alexametrics
26.5 C
Denpasar
Wednesday, May 18, 2022

Pemahayu Jagat, Memohon Agar Alam Kembali Tenang dan Nyaman

GIANYAR, BALI EXPRESS – Pemahayu Jagat digelar untuk memohon kondisi alam yang kini tengah diterpa Ruug Jagat, agar dapat kembali ke keadaan tenang dan nyaman. Krama Desa Peliatan menggelar Pemahayu Jagat, Sabtu (4/12) bertepatan dengan Tilem Sasih Kanem di Catuspata Desa Peliatan. Prosesi tersebut terlebih dahulu diisi dengan Nedunin semua tapakan yang ada di Parahyangan setempat.

 

Bendesa Adat Peliatan, I Ketut Sandi mengatakan bahwa, Karya Pemahayu Jagat itu digelar setelah pihaknya mendapat wejangan dan masukan dari para sulinggih, tokoh dan diputuskan dalam paruman adat.

 

“Ini didasari situasi dan kondisi yang menimpa jagat ini,  berupa pandemi Covid-19 yang sudah terjadi  dalam dua tahun ini. Apalagi pandemi ini menimbulkan banyak dampak. Dan tidak sedikit yang sampai menimbulkan krama depresi hingga memilih untuk ulah pati (bunuh diri), ” ujarnya. 

 

Disamping itu, juga terjadi bencana alam, wabah penyakit hingga perubahan sikap pada masyarakat yang cenderung nekat. Dan hal tersebut diyakini  sebagai kondisi  bahwa dunia ini saat ini sedang sakit. “Dunia ini sedang bergejolak, atau dalam istilah para tetua Bali disebut dengan Ruug Jagat. Dunia dan isinya sedang bergejolak,” imbuhnya.

 

Maka dari itu, Krama Adat melaksanakan Karya Pemahayu Jagat. Yakni  memohon kehadapan Sanghyang Adikala yaitu penguasa seluruh kekuatan di alam raya dalam hal ini adalah Dewa Siwa dan saktinya Dewi Durga untuk menentramkan jagat.

 

Dalam Pemahayu Jagat ini, Bhuta Kala diberikan persembahan Caru. Selanjutnya proses Pemahayu Jagat yang dipuput oleh Ida Pedanda Budha Griya Gunung Sari Peliatan, menyupat bhuta untuk memunculkan sifat – sifat positif atau sifat kedewaan. Sang Butakala  dimohonkan untuk menempatkan posisi dalam kedewataan. Dalam sifat kedewataan ini kemudian dipuja untuk melimpahkan berkah atau waranugraha untuk keseimbangan jagat. 

 

Lebih lanjut, dirinya menjelaskan jika caru yang dihaturkan ada dalam berbagai tingkatan. Mulai dari tingkatan paling kecil yakni rumah tangga, kemudian di masing-masing Banjar dan dipusatkan di Catuspata Desa.”Karya ini digelar dalam rangka peneduh atau pemahayu jagat. Termasuk caru peneduh yang dilakukan pada sasih kanem setiap tahunnya,” sambungnya.

 

Melalui karya Pemahayu Jagat, pihaknya berharap dunia khususnya Desa Peliatan bisa kembali normal dan ruug jagat segera berakhir. 

 

Disisi lain, Bupati Gianyar, I Made Mahayastra  yang turut hadir dalam Karya Pemahayu Jagat Desa Peliatan bersama sejumlah pejabat Pemkab Gianyar, Anggota DPRD Gianyar, Penglingsir Puri Ubud dan Puri Agung Peliatan,  para Bendesa dan Prebekel di Kecamatan Ubud, mengaku bersyukur atas terselenggaranya  karya tersebut. “Kita sangat bersyukur, karya Pemahayu Jagat ini dapat terselenggara dengan lancar,” ujarnya.

 

Menurutnya, rasa, yadnya dan logika di Gianyar secara umum telah  berjalan beriringan. Sehingga dalam menjalankan ketulusan umat berdharma juga tetap memperhatikan kesehatannya. “Berdoa, memohon kerahayuan jagat kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa memang sebuah dharma.  Namun,  di tengah pandemic Covid-19 yang belum berakhir bahkan ancaman varian terbarunya kini menyelimuti, wajib di sikapi dengan pola hidup yang sehat sesuai prokes. Yadnya dan pelaksanaan prokes harus sinkron,” tegasnya.


