alexametrics
26.5 C
Denpasar
Wednesday, August 17, 2022

Sulit Mencari Seniman Topeng, Lanang Perbawa Komit Ngayah Nopeng

BULELENG, BALI EXPRESS -Menari Topeng Sidakarya tanpa bayaran alias gratis menjadi komitmen I Ketut Sukawati Lanang Putra Perbawa. Ia sudah ngayah di berbagai pelosok Kabupaten Buleleng sejak 4 tahun lalu bersama Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Bli Braya yang didirikannya.

Pria kelahiran 11 Juli 1974 saat ini memang tengah sibuk sebagai dekan Fakultas Hukum di Universitas Mahasaraswati, Denpasar. Namun niatnya untuk menari Topeng Sidakarya secara gratis di tanah kelahirannya, Buleleng tak perlu diragukan.

Mantan Ketua KPU Bali periode 2008-2013 menuturkan, ada kisah unik yang membuatnya pada akhirnya memilih menari Topeng Sidakarya secara gratis. Hal itu bermula saat Lanang Perbawa melaksanakan upacara Ngaben untuk mendiang ayahnya pada tahun 2008. Begitu juga saat pengabenan sang kakek dan nenek dua tahun berikutnya.

Saat itu,  pria bergelar doktor ini mencari penari Topeng Sidakarya untuk nyineb upacara ngaben. Ternyata harus antre karena seniman Topeng Sidakarya kala itu terbilang langka. “Untuk memesan Topeng Sidakarya harus antre dan mendaftar jauh-jauh hari sebelumnya. Karena memang langka yang bisa nopeng (menari topeng) Sidakarya. Waktu itu masih grupnya almarhum Pak Durpa,” kenangnya.

Baca Juga :  Sanksi Berat, Tebang Pohon di Tenganan Izin Adat

Pengalaman itu mendorong Lanang Perbawa untuk belajar menari Topeng Sidakarya. Mantan Komisaris Bank BPD Bali ini belajar dari guru tari masa kecilnya, yakni Jro Mangku Kardi yang merupakan pegawai TVRI.

“Beliau tamatan STSI kebetulan dahulu Jro Mangku Kardi KKN di Desa Bebetin, saat saya masih SD pernah diajar Tari Wirayuda dan Puspawresti. Cuma setelah SMP dan bekerja saya tidak menekuni tari lagi,” kata pria asal Desa Bebetin, Kecamatan Sawan, Buleleng ini.

Lanang Perbawa kemudian kembali belajar menari setelah menekuni profesi sebagai dosen tahun 2016 lalu.  Selain belajar dengan Jro Mangku Kardi, Lanang juga tak menutup diri untuk belajar menari dari mahasiswa yang memang merupakan seorang pregina.

“Nah setelah fokus menjadi dosen, ada waktu luang untuk belajar menari. Termasuk juga belajar dari mahasiswa saya di kampus, ada beberapa namanya yang masih ingat, ada Dewa Edi, Budi, Wahendra, dan juga rekan dosen Tubagus Dananjaya,” imbuhnya.

Baca Juga :  Sarasamuccaya (13) : Percepat Usaha Perbuatan Berdasarkan Dharma

Lanang Perbawa juga menceritakan, awalnya hanya ingin belajar topeng panglembar. Namun malah keasyikan, hingga terus berlanjut ke penasar, sampai akhirnya belajar Topeng Sidakarya di sela-sela kesibukannya sebagai akademisi. Perlahan namun pasti, kepiawaiannya kian terasah saat mulai ngayah di sejumlah wilayah di Kabupaten Buleleng. Bahkan, sejak 4 tahun silam, dirinya sudah tampil hampir di seluruh pelosok Buleleng.

Tak sebatas ngayah menari Topeng Sidakarya, tak jarang Lanang Perbawa juga memberikan bantuan berupa genta dan peralatan kepamangkuan di sejumlah desa tempatnya ngayah.

“Nopeng Sidakarya itu biasanya saat upacara Pitra Yadnya seperti ngaben, ada juga saat pujawali, ngenteg linggih atau upacara Dewa Yadnya. Dan itu tiang (saya) lakukan secara gratis. Tidak dipungut sepeser biaya pun kepada Sang Yajamana,” imbuhnya.






