alexametrics
26.5 C
Denpasar
Wednesday, May 25, 2022

Hidup Berkecukupan, Tekuni Meditasi Catur Sanak Merta Bhuana

TABANAN, BALI EXPRESS-Kanda Pat merupakan ilmu kebatinan khas Bali, yang isinya menguraikan tentang keberadaan manusia dari awal hingga akhir kehidupannya, serta berbagai macam kekuatan yang diberkahi oleh para dewa untuk melindungi manusia dari bermacam-macam gangguan. 

Hampir semua dukun, balian, dalang, pemangku, dan lainnya mendapatkan kekuatan batinnya dari hasil berlatih ilmu yang bersumber dari Kanda Pat.

Secara umum masyarakat di Bali mengenal empat macam, yakni Kanda Pat Bhuta, Kanda Pat Rare, Kanda Pat Sari, dan Kanda Pat Dewa. Namun, di Pasraman Seruling Dewata, Kanda Pat yang lengkap ada dua macam, yakni Kanda Pat Durga yang terdiri dari 18 Kanda Pat dan Kanda Pat Siwa, yang terdiri dari 55 Kanda Pat. Saat ini keberadaan Kanda Pat Siwa sudah tidak dikenal lagi oleh masyarakat di Bali.

Ketua Cabang Kanda Pat Pasraman Seruling Dewata, Dr. Ngurah Bagus, M.Si., S.Si, menjelaskan, asal-usul ajaran Kanda Pat menurut Parampara Pasraman Seruling Dewata, dikatakan Kanda Pat pertama kali diajarkan Bhatara Siwa kepada Bhatari Durga.

Selanjutnya Bhatari Durga menurunkan salah satu dari 18 (delapan belas) Kanda Pat yang dinamakan Kanda Pat Pasuk Wetu kepada Sekte Dirah yang ada di Jawa. Selain itu, Bhatari Durga juga menurunkan Kanda Pat Pasuk Wetu pada  Sekte Durga dan Sekte Bhairawa yang ada di Bali.

Seiring berjalannya waktu, dengan bekal Kanda Pat Pasuk Wetu ini, ketiga sekte tersebut menjadi sangat kuat. Di Bali, pengikut Sekte Durga dan Sekte Bhairawa kemudian mulai menindas masyarakat. “Mereka setiap lima hari sekali, yaitu pada waktu Pancawara Kliwon, menangkap manusia untuk dipersembahkan kepada Bhatari Durga,” ujarnya.

Ditambahkannya,  tidak ada orang yang mampu menghalanginya. Masyarakat pun menjadi resah. Hal tersebut kemudian diketahui salah seorang yogi pengembara Pasraman Seruling Dewata, dan melaporkannya kepada Ki Mudra, Sesepuh Generasi II Pasraman Seruling Dewata ini, yang ketika itu sedang mendiksa Sesepuh Generasi IV, sekitar Saka Warsa 1241 atau 1319 Masehi.

“Menanggapi laporan tersebut, Ki Mudra lalu menugaskan 21 orang yogi untuk bersemadi di ulun setra (kuburan) selama 108 hari, agar mendapatkan rahasia kekuatan batin yang mampu menanggulangi kekuatan sesat para penganut Sekte Durga dan Sekte Bhairawa tersebut,” sambungnya.

Kemudian, kata dia, setelah bertapa selama 108 hari, para yogi tersebut memeroleh anugerah dari Bhatari Durga dan Bhatara Siwa. Sebanyak 18 orang yogi mendapatkan anugerah dari Bhatari Durga berupa 18 Kanda Pat Durga, yaitu Ki Dangka memperoleh anugerah Kanda Pat Madu Kama, Ki Umbalan memeroleh anugerah Kanda Pat Bhuta, Ki Sadra memperoleh anugerah Kanda Pat Rare, dan Ki Bakas mendapat anugerah Kanda Pat Sari. 

Kemudian Ki Teleng memeroleh anugerah Kanda Pat Nyama, Ki Juntal mendapat  anugerah Kanda Pat Manusa Prakerti, Ki Wirat memeroleh anugerah Kanda Pat Madu Muka, Ki Manggal mendapat anugerah Kanda Pat Pengaradan, dan Ki Wirada mendapat anugerah Kanda Pat Krakah.

