alexametrics
24.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Nyakan Diwang Simbol Lebur Kekotoran Jadi Momen Saling Memaafkan

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Ngembak Geni yang jatuh sehari setelah Hari Raya Nyepi dirayakan dengan penuh suka cita oleh masyarakat Desa Kayuputih, Kecamatan Banjar, Buleleng. Krama melaksanakan tradisi Nyakan Diwang (memasak di luar rumah) sebagai simbol peleburan segala kekotoran dan bersiap menyambut tahun baru saka.

Salah seorang warga Dusun Bolangan, Desa Kayuputih, Putu Sosiawan mengatakan, tradisi Nyakan Diwang kembali dilaksanakan, Jumat (4/3) sejak dini hari, setelah warga merayakan Nyepi Tahun Baru Saka 1944, Kamis (3/3).

Tradisi ini sebut Sosiawa dilaksanakan sebagai bentuk pembersihan rumah terutama penyepian dapur di setiap keluarga, dan diyakini bagi yang melaksanakannya akan terbebas dari leteh (kotor). Selain itu, Nyakan Diwang, momentumnya dapat dimanfaatkan untuk lebih mempererat tali rasa persaudaraan antara sesama krama desa.

Dikatakan Sosiawan, warga sangat antusias untuk melaksanakan Nyakan Diwang. Warga sudah beranjak dari tempat tidur sejak dini hari. Lampu rumah yang sebelumnya padam, satu persatu hidup, seakan menjadi tanda menyambut kehidupan baru di tahun baru saka.

Anak-anak, muda, dan tua menyambut dengan hangat suasana ini. Mereka tidak terlalu peduli dengan turunnya hujan. Hujan dianggap sudah menjadi ‘warna’ pergantian sasih kasanga ke sasih kadasa. Di samping sebagai sebuah siklus yang penting untuk kehidupan alam.

Persiapan memasak mulai dilakukan. Kaum laki-laki bertugas mempersiapkan tungku dan kayu bakar yang akan dipakai untuk memasak. Sedangkan ibu-ibu mulai menyiapkan air, daging, beras, dan peralatan memasak yang akan diperlukan selama tradisi berlangsung.

Api dinyalakan di tungku yang terbuat dari batu bata maupun batako, dengan umpan daun kelapa kering, yang dinamakan danyuh. “Begitu api tungku dinyalakan, tentu suasanya semakin hangat. Sangat cocok untuk berdiang, sekadar menghilangkan dingin,” jelasnya.

Dalam pelaksanaannya, semua keluarga berada di luar rumah untuk ikut membantu pelaksanaan memasak. Ada juga yang sibuk membentangkan tikar untuk duduk bersama keluarga ataupun bersama krama lainnya. Ada pula yang giat ikut menyiapkan bahan-bahan lauk.

Berbagai menu masakan dibuat saat tradisi ini berlangsung. Sama halnya dengan masak di rumah. Pisang rebus juga tidak ketinggalan. Sangat nikmat untuk hidangan pendamping kopi hitam dengan aromanya yang khas.

Warga tidak ingin melewatkan tradisi ini. Tenda sederhana dibangun untuk menghindarkan diri dari hujan. Ada pula yang hanya menggunakan payung sembari menjaga nyala api. Semangat ini menjadi sebuah penanda kesetiaan warga untuk memelihara warisan leluhur yang sudah ada secara turun temurun.

Tidak ada yang tahu sejak kapan tradisi ini ada. Warisan ini terus dijalankan setiap tahun dan dilestarikan karena dianggap sebagai keunikan yang tidak semua daerah memiliki. Dimaknai lebih dalam, pelaksanaan tradisi ini bukan hanya pemanis hari raya Nyepi. Tetapi juga sarat akan nilai sosiokultural.

“Nilai-nilai ini terlihat dari sikap gotong royong dengan anggota keluarga saat memasak, bercanda gurau, dan saling jotin (memberi) makanan antarkeluarga. Tentu ini akan memberikan vibrasi positif kepada masyarakat,” paparnya.






