27.6 C
Denpasar
Wednesday, June 7, 2023

Ikat Catur Desa, Sucikan Danau Tamblingan

BALI EXPRESS, SINGARAJA – Desa Pakraman Gobleg, salah satu desa tua yang ada di Kecamatan Banjar, Buleleng ini,   menyimpan sejumlah prasasti bersejarah. Bahkan, prasasti dari tembaga itu memuat tentang pajak, serta batas-batas wilayah Tamblingan, yang konon menjadi pemukiman warga di era tiga raja. Yakni Raja Udayana, Raja Sri Suradipa, dan Raja Ugracena.

Sebanyak 23 lempeng prasasti disimpan di Puri Desa Gobleg, Kecamatan Banjar. Prasasti itu awalnya ditemukan di Catur Desa Adat Dalem Tamblingan yang terdiri dari Desa Pakraman Munduk, Gobleg, Ume Jero, dan Pakraman Gesing di Kecamatan Banjar.

Dari 23 prasasti itu, 15 prasasti ditemukan di dalam guci sekitar tahun 2001 silam. Sedangkan 8 prasasti lainnya,  merupakan warisan atau tetamian dari para pendahulu Puri Desa Gobleg.
Khusus prasasti yang ada di dalam guci, ditemukan oleh warga terkubur di wilayah Pura Endek, Desa Gobleg pada tahun 2001 lalu. Saat digali, ditemukan sebuah guci yang cukup besar. Di dalam guci itu lah terdapat 15 lempeng prasasti  dengan tulisan aksara Jawa Kuno.
Untuk mempermudah melakukan identifikasi, puluhan prasasti itu  selanjutnya dikelompokkan.Proses pengelompokan dilakukan berdasarkan angka tahun dan raja yang mengeluarkan.

Prasasti kelompok satu yang berangka tahun 844 Saka diberi nomor 104.b Tamblingan Pura Endek I. Sedangkan kelompok kedua yang dikeluarkan oleh Ugracena tanpa angka tahun diberi nomor 104.c Tamblingan, Pura Endek II.

Selanjutnya, Prasasti Kelompok ketiga yang diterbitkan  oleh Sri Gunapriya Dharmapatni dan Sri Dharmadoyana diberi nomor 305.d Tamblingan, Pura Endek III. Selanjutnya prasasti kelompok keempat yang dikeluarkan oleh Raja Sri Suradhipa  diberi nama dan nomor 511 Tamblingan, Pura Endek IV, dan prasasti yang ditemukan Pan Niki diberi nomor dan nama 901.b Tamblingan, Pura Endek V.

Baca Juga :  Jualan Narkoba, Tiga Anggota Ormas Dibekuk Polisi

Kini penyimpanan dua jenis prasasti berbahasa Bali Kuno itu disimpan di dua kelompok. Yakni 15 lempeng prasasti disimpan di dalam guci. Sedangkan prasasti tetamian  yang berjumlah 8 lempeng disimpan di dalam keropak. Prasasti itu ditemukan di Pura Batur, Desa Gobleg.
Tidak ada yang tahu sejak kapan prasasti itu ditemukan. Namun yang jelas, prasasti dengan panjang 42.4  sentimeter serta lebar 8.7 sentimter itu, sudah cukup lama tersimpan di Puri Desa Gobleg.

Pangrajeg (panglingsir) Puri Desa Gobleg, I Gusti Ngurah Agung Pradnyan, 65, mengatakan prasasti itu memang selalu dijaga dengan baik. Pembersihan pun rutin dilakukan setiap hari raya Tumpek Landep.

Mengingat ada beberapa prasasti yang mulai rusak, ia mengaku akan bekerjasama dengan pihak Balai Pelestarian Cagar Budaya untuk dibuatkan duplikatnya, serta membersihkan beberapa prasasti yang mulai dipenuhi jamur. “Terkait isinya jarang ada yang tau. Karena masalah prasasti itu kan ada disini atau ada di tempat lain. Dari leluhur kami yang dulu tinggal di Tamblingan, lalu pindah dan di bawa ke sini (Desa Gobleg),” terangnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) kemarin di Desa Gobel, Buleleng.

Sepengetahuannya, sekitar tahun 800-an, warga Desa Gobleg dahulunya tinggal di daerah Danau Tamblingan. Memasuki tahun 1400-an, para leluhur itu lantas pindah ke wilayah yang kini disebut dengan Desa Gobleg, lantaran Danau Tamblingan diyakini sebagai tempat suci (hulu). “Pitra yadnya tidak bisa dilaksanan karena daerah suci. Menurut sejarah, saat melaksanakan pitra yadnya banyak mayat yang hilang entah kemana. Oleh karena itu, mereka pindah  ke Gobleg,” ujarnya.

