26.5 C
Denpasar
Tuesday, February 7, 2023

Tirta Wangsuhpada Diyakini Berkekuatan Gaib Netralkan Sasab Merana

BULELENG, BALI EXPRESS -Tradisi Masesangi (berkaul) telah dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat Desa Tambakan, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. Tradisi inilah yang menjadi cikal bakal pelaksanaan upacara Masegeh dengan menggunakan sarana sapi jantan.

Saat Masegeh dilaksanakan, pada saat puncak upacara, krama desa biasanya nunas tirta wangsuhpada Ida Bhatara. Tirta ini dipercikkan ke seluruh tanaman, hewan, ladang dan pekarangan rumah serta lingkungan desa, sehingga terhindar dari merana.

Bendesa Adat Tambakan Jro Komang Nita menyebut, tirta tersebut diyakini pula memiliki kekuatan gaib untuk menetralkan sasab merana. Selama ini, hal tersebut dilakukan, sehingga tidak ada merana yang sampai merugikan warga Desa Tambakan.

Tirta yang sudah katunas (dimohon) oleh krama desa kemudian dibawa pulang. Sesampainya di rumah, tirta (air suci) dipercikkan di pekarangan, pada hewan hingga perkebunan. Harapannya agar merana tidak mewabah di wilayah Desa Tambakan.

“Tirta wangsuhpada Ida Bhatara Sakti yang dimohonkan melalui upacara Masegeh diyakini memiliki kekuatan gaib, sehingga merana dapat dinetralisir. Sehingga tanaman dapat dipanen dan kembali dipersembahkan kepada Ida Bhatara Sakti yang berstana di Pura Prajapati Desa Tambakan,” katanya.

Terkait keberadaan sapi di Desa Tambakan, Jro Nita menyebut sapi bukan lagi sebagai hewan biasa. Tetapi menjadi istimewa karena dapat mengusir merana dan kepercayaan itulah menjadi penyebab adanya upacara Masegeh.

Disinggung terkait sarana banten yang digunakan saat Masegeh, ia menyebut seperti sorohan alit dan agung, iwak ayam, dan canang suci. Banten suci ini digunakan sebagai pengantar yadnya selain memang banten suci digunakan untuk menyucikan sarana upacara.

Penggunaan sapi jantan dalam upacara Masegeh selalu dihubungkan dengan konsep sapi jantan wahana Bhatara Siwa. Penggunaan sapi jantan yang diletakkan di bawah dengan rangkaian banten dan olahan daging sapi dijadikan sebagai persembahan dalam upacara itu.

Masegeh, secara filosofi, agar umat mampu menghilangkan sifat-sifat kebinatangan di dalam dirinya menuju sifat kedewataan, sehingga mampu membebaskan roh leluhur dari utang pada masa hidup.

“Pemujaan kepada Ida Bhatara Sakti Prajapati yang tiada lain adalah Bhatara Yama melalui pangabihnya Ida Ratu Nyoman Sakti Pengadangan, sesungguhnya adalah penanda bahwa roh leluhur yang selama ini ngayah segera dibebaskan untuk menikmati kelahiran berikutnya,” pungkasnya.

 






Reporter: I Putu Mardika

BULELENG, BALI EXPRESS -Tradisi Masesangi (berkaul) telah dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat Desa Tambakan, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. Tradisi inilah yang menjadi cikal bakal pelaksanaan upacara Masegeh dengan menggunakan sarana sapi jantan.

Saat Masegeh dilaksanakan, pada saat puncak upacara, krama desa biasanya nunas tirta wangsuhpada Ida Bhatara. Tirta ini dipercikkan ke seluruh tanaman, hewan, ladang dan pekarangan rumah serta lingkungan desa, sehingga terhindar dari merana.

Bendesa Adat Tambakan Jro Komang Nita menyebut, tirta tersebut diyakini pula memiliki kekuatan gaib untuk menetralkan sasab merana. Selama ini, hal tersebut dilakukan, sehingga tidak ada merana yang sampai merugikan warga Desa Tambakan.

Tirta yang sudah katunas (dimohon) oleh krama desa kemudian dibawa pulang. Sesampainya di rumah, tirta (air suci) dipercikkan di pekarangan, pada hewan hingga perkebunan. Harapannya agar merana tidak mewabah di wilayah Desa Tambakan.

“Tirta wangsuhpada Ida Bhatara Sakti yang dimohonkan melalui upacara Masegeh diyakini memiliki kekuatan gaib, sehingga merana dapat dinetralisir. Sehingga tanaman dapat dipanen dan kembali dipersembahkan kepada Ida Bhatara Sakti yang berstana di Pura Prajapati Desa Tambakan,” katanya.

Terkait keberadaan sapi di Desa Tambakan, Jro Nita menyebut sapi bukan lagi sebagai hewan biasa. Tetapi menjadi istimewa karena dapat mengusir merana dan kepercayaan itulah menjadi penyebab adanya upacara Masegeh.

Disinggung terkait sarana banten yang digunakan saat Masegeh, ia menyebut seperti sorohan alit dan agung, iwak ayam, dan canang suci. Banten suci ini digunakan sebagai pengantar yadnya selain memang banten suci digunakan untuk menyucikan sarana upacara.

Penggunaan sapi jantan dalam upacara Masegeh selalu dihubungkan dengan konsep sapi jantan wahana Bhatara Siwa. Penggunaan sapi jantan yang diletakkan di bawah dengan rangkaian banten dan olahan daging sapi dijadikan sebagai persembahan dalam upacara itu.

Masegeh, secara filosofi, agar umat mampu menghilangkan sifat-sifat kebinatangan di dalam dirinya menuju sifat kedewataan, sehingga mampu membebaskan roh leluhur dari utang pada masa hidup.

“Pemujaan kepada Ida Bhatara Sakti Prajapati yang tiada lain adalah Bhatara Yama melalui pangabihnya Ida Ratu Nyoman Sakti Pengadangan, sesungguhnya adalah penanda bahwa roh leluhur yang selama ini ngayah segera dibebaskan untuk menikmati kelahiran berikutnya,” pungkasnya.

 






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru