alexametrics
29.8 C
Denpasar
Wednesday, May 25, 2022

Penggunaan Kain Bebali dalam Proses Kehidupan Manusia

Kain bebali merupakan kain yang sangat erat kaitannya dengan upacara spiritual keagamaan dan kepercayaan bagi masyarakat di Bali. Kain Bebali ini tidaklah sama dengan kain Bali lainnya. Meskipun proses pembuatannya sama dengan kain songket atau tenun endek lainnya.

 

APA yang membedakan tersebut, tak lain karena kain Bebali dibuat dengan motif serta bahan tertentu, sehingga setiap sulamannya mengandung makna untuk kesejahteraan mahluk hidup di dunia. Seperti apa penggunaan kain bebali ini?

 

Ida Ayu Ngurah Puniari, Penyusun Buku Makna dan Pemakaian Kain Bebali Dalam Upacara Agama Hindu menyebutkan, kain Bebali berfungsi sebagian besar sebagai sarana dalam pelaksanaan upacara yadnya, baik dipakai sebagai pakaian palinggih, pelengkap upakara (sarana upacara), juga dipergunakan sebagai pakaian orang yang akan diupacarai. “Khusus untuk upacara Manusa Yadnya, kain Bebali tidak saja berfungsi sebagai pakaian orang yang akan diupacarai, namun ada makna lainnya,” jelasnya.

 

Dalam upacara Manusa Yadnya, yakni upacara yang bertujuan untuk membersihkan diri manusia secara lahir dan bathin, serta memelihara secara rohaniaha hidup manusia, mulai dari terwujudnya jasmaniah di dalam kandungan sampai akhir dari hidup manusia tersebut.

 

Karena dalam kepercayaan Agama Hindu tentang proses kelahiran kembali atau yang dikenal dengan nama Punarbawa. Sehingga dalam proses menjelma kembali ini, dapat dianggap sebagai satu kesempatan bagi manusia Hindu kembali untuk memperbaiki kesalahannya di kehidupan sebelumnya.

Karena itu, ketika seorang manusia dilahirkan kembali, Dayu Puniari menyebutkan, ada hasil karma atau hasil dari perbuatannya di kehidupan yang terdahulu. Sehingga pada akhirnya dapat mencapai kesempurnaan hidup yang sejati, yaitu menjelma kembali tetap dapat bersatu kembali dengan Tuhan Yang Maha Esa.

 

Dalam upacara Manusa Yadnya ini, jenis kain Bebali yang digunakan adalah jenis kain yang melambangkan kekuatan. “Sehingga manusia sebagai penggunanya bisa memiliki kekuatan dalam menghadapi proses panjang kehidupannya, mulai dari di dalam kandungan ibunya hingga akhir masa hidupnya,” paparnya.

 

Dalam upacara Manusa Yadnya, penggunaan kain Bebali ini sudah dimulai sejak manusia ada di dalam kandungan ibunya yakni pada upacara megedong-gedongan. Selanjutnya adalah ketika proses terlepasnya tali pusar ketika sang bayi lahir ke dunia menggunakan kain bebali yakni kain Atu-Atu. Jika dilihat dari arti kain ini yakni kekuatan, maka dengan menggunakan kain ini diharapkan si bayi bisa memperoleh kekuatan dalam menghadapi kerasnya kehidupan.

 

Setelah proses terlepasnya tali pusar, upacara yang menggunakan kain Bebali dalam proses kehidupan sang anak adalah pada saat anak tersebut berusia 42 hari, yang berfungsi sebagai upacara pembersihan bagi raga sarira si bayi dan sang ibu. Saat upacara ini, si bayi dipakaikan kain Bebali dengan motif Urab Tebu, yakni kain dengan motif putih kunin. Jika dilihat maknanya, kain putih kuning ini melambangkan kesucian.

