alexametrics
29.8 C
Denpasar
Wednesday, May 25, 2022

Kandangkan Nafsu Liar, Tumpek Kandang Jadi Simbol Panyupatan

SINGARAJA, BALI EXPRESS -Setiap enam bulan sekali, umat Hindu di Bali melaksanakan perayaan Tumpek Uye atau Tumpek Kandang. Momentum ini dianggap sebagai jalan panyupatan bagi seluruh jenis satwa di Bhuana Agung, agar meningkat kualitas kehidupannya.

Ayu Veronika Somawati, M.Fil.H mengatakan, perayaan Tumpek Uye setiap 210 hari, tepatnya pada Saniscara Wuku Uye, sebagai bukti jika Hindu sangat menghormati keberadaan hewan yang menyokong kehidupan manusia. 

Perayaan Tumpek Uye bahkan tertuang dalam Lontar Sundarigama. Dalam Lontar Sundarigama disebutkan ‘Uye, saniscara kliwon, tumpek kandang ngaran, pakreti ring sarwa pasu, sato, mina, paksi, mwang patik wenang. Kalinganya, rikang wang wenang mamarid ring sanghyang rare angon, twi tatwayan ing manusa, ikang paksi sato mina ring raganta kapratyaksaknanta, apan raganta walungan ing sarira twi tatwaya sanghyang rare angon, sira umawak uttama ning sariranta’.

Jika diartikan, pada hari Sabtu Kliwon wuku Uye dinamakan Tumpek Kandang, yakni hari suci untuk mendoakan keselamatan hewan, binatang, ikan, unggas, dan ternak. Maknanya adalah manusia diperkenankan memohon sisa persembahan kepada Sanghyang Rare Angon, sesuai kodrati manusia itu sendiri, bahwa unggas, binatang, dan ikan bisa dicari di dalam diri manusia, karena raga manusia dibangun oleh tulang belulang (wawalungan) yang pada hakikatnya adalah manifestasi Sanghyang Rare Angon yang menjelma dalam diri manusia.

Dikatakan Ayu Veronika, doa umat Hindu sehari-hari dalam Puja Tri Sandhya bait ke-5 dengan tegas menyatakan Sarvaprani hitankarah. 

“Hendaknya semua  makhluk hidup sejahtera adalah doa yang bersifat universal untuk keseimbangan  jagat raya dan segala isinya,” jelasnya.

Upacara selamatan kepada binatang dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa kasih sayang kepada semua binatang, khususnya binatang ternak atau piaraan. Bagi masyarakat agraris, binatang, khususnya sapi sangat membantu manusia. Tenaganya untuk bekerja di sawah, susunya untuk kesegaran dan kesehatan manusia, bahkan kotorannya bermanfaat untuk menyuburkan tanaman.

“Hewan bahkan mengorbankan dirinya buat manusia, untuk menyediakan protein hewani daging, susu, telur, dan lemak. Sehingga manusia sangat mendapatkan manfaat dari hewan,” imbuhnya.

Perayaan hari suci Tumpek Uye menjadi momentum agar manusia senantiasa menjaga kelestarian semua makhluk hidup, khususnya hewan dan hewan ternak. Sehingga tidak mengherankan bila saat hari Tumpek Uye tiba, masyarakat di Bali yang memiliki hewan peliharaan golongan sato, mina, paksi, manuk, untuk dibuatkan sesajen. 

Tujuannya untuk memberikan panyupatan, agar kelahiran berikutnya dari roh hewan-hewan tersebut bisa meningkat kualitas tingkat kehidupannya. 

Umat Hindu, sebut Ayu Veronika, mempercayai di dalam tubuh para binatang bersemayam jiwatman yang memberikan kehidupan kepada para binatang, sama halnya dengan makhluk lain.   

“Panyupatan itu tidak semata untuk binatang dalam pengertian fisik yang ada di Bhuwana Agung alam semesta, tetapi juga nonfisik berupa sifat-sifat kebinatangan yang ada dalam diri manusia Bhuwana Alit,” katanya.

Secara perhitungan Wariga, penyebutan Tumpek Uye tiada terlepas dari perhitungan dina (hari). Saniscara (Sabtu) dianggap memiliki urip 9, wara kliwon memiliki urip 8 dan wuku uye juga memiliki urip 8. 

Jika dijumlahkan, Saniscara Kliwon Uye memiliki urip 25. Jika kedua angka itu dijumlahkan, didapat angka 7. Berdasarkan Tattwa Samkhya, hari dengan urip 7 dianggap sebagai hari berwatak rajah yang disejajarkan dengan watak sato (binatang). Senyatanya, dalam kehidupan sehari-hari, manusia juga kerap mengonsumsi daging yang bersumber dari hewan. 

