alexametrics
27.8 C
Denpasar
Saturday, May 28, 2022

Ngerebeg untuk Tangkal Bencana di Desa Kubutambahan

BULELENG, BALI EXPRESS – Desa Kubutambahan, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, memiliki tradisi Ngerebeg setiap lima tahun sekali. Tradisi yang menggunakan sarana godel luwe (anak sapi betina) ini bertujuan menetralisasi dari pengaruh negatif Bhuta Kala, sehingga terhindar dari berbagai bencana dan penyakit.

Kelian Adat Kubutambahan Jro Ketut Warkadea mengatakan, tradisi yang telah dilaksanakan secara turun-temurun ini bersumber dari Lontar Roga Sanggara Bumi. 

Menurutnya, dalam situasi alam yang tidak menentu seperti adanya bencana seperti air laut naik, banjir, gempa, tsunami, angin puting beliung, kebakaran, gunung meletus, gagal panen.

Bahkan, penyakit yang membuat masyarakat meninggal akibat ulah pati dan salah pati menjadi penanda agar segera tradisi ini dilaksanakan. 

Jro Warkadea mengatakan, tradisi ini terakhir digelar pada tahun 2019 lalu. Bahkan, tradisi ini diyakini sudah ada sejak tahun 1.700 masehi.

Setiap krama lanang (pria) yang datang wajib membawa Sudukan, tombak dan keris. Sudukan ini terbuat dari batang bambu yang diruncingkan berukuran sekitar 1,5 meter. “Sarana Sudukan, tombak dan keris ini sebagai simbol senjata yang nantinya digunakan untuk menusuk godel luwe yang disimbolkan sebagai Bhuta Kala sebelum dilarung ke laut,” jelasnya.

Prosesinya diawali dengan melaksanakan persembahyangan di Pura Dalem Purwa, Desa Kubutambahan untuk memohon keselamatan. Setelah sembahyang di Pura Dalem Purwa, krama langsung bergerak dengan berjalan kaki menuju Pura Segara, Desa Pakraman Kubutambahan. 

Krama berjalan secara beriringan sembari membawa sudukan. Pun demikian dengan sarana berupa godel luwe juga ikut diarak ke Pura Segara.

Sesampai di depan Pura Segara, krama kembali menggelar persembahyangan sebelum melakukan bhakti Ngerebeg. 

Persembahyangan persis dilangsungkan di tepi pantai Dusun Kubuanyar, Desa Kubutambahan, dengan sejumlah sarana banten. 

Ia menambahkan, setelah tradisi Ngerebeg, godel tersebut langsung dilarung ke laut. Dengan harapan segala marabahaya, penyakit dan kekuatan negatif dari Bhuta Kala segera dimusnahkan, sehingga tidak mengganggu kehidupan manusia.

“Kami meyakini setelah tradisi ini dilaksanakan, tidak lagi ada kekhawatiran masyarakat tentang dampak dari unsur panca mahabuta, seperti air, api, gas tanah dan lainnya,” pungkasnya. 


BULELENG, BALI EXPRESS – Desa Kubutambahan, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, memiliki tradisi Ngerebeg setiap lima tahun sekali. Tradisi yang menggunakan sarana godel luwe (anak sapi betina) ini bertujuan menetralisasi dari pengaruh negatif Bhuta Kala, sehingga terhindar dari berbagai bencana dan penyakit.

Kelian Adat Kubutambahan Jro Ketut Warkadea mengatakan, tradisi yang telah dilaksanakan secara turun-temurun ini bersumber dari Lontar Roga Sanggara Bumi. 

Menurutnya, dalam situasi alam yang tidak menentu seperti adanya bencana seperti air laut naik, banjir, gempa, tsunami, angin puting beliung, kebakaran, gunung meletus, gagal panen.

Bahkan, penyakit yang membuat masyarakat meninggal akibat ulah pati dan salah pati menjadi penanda agar segera tradisi ini dilaksanakan. 

Jro Warkadea mengatakan, tradisi ini terakhir digelar pada tahun 2019 lalu. Bahkan, tradisi ini diyakini sudah ada sejak tahun 1.700 masehi.

Setiap krama lanang (pria) yang datang wajib membawa Sudukan, tombak dan keris. Sudukan ini terbuat dari batang bambu yang diruncingkan berukuran sekitar 1,5 meter. “Sarana Sudukan, tombak dan keris ini sebagai simbol senjata yang nantinya digunakan untuk menusuk godel luwe yang disimbolkan sebagai Bhuta Kala sebelum dilarung ke laut,” jelasnya.

Prosesinya diawali dengan melaksanakan persembahyangan di Pura Dalem Purwa, Desa Kubutambahan untuk memohon keselamatan. Setelah sembahyang di Pura Dalem Purwa, krama langsung bergerak dengan berjalan kaki menuju Pura Segara, Desa Pakraman Kubutambahan. 

Krama berjalan secara beriringan sembari membawa sudukan. Pun demikian dengan sarana berupa godel luwe juga ikut diarak ke Pura Segara.

Sesampai di depan Pura Segara, krama kembali menggelar persembahyangan sebelum melakukan bhakti Ngerebeg. 

Persembahyangan persis dilangsungkan di tepi pantai Dusun Kubuanyar, Desa Kubutambahan, dengan sejumlah sarana banten. 

Ia menambahkan, setelah tradisi Ngerebeg, godel tersebut langsung dilarung ke laut. Dengan harapan segala marabahaya, penyakit dan kekuatan negatif dari Bhuta Kala segera dimusnahkan, sehingga tidak mengganggu kehidupan manusia.

“Kami meyakini setelah tradisi ini dilaksanakan, tidak lagi ada kekhawatiran masyarakat tentang dampak dari unsur panca mahabuta, seperti air, api, gas tanah dan lainnya,” pungkasnya. 


Most Read

Artikel Terbaru

/