 

Selanjutnya adalah upacara weton, ketika si bayi berusia 210 hari atau enam bulan. Saat usia ini, si bayi sudah layak dianggap untuk menapak pertiwi. Sehingga pada masa ini, si bayi dibuatkan upacara yang lebih besar lagi. Saat melangsungkan upacara ini, si bayi bakal dipakaikan kain Bebali Sukawerdhi dengan menggunakan sabuk mas sebagai sabuknya. “Selain itu juga digunakan kain Pitola sutra yang diyakini sebagai kain yang bisa menolak bahaya. Karena diyakini kain ini memiliki kekuatan untuk menangkal bahaya dan juga sebagai obat untuk penyakit niskala,” lanjutnya.

 

Setelah proses weton, upacara untuk seorang anak berlanjut ke tingkatan selanjutnya yakni upacara Munggah Deha (upacara meningkat dewasa). Untuk tahap ini seorang anak dibuatkan upacara berdasarkan jenis kelaminnya, yakni upacara Ngeraja Sewala untuk anak perempuan, dan Ngeraja Singa untuk anak laki-laki.

 

Inti dari kedua upacara ini sama, yakni dimana seorang anak tersebut dianggap sudah dewasa, dan Sang Hyang Semara Ratih sebagai manifestasi Tuhan dalam wujud Dewi Cinta Kasih sudah mulai bersemayam pada jiwa sang anak.

 

Untuk upacara ini, sang anak dipakaikan kain bebali dengan motif Padang Dreman. Jika dilihat dari maknanya Padang Dreman memiliki makna supaya anak tersebut dapat menerbarkan dan mendapatkan kasih sayang yang luas baik dari keluarga maupun dari masyarakat sekitanya.

 

Selanjutnya adalah upacara potong gigi, upacara ini mengandung makna untuk mengurangi Sad Ripu atau enam sifat buruk dalam diri manusia. “Pada prosesi ini, sang anak dipakaikan kain bebali berupa kain Sekordi dan Kulungsih sebagai kamben, dan kain selulut untuk angkep, dan pada saat mepedamel digunakan kain Semara Ratih untuk meaaras-aras,” tambahnya.


Kain bebali merupakan kain yang sangat erat kaitannya dengan upacara spiritual keagamaan dan kepercayaan bagi masyarakat di Bali. Kain Bebali ini tidaklah sama dengan kain Bali lainnya. Meskipun proses pembuatannya sama dengan kain songket atau tenun endek lainnya.

 

APA yang membedakan tersebut, tak lain karena kain Bebali dibuat dengan motif serta bahan tertentu, sehingga setiap sulamannya mengandung makna untuk kesejahteraan mahluk hidup di dunia. Seperti apa penggunaan kain bebali ini?

 

Ida Ayu Ngurah Puniari, Penyusun Buku Makna dan Pemakaian Kain Bebali Dalam Upacara Agama Hindu menyebutkan, kain Bebali berfungsi sebagian besar sebagai sarana dalam pelaksanaan upacara yadnya, baik dipakai sebagai pakaian palinggih, pelengkap upakara (sarana upacara), juga dipergunakan sebagai pakaian orang yang akan diupacarai. “Khusus untuk upacara Manusa Yadnya, kain Bebali tidak saja berfungsi sebagai pakaian orang yang akan diupacarai, namun ada makna lainnya,” jelasnya.

 

Dalam upacara Manusa Yadnya, yakni upacara yang bertujuan untuk membersihkan diri manusia secara lahir dan bathin, serta memelihara secara rohaniaha hidup manusia, mulai dari terwujudnya jasmaniah di dalam kandungan sampai akhir dari hidup manusia tersebut.

 

Karena dalam kepercayaan Agama Hindu tentang proses kelahiran kembali atau yang dikenal dengan nama Punarbawa. Sehingga dalam proses menjelma kembali ini, dapat dianggap sebagai satu kesempatan bagi manusia Hindu kembali untuk memperbaiki kesalahannya di kehidupan sebelumnya.

