alexametrics
26.8 C
Denpasar
Tuesday, June 28, 2022

Kembalikan Fungsi Pemujaan Dang Kahyangan dan Sadh Kahyangan

BULELENG, BALI EXPRESS – Pura di Bali umumnya dibangun sebagai ruang melaksanakan ritual Panca Yadnya. Namun saat ini justru tak sedikit masyarakat di Bali masih bingung dengan perbedaan Sadh Kahyangan dan Dang Kahyangan. Apa bedanya?

Sadh Kahyangan dan Dang Kahyangan jelas beda peruntukannya. Apabila tujuannya menfasilitasi atau ruang Rsi Yadnya itu adalah Dang Kahyangan. Kalau memuja para Dewata itu Sadh Kahyangan.

Filolog Sugi Lanus menjelaskan, kata Sadh dalam Sadh Kahyangan berarti utama. Dewa yang dipuja di pura yang tergolong Sadh Kahyangan adalah Dewata Nawasanga dengan upacaranya Dewa Yadnya.

Sedangkan Pura Dang Kahyangan, lanjut Sugi Lanus, kata Dang berarti Rsi atau guru suci. Di pura ini yang dipuja adalah Rsi Puja atau Sapta Rsi penerima wahyu Weda dan pembawa ajaran suci. Kemudian upacaranya adalah Rsi Yadnya.

Selanjutnya jenis Pura Kawitan yang merupakan tempat memuja para leluhur suci. Ritualnya disebut dengan Pitra Yadnya. Kemudian tempat suci yang ada di rumah dan sanggah-mrajan merupakan tempat melaksanakan ritual Manusia Yadnya. Sedangkan di pempatan agung atau catus pata (persimpangan) sebagai tempat melaksanaan upacara Bhuta Yadnya.

Sugi Lanus menyebut agar manusia Hindu Bali lebih dekat ke ajaran para Rsi maka kuncinya haruslah mengembalikan fungsi Pura Dang Kahyangan ke pemujaan. Sebab Pura Dang kahyangan memiliki fungsi pembelajaran acara suci. “Karena kalau dilihat sejarahnya, maka Pura Dang Kahyangan itu adalah umumnya punya jejak pasraman suci para mpu pada era Bali kuno. Umumnya disebut Pura Rsi dan Panyiwian para Dang Guru,” ungkapnya.

Ia menyebutkan, Pura Rsi, Pura Kahyagan, Pura Panyiwian Danghyang itu adalah Dang Kahyangan yang sudah ada sejak era Bali kuno. Keberadaan tempat suci ini dahulu memang difungsikan sebagai pusat atau sentral pembelajaran di masa Bali Kuno.

Pura Dang Kahyangan itu umumnya ada jejaknya, sebelum Dang Hyang Nirartha datang ke Bali. Setelah dikunjungi oleh Dang Hyang Nirartha, barulah direstorasi setelah mendapat petunjuk Dang Hyang Nirartha. “Jadi banyak yang sebenarnya telah ada sebelum kedatangan Dang Hyang Nirartha,” paparnya.

Karena dilakukan restorasi atau pemugaran, secara umum masyarakat Bali menyebut pura-pura tersebut peninggalan Dang Hyang Nirartha. Hal itu tidaklah salah. Tetapi telah ada situs suci di tempat yang dikunjungi oleh Dang Hyang Nirartha.

Dang Hyang Nirartha kemudian melakukan pendataan keberadaan Pura Dang Kahyangan di pesisir Bali. Kemungkinan tujuannya untuk menghidupkan kembali tradisi suci pengetahuan yang ditinggalkan para Rsi-Mpu sebelum kedatangannya di Bali.

Sejatinya, keberadaan Pura Dang Kahyangan memang menjadi perhatian besar Dang Hyang Nirartha.“Ini dilakukan dalam rangka kembali membuka tradisi suci pemujaan para Rsi terdahulu yang telah membawa ajaran suci ke Bali.






Reporter: I Putu Mardika

BULELENG, BALI EXPRESS – Pura di Bali umumnya dibangun sebagai ruang melaksanakan ritual Panca Yadnya. Namun saat ini justru tak sedikit masyarakat di Bali masih bingung dengan perbedaan Sadh Kahyangan dan Dang Kahyangan. Apa bedanya?

Sadh Kahyangan dan Dang Kahyangan jelas beda peruntukannya. Apabila tujuannya menfasilitasi atau ruang Rsi Yadnya itu adalah Dang Kahyangan. Kalau memuja para Dewata itu Sadh Kahyangan.

Filolog Sugi Lanus menjelaskan, kata Sadh dalam Sadh Kahyangan berarti utama. Dewa yang dipuja di pura yang tergolong Sadh Kahyangan adalah Dewata Nawasanga dengan upacaranya Dewa Yadnya.

Sedangkan Pura Dang Kahyangan, lanjut Sugi Lanus, kata Dang berarti Rsi atau guru suci. Di pura ini yang dipuja adalah Rsi Puja atau Sapta Rsi penerima wahyu Weda dan pembawa ajaran suci. Kemudian upacaranya adalah Rsi Yadnya.

Selanjutnya jenis Pura Kawitan yang merupakan tempat memuja para leluhur suci. Ritualnya disebut dengan Pitra Yadnya. Kemudian tempat suci yang ada di rumah dan sanggah-mrajan merupakan tempat melaksanakan ritual Manusia Yadnya. Sedangkan di pempatan agung atau catus pata (persimpangan) sebagai tempat melaksanaan upacara Bhuta Yadnya.

Sugi Lanus menyebut agar manusia Hindu Bali lebih dekat ke ajaran para Rsi maka kuncinya haruslah mengembalikan fungsi Pura Dang Kahyangan ke pemujaan. Sebab Pura Dang kahyangan memiliki fungsi pembelajaran acara suci. “Karena kalau dilihat sejarahnya, maka Pura Dang Kahyangan itu adalah umumnya punya jejak pasraman suci para mpu pada era Bali kuno. Umumnya disebut Pura Rsi dan Panyiwian para Dang Guru,” ungkapnya.

Ia menyebutkan, Pura Rsi, Pura Kahyagan, Pura Panyiwian Danghyang itu adalah Dang Kahyangan yang sudah ada sejak era Bali kuno. Keberadaan tempat suci ini dahulu memang difungsikan sebagai pusat atau sentral pembelajaran di masa Bali Kuno.

Pura Dang Kahyangan itu umumnya ada jejaknya, sebelum Dang Hyang Nirartha datang ke Bali. Setelah dikunjungi oleh Dang Hyang Nirartha, barulah direstorasi setelah mendapat petunjuk Dang Hyang Nirartha. “Jadi banyak yang sebenarnya telah ada sebelum kedatangan Dang Hyang Nirartha,” paparnya.

Karena dilakukan restorasi atau pemugaran, secara umum masyarakat Bali menyebut pura-pura tersebut peninggalan Dang Hyang Nirartha. Hal itu tidaklah salah. Tetapi telah ada situs suci di tempat yang dikunjungi oleh Dang Hyang Nirartha.

Dang Hyang Nirartha kemudian melakukan pendataan keberadaan Pura Dang Kahyangan di pesisir Bali. Kemungkinan tujuannya untuk menghidupkan kembali tradisi suci pengetahuan yang ditinggalkan para Rsi-Mpu sebelum kedatangannya di Bali.

Sejatinya, keberadaan Pura Dang Kahyangan memang menjadi perhatian besar Dang Hyang Nirartha.“Ini dilakukan dalam rangka kembali membuka tradisi suci pemujaan para Rsi terdahulu yang telah membawa ajaran suci ke Bali.






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru

/