alexametrics
28.7 C
Denpasar
Saturday, May 21, 2022

Dikenal Kala Paksa, Ada Pantangan Khusus

Masyarakat Hindu di Bali meyakini jika Hari Sukra (Jumat) Wuku Wayang dianggap sangat keramat. Bahkan, dianggap jauh lebih keramat dibandingkan dengan Tumpek (Saniscara) Wayang. Sehingga, ada sejumlah pantangan yang patut dihindari agar tidak berakibat fatal.

 

Penekun Spiritual, Jero Putu Agus Panca Saputra, 31 atau yang akrab disapa Jro Panca menegaskan jika Sukran Wayan dalam Lontar Sundarigama dianggap sebagai kala paksa. Konon, saat itu posisi dunia dianggap titik puncak cemer atau kekotoran.

 

Jro Panca bukan tanpa alasan mengapa Hari Kala paksa dianggap hari terkotor. Jika dikaji menggunakan pendekatan Tattwa Samkya, disebutkan wuku Wayang memiliki urip 4, hari Jumat (Sukra) memiliki urip 6, dan wara Wage memiliki urip 4.

 

 

 

Jika ketiga urip itu dijumlahkan, maka didapat angka 14. Jro Panca menyebut, angka 14 terdiri dari angka 1 dan 4, yang jika dijumlahnya menjadi 5. Menurutnya, angka 5 tersebut merupakan simbol dari kekuatan panca maha bhuta atau lima unsur pembentuk tubuh.

 

 

 

“Karenanya, hari kala paksa merupakan hari yang dikuasai kekuatan panca maha bhuta sehingga menjadi puncak hari kotor. Saat itu kekuatan Kala dinyatakan sedang memuncak,” jelasnya.

 

 

 

Dikatakan Jro Panca, Kala Paksa atau sering pula disebut sebagai hari Pemagpag Kala kerap disikapi dengan melaksanakan sejumlah ritual. Pada hari ini biasanya orang bali akan memasang sesuuk semacam penanda yang dihaturkan di disetiap pelinggih atau bangunan suci dan lebuh.

 

 

 

Masyarakat biasanya menghaturkan pandan medui (berduri) sebanyak 5 ikat. Sarana tersebut berisi tapak dara pamor, lalu diikat benang tridatu beralaskan sidi serta Tri Ketuka yang terdiri dari Suna Jangu dan Pamor yang berada di atas tangkih.

 

 

 

“Dalam Lontar Wraspati Kalpa Tri Ketuka itu adalah simbol Tri Murti yakni Brahma Wisnu Siwa,” jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group)

 

Banten sesuwuk tersebut kemudian dihaturkan di sejumlah tempat suci. Seperti di Penunggun Karang, hingga Kemulan. Jika di areal merajan, bisa dihaturkan di Bale Paruman, hingga pelinggih Surya atau Luhuring Akasa.

 

“Sarananya dihaturkan sejak pagi, sorenya baru sesuuknya luarang di pemedal (pintu gerbang, red). Pamor dan tri ketuka ditunas, lalu oleskan dengan posisi tapak dara di hulu ati. Ini diyakini untuk menetralisir pengaruh negatif,” imbuhnya.

 

Jro Panca menambahkan, masyarakat di Bali kerap menganggap Hari Pemagpag Kala ini lebih keramat dibandingkan dengan hari Tumpek Wayang. Sehingga wajib hukumnya untuk menetralisir pengaruh negatif dari Bhuta Kala.

 

Karena dianggap keramat, sehingga banyak Balian yang enggan mengobati atau ngubadin pasien saat Sukran Wayang. Tak hanya itu, sulinggih dan pemangku juga sering menghindari muput saat Sukran Wayang.

 

“Karena diyakini Kala paksa, atau hari yang kotor untuk melakukan pemujaan,” paparnya.

 

Lalu bagaimana dengan orang yang mempelajari aji ugig? Jro Panca menuturkan, Sukran Wayang kerap dijadikan bagi Leak Pemoroan untuk melakukan misinya mencari tumbal. Sedangkan bagi Leak Sari, yang belajar lewat nyastra, maka kerap lebih memilih saat tumpek.