Karena itu, ketika seorang manusia dilahirkan kembali, Dayu Puniari menyebutkan, ada hasil karma atau hasil dari perbuatannya di kehidupan yang terdahulu. Sehingga pada akhirnya dapat mencapai kesempurnaan hidup yang sejati, yaitu menjelma kembali tetap dapat bersatu kembali dengan Tuhan Yang Maha Esa.

 

Dalam upacara Manusa Yadnya ini, jenis kain Bebali yang digunakan adalah jenis kain yang melambangkan kekuatan. “Sehingga manusia sebagai penggunanya bisa memiliki kekuatan dalam menghadapi proses panjang kehidupannya, mulai dari di dalam kandungan ibunya hingga akhir masa hidupnya,” paparnya.

 

Dalam upacara Manusa Yadnya, penggunaan kain Bebali ini sudah dimulai sejak manusia ada di dalam kandungan ibunya yakni pada upacara megedong-gedongan. Selanjutnya adalah ketika proses terlepasnya tali pusar ketika sang bayi lahir ke dunia menggunakan kain bebali yakni kain Atu-Atu. Jika dilihat dari arti kain ini yakni kekuatan, maka dengan menggunakan kain ini diharapkan si bayi bisa memperoleh kekuatan dalam menghadapi kerasnya kehidupan.

 

Setelah proses terlepasnya tali pusar, upacara yang menggunakan kain Bebali dalam proses kehidupan sang anak adalah pada saat anak tersebut berusia 42 hari, yang berfungsi sebagai upacara pembersihan bagi raga sarira si bayi dan sang ibu. Saat upacara ini, si bayi dipakaikan kain Bebali dengan motif Urab Tebu, yakni kain dengan motif putih kunin. Jika dilihat maknanya, kain putih kuning ini melambangkan kesucian.

 

Selanjutnya adalah upacara weton, ketika si bayi berusia 210 hari atau enam bulan. Saat usia ini, si bayi sudah layak dianggap untuk menapak pertiwi. Sehingga pada masa ini, si bayi dibuatkan upacara yang lebih besar lagi. Saat melangsungkan upacara ini, si bayi bakal dipakaikan kain Bebali Sukawerdhi dengan menggunakan sabuk mas sebagai sabuknya. “Selain itu juga digunakan kain Pitola sutra yang diyakini sebagai kain yang bisa menolak bahaya. Karena diyakini kain ini memiliki kekuatan untuk menangkal bahaya dan juga sebagai obat untuk penyakit niskala,” lanjutnya.

 

Setelah proses weton, upacara untuk seorang anak berlanjut ke tingkatan selanjutnya yakni upacara Munggah Deha (upacara meningkat dewasa). Untuk tahap ini seorang anak dibuatkan upacara berdasarkan jenis kelaminnya, yakni upacara Ngeraja Sewala untuk anak perempuan, dan Ngeraja Singa untuk anak laki-laki.

 

Inti dari kedua upacara ini sama, yakni dimana seorang anak tersebut dianggap sudah dewasa, dan Sang Hyang Semara Ratih sebagai manifestasi Tuhan dalam wujud Dewi Cinta Kasih sudah mulai bersemayam pada jiwa sang anak.

 

Untuk upacara ini, sang anak dipakaikan kain bebali dengan motif Padang Dreman. Jika dilihat dari maknanya Padang Dreman memiliki makna supaya anak tersebut dapat menerbarkan dan mendapatkan kasih sayang yang luas baik dari keluarga maupun dari masyarakat sekitanya.

 

Selanjutnya adalah upacara potong gigi, upacara ini mengandung makna untuk mengurangi Sad Ripu atau enam sifat buruk dalam diri manusia. “Pada prosesi ini, sang anak dipakaikan kain bebali berupa kain Sekordi dan Kulungsih sebagai kamben, dan kain selulut untuk angkep, dan pada saat mepedamel digunakan kain Semara Ratih untuk meaaras-aras,” tambahnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/