Reporter: I Putu Mardika

BULELENG, BALI EXPRESS -Menari Topeng Sidakarya tanpa bayaran alias gratis menjadi komitmen I Ketut Sukawati Lanang Putra Perbawa. Ia sudah ngayah di berbagai pelosok Kabupaten Buleleng sejak 4 tahun lalu bersama Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Bli Braya yang didirikannya.

Pria kelahiran 11 Juli 1974 saat ini memang tengah sibuk sebagai dekan Fakultas Hukum di Universitas Mahasaraswati, Denpasar. Namun niatnya untuk menari Topeng Sidakarya secara gratis di tanah kelahirannya, Buleleng tak perlu diragukan.

Mantan Ketua KPU Bali periode 2008-2013 menuturkan, ada kisah unik yang membuatnya pada akhirnya memilih menari Topeng Sidakarya secara gratis. Hal itu bermula saat Lanang Perbawa melaksanakan upacara Ngaben untuk mendiang ayahnya pada tahun 2008. Begitu juga saat pengabenan sang kakek dan nenek dua tahun berikutnya.

Saat itu,  pria bergelar doktor ini mencari penari Topeng Sidakarya untuk nyineb upacara ngaben. Ternyata harus antre karena seniman Topeng Sidakarya kala itu terbilang langka. “Untuk memesan Topeng Sidakarya harus antre dan mendaftar jauh-jauh hari sebelumnya. Karena memang langka yang bisa nopeng (menari topeng) Sidakarya. Waktu itu masih grupnya almarhum Pak Durpa,” kenangnya.

Baca Juga :  Ruang Isolasi Covid di RS Mulai Kosong

Pengalaman itu mendorong Lanang Perbawa untuk belajar menari Topeng Sidakarya. Mantan Komisaris Bank BPD Bali ini belajar dari guru tari masa kecilnya, yakni Jro Mangku Kardi yang merupakan pegawai TVRI.

“Beliau tamatan STSI kebetulan dahulu Jro Mangku Kardi KKN di Desa Bebetin, saat saya masih SD pernah diajar Tari Wirayuda dan Puspawresti. Cuma setelah SMP dan bekerja saya tidak menekuni tari lagi,” kata pria asal Desa Bebetin, Kecamatan Sawan, Buleleng ini.

Lanang Perbawa kemudian kembali belajar menari setelah menekuni profesi sebagai dosen tahun 2016 lalu.  Selain belajar dengan Jro Mangku Kardi, Lanang juga tak menutup diri untuk belajar menari dari mahasiswa yang memang merupakan seorang pregina.

“Nah setelah fokus menjadi dosen, ada waktu luang untuk belajar menari. Termasuk juga belajar dari mahasiswa saya di kampus, ada beberapa namanya yang masih ingat, ada Dewa Edi, Budi, Wahendra, dan juga rekan dosen Tubagus Dananjaya,” imbuhnya.

Baca Juga :  Pura Manik Terus, Bukti Keberadaan Pasraman Siwa-Budha di Pujungan

Lanang Perbawa juga menceritakan, awalnya hanya ingin belajar topeng panglembar. Namun malah keasyikan, hingga terus berlanjut ke penasar, sampai akhirnya belajar Topeng Sidakarya di sela-sela kesibukannya sebagai akademisi. Perlahan namun pasti, kepiawaiannya kian terasah saat mulai ngayah di sejumlah wilayah di Kabupaten Buleleng. Bahkan, sejak 4 tahun silam, dirinya sudah tampil hampir di seluruh pelosok Buleleng.

Tak sebatas ngayah menari Topeng Sidakarya, tak jarang Lanang Perbawa juga memberikan bantuan berupa genta dan peralatan kepamangkuan di sejumlah desa tempatnya ngayah.

“Nopeng Sidakarya itu biasanya saat upacara Pitra Yadnya seperti ngaben, ada juga saat pujawali, ngenteg linggih atau upacara Dewa Yadnya. Dan itu tiang (saya) lakukan secara gratis. Tidak dipungut sepeser biaya pun kepada Sang Yajamana,” imbuhnya.






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru

/