, lembu untuk palinggihan Ida Peranda. Selama proses Palebonan, yang terlibat memang semeton, sisia yang masiwa di Griya Gede Banjar. “Memang sudah dibagi untuk ngayahnya. Termasuk yang negen wadah adalah sisia dari Griya Gede,” sebutnya.

Terkait kiprah almarhum Ida Pedanda Istri Putra Kemenuh yang lebar saat ini merupakan istri dari mendiang Ida Pedanda Putra Kemenuh, keduanya memang sudah malinggih sejak 1958.

“Beliau (yang lebar) adalah istri dari Ida Pedanda Putra Kemenuh, yang dahulu menjadi Ketua PHDI Pusat masa bakti 1968-1973. Sedangkan Ida Pedanda Putra Kemenuh lebar di tahun 1980,” pungkasnya.

 






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru

/