alexametrics
27.6 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

Tirta Pura Pucak Catu Atasi Soal Hama dan Ternak

MANGUPURA, BALI EXPRESS-Banyak pura sebagai tempat pemujaan kepada Tuhan serta manifestasinya ada di Bali, sehingga diberi julukan Pulau Seribu Pura. Segala hal pun terkadang dikaitkan dengan kemahakuasaan Tuhan. Seperti halnya dalam hal pertanian.

Pura Pucak Catu yang berada di Bukit Guwang adalah salah satu tempat suci yang erat kaitannya dengan pertanian. Lokasinya masih di wilayah Banjar Sandakan, Desa Sulangai, Kecamatan Petang, Badung. Pura ini terletak di sekitar puncak bukit tersebut. Sehingga juga dikenal sebagai Pura Luhur Pucak Bukit Guwang. Areanya tak begitu luas, namun asri. Sebab dikelilingi hijaunya pemandangan.

Dituturkan Jro Mangku Made Dimas Agus Supryatna, dahulu kala, warga di Banjar Adat Buangga mendapat pawisik atau petunjuk secara niskala. Dalam petunjuk tersebut, yang bersangkutan diminta ke Banjar Sandakan, Desa Sulangai untuk mengambil kayu Majegau atau Gaharu untuk bahan prarai tapel (topeng) sakral. “Mendapat pawisik, warga pun berangkat menuju tempat yang ditunjuk,” ungkapnya baru-baru ini kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Baca Juga :  Pamangku Pura Menjangan Semua Titah Gaib, Pantang Babi Guling

Tak lama kemudian, warga sampai di lokasi. Di lokasi pohon Majegau tersebut tumbuh, ada bebaturan tempat memuja Dewi Sri,  untuk memohon keberhasilan sawah. Setelah ritual, warga pun nunas (meminta) bagian pohon untuk dibawa ke Banjar Buangga.

Lambat laun, setelah prarai jadi dan distanakan, sawah masyarakat di Banjar Buangga pun berhasil baik. Nah, tiap piodalan prarai tapakan menginginkan agar ‘pulang’ ke bebaturan Palinggih Dewi Sri di Sandakan. “Jadi ida kayun lunga ke kampung. Hal itu pun masih berlangsung sampai sekarang,” katanya.

Kebiasaan ini pun juga menjadikan warga di Banjar Adat Buangga dan Sandakan kian akrab. Sebab, tiap bertemu, mereka saling bertutur tentang pengolahan pertanian, khususnya sawah. “Jadi, warga saling bertutur tentang pertanian, sehingga terjalin kedekatan sampai saat ini,” jelasnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, pura tersebut awalnya disungsung warga-warga dari kedua banjar tersebut. Khususnya yang memiliki kepentingan terhadap sawahnya. “Yang ngayah itu suka rela. Bukan menjadi tanggung jawab desa. Bagi mereka yang meyakini,” katanya.

Baca Juga :  Pura Patih; Tanpa Pujawali, Kulkul Bunyi Sendiri Jika Bencana Datang

Keunikannya, kata Jro Mangku berusia 27 tahun ini, zaman dahulu belum ada pestisida kimiawi seperti saat ini. Namun, dengan mohon tirta (air suci) di Pura Pucak Catu, kesulitan petani bisa teratasi. “Jadi ada hama pertanian, ternaknya sakit, mereka kemudian memohon. Dengan tirta yang didapatkan, kemudian dipercikkan, berangsur-angsur pertaniannya akan membaik dan ternak sehat,” jelasnya.

Saat ini, Pura Pucak Catu telah memiliki sejumlah palinggih. Keberadaan pura juga masih lestari. Jro Mangku Dimas sebagai generasi penerus, kini melanjutkan tugas kakeknya. “Dahulu waktu kakek yang juga seorang pamangku masih hidup, beliau dan pamangku di Banjar Buangga yang mengurus prosesi itu. Tapi sekarang masih paman, bibi, dan tyang,” ujarnya.

Kapan piodalannya? Jro Mangku Dimas menyebut, piodalah jatuh saat Purnama Kasa. Biasanya warga pun bersembahyang bersama, mengucapkan terima kasih atas anugerah yang telah diberikan.