Baca Juga :  Banjar Dinas Kelod Kauh Jadi Banjar Digital

Ditambahkan Pradnyan, Catur Desa memang memiliki wilayah yang cukup luas, meliputi Desa Gobleg, Munduk, Ume Jero, dan Gesing. Tak hanya wilayah,  puluhan pura juga wajib dijaga, termasuk kawasan Danau Tamblingan yang diyakini memberikan sumber kehidupan bagi Catur Desa maupun Bali pada umumnya. “Danau Tamblingan sangat disucikan bagi krama Catur Desa. Di kawasan itu terdapat hampi 60-an pura yang sangat disucikan. Semua erat kaitannya untuk memohon kesuburan dan kesejahteraan bagi masyarakat,” ujar Pradnyan.

Dalam kesempatan terpisah, Kordinator Peneliti Balai Arkeologi Bali, Nyoman Sunarya mengatakan, dari hasil identifikasi, prasasti itu diketahui dibuat saat masa kerajaan Ugrasena pada tahun 844 Caka, masa Kerajaan Udayana, serta masa Kerajaan Suradhipa pada tahun 1041 Caka.

Usai diidentifikasi, lanjut Sunarya, pihaknya akan mengumpulkan datanya, selanjutnya menelusuri desa-desa yang telah disebutkan dalam prasasti tersebut. “Dalam prasasti ini berisi tentang batas wilayah Tamblingan,  pajak, hak dan kewajiban warga desa Tamblingan,” jelasnya.
Lanjut Sunarya, semua prasasti yang disimpan ini sangat diyakini membahas tentang Tamblingan sebagai sebuah Karaman. Atau wilayah yang sangat luas dan disebutkan batas-batas wilayah cinatur Tamblingan. “Batas-batasnya ada Pangi, Pedu, Unusan, Batu Mecepak, Batu Madeg, Belah Manukan merupakan wilayah-wilayah Tamblingan. Mungkin saja Tamblingan itu mewilayahi empat desa seperti Gobleg, Munduk, Umejero, dan Gesing,” tutupnya.


BALI EXPRESS, SINGARAJA – Desa Pakraman Gobleg, salah satu desa tua yang ada di Kecamatan Banjar, Buleleng ini,   menyimpan sejumlah prasasti bersejarah. Bahkan, prasasti dari tembaga itu memuat tentang pajak, serta batas-batas wilayah Tamblingan, yang konon menjadi pemukiman warga di era tiga raja. Yakni Raja Udayana, Raja Sri Suradipa, dan Raja Ugracena.

Sebanyak 23 lempeng prasasti disimpan di Puri Desa Gobleg, Kecamatan Banjar. Prasasti itu awalnya ditemukan di Catur Desa Adat Dalem Tamblingan yang terdiri dari Desa Pakraman Munduk, Gobleg, Ume Jero, dan Pakraman Gesing di Kecamatan Banjar.

Dari 23 prasasti itu, 15 prasasti ditemukan di dalam guci sekitar tahun 2001 silam. Sedangkan 8 prasasti lainnya,  merupakan warisan atau tetamian dari para pendahulu Puri Desa Gobleg.
Khusus prasasti yang ada di dalam guci, ditemukan oleh warga terkubur di wilayah Pura Endek, Desa Gobleg pada tahun 2001 lalu. Saat digali, ditemukan sebuah guci yang cukup besar. Di dalam guci itu lah terdapat 15 lempeng prasasti  dengan tulisan aksara Jawa Kuno.
Untuk mempermudah melakukan identifikasi, puluhan prasasti itu  selanjutnya dikelompokkan.Proses pengelompokan dilakukan berdasarkan angka tahun dan raja yang mengeluarkan.

Prasasti kelompok satu yang berangka tahun 844 Saka diberi nomor 104.b Tamblingan Pura Endek I. Sedangkan kelompok kedua yang dikeluarkan oleh Ugracena tanpa angka tahun diberi nomor 104.c Tamblingan, Pura Endek II.

Selanjutnya, Prasasti Kelompok ketiga yang diterbitkan  oleh Sri Gunapriya Dharmapatni dan Sri Dharmadoyana diberi nomor 305.d Tamblingan, Pura Endek III. Selanjutnya prasasti kelompok keempat yang dikeluarkan oleh Raja Sri Suradhipa  diberi nama dan nomor 511 Tamblingan, Pura Endek IV, dan prasasti yang ditemukan Pan Niki diberi nomor dan nama 901.b Tamblingan, Pura Endek V.