Karenanya, unsur-unsur binatang telah bersemayam juga dalam tubuh manusia. Semua ini juga membawa pengaruh pada tabiat, sifat dan karakter manusia. Karena itu, manusia dikonsepsikan dalam Hindu memiliki sifat Tri Guna, yakni Satwam, Rajas, dan Tamas. 

“Secara filosofis, perayaan Tumpek Kandang adalah mengandangkan pikiran yang begitu liar, diibaratkan seperti hewan dan harus dikendalikan, sehingga bisa mengekang hawa nafsu,” jelasnya. 

Menurut Lontar Sundarigama, sarana upakara yang dihaturkan pada hari Tumpek Kandang ini adalah suci, daksina, pras ajuman, penek, soda prani putih kuning, canang lengewangi buratwangi, panyeneng, pasucian, dipersembahkan di Sanggar, berdoa memohon keselamatan kehadapan Sang Hyang Rare Angon. 

Adapun sesajen untuk hewan ternak, seperti kerbau, kuda, sapi, gajah, antara lain tumpeng sayut 1 buah, panyeneng, reresik, jarimpen, canang raka. Untuk babi betina diberi sesajen berupa tipat blakot. 

Untuk babi jantan wajib diberi sesajen blayag, pesor dan segawon. Untuk berbagai jenis unggas, seperti ayam, perkutut, itik, angsa, burung puteh, wajib diberi berbagai jenis ketipat kedis, ketipat sidapurna, ketipat bagia, ketipat pandawa disertai dengan panyeneng dan tatebus serta kembang pahes. 

Maknanya adalah manusia diperkenankan memohon sisa persembahan kepada Sang Hyang Rare Angon. Sesuai dengan kodrati manusia itu sendiri, bahwa unggas, binatang dan ikan bisa dicari di dalam diri manusia. 

“Karena raga manusia dibangun oleh tulang belulang (wawalungan) yang pada hakekatnya adalah manifestasi Sang Hyang Rare Angon yang menjelma dalam diri manusia,” kata Veronika.

Pelaksanaan tumpek kandang bisa dilakukan baik menggunakan sarana tingkat alit, madya hingga tingkat agung. Selain perbedaan sarana, mantram yang digunakan pun berbeda sesuai dengan tingkatan. 


SINGARAJA, BALI EXPRESS -Setiap enam bulan sekali, umat Hindu di Bali melaksanakan perayaan Tumpek Uye atau Tumpek Kandang. Momentum ini dianggap sebagai jalan panyupatan bagi seluruh jenis satwa di Bhuana Agung, agar meningkat kualitas kehidupannya.

Ayu Veronika Somawati, M.Fil.H mengatakan, perayaan Tumpek Uye setiap 210 hari, tepatnya pada Saniscara Wuku Uye, sebagai bukti jika Hindu sangat menghormati keberadaan hewan yang menyokong kehidupan manusia. 

Perayaan Tumpek Uye bahkan tertuang dalam Lontar Sundarigama. Dalam Lontar Sundarigama disebutkan ‘Uye, saniscara kliwon, tumpek kandang ngaran, pakreti ring sarwa pasu, sato, mina, paksi, mwang patik wenang. Kalinganya, rikang wang wenang mamarid ring sanghyang rare angon, twi tatwayan ing manusa, ikang paksi sato mina ring raganta kapratyaksaknanta, apan raganta walungan ing sarira twi tatwaya sanghyang rare angon, sira umawak uttama ning sariranta’.

Jika diartikan, pada hari Sabtu Kliwon wuku Uye dinamakan Tumpek Kandang, yakni hari suci untuk mendoakan keselamatan hewan, binatang, ikan, unggas, dan ternak. Maknanya adalah manusia diperkenankan memohon sisa persembahan kepada Sanghyang Rare Angon, sesuai kodrati manusia itu sendiri, bahwa unggas, binatang, dan ikan bisa dicari di dalam diri manusia, karena raga manusia dibangun oleh tulang belulang (wawalungan) yang pada hakikatnya adalah manifestasi Sanghyang Rare Angon yang menjelma dalam diri manusia.

Dikatakan Ayu Veronika, doa umat Hindu sehari-hari dalam Puja Tri Sandhya bait ke-5 dengan tegas menyatakan Sarvaprani hitankarah. 

“Hendaknya semua  makhluk hidup sejahtera adalah doa yang bersifat universal untuk keseimbangan  jagat raya dan segala isinya,” jelasnya.

