Minggu, 24 Oct 2021
Bali Express
Home / Balinese
icon featured
Balinese

Berani Menangkap dan Menangkar Burung, Denda Rp 2,5 Juta

05 Agustus 2021, 12: 19: 46 WIB | editor : Nyoman Suarna

Berani Menangkap dan Menangkar Burung, Denda Rp 2,5 Juta

Bendesa Adat Pejeng, Menanga, I Gusti Agung Ngurah Kepakisan (Agus Eka Purna Negara/Bali Express)

Share this      

AMLAPURA, BALI EXPRESS – Desa Adat Pejeng, Desa Menanga, Kecamatan Rendang, Karangasem, terletak tidak jauh dari kawasan hutan kaki Gunung Agung. Wilayah desa adat setempat sebagian besar adalah tegalan dan hutan yang masuk ke dalam kawasan rawan bencana (KRB) Gunung Agung. 

Suasana yang masih asri, mencirikan warga desa adat setempat masih menjaga kelestarian hutan. Bahkan untuk menjaga ekosistem, terutama habitat burung-burung, Desa Adat Pejeng menetapkan pararem/aturan adat tentang larangan menembak atau menangkap burung.

Pararem tersebut tertuang dalam keputusan Desa Adat Pejeng, yakni pararem Nomor 4 Tahun 2020 tentang larangan memburu, menembak, bahkan sekadar menangkar burung di wilayah desa. Aturan itu berlaku bagi warga setempat juga warga luar desa adat. Jika aturan itu dilanggar, warga bakal disanksi denda Rp 2,5 juta.

Baca juga: Penggunaan Kain Bebali dalam Proses Kehidupan Manusia

Bendesa Adat Pejeng, Desa Menanga, I Gusti Agung Ngurah Kepakisan menjelaskan, pararem itu ditetapkan berdasarkan keputusan bersama warga adat. Aturan itu tercetus atas keprihatinan warga desa yang melihat banyaknya para pemburu burung dari luar desa yang dinilai meresahkan. Sejak ada aturan itu, perubahan tampak terasa. Saat ini tidak ada warga yang berani memburu burung di Desa Adat Pejeng, Menanga.

Tidak heran, kebanyakan warga setempat sangat gemar mendengar kicauan burung tiap pagi atau sehabis hujan. Namun burung-burung itu pantang disangkarkan. Pengalaman mendengarkan burung berkicau justru semakin jarang didapat seiring banyaknya pemburu yang datang ke wilayah desa.

"Terus terang, kami sangat suka dengar suara burung. Termasuk saya pribadi pecinta burung. Dulu lumayan banyak ada burung di sini. Tapi semenjak ada pemburuan itu, rasanya semakin sedikit ada burung liar. Memang tidak terlihat, tapi terasa pengaruhnya," tutur Gusti Agung Ngurah Kepakisan, Selasa (3/8). 

Sejak menjabat bendesa awal 2020, pihaknya menetapkan pararem larangan menangkap burung. Harapannya agar kelestarian hutan dan populasi burung terjaga. Desa adat mengimbau krama (warganya) untuk menaati dan mengawasi warga atau masyarakat luar yang berusaha menangkap burung. "Warga sini rumahnya berdekatan dengan ladang saat bertani pasti saja bertemu," katanya.

Agung Ngurah Kepakisan membenarkan sanksi denda Rp 2,5 juta berlaku bagi semua orang yang melanggar. "Kami imbau krama, siapa yang melihat atau bertemu dengan penangkap burung, agar ditegur dulu. Kalau ngotot tetap menangkap atau membawa burung itu, kami minta orang tersebut diajak saja ke desa adat, disanksi," tegasnya.

(bx/aka/man/JPR)

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia