alexametrics
29.8 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Daun Sirih dalam Ritual Hindu di Bali, Bagian dari Tradisi Purba, Simbol Pemujaan Dewa Siwa

Daun sirih atau daun base menjadi salah satu sarana ritual yang paling banyak digunakan bagi Umat Hindu di Bali. Selain dijadikan sebagai simbol dari Pemujaan Dewa Siwa, daun sirih juga digunakan untuk menjalin persahabatan dan persaudaraan.

Penekun Sastra, Ida Bagus Made Bhaskara, mengatakan daun sirih merupakan bagian dari tradisi purba. Bahkan, ketika penelitian manusia purba di Gilimanuk pada saat penggalian tidak hanya ditemukan bagian giginya sebagai bagian dari upaya perataan gigi. Tetapi pada bagian giginya terdapat bercak. Setelah diteliti ternyata itu adalah bersumber dari penggunaan  daun sirih

Sebelum agama Hindu atau Budha masuk ke Indonesia maupun ke Bali, tradisi penggunaan daun sirih sudah ada. Bahkan, kalau merujuk ke teks sastra, ada banyak sumber yang menjelaskan penggunaan daun sirih.

“Memang sangat detail dijelaskan pada salah satu teks. Suatu ketika Saat Ida Bhatara Siwa dan Dewi Uma baru menikah karena dianalogikan seperti hidupnya manusia, saat itu Dewa Siwa tidak ada di Kailash karena sering bertapa. Saat itu dewi Uma sedih. Agar Suaminya betah, maka dipersembahkankah daun base,” jelasnya.

Nah cerita ini menandakan bahwa penggunaan daun sirih atau daun base sangatlah penting. Karena persembahan kepada Ida Bhatara Siwa.

Dikatakan Bhaskara, ada salah satu purana yang menyebutkan bahwa, tumbuhan base sangat istimewa. Karena akarnya tumbuh di bumi, daun bunga dan buah di akasa. Makanya sangat penting pada saat melakukan ritus pemujaan. Karena ini tumbuhan surgawi.

Ia menyebut, jika bentuk daun sirih saat digunakan sebagai sarana upacara itu tidak berdiri sendiri. Namun, daun sirih bisa disajikan dengan buah pinang, kapur, gambir. Ini sebagai sarana pelengkap

Ada tiga pengelompokan terkait kegunaan dari daun sirih. Yang pertama digunakan sebagai nyasa atau simbolis. Sehingga digunakan sebagai base jeriji. “Itu adalah daun sirih yang digunakan saat upakara kematian. Misal saat ngereke kajang, itu menggunakan daun sirih yang dipelinting membentuk jari. Ini digunakan sebagai symbol atau nyasa badan manusia,” paparnya.

Manfaat kedua, daun sirih sebagai sarana persembahan. Hal ini terlihat ketika nunas bawos kepada Ida Sulinggih patut menghaturkan base, sebagai tatakan rawos. Daksina persembahan ini nantinya digunakan berkaitan dengan tradisi sosial. Untuk menyapa tamu, mareraosan.

“Artinya tidak hanya dipsersembahkan secara vertical (atas-bawah) atau kepada Ida Bhatara saja, tetapi juga dimanfaatkan secara sosial, yaitu untuk sesama,” ungkapnya.

Fungsi ketiga adalah daun sirih juga digunakan sebagai magis. Daun yang digunakan pun harus dipilih, yakni menggunakan daun base temu ros, atau struktur tulang daunnya yang sejajar. Diyakini, daun base temu ros ini dianalogikan sebagai simbol tulang iga manusia. Sehingga penting digunakan dalam ritus mitos magis, khususnya untuk penyembuhan, metafisik, pagar gaib, atau sarana pengasihan

“Misal ada base silih asih. Nah ketika digunakan utnuk memikat, maka dipilihlah daun base yang temu ros, karena fungsinya lebih kuat,” katanya. (bersambung)






Reporter: I Putu Mardika

Daun sirih atau daun base menjadi salah satu sarana ritual yang paling banyak digunakan bagi Umat Hindu di Bali. Selain dijadikan sebagai simbol dari Pemujaan Dewa Siwa, daun sirih juga digunakan untuk menjalin persahabatan dan persaudaraan.

Penekun Sastra, Ida Bagus Made Bhaskara, mengatakan daun sirih merupakan bagian dari tradisi purba. Bahkan, ketika penelitian manusia purba di Gilimanuk pada saat penggalian tidak hanya ditemukan bagian giginya sebagai bagian dari upaya perataan gigi. Tetapi pada bagian giginya terdapat bercak. Setelah diteliti ternyata itu adalah bersumber dari penggunaan  daun sirih

Sebelum agama Hindu atau Budha masuk ke Indonesia maupun ke Bali, tradisi penggunaan daun sirih sudah ada. Bahkan, kalau merujuk ke teks sastra, ada banyak sumber yang menjelaskan penggunaan daun sirih.

“Memang sangat detail dijelaskan pada salah satu teks. Suatu ketika Saat Ida Bhatara Siwa dan Dewi Uma baru menikah karena dianalogikan seperti hidupnya manusia, saat itu Dewa Siwa tidak ada di Kailash karena sering bertapa. Saat itu dewi Uma sedih. Agar Suaminya betah, maka dipersembahkankah daun base,” jelasnya.

Nah cerita ini menandakan bahwa penggunaan daun sirih atau daun base sangatlah penting. Karena persembahan kepada Ida Bhatara Siwa.

Dikatakan Bhaskara, ada salah satu purana yang menyebutkan bahwa, tumbuhan base sangat istimewa. Karena akarnya tumbuh di bumi, daun bunga dan buah di akasa. Makanya sangat penting pada saat melakukan ritus pemujaan. Karena ini tumbuhan surgawi.

Ia menyebut, jika bentuk daun sirih saat digunakan sebagai sarana upacara itu tidak berdiri sendiri. Namun, daun sirih bisa disajikan dengan buah pinang, kapur, gambir. Ini sebagai sarana pelengkap

Ada tiga pengelompokan terkait kegunaan dari daun sirih. Yang pertama digunakan sebagai nyasa atau simbolis. Sehingga digunakan sebagai base jeriji. “Itu adalah daun sirih yang digunakan saat upakara kematian. Misal saat ngereke kajang, itu menggunakan daun sirih yang dipelinting membentuk jari. Ini digunakan sebagai symbol atau nyasa badan manusia,” paparnya.

Manfaat kedua, daun sirih sebagai sarana persembahan. Hal ini terlihat ketika nunas bawos kepada Ida Sulinggih patut menghaturkan base, sebagai tatakan rawos. Daksina persembahan ini nantinya digunakan berkaitan dengan tradisi sosial. Untuk menyapa tamu, mareraosan.

“Artinya tidak hanya dipsersembahkan secara vertical (atas-bawah) atau kepada Ida Bhatara saja, tetapi juga dimanfaatkan secara sosial, yaitu untuk sesama,” ungkapnya.

Fungsi ketiga adalah daun sirih juga digunakan sebagai magis. Daun yang digunakan pun harus dipilih, yakni menggunakan daun base temu ros, atau struktur tulang daunnya yang sejajar. Diyakini, daun base temu ros ini dianalogikan sebagai simbol tulang iga manusia. Sehingga penting digunakan dalam ritus mitos magis, khususnya untuk penyembuhan, metafisik, pagar gaib, atau sarana pengasihan

“Misal ada base silih asih. Nah ketika digunakan utnuk memikat, maka dipilihlah daun base yang temu ros, karena fungsinya lebih kuat,” katanya. (bersambung)






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru

/