alexametrics
29.8 C
Denpasar
Friday, May 20, 2022

Jangan Ulah Alih Aluh Elah, Nari Rangda Sesuai Pakem

DENPASAR, BALI EXPRESS – Tiga seniman tari bahas Sasana Tari Rangda, Sabtu (6/3) secara virtual. Tiga nara sumber ini dari Gases Bali, Komang Indra Wirawan, I Komang Ardika yang akrab disapa Sengap, dan seniman Tari Rangda asal Kabupaten Gianyar, Jero Kadek Serongga.

Terdapat beberapa pembahasan dalam diskusi tersebut, salah  satunya adalah menari Rangda harus sesuai pakem agar tidak terjadi hal yang di luar kontekstasi Tarian Rangda itu sendiri. 

I Komang Ardika atau Sengap menjelaskan, sebenarnya berbicara Rangda adalah pingit, namun dalam konteks yang pingit. “Siapa boleh menari Rangda? Kalau ngomong Rangda tenget dalam konteksnya. Kalau di pasar seni sekarang banyak ada Rangda,  kalau itu tenget dagangnya setiap hari karauhan. Semua itu tergantung ada proses ritual dan tidak ada ritualnya,” jelas pria asal Tabanan ini. 

Ia menjelaskan, dalam lomba Tari Rangda sebaiknya ada Jero Mangku yang menjadi juri. Agar betul- betul dinilai dari proses menari Rangda, sasaluk, dan agem tarian dalam lomba. Menari Rangda disebutkannya ada ritual yang harus dilakukan. Lantaran ada namanya yang dikatakan sebagai surat izin masolah, khususnya dalam Napak Pertiwi.

“Ritualnya ada, surat izin masolah itu ada sesana, dalam konteks Napak Pertiwi. Bukan setiap nedunang di natar pura dapat disebut Napak Pertiwi, jadi itu baru masolah.  Namun sesuai sikut bumi,  yang mana bumi Bali dibagi tiga dari alam rohani,  alam maha widya, dam alam rata maha agung. Simbolnya  Gunung Batu Karu,  Gunung Batur, dan Gunung Agung,” paparnya. 

Sengap menyampaikan alam kawisesan di Batu Karu, Tabanan banyak munculnya Rangda. Maka ada Pura Pucak Rangda, Pucak Padang Dawa.  Jika di daerah Tabanan, di jaba pura saja sudah disebut Napak Pertiwi. Sementara dalam konteks pribadi itu adalah gedong. “Dalam hal ini gedong saya anggap adalah gudang. Gudang barang yang tak terpakai saat belum dipakai,” sambungnya.

Selanjutnya jika konsep kawisesan Batur mengarah ke masalah perut, atau isi perut. Maka adanya tarian Telek dan sebagainya dalam pementasan Rangda.  Sebab, alam tengah di Batur beda, namanya pun berbeda. Ada yang disebut Ratu Mas dan Ratu Ayu.  Sedangkan Maha Agung hampir tidak bisa menemukan Rangda. Sebab, daerah rmRangda diproses transformasi tidak seheboh Bali Tengah dan Bali Barat.  Sehingga lebih mengarah ke pratima- pratima. 

“Daerah barat dikenal  dengan Marerebu, tengah khsususnya Denpasar Ngarebong, dan timur  dikenal dengan Ngusaba. Puranya juga dengan konsep yang ada sesuai desa kala patra masing-masing,” tandasnya. 

Sementara Komang Indra Wirawan yang dikenal dengan ‘Doktor Calonarang’ ini mengaku Sasana Tari Rangda ini sangat menarik dibahas dan diluruskan agar pelaku seni nantinya tidak salah arah. 

“Mereka mengerti apa yang akan dilakukan, tapi belum paham apa yang dilakukan. Seperti boleh naik sepeda motor, tapi  belum pantas secara  umur karena belum memiliki legalitas alias SIM. Namun, hanya mengandalkan kemampuan, keahlian, dan keberanian saja,” sambungnya. 

Ditambahkannya, selama 10 tahun belakangan ini banyak kasus penari tembus keris, unying dan lain sebagainya. Ini dianggapnya sebagai referensi agar tetap waspada diri, bukannya Rangda yang dipentaskan tidak sidhi dan tidak sakti. 

“Karena kecewa pemundut akhirnya Rangda dibakar, gedong dipralina, seolah membaurkan dunia sakral dan profan itu sendiri.  Itu dua sisi berbeda, tapi satu kesatuan,” tegasnya. 

Indra Wirawan mengaku kadang si pelaku (penari) akan lepas kontrol, dalam konteks ini menjadi bias. Penari tidak pakai sikut satak saat ngigel dan tidak sesuai pakemmya.

“Layakkah menjadi penari Rangda. Sudah bisa, dan siapa yang memberikan izin. Banjarkah yang memberikan legalitas. Patutkah mawinten, lalu mabersih menggunakan upakara. Ketika pelaku seni tidak melakukan kepatutan itu, inilah disebut tidak layak. Harus melihat track record dari penari tersebut,” ungkapnya. 