Lalu, Ki Reka mendapatkan anugerah Kanda Pat Presanak, Ki Dangki memeroleh anugerah Kanda Pat Pemurtian, Ki Biksa mendapat anugerah Kanda Pat Keputusan.

Selanjutnya Ki Ruga mendapat anugerah Kanda Pat Pasuk Wetu, Ki Manot memeroleh anugerah Kanda Pat Subiksa, Ki Darja mendapat anugerah Kanda Pat Sukma, Ki Bergu memeroleh anugerah Kanda Pat Moksa, Ki Jaka mendapat anugerah Kanda Pat Dewa, serta Ki Canging memeroleh anugerah Kanda Pat Tanpa Sastra.

Sementara itu, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, seperti penyalahgunaan ajaran Kanda Pat yang telah diturunkan Bhatari Durga, maka Bhatara Siwa segera memberikan anugerah 55 Kanda Pat Siwa kepada tiga orang yogi lainnya, yaitu Ki Bagus, Ki Meranggi, dan Ki Bantiran.

“Kanda Pat Siwa berisi tuntunan Semadi Kanda Pat agar tidak salah dalam mempelajari ajaran ini,” tegasnya.

Pada umumnya masyarakat menganggap belajar Kanda Pat sebagai sesuatu yang sangat sulit, dan hanya bisa dipelajari oleh orang-orang tertentu. Namun, sesungguhnya belajar Kanda Pat serupa dengan belajar ilmu-ilmu lainnya.

Hanya saja, jangan pernah belajar sendiri tanpa bimbingan seorang guru. Di bawah bimbingan seorang guru, maka belajar Kanda Pat menjadi sesuatu yang mudah dan sederhana.

Kanda Pat sesungguhnya merupakan ilmu yang sangat praktis untuk mengatasi berbagai macam fenomena kehidupan masyarakat di Bali. Sebagai contoh, untuk keberhasilan dalam bisnis, menjaga keutuhan rumah tangga, mengatasi perilaku seks yang menyimpang, bisa diatasi dengan menggunakan Kanda Pat Madukama.

Untuk mengatasi masalah bhuta kala bisa menggunakan Kanda Pat Bhuta. “Sedangkan untuk menghindari agar tidak putus keturunan atau putung bisa menggunakan Kanda Pat Rare, dan lain sebagainya,” bebernya.

Untuk mengatasi masalah yang terkait dengan kesejahteraan, maka bisa menggunakan Meditasi Catur Sanak Merta Bhuana, yang merupakan salah satu meditasi yang terdapat dalam Kanda Pat Nyama.

Meditasi Catur Sanak Merta Bhuana bertujuan memanggil, berkomunikasi, bahkan memerintah atau memberikan tugas kepada Sang Catur Sanak, agar membantu kita dalam mencari harta secara niskala di alam semesta.

Anggapati akan bergerak ke timur untuk mengumpulkan dan membawakan harta ke rumah kita, yang berupa beras, ketan, injin, berbagai biji-bijian, dan buah-buahan. Merajapati akan bergerak ke selatan untuk mengumpulkan dan membawakan harta ke rumah kita, yang berupa berbagai jenis uang, yaitu uang bolong, uang jai, uang jepun, ataupun uang mas. 

Banaspati akan bergerak ke barat untuk mengumpulkan dan membawakan harta ke rumah kita yang berupa mas, mirah, perak, ataupun intan.

Banaspati Raja akan bergerak ke utara untuk mengumpulkan dan membawakan harta ke ruma kita, yang berupa umbi-umbian, antara lain ubi, sela bun, sela kapuk, talas, sabrang, jerimpang, marus, irus dan lain-lain.

“Mereka yang sudah berhasil dalam meditasi ini akan memiliki kekayaan yang berlimpah ‘Raja Neng Arta Berana’. Mereka diharapkan menjadi seorang dermawan yang akan membantu masyarakat agar tidak kekurangan makanan dan minuman ‘tan kirang pangan kinum’, kekayaan alam berlimpah ‘gemah ripah loh jinawi’, dan masyarakat menjadi damai ‘toto tentrem kertaraharja’,” tandasnya. 


