alexametrics
26.8 C
Denpasar
Tuesday, June 28, 2022

Terancam Punah, Kini Sisakan Satu Pengrajin Tenun Cagcag Jati

GIANYAR, BALI EXPRESS – Tuntutan jaman yang semakin kompleks membuat pengrajin tenun Cagcag di Banjar Dentiyis, Desa Batuan, Kecamatan Sukawati, Gianyar, terus berkurang setiap harinya. Hingga saat ini hanya tersisa satu orang pengrajin yang bahkan usianya sudah sepuh. Kondisi tersebut semakin diperparah dengan pandemi Covid-19 yang membuat penjualan tenun Cagcag terjun bebas.

 

Kain tenun Cagcag sendiri sempat eksis sekitar tahun 19.50 silam. Dimana kain tenun Cagcag memiliki motif yang khas sehingga mendapatkan tempat khusus di hati para penggemarnya mulai dari  wisatawan domestik maupun asing yang berlibur di Bali. Kain tenun Cagcag juga kerap dijadikan buah tangan oleh para pembelinya.

 

Kepala Dusun Banjar Dentiyis, I Wayan Dira mengatakan bahwa dahulu hampir seluruh perempuan di Banjar Dentiyis bisa menenun. Atau minimal memintal benang. Sayangnya semakin hari, penenun semakin berkurang dan kini hanya tersisa satu orang. Sehingga bisa dikatakan jika tenun Cagcag ini berada diambang kepunahan. “Saat ini masih ada satu orang penenun yang masih aktif menenun. Tapi sudah sepuh, usianya sekitar 76 tahun, namanya Ni Made Mirib,” ungkapnya Minggu (3/10).

 

Tak hanya ibu-ibu, anak-anak, remaja putri hingga lansia juga banyak yang piawai menenun. Lebih lanjut dirinya menuturkan jika, dulunya para pengrajin tenun Cagcag memiliki suatu perkumpulan. Yang mana kain hasil tenun mereka akan dikumpulkan kemudian diserahkan kepada pengepul untuk selanjutnya dijual ke hotel-hotel yang ada di Bali. “Jadi mereka ada perkumpulannya mungkin berapa orang, nanti hasil tenunnya dikumpulkan dan diambil oleh pengepul,” sambungnya.

 

 

Berkurangnya jumlah penenun di Banjar Dentiyis kata dia disebabkan oleh sejumlah hal, diantaranya pengrajin yang memilih untuk beralih profesi. Sebab pengrajin merasa penghasilan yang didapat dari menenun tenun Cagcag tidak sebanding dengan jerih payahnya menenun seharian. “Dulu memang para pengrajin bisa hidup dari hasil tenun. Tapi semakin kesini harga beli justru semakin turun. Sedangkan kain itu ditenun dengan susah payah selama seharian, ada juga yang selembar baru selesai 2 hari. Tapi hasil mereka ini dibayar murah. Karena tidak sebanding maka satu persatu pengrajin beralih profesi,” bebernya.

 

Profesi yang kini banyak digeluti para pengrajin adalah aktifitas mejejahitan untuk sarana upakara yang dinilai hasilnya lebih menjanjikan. “Tapi ada juga yang menjadi pedagang,” lanjutnya.

 

Disisi lain, kendala yang dihadapi adalah pembuat motif tenun Cagcag Jati Dentiyis ini hanya bisa dilakukan satu orang saja. Yakni Jero Mangku Pulasari yang saat ini sudah lanjut usia dan tidak bisa lagi menenun karena penglihatan yang sudah rabun. Terlebih motifnya cukup rumit. Selain itu tenun Cagcag Jati ini kalah pada kualitas bahan baku benang. “Karena yang dipakai benang yang mudah luntur kalau dicuci,” bebernya.

 

Kendatipun demikian, pihaknya berharap, potensi yang pernah eksis ini dapat dibangkitkan kembali di masa kekinian. Terlebih di era ekonomi kreatif ini, kain tenun tidak sebatas untuk dijadikan kamen atau selendang. Melainkan bisa diolah menjadi produk kreatif lain. 