GIANYAR, BALI EXPRESS – Pemahayu Jagat digelar untuk memohon kondisi alam yang kini tengah diterpa Ruug Jagat, agar dapat kembali ke keadaan tenang dan nyaman. Krama Desa Peliatan menggelar Pemahayu Jagat, Sabtu (4/12) bertepatan dengan Tilem Sasih Kanem di Catuspata Desa Peliatan. Prosesi tersebut terlebih dahulu diisi dengan Nedunin semua tapakan yang ada di Parahyangan setempat.

 

Bendesa Adat Peliatan, I Ketut Sandi mengatakan bahwa, Karya Pemahayu Jagat itu digelar setelah pihaknya mendapat wejangan dan masukan dari para sulinggih, tokoh dan diputuskan dalam paruman adat.

 

“Ini didasari situasi dan kondisi yang menimpa jagat ini,  berupa pandemi Covid-19 yang sudah terjadi  dalam dua tahun ini. Apalagi pandemi ini menimbulkan banyak dampak. Dan tidak sedikit yang sampai menimbulkan krama depresi hingga memilih untuk ulah pati (bunuh diri), ” ujarnya. 

 

Disamping itu, juga terjadi bencana alam, wabah penyakit hingga perubahan sikap pada masyarakat yang cenderung nekat. Dan hal tersebut diyakini  sebagai kondisi  bahwa dunia ini saat ini sedang sakit. “Dunia ini sedang bergejolak, atau dalam istilah para tetua Bali disebut dengan Ruug Jagat. Dunia dan isinya sedang bergejolak,” imbuhnya.

 

Maka dari itu, Krama Adat melaksanakan Karya Pemahayu Jagat. Yakni  memohon kehadapan Sanghyang Adikala yaitu penguasa seluruh kekuatan di alam raya dalam hal ini adalah Dewa Siwa dan saktinya Dewi Durga untuk menentramkan jagat.

 

Dalam Pemahayu Jagat ini, Bhuta Kala diberikan persembahan Caru. Selanjutnya proses Pemahayu Jagat yang dipuput oleh Ida Pedanda Budha Griya Gunung Sari Peliatan, menyupat bhuta untuk memunculkan sifat – sifat positif atau sifat kedewaan. Sang Butakala  dimohonkan untuk menempatkan posisi dalam kedewataan. Dalam sifat kedewataan ini kemudian dipuja untuk melimpahkan berkah atau waranugraha untuk keseimbangan jagat. 

 

Lebih lanjut, dirinya menjelaskan jika caru yang dihaturkan ada dalam berbagai tingkatan. Mulai dari tingkatan paling kecil yakni rumah tangga, kemudian di masing-masing Banjar dan dipusatkan di Catuspata Desa.”Karya ini digelar dalam rangka peneduh atau pemahayu jagat. Termasuk caru peneduh yang dilakukan pada sasih kanem setiap tahunnya,” sambungnya.

 

Melalui karya Pemahayu Jagat, pihaknya berharap dunia khususnya Desa Peliatan bisa kembali normal dan ruug jagat segera berakhir. 

 

Disisi lain, Bupati Gianyar, I Made Mahayastra  yang turut hadir dalam Karya Pemahayu Jagat Desa Peliatan bersama sejumlah pejabat Pemkab Gianyar, Anggota DPRD Gianyar, Penglingsir Puri Ubud dan Puri Agung Peliatan,  para Bendesa dan Prebekel di Kecamatan Ubud, mengaku bersyukur atas terselenggaranya  karya tersebut. “Kita sangat bersyukur, karya Pemahayu Jagat ini dapat terselenggara dengan lancar,” ujarnya.

 

Menurutnya, rasa, yadnya dan logika di Gianyar secara umum telah  berjalan beriringan. Sehingga dalam menjalankan ketulusan umat berdharma juga tetap memperhatikan kesehatannya. “Berdoa, memohon kerahayuan jagat kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa memang sebuah dharma.  Namun,  di tengah pandemic Covid-19 yang belum berakhir bahkan ancaman varian terbarunya kini menyelimuti, wajib di sikapi dengan pola hidup yang sehat sesuai prokes. Yadnya dan pelaksanaan prokes harus sinkron,” tegasnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/