TABANAN, BALI EXPRESS-Kanda Pat merupakan ilmu kebatinan khas Bali, yang isinya menguraikan tentang keberadaan manusia dari awal hingga akhir kehidupannya, serta berbagai macam kekuatan yang diberkahi oleh para dewa untuk melindungi manusia dari bermacam-macam gangguan. 

Hampir semua dukun, balian, dalang, pemangku, dan lainnya mendapatkan kekuatan batinnya dari hasil berlatih ilmu yang bersumber dari Kanda Pat.

Secara umum masyarakat di Bali mengenal empat macam, yakni Kanda Pat Bhuta, Kanda Pat Rare, Kanda Pat Sari, dan Kanda Pat Dewa. Namun, di Pasraman Seruling Dewata, Kanda Pat yang lengkap ada dua macam, yakni Kanda Pat Durga yang terdiri dari 18 Kanda Pat dan Kanda Pat Siwa, yang terdiri dari 55 Kanda Pat. Saat ini keberadaan Kanda Pat Siwa sudah tidak dikenal lagi oleh masyarakat di Bali.

Ketua Cabang Kanda Pat Pasraman Seruling Dewata, Dr. Ngurah Bagus, M.Si., S.Si, menjelaskan, asal-usul ajaran Kanda Pat menurut Parampara Pasraman Seruling Dewata, dikatakan Kanda Pat pertama kali diajarkan Bhatara Siwa kepada Bhatari Durga.

Selanjutnya Bhatari Durga menurunkan salah satu dari 18 (delapan belas) Kanda Pat yang dinamakan Kanda Pat Pasuk Wetu kepada Sekte Dirah yang ada di Jawa. Selain itu, Bhatari Durga juga menurunkan Kanda Pat Pasuk Wetu pada  Sekte Durga dan Sekte Bhairawa yang ada di Bali.

Seiring berjalannya waktu, dengan bekal Kanda Pat Pasuk Wetu ini, ketiga sekte tersebut menjadi sangat kuat. Di Bali, pengikut Sekte Durga dan Sekte Bhairawa kemudian mulai menindas masyarakat. “Mereka setiap lima hari sekali, yaitu pada waktu Pancawara Kliwon, menangkap manusia untuk dipersembahkan kepada Bhatari Durga,” ujarnya.

Ditambahkannya,  tidak ada orang yang mampu menghalanginya. Masyarakat pun menjadi resah. Hal tersebut kemudian diketahui salah seorang yogi pengembara Pasraman Seruling Dewata, dan melaporkannya kepada Ki Mudra, Sesepuh Generasi II Pasraman Seruling Dewata ini, yang ketika itu sedang mendiksa Sesepuh Generasi IV, sekitar Saka Warsa 1241 atau 1319 Masehi.

“Menanggapi laporan tersebut, Ki Mudra lalu menugaskan 21 orang yogi untuk bersemadi di ulun setra (kuburan) selama 108 hari, agar mendapatkan rahasia kekuatan batin yang mampu menanggulangi kekuatan sesat para penganut Sekte Durga dan Sekte Bhairawa tersebut,” sambungnya.

Kemudian, kata dia, setelah bertapa selama 108 hari, para yogi tersebut memeroleh anugerah dari Bhatari Durga dan Bhatara Siwa. Sebanyak 18 orang yogi mendapatkan anugerah dari Bhatari Durga berupa 18 Kanda Pat Durga, yaitu Ki Dangka memperoleh anugerah Kanda Pat Madu Kama, Ki Umbalan memeroleh anugerah Kanda Pat Bhuta, Ki Sadra memperoleh anugerah Kanda Pat Rare, dan Ki Bakas mendapat anugerah Kanda Pat Sari. 

Kemudian Ki Teleng memeroleh anugerah Kanda Pat Nyama, Ki Juntal mendapat  anugerah Kanda Pat Manusa Prakerti, Ki Wirat memeroleh anugerah Kanda Pat Madu Muka, Ki Manggal mendapat anugerah Kanda Pat Pengaradan, dan Ki Wirada mendapat anugerah Kanda Pat Krakah.

Lalu, Ki Reka mendapatkan anugerah Kanda Pat Presanak, Ki Dangki memeroleh anugerah Kanda Pat Pemurtian, Ki Biksa mendapat anugerah Kanda Pat Keputusan.

Selanjutnya Ki Ruga mendapat anugerah Kanda Pat Pasuk Wetu, Ki Manot memeroleh anugerah Kanda Pat Subiksa, Ki Darja mendapat anugerah Kanda Pat Sukma, Ki Bergu memeroleh anugerah Kanda Pat Moksa, Ki Jaka mendapat anugerah Kanda Pat Dewa, serta Ki Canging memeroleh anugerah Kanda Pat Tanpa Sastra.

Sementara itu, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, seperti penyalahgunaan ajaran Kanda Pat yang telah diturunkan Bhatari Durga, maka Bhatara Siwa segera memberikan anugerah 55 Kanda Pat Siwa kepada tiga orang yogi lainnya, yaitu Ki Bagus, Ki Meranggi, dan Ki Bantiran.

“Kanda Pat Siwa berisi tuntunan Semadi Kanda Pat agar tidak salah dalam mempelajari ajaran ini,” tegasnya.

Pada umumnya masyarakat menganggap belajar Kanda Pat sebagai sesuatu yang sangat sulit, dan hanya bisa dipelajari oleh orang-orang tertentu. Namun, sesungguhnya belajar Kanda Pat serupa dengan belajar ilmu-ilmu lainnya.

Hanya saja, jangan pernah belajar sendiri tanpa bimbingan seorang guru. Di bawah bimbingan seorang guru, maka belajar Kanda Pat menjadi sesuatu yang mudah dan sederhana.

Kanda Pat sesungguhnya merupakan ilmu yang sangat praktis untuk mengatasi berbagai macam fenomena kehidupan masyarakat di Bali. Sebagai contoh, untuk keberhasilan dalam bisnis, menjaga keutuhan rumah tangga, mengatasi perilaku seks yang menyimpang, bisa diatasi dengan menggunakan Kanda Pat Madukama.

Untuk mengatasi masalah bhuta kala bisa menggunakan Kanda Pat Bhuta. “Sedangkan untuk menghindari agar tidak putus keturunan atau putung bisa menggunakan Kanda Pat Rare, dan lain sebagainya,” bebernya.

Untuk mengatasi masalah yang terkait dengan kesejahteraan, maka bisa menggunakan Meditasi Catur Sanak Merta Bhuana, yang merupakan salah satu meditasi yang terdapat dalam Kanda Pat Nyama.

Meditasi Catur Sanak Merta Bhuana bertujuan memanggil, berkomunikasi, bahkan memerintah atau memberikan tugas kepada Sang Catur Sanak, agar membantu kita dalam mencari harta secara niskala di alam semesta.

Anggapati akan bergerak ke timur untuk mengumpulkan dan membawakan harta ke rumah kita, yang berupa beras, ketan, injin, berbagai biji-bijian, dan buah-buahan. Merajapati akan bergerak ke selatan untuk mengumpulkan dan membawakan harta ke rumah kita, yang berupa berbagai jenis uang, yaitu uang bolong, uang jai, uang jepun, ataupun uang mas. 

Banaspati akan bergerak ke barat untuk mengumpulkan dan membawakan harta ke rumah kita yang berupa mas, mirah, perak, ataupun intan.

Banaspati Raja akan bergerak ke utara untuk mengumpulkan dan membawakan harta ke ruma kita, yang berupa umbi-umbian, antara lain ubi, sela bun, sela kapuk, talas, sabrang, jerimpang, marus, irus dan lain-lain.

“Mereka yang sudah berhasil dalam meditasi ini akan memiliki kekayaan yang berlimpah ‘Raja Neng Arta Berana’. Mereka diharapkan menjadi seorang dermawan yang akan membantu masyarakat agar tidak kekurangan makanan dan minuman ‘tan kirang pangan kinum’, kekayaan alam berlimpah ‘gemah ripah loh jinawi’, dan masyarakat menjadi damai ‘toto tentrem kertaraharja’,” tandasnya. 


Most Read

Artikel Terbaru

/