 

Pihaknya pun meminta agar masyarakat pantang melakukan kegiatan keramas saat Sukran Wayang. “Usahakan jangan potong rambut, potong kuku saat Sukran Wayang. Karena diyakini hal-hal itu membawa energi tidak baik,” katanya.(bersambung)


Masyarakat Hindu di Bali meyakini jika Hari Sukra (Jumat) Wuku Wayang dianggap sangat keramat. Bahkan, dianggap jauh lebih keramat dibandingkan dengan Tumpek (Saniscara) Wayang. Sehingga, ada sejumlah pantangan yang patut dihindari agar tidak berakibat fatal.

 

Penekun Spiritual, Jero Putu Agus Panca Saputra, 31 atau yang akrab disapa Jro Panca menegaskan jika Sukran Wayan dalam Lontar Sundarigama dianggap sebagai kala paksa. Konon, saat itu posisi dunia dianggap titik puncak cemer atau kekotoran.

 

Jro Panca bukan tanpa alasan mengapa Hari Kala paksa dianggap hari terkotor. Jika dikaji menggunakan pendekatan Tattwa Samkya, disebutkan wuku Wayang memiliki urip 4, hari Jumat (Sukra) memiliki urip 6, dan wara Wage memiliki urip 4.

 

 

 

Jika ketiga urip itu dijumlahkan, maka didapat angka 14. Jro Panca menyebut, angka 14 terdiri dari angka 1 dan 4, yang jika dijumlahnya menjadi 5. Menurutnya, angka 5 tersebut merupakan simbol dari kekuatan panca maha bhuta atau lima unsur pembentuk tubuh.

 

 

 

“Karenanya, hari kala paksa merupakan hari yang dikuasai kekuatan panca maha bhuta sehingga menjadi puncak hari kotor. Saat itu kekuatan Kala dinyatakan sedang memuncak,” jelasnya.

 

 

 

Dikatakan Jro Panca, Kala Paksa atau sering pula disebut sebagai hari Pemagpag Kala kerap disikapi dengan melaksanakan sejumlah ritual. Pada hari ini biasanya orang bali akan memasang sesuuk semacam penanda yang dihaturkan di disetiap pelinggih atau bangunan suci dan lebuh.

 

 

 

Masyarakat biasanya menghaturkan pandan medui (berduri) sebanyak 5 ikat. Sarana tersebut berisi tapak dara pamor, lalu diikat benang tridatu beralaskan sidi serta Tri Ketuka yang terdiri dari Suna Jangu dan Pamor yang berada di atas tangkih.

 

 

 

“Dalam Lontar Wraspati Kalpa Tri Ketuka itu adalah simbol Tri Murti yakni Brahma Wisnu Siwa,” jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group)

 

Banten sesuwuk tersebut kemudian dihaturkan di sejumlah tempat suci. Seperti di Penunggun Karang, hingga Kemulan. Jika di areal merajan, bisa dihaturkan di Bale Paruman, hingga pelinggih Surya atau Luhuring Akasa.

 

“Sarananya dihaturkan sejak pagi, sorenya baru sesuuknya luarang di pemedal (pintu gerbang, red). Pamor dan tri ketuka ditunas, lalu oleskan dengan posisi tapak dara di hulu ati. Ini diyakini untuk menetralisir pengaruh negatif,” imbuhnya.

 

Jro Panca menambahkan, masyarakat di Bali kerap menganggap Hari Pemagpag Kala ini lebih keramat dibandingkan dengan hari Tumpek Wayang. Sehingga wajib hukumnya untuk menetralisir pengaruh negatif dari Bhuta Kala.

 

Karena dianggap keramat, sehingga banyak Balian yang enggan mengobati atau ngubadin pasien saat Sukran Wayang. Tak hanya itu, sulinggih dan pemangku juga sering menghindari muput saat Sukran Wayang.

 

“Karena diyakini Kala paksa, atau hari yang kotor untuk melakukan pemujaan,” paparnya.

 

Lalu bagaimana dengan orang yang mempelajari aji ugig? Jro Panca menuturkan, Sukran Wayang kerap dijadikan bagi Leak Pemoroan untuk melakukan misinya mencari tumbal. Sedangkan bagi Leak Sari, yang belajar lewat nyastra, maka kerap lebih memilih saat tumpek.

 

Pihaknya pun meminta agar masyarakat pantang melakukan kegiatan keramas saat Sukran Wayang. “Usahakan jangan potong rambut, potong kuku saat Sukran Wayang. Karena diyakini hal-hal itu membawa energi tidak baik,” katanya.(bersambung)


Most Read

Artikel Terbaru

/