 


MANGUPURA, BALI EXPRESS-Banyak pura sebagai tempat pemujaan kepada Tuhan serta manifestasinya ada di Bali, sehingga diberi julukan Pulau Seribu Pura. Segala hal pun terkadang dikaitkan dengan kemahakuasaan Tuhan. Seperti halnya dalam hal pertanian.

Pura Pucak Catu yang berada di Bukit Guwang adalah salah satu tempat suci yang erat kaitannya dengan pertanian. Lokasinya masih di wilayah Banjar Sandakan, Desa Sulangai, Kecamatan Petang, Badung. Pura ini terletak di sekitar puncak bukit tersebut. Sehingga juga dikenal sebagai Pura Luhur Pucak Bukit Guwang. Areanya tak begitu luas, namun asri. Sebab dikelilingi hijaunya pemandangan.

Dituturkan Jro Mangku Made Dimas Agus Supryatna, dahulu kala, warga di Banjar Adat Buangga mendapat pawisik atau petunjuk secara niskala. Dalam petunjuk tersebut, yang bersangkutan diminta ke Banjar Sandakan, Desa Sulangai untuk mengambil kayu Majegau atau Gaharu untuk bahan prarai tapel (topeng) sakral. “Mendapat pawisik, warga pun berangkat menuju tempat yang ditunjuk,” ungkapnya baru-baru ini kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Baca Juga :  Macan dan Menjangan Kerap Muncul di Kawasan Pura Laban

Tak lama kemudian, warga sampai di lokasi. Di lokasi pohon Majegau tersebut tumbuh, ada bebaturan tempat memuja Dewi Sri,  untuk memohon keberhasilan sawah. Setelah ritual, warga pun nunas (meminta) bagian pohon untuk dibawa ke Banjar Buangga.

Lambat laun, setelah prarai jadi dan distanakan, sawah masyarakat di Banjar Buangga pun berhasil baik. Nah, tiap piodalan prarai tapakan menginginkan agar ‘pulang’ ke bebaturan Palinggih Dewi Sri di Sandakan. “Jadi ida kayun lunga ke kampung. Hal itu pun masih berlangsung sampai sekarang,” katanya.

Kebiasaan ini pun juga menjadikan warga di Banjar Adat Buangga dan Sandakan kian akrab. Sebab, tiap bertemu, mereka saling bertutur tentang pengolahan pertanian, khususnya sawah. “Jadi, warga saling bertutur tentang pertanian, sehingga terjalin kedekatan sampai saat ini,” jelasnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, pura tersebut awalnya disungsung warga-warga dari kedua banjar tersebut. Khususnya yang memiliki kepentingan terhadap sawahnya. “Yang ngayah itu suka rela. Bukan menjadi tanggung jawab desa. Bagi mereka yang meyakini,” katanya.

Baca Juga :  Ubah Awig-awig Wajib Cantumkan Awig Sebelumnya

Keunikannya, kata Jro Mangku berusia 27 tahun ini, zaman dahulu belum ada pestisida kimiawi seperti saat ini. Namun, dengan mohon tirta (air suci) di Pura Pucak Catu, kesulitan petani bisa teratasi. “Jadi ada hama pertanian, ternaknya sakit, mereka kemudian memohon. Dengan tirta yang didapatkan, kemudian dipercikkan, berangsur-angsur pertaniannya akan membaik dan ternak sehat,” jelasnya.

Saat ini, Pura Pucak Catu telah memiliki sejumlah palinggih. Keberadaan pura juga masih lestari. Jro Mangku Dimas sebagai generasi penerus, kini melanjutkan tugas kakeknya. “Dahulu waktu kakek yang juga seorang pamangku masih hidup, beliau dan pamangku di Banjar Buangga yang mengurus prosesi itu. Tapi sekarang masih paman, bibi, dan tyang,” ujarnya.

Kapan piodalannya? Jro Mangku Dimas menyebut, piodalah jatuh saat Purnama Kasa. Biasanya warga pun bersembahyang bersama, mengucapkan terima kasih atas anugerah yang telah diberikan.

 


Most Read

Artikel Terbaru

/