 

Sementara itu, satu-satunya pengrajin yang tersisa, Ni Made Mirib, 76, mengaku masih tetap menenun kain Cagcag tersebut. Terlebih sejak kecil dirinya memang sudah akrab dengan menenun. Meskipun rumit, aktifitas itu tetap ia geluti agar tetap bisa membeli beras. “Kalau sekarang saya menenun kalau pekerjaan rumah tangga sudah selesai, biar ada saja kegiatan,” ungkapnya.

 

Hanya saja, belakangan ini terutama saat pandemi Covid-19, kain tenun karyanya tidak laku dijual. Sehingga hanya dipergunakan sendiri. “Biasanya digunakan untuk wastra di sanggah atau rantasan. Dan kemarin saya sempat buatkan satu untuk cucu. Dipakai saat menari Rejang Sutri di Pura Desa Batuan,” bebernya.

 

Dan kalau pun dijual, dirinya tidak yakin jika kain tersebut akan terjual dengan harga yang layak. Apalagi pada situasi Covid-19 ini perekonomian menurun.

 

Atas kondisi tersebut ia pun memaklumi banyak teman-temannya yang beralih profesi. “Teman saya ada yang berdagang, ada yang mejejahitan, jadi tukang banten, dan ke sawah. Saya yang tidak kuat kerja sawah, pilih di rumah saja,” pungkasnya.

 

Dikonfirmasi terpisah, Perbekel Batuan, Ari Anggara mengaku tengah mencoba membangkitkan kembali potensi kerajinan tenun ini. Bahkan Ari Anggara meminta bantuan langsung pada Ketua Dekranasda Kabupaten Gianyar Ny Ida Ayu Adnyani Mahayastra. Disamping itu  Desa juga berupaya memperkenalkan kembali kain tenun yang nyaris punah ini.

 

“Yaitu dengan menampilkan kain inu  dalam ajang pameran UMKM pra even Saharsa Warsa seribu tahun prasasti Batuan yang berangkat tahun 944 Caka. Pameran berlangsung selama setahun penuh hingga 26 Desember 2022 dalam rangka menyambut perayaan seribu tahun tersebut,” tandasnya. 


GIANYAR, BALI EXPRESS – Tuntutan jaman yang semakin kompleks membuat pengrajin tenun Cagcag di Banjar Dentiyis, Desa Batuan, Kecamatan Sukawati, Gianyar, terus berkurang setiap harinya. Hingga saat ini hanya tersisa satu orang pengrajin yang bahkan usianya sudah sepuh. Kondisi tersebut semakin diperparah dengan pandemi Covid-19 yang membuat penjualan tenun Cagcag terjun bebas.

 

Kain tenun Cagcag sendiri sempat eksis sekitar tahun 19.50 silam. Dimana kain tenun Cagcag memiliki motif yang khas sehingga mendapatkan tempat khusus di hati para penggemarnya mulai dari  wisatawan domestik maupun asing yang berlibur di Bali. Kain tenun Cagcag juga kerap dijadikan buah tangan oleh para pembelinya.

 

Kepala Dusun Banjar Dentiyis, I Wayan Dira mengatakan bahwa dahulu hampir seluruh perempuan di Banjar Dentiyis bisa menenun. Atau minimal memintal benang. Sayangnya semakin hari, penenun semakin berkurang dan kini hanya tersisa satu orang. Sehingga bisa dikatakan jika tenun Cagcag ini berada diambang kepunahan. “Saat ini masih ada satu orang penenun yang masih aktif menenun. Tapi sudah sepuh, usianya sekitar 76 tahun, namanya Ni Made Mirib,” ungkapnya Minggu (3/10).

 

Tak hanya ibu-ibu, anak-anak, remaja putri hingga lansia juga banyak yang piawai menenun. Lebih lanjut dirinya menuturkan jika, dulunya para pengrajin tenun Cagcag memiliki suatu perkumpulan. Yang mana kain hasil tenun mereka akan dikumpulkan kemudian diserahkan kepada pengepul untuk selanjutnya dijual ke hotel-hotel yang ada di Bali. “Jadi mereka ada perkumpulannya mungkin berapa orang, nanti hasil tenunnya dikumpulkan dan diambil oleh pengepul,” sambungnya.

