alexametrics
28.8 C
Denpasar
Saturday, May 28, 2022

Suguhkan Rokok Saat Upacara, Sanksi Sekarung Beras

AMLAPURA, BALI EXPRESS — Desa Adat Kastala di Kecamatan Bebandem, Karangasem, telah mengesahkan beberapa pararem atau aturan adat sejak beberapa tahun terakhir.

Satu diantaranya aturan adat tentang larangan menyuguhkan rokok saat upacara agama. Pararem itu disahkan pada 2014 lalu. Aturan adat itu dikenal di desa adat setempat dengan sebutan pararem kemiskinan kultur. 

Bukan tanpa sebab. Penetapan aturan itu dilatarbelakangi keprihatinan desa adat terhadap kesehatan krama (warga adat). Dalam konteks pelaksanaan rangkaian upacara, menyediakan rokok dinilai memberatkan ekonomi penyelenggara acara.

Bendesa Adat Kastala, I Nyoman Ganti membenarkan pararem kemiskinan kultur itu memang aturan bagi warga untuk tidak menyediakan rokok saat upacara agama.

Aturan itu berlaku sejak 2014. Menariknya, aturan ini tidak hanya berlaku di Desa Adat Kastala, melainkan di 15 desa adat se-Kecamatan Bebandem.

Nyoman Ganti yang juga Bendesa Alitan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Bebandem ini menyebut, ada sanksi bagi warga yang melanggar aturan tersebut. Diantaranya menyetor satu karung beras ke desa.

Sejauh ini, belum ada warga yang diketahui melanggar ketentuan. Warga dinilai telah tertib. Dia menegaskan, aturan itu belum pernah mendapatkan tentangan atau penolakan warga adat. 

Menurutnya, aturan larangan menyediakan rokok saat upacara agama bertujuan untuk kebaikan seluruh masyarakat, khususnya di Desa Adat Kastala.

Aturan tersebut setidaknya memberikan edukasi kepada warga, bahwa menyediakan rokok justru memiskinkan krama yang menggelar upacara. 

Di satu sisi, biaya yang dikeluarkan untuk upacara saja cukup besar. Di satu sisi, krama yang menggelar upacara seakan memiliki persepsi, menyediakan rokok bagi krama yang hadir atau membantu seakan jadi kewajiban.

Hal ini mengakibatkan dana yang dikeluarkan besar dan boros. Dari segi kesehatan, rokok juga tidak bermanfaat. “Jadi, kami ingin warga mendapat edukasi. Ini demi kebaikan bersama. Krama yang gelar upacara, fokus untuk pelaksanaan rangkaian saja,” ucap Ganti. 


AMLAPURA, BALI EXPRESS — Desa Adat Kastala di Kecamatan Bebandem, Karangasem, telah mengesahkan beberapa pararem atau aturan adat sejak beberapa tahun terakhir.

Satu diantaranya aturan adat tentang larangan menyuguhkan rokok saat upacara agama. Pararem itu disahkan pada 2014 lalu. Aturan adat itu dikenal di desa adat setempat dengan sebutan pararem kemiskinan kultur. 

Bukan tanpa sebab. Penetapan aturan itu dilatarbelakangi keprihatinan desa adat terhadap kesehatan krama (warga adat). Dalam konteks pelaksanaan rangkaian upacara, menyediakan rokok dinilai memberatkan ekonomi penyelenggara acara.

Bendesa Adat Kastala, I Nyoman Ganti membenarkan pararem kemiskinan kultur itu memang aturan bagi warga untuk tidak menyediakan rokok saat upacara agama.

Aturan itu berlaku sejak 2014. Menariknya, aturan ini tidak hanya berlaku di Desa Adat Kastala, melainkan di 15 desa adat se-Kecamatan Bebandem.

Nyoman Ganti yang juga Bendesa Alitan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Bebandem ini menyebut, ada sanksi bagi warga yang melanggar aturan tersebut. Diantaranya menyetor satu karung beras ke desa.

Sejauh ini, belum ada warga yang diketahui melanggar ketentuan. Warga dinilai telah tertib. Dia menegaskan, aturan itu belum pernah mendapatkan tentangan atau penolakan warga adat. 

Menurutnya, aturan larangan menyediakan rokok saat upacara agama bertujuan untuk kebaikan seluruh masyarakat, khususnya di Desa Adat Kastala.

Aturan tersebut setidaknya memberikan edukasi kepada warga, bahwa menyediakan rokok justru memiskinkan krama yang menggelar upacara. 

Di satu sisi, biaya yang dikeluarkan untuk upacara saja cukup besar. Di satu sisi, krama yang menggelar upacara seakan memiliki persepsi, menyediakan rokok bagi krama yang hadir atau membantu seakan jadi kewajiban.

Hal ini mengakibatkan dana yang dikeluarkan besar dan boros. Dari segi kesehatan, rokok juga tidak bermanfaat. “Jadi, kami ingin warga mendapat edukasi. Ini demi kebaikan bersama. Krama yang gelar upacara, fokus untuk pelaksanaan rangkaian saja,” ucap Ganti. 


Most Read

Artikel Terbaru

/