Disampaikannya, perajin Rangda hanya bekerja saja, tanpa ada hal sakral. Beda dengan undagi Rangda ada sikut sataknya. Kadang banyak yang bicara tidak apa-apa. “Kurang sepaham dengan kondisi saat ini  akan menjadi semau gue. Rangda cilik, banyak karauhan seenaknya tanpa mengindahkan bukan benar dan salah, tapi ini keliru dalam kesenian. Kalau sebagai hiburan tidak salah. Rangda pakai tiktok, sah saja, boleh saja jika konteks seni. Semestinya sebagai orang Bali kita dapat memilih, mana untuk diekspose, dan mana yang akan mengarah ke pelecehan simbol agama,” tegasnya.

Indra Wirawan juga menekankan penari Rangda jangan ulah aluh alih elah.  Sebab, jika sebuah keseimbangan sakral dan profan menjadi bias nantinya akan menjadi chaos. “Tidak bisa menyamakan keinginan satu dan yang lainya. Berbeda adalah satu kesatuan, fungsi makna yang sama untuk pamerahayu jagat,” imbuhnya. 

Sementara itu, Jero Kadek Serongga mengaku sepaham dengan Jero Sengap dan Komang Indra.Terkait dengan sasana sasolah Rangda sebenarnya para generasi muda sangat antusias sekali. Bahkan, ada penari Rangda belum ‘kepus puser’. 

“Para orang tua kadang memaksa anaknya ikut, padahal belum waktunya. Sasolahan Tari Rangda, untuk menari walaupun sifatnya tari apapun sedikitnya punya basik agem, tandang, tangkep, mininal punya rasa,” ungkapnya. 

Sementara sasolahan Tari Rangda itu sendiri, sasana yang ada akan belajar Tari Baris, dan Topeng. Apa yang dilakukan sama seperti anak kecil mengendarai motor, punya tidak SIM untuk mengemudi. “Ketika ada menarikan Rangda untuk awalnya nunas panugerahan. Terpenting sudah ada sedikit, bagaimana agem tandang dan tangkep,” papar Jero Mangku Kadek. 

Untuk nunas panugerahan, disampaikan mohon sesuatu untuk penyesuaian diri. Sama dengan nunas penugerahan di Dewi Durga, atau panugerahan ke Sulinggih sesuai desa destra yang ada.  “Sebelum nyolahan Rangda agar ada penyucian diri. Kalau bisa seperti gelaran dalang dalam pawayangan. Sebab, penari Rangda ada prosedur khusus dalam menari,” imbuhnya. 


DENPASAR, BALI EXPRESS – Tiga seniman tari bahas Sasana Tari Rangda, Sabtu (6/3) secara virtual. Tiga nara sumber ini dari Gases Bali, Komang Indra Wirawan, I Komang Ardika yang akrab disapa Sengap, dan seniman Tari Rangda asal Kabupaten Gianyar, Jero Kadek Serongga.

Terdapat beberapa pembahasan dalam diskusi tersebut, salah  satunya adalah menari Rangda harus sesuai pakem agar tidak terjadi hal yang di luar kontekstasi Tarian Rangda itu sendiri. 

I Komang Ardika atau Sengap menjelaskan, sebenarnya berbicara Rangda adalah pingit, namun dalam konteks yang pingit. “Siapa boleh menari Rangda? Kalau ngomong Rangda tenget dalam konteksnya. Kalau di pasar seni sekarang banyak ada Rangda,  kalau itu tenget dagangnya setiap hari karauhan. Semua itu tergantung ada proses ritual dan tidak ada ritualnya,” jelas pria asal Tabanan ini. 

Ia menjelaskan, dalam lomba Tari Rangda sebaiknya ada Jero Mangku yang menjadi juri. Agar betul- betul dinilai dari proses menari Rangda, sasaluk, dan agem tarian dalam lomba. Menari Rangda disebutkannya ada ritual yang harus dilakukan. Lantaran ada namanya yang dikatakan sebagai surat izin masolah, khususnya dalam Napak Pertiwi.

“Ritualnya ada, surat izin masolah itu ada sesana, dalam konteks Napak Pertiwi. Bukan setiap nedunang di natar pura dapat disebut Napak Pertiwi, jadi itu baru masolah.  Namun sesuai sikut bumi,  yang mana bumi Bali dibagi tiga dari alam rohani,  alam maha widya, dam alam rata maha agung. Simbolnya  Gunung Batu Karu,  Gunung Batur, dan Gunung Agung,” paparnya. 

Sengap menyampaikan alam kawisesan di Batu Karu, Tabanan banyak munculnya Rangda. Maka ada Pura Pucak Rangda, Pucak Padang Dawa.  Jika di daerah Tabanan, di jaba pura saja sudah disebut Napak Pertiwi. Sementara dalam konteks pribadi itu adalah gedong. “Dalam hal ini gedong saya anggap adalah gudang. Gudang barang yang tak terpakai saat belum dipakai,” sambungnya.