 

 

Berkurangnya jumlah penenun di Banjar Dentiyis kata dia disebabkan oleh sejumlah hal, diantaranya pengrajin yang memilih untuk beralih profesi. Sebab pengrajin merasa penghasilan yang didapat dari menenun tenun Cagcag tidak sebanding dengan jerih payahnya menenun seharian. “Dulu memang para pengrajin bisa hidup dari hasil tenun. Tapi semakin kesini harga beli justru semakin turun. Sedangkan kain itu ditenun dengan susah payah selama seharian, ada juga yang selembar baru selesai 2 hari. Tapi hasil mereka ini dibayar murah. Karena tidak sebanding maka satu persatu pengrajin beralih profesi,” bebernya.

 

Profesi yang kini banyak digeluti para pengrajin adalah aktifitas mejejahitan untuk sarana upakara yang dinilai hasilnya lebih menjanjikan. “Tapi ada juga yang menjadi pedagang,” lanjutnya.

 

Disisi lain, kendala yang dihadapi adalah pembuat motif tenun Cagcag Jati Dentiyis ini hanya bisa dilakukan satu orang saja. Yakni Jero Mangku Pulasari yang saat ini sudah lanjut usia dan tidak bisa lagi menenun karena penglihatan yang sudah rabun. Terlebih motifnya cukup rumit. Selain itu tenun Cagcag Jati ini kalah pada kualitas bahan baku benang. “Karena yang dipakai benang yang mudah luntur kalau dicuci,” bebernya.

 

Kendatipun demikian, pihaknya berharap, potensi yang pernah eksis ini dapat dibangkitkan kembali di masa kekinian. Terlebih di era ekonomi kreatif ini, kain tenun tidak sebatas untuk dijadikan kamen atau selendang. Melainkan bisa diolah menjadi produk kreatif lain. 

 

Sementara itu, satu-satunya pengrajin yang tersisa, Ni Made Mirib, 76, mengaku masih tetap menenun kain Cagcag tersebut. Terlebih sejak kecil dirinya memang sudah akrab dengan menenun. Meskipun rumit, aktifitas itu tetap ia geluti agar tetap bisa membeli beras. “Kalau sekarang saya menenun kalau pekerjaan rumah tangga sudah selesai, biar ada saja kegiatan,” ungkapnya.

 

Hanya saja, belakangan ini terutama saat pandemi Covid-19, kain tenun karyanya tidak laku dijual. Sehingga hanya dipergunakan sendiri. “Biasanya digunakan untuk wastra di sanggah atau rantasan. Dan kemarin saya sempat buatkan satu untuk cucu. Dipakai saat menari Rejang Sutri di Pura Desa Batuan,” bebernya.

 

Dan kalau pun dijual, dirinya tidak yakin jika kain tersebut akan terjual dengan harga yang layak. Apalagi pada situasi Covid-19 ini perekonomian menurun.

 

Atas kondisi tersebut ia pun memaklumi banyak teman-temannya yang beralih profesi. “Teman saya ada yang berdagang, ada yang mejejahitan, jadi tukang banten, dan ke sawah. Saya yang tidak kuat kerja sawah, pilih di rumah saja,” pungkasnya.

 

Dikonfirmasi terpisah, Perbekel Batuan, Ari Anggara mengaku tengah mencoba membangkitkan kembali potensi kerajinan tenun ini. Bahkan Ari Anggara meminta bantuan langsung pada Ketua Dekranasda Kabupaten Gianyar Ny Ida Ayu Adnyani Mahayastra. Disamping itu  Desa juga berupaya memperkenalkan kembali kain tenun yang nyaris punah ini.

 

“Yaitu dengan menampilkan kain inu  dalam ajang pameran UMKM pra even Saharsa Warsa seribu tahun prasasti Batuan yang berangkat tahun 944 Caka. Pameran berlangsung selama setahun penuh hingga 26 Desember 2022 dalam rangka menyambut perayaan seribu tahun tersebut,” tandasnya. 


Most Read

Artikel Terbaru

/