Upacara selamatan kepada binatang dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa kasih sayang kepada semua binatang, khususnya binatang ternak atau piaraan. Bagi masyarakat agraris, binatang, khususnya sapi sangat membantu manusia. Tenaganya untuk bekerja di sawah, susunya untuk kesegaran dan kesehatan manusia, bahkan kotorannya bermanfaat untuk menyuburkan tanaman.

“Hewan bahkan mengorbankan dirinya buat manusia, untuk menyediakan protein hewani daging, susu, telur, dan lemak. Sehingga manusia sangat mendapatkan manfaat dari hewan,” imbuhnya.

Perayaan hari suci Tumpek Uye menjadi momentum agar manusia senantiasa menjaga kelestarian semua makhluk hidup, khususnya hewan dan hewan ternak. Sehingga tidak mengherankan bila saat hari Tumpek Uye tiba, masyarakat di Bali yang memiliki hewan peliharaan golongan sato, mina, paksi, manuk, untuk dibuatkan sesajen. 

Tujuannya untuk memberikan panyupatan, agar kelahiran berikutnya dari roh hewan-hewan tersebut bisa meningkat kualitas tingkat kehidupannya. 

Umat Hindu, sebut Ayu Veronika, mempercayai di dalam tubuh para binatang bersemayam jiwatman yang memberikan kehidupan kepada para binatang, sama halnya dengan makhluk lain.   

“Panyupatan itu tidak semata untuk binatang dalam pengertian fisik yang ada di Bhuwana Agung alam semesta, tetapi juga nonfisik berupa sifat-sifat kebinatangan yang ada dalam diri manusia Bhuwana Alit,” katanya.

Secara perhitungan Wariga, penyebutan Tumpek Uye tiada terlepas dari perhitungan dina (hari). Saniscara (Sabtu) dianggap memiliki urip 9, wara kliwon memiliki urip 8 dan wuku uye juga memiliki urip 8. 

Jika dijumlahkan, Saniscara Kliwon Uye memiliki urip 25. Jika kedua angka itu dijumlahkan, didapat angka 7. Berdasarkan Tattwa Samkhya, hari dengan urip 7 dianggap sebagai hari berwatak rajah yang disejajarkan dengan watak sato (binatang). Senyatanya, dalam kehidupan sehari-hari, manusia juga kerap mengonsumsi daging yang bersumber dari hewan. 

Karenanya, unsur-unsur binatang telah bersemayam juga dalam tubuh manusia. Semua ini juga membawa pengaruh pada tabiat, sifat dan karakter manusia. Karena itu, manusia dikonsepsikan dalam Hindu memiliki sifat Tri Guna, yakni Satwam, Rajas, dan Tamas. 

“Secara filosofis, perayaan Tumpek Kandang adalah mengandangkan pikiran yang begitu liar, diibaratkan seperti hewan dan harus dikendalikan, sehingga bisa mengekang hawa nafsu,” jelasnya. 

Menurut Lontar Sundarigama, sarana upakara yang dihaturkan pada hari Tumpek Kandang ini adalah suci, daksina, pras ajuman, penek, soda prani putih kuning, canang lengewangi buratwangi, panyeneng, pasucian, dipersembahkan di Sanggar, berdoa memohon keselamatan kehadapan Sang Hyang Rare Angon. 

Adapun sesajen untuk hewan ternak, seperti kerbau, kuda, sapi, gajah, antara lain tumpeng sayut 1 buah, panyeneng, reresik, jarimpen, canang raka. Untuk babi betina diberi sesajen berupa tipat blakot. 

Untuk babi jantan wajib diberi sesajen blayag, pesor dan segawon. Untuk berbagai jenis unggas, seperti ayam, perkutut, itik, angsa, burung puteh, wajib diberi berbagai jenis ketipat kedis, ketipat sidapurna, ketipat bagia, ketipat pandawa disertai dengan panyeneng dan tatebus serta kembang pahes. 

Maknanya adalah manusia diperkenankan memohon sisa persembahan kepada Sang Hyang Rare Angon. Sesuai dengan kodrati manusia itu sendiri, bahwa unggas, binatang dan ikan bisa dicari di dalam diri manusia. 

“Karena raga manusia dibangun oleh tulang belulang (wawalungan) yang pada hakekatnya adalah manifestasi Sang Hyang Rare Angon yang menjelma dalam diri manusia,” kata Veronika.

Pelaksanaan tumpek kandang bisa dilakukan baik menggunakan sarana tingkat alit, madya hingga tingkat agung. Selain perbedaan sarana, mantram yang digunakan pun berbeda sesuai dengan tingkatan. 


Most Read

Artikel Terbaru

/