Selanjutnya jika konsep kawisesan Batur mengarah ke masalah perut, atau isi perut. Maka adanya tarian Telek dan sebagainya dalam pementasan Rangda.  Sebab, alam tengah di Batur beda, namanya pun berbeda. Ada yang disebut Ratu Mas dan Ratu Ayu.  Sedangkan Maha Agung hampir tidak bisa menemukan Rangda. Sebab, daerah rmRangda diproses transformasi tidak seheboh Bali Tengah dan Bali Barat.  Sehingga lebih mengarah ke pratima- pratima. 

“Daerah barat dikenal  dengan Marerebu, tengah khsususnya Denpasar Ngarebong, dan timur  dikenal dengan Ngusaba. Puranya juga dengan konsep yang ada sesuai desa kala patra masing-masing,” tandasnya. 

Sementara Komang Indra Wirawan yang dikenal dengan ‘Doktor Calonarang’ ini mengaku Sasana Tari Rangda ini sangat menarik dibahas dan diluruskan agar pelaku seni nantinya tidak salah arah. 

“Mereka mengerti apa yang akan dilakukan, tapi belum paham apa yang dilakukan. Seperti boleh naik sepeda motor, tapi  belum pantas secara  umur karena belum memiliki legalitas alias SIM. Namun, hanya mengandalkan kemampuan, keahlian, dan keberanian saja,” sambungnya. 

Ditambahkannya, selama 10 tahun belakangan ini banyak kasus penari tembus keris, unying dan lain sebagainya. Ini dianggapnya sebagai referensi agar tetap waspada diri, bukannya Rangda yang dipentaskan tidak sidhi dan tidak sakti. 

“Karena kecewa pemundut akhirnya Rangda dibakar, gedong dipralina, seolah membaurkan dunia sakral dan profan itu sendiri.  Itu dua sisi berbeda, tapi satu kesatuan,” tegasnya. 

Indra Wirawan mengaku kadang si pelaku (penari) akan lepas kontrol, dalam konteks ini menjadi bias. Penari tidak pakai sikut satak saat ngigel dan tidak sesuai pakemmya.

“Layakkah menjadi penari Rangda. Sudah bisa, dan siapa yang memberikan izin. Banjarkah yang memberikan legalitas. Patutkah mawinten, lalu mabersih menggunakan upakara. Ketika pelaku seni tidak melakukan kepatutan itu, inilah disebut tidak layak. Harus melihat track record dari penari tersebut,” ungkapnya. 

Disampaikannya, perajin Rangda hanya bekerja saja, tanpa ada hal sakral. Beda dengan undagi Rangda ada sikut sataknya. Kadang banyak yang bicara tidak apa-apa. “Kurang sepaham dengan kondisi saat ini  akan menjadi semau gue. Rangda cilik, banyak karauhan seenaknya tanpa mengindahkan bukan benar dan salah, tapi ini keliru dalam kesenian. Kalau sebagai hiburan tidak salah. Rangda pakai tiktok, sah saja, boleh saja jika konteks seni. Semestinya sebagai orang Bali kita dapat memilih, mana untuk diekspose, dan mana yang akan mengarah ke pelecehan simbol agama,” tegasnya.

Indra Wirawan juga menekankan penari Rangda jangan ulah aluh alih elah.  Sebab, jika sebuah keseimbangan sakral dan profan menjadi bias nantinya akan menjadi chaos. “Tidak bisa menyamakan keinginan satu dan yang lainya. Berbeda adalah satu kesatuan, fungsi makna yang sama untuk pamerahayu jagat,” imbuhnya. 

Sementara itu, Jero Kadek Serongga mengaku sepaham dengan Jero Sengap dan Komang Indra.Terkait dengan sasana sasolah Rangda sebenarnya para generasi muda sangat antusias sekali. Bahkan, ada penari Rangda belum ‘kepus puser’. 

“Para orang tua kadang memaksa anaknya ikut, padahal belum waktunya. Sasolahan Tari Rangda, untuk menari walaupun sifatnya tari apapun sedikitnya punya basik agem, tandang, tangkep, mininal punya rasa,” ungkapnya. 

Sementara sasolahan Tari Rangda itu sendiri, sasana yang ada akan belajar Tari Baris, dan Topeng. Apa yang dilakukan sama seperti anak kecil mengendarai motor, punya tidak SIM untuk mengemudi. “Ketika ada menarikan Rangda untuk awalnya nunas panugerahan. Terpenting sudah ada sedikit, bagaimana agem tandang dan tangkep,” papar Jero Mangku Kadek. 

Untuk nunas panugerahan, disampaikan mohon sesuatu untuk penyesuaian diri. Sama dengan nunas penugerahan di Dewi Durga, atau panugerahan ke Sulinggih sesuai desa destra yang ada.  “Sebelum nyolahan Rangda agar ada penyucian diri. Kalau bisa seperti gelaran dalang dalam pawayangan. Sebab, penari Rangda ada prosedur khusus dalam menari,” imbuhnya. 


Most Read

Artikel Terbaru

/