Reporter: I Putu Mardika

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Ngembak Geni yang jatuh sehari setelah Hari Raya Nyepi dirayakan dengan penuh suka cita oleh masyarakat Desa Kayuputih, Kecamatan Banjar, Buleleng. Krama melaksanakan tradisi Nyakan Diwang (memasak di luar rumah) sebagai simbol peleburan segala kekotoran dan bersiap menyambut tahun baru saka.

Salah seorang warga Dusun Bolangan, Desa Kayuputih, Putu Sosiawan mengatakan, tradisi Nyakan Diwang kembali dilaksanakan, Jumat (4/3) sejak dini hari, setelah warga merayakan Nyepi Tahun Baru Saka 1944, Kamis (3/3).

Tradisi ini sebut Sosiawa dilaksanakan sebagai bentuk pembersihan rumah terutama penyepian dapur di setiap keluarga, dan diyakini bagi yang melaksanakannya akan terbebas dari leteh (kotor). Selain itu, Nyakan Diwang, momentumnya dapat dimanfaatkan untuk lebih mempererat tali rasa persaudaraan antara sesama krama desa.

Dikatakan Sosiawan, warga sangat antusias untuk melaksanakan Nyakan Diwang. Warga sudah beranjak dari tempat tidur sejak dini hari. Lampu rumah yang sebelumnya padam, satu persatu hidup, seakan menjadi tanda menyambut kehidupan baru di tahun baru saka.

Anak-anak, muda, dan tua menyambut dengan hangat suasana ini. Mereka tidak terlalu peduli dengan turunnya hujan. Hujan dianggap sudah menjadi ‘warna’ pergantian sasih kasanga ke sasih kadasa. Di samping sebagai sebuah siklus yang penting untuk kehidupan alam.

Persiapan memasak mulai dilakukan. Kaum laki-laki bertugas mempersiapkan tungku dan kayu bakar yang akan dipakai untuk memasak. Sedangkan ibu-ibu mulai menyiapkan air, daging, beras, dan peralatan memasak yang akan diperlukan selama tradisi berlangsung.

Api dinyalakan di tungku yang terbuat dari batu bata maupun batako, dengan umpan daun kelapa kering, yang dinamakan danyuh. “Begitu api tungku dinyalakan, tentu suasanya semakin hangat. Sangat cocok untuk berdiang, sekadar menghilangkan dingin,” jelasnya.

Dalam pelaksanaannya, semua keluarga berada di luar rumah untuk ikut membantu pelaksanaan memasak. Ada juga yang sibuk membentangkan tikar untuk duduk bersama keluarga ataupun bersama krama lainnya. Ada pula yang giat ikut menyiapkan bahan-bahan lauk.

Berbagai menu masakan dibuat saat tradisi ini berlangsung. Sama halnya dengan masak di rumah. Pisang rebus juga tidak ketinggalan. Sangat nikmat untuk hidangan pendamping kopi hitam dengan aromanya yang khas.

Warga tidak ingin melewatkan tradisi ini. Tenda sederhana dibangun untuk menghindarkan diri dari hujan. Ada pula yang hanya menggunakan payung sembari menjaga nyala api. Semangat ini menjadi sebuah penanda kesetiaan warga untuk memelihara warisan leluhur yang sudah ada secara turun temurun.

Tidak ada yang tahu sejak kapan tradisi ini ada. Warisan ini terus dijalankan setiap tahun dan dilestarikan karena dianggap sebagai keunikan yang tidak semua daerah memiliki. Dimaknai lebih dalam, pelaksanaan tradisi ini bukan hanya pemanis hari raya Nyepi. Tetapi juga sarat akan nilai sosiokultural.

“Nilai-nilai ini terlihat dari sikap gotong royong dengan anggota keluarga saat memasak, bercanda gurau, dan saling jotin (memberi) makanan antarkeluarga. Tentu ini akan memberikan vibrasi positif kepada masyarakat,” paparnya.






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru

/