Baca Juga :  Banjar Dinas Kelod Kauh Jadi Banjar Digital

Kini penyimpanan dua jenis prasasti berbahasa Bali Kuno itu disimpan di dua kelompok. Yakni 15 lempeng prasasti disimpan di dalam guci. Sedangkan prasasti tetamian  yang berjumlah 8 lempeng disimpan di dalam keropak. Prasasti itu ditemukan di Pura Batur, Desa Gobleg.
Tidak ada yang tahu sejak kapan prasasti itu ditemukan. Namun yang jelas, prasasti dengan panjang 42.4  sentimeter serta lebar 8.7 sentimter itu, sudah cukup lama tersimpan di Puri Desa Gobleg.

Pangrajeg (panglingsir) Puri Desa Gobleg, I Gusti Ngurah Agung Pradnyan, 65, mengatakan prasasti itu memang selalu dijaga dengan baik. Pembersihan pun rutin dilakukan setiap hari raya Tumpek Landep.

Mengingat ada beberapa prasasti yang mulai rusak, ia mengaku akan bekerjasama dengan pihak Balai Pelestarian Cagar Budaya untuk dibuatkan duplikatnya, serta membersihkan beberapa prasasti yang mulai dipenuhi jamur. “Terkait isinya jarang ada yang tau. Karena masalah prasasti itu kan ada disini atau ada di tempat lain. Dari leluhur kami yang dulu tinggal di Tamblingan, lalu pindah dan di bawa ke sini (Desa Gobleg),” terangnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) kemarin di Desa Gobel, Buleleng.

Sepengetahuannya, sekitar tahun 800-an, warga Desa Gobleg dahulunya tinggal di daerah Danau Tamblingan. Memasuki tahun 1400-an, para leluhur itu lantas pindah ke wilayah yang kini disebut dengan Desa Gobleg, lantaran Danau Tamblingan diyakini sebagai tempat suci (hulu). “Pitra yadnya tidak bisa dilaksanan karena daerah suci. Menurut sejarah, saat melaksanakan pitra yadnya banyak mayat yang hilang entah kemana. Oleh karena itu, mereka pindah  ke Gobleg,” ujarnya.

Baca Juga :  Keterikatan Bikin Ketakutan, Kematian Bukan Proses Akhir

Ditambahkan Pradnyan, Catur Desa memang memiliki wilayah yang cukup luas, meliputi Desa Gobleg, Munduk, Ume Jero, dan Gesing. Tak hanya wilayah,  puluhan pura juga wajib dijaga, termasuk kawasan Danau Tamblingan yang diyakini memberikan sumber kehidupan bagi Catur Desa maupun Bali pada umumnya. “Danau Tamblingan sangat disucikan bagi krama Catur Desa. Di kawasan itu terdapat hampi 60-an pura yang sangat disucikan. Semua erat kaitannya untuk memohon kesuburan dan kesejahteraan bagi masyarakat,” ujar Pradnyan.

Dalam kesempatan terpisah, Kordinator Peneliti Balai Arkeologi Bali, Nyoman Sunarya mengatakan, dari hasil identifikasi, prasasti itu diketahui dibuat saat masa kerajaan Ugrasena pada tahun 844 Caka, masa Kerajaan Udayana, serta masa Kerajaan Suradhipa pada tahun 1041 Caka.

Usai diidentifikasi, lanjut Sunarya, pihaknya akan mengumpulkan datanya, selanjutnya menelusuri desa-desa yang telah disebutkan dalam prasasti tersebut. “Dalam prasasti ini berisi tentang batas wilayah Tamblingan,  pajak, hak dan kewajiban warga desa Tamblingan,” jelasnya.
Lanjut Sunarya, semua prasasti yang disimpan ini sangat diyakini membahas tentang Tamblingan sebagai sebuah Karaman. Atau wilayah yang sangat luas dan disebutkan batas-batas wilayah cinatur Tamblingan. “Batas-batasnya ada Pangi, Pedu, Unusan, Batu Mecepak, Batu Madeg, Belah Manukan merupakan wilayah-wilayah Tamblingan. Mungkin saja Tamblingan itu mewilayahi empat desa seperti Gobleg, Munduk, Umejero, dan Gesing,” tutupnya.


Most Read

Artikel Terbaru