alexametrics
29.8 C
Denpasar
Tuesday, May 24, 2022

Meski Tak Ada Dana, Disbud Rekonstruksi Kesenian Khas Buleleng 

SINGARAJA, BALI EXPRESS — Tahun ini Dinas Kebudayaan (Disbud) Buleleng tengah serius merekonstruksi kesenian khas Buleleng. Walau diakui untuk kegiatan ini tidak dibiayai dana pemerintah. Dinas Kebudayaan pun menyiasatinya dengan memberdayakan staf yang memiliki keahlian di bidang tersebut untuk membina sanggar yang memiliki misi pelestarian. 

Kesenian yang tahun ini direkonstruksi adalah Tari Palawakya Dauh Enjung dan Legong Kebyar Dauh Enjung. Hal itu disampaikan Kabid Kesenian Dinas Kebudayaan Buleleng Wayan Sujana, akhir pekan kemarin.

Sujana memaparkan, rekonstruksi ini dilakukan mengingat saat ini sudah tidak ada lagi yang mendalami Tari Palawakya yang merupakan salah satu tarian asli Buleleng. Menurutnya, saat ini penari yang menarikan Palawakya sangat langka. Pencarian penari pun sulit dilakukan. Sebab, tari Palawakya adalah salah satu tarian yang memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. 

“Sekarang memang sudah langka untuk penari yang menarikan Palawakya. Sangat susah menemukan. Ada penari yang bagus, tapi tidak bisa matembang atau magambel. Ada yang bisa matembang, tapi tidak bisa menari,” ungkap Sujana.

Ia menambahkan, karena Tari Palawakya merupakan tarian yang lengkap, maka penarinya pun dituntut untu bisa menguasai gerak, tabuh dan harus pandai matembang.

“Oleh karena itu kami bekerjasama dengan sanggar-sanggar untuk pembinaan khusus agar tarian ini tetap ada. Sanggar yang nanti kami rekomendasi bekerjasama dengan pemerintah adalah sanggar yang memiliki kriteria visi misi pelestarian dan pengembangan. Itu yang harus dilakukan,” tambahnya.

Sujana pun mengungkapkan ada dua versi Tari Palawakya dan Legong Kebyar. Yakni Tari Palawakya Dangin Enjung dan Dauh Enjung. Begitu juga dengan Legong Kebyar Dangin Enjung dan Dauh Enjung.

 “Yang saat ini direkonstruksi adalah Tari Palawakya Dauh Enjung dan Tari Legong Kebyar Dauh Enjung. Yang kita tau Legong Kebyar Dangin Enjung dan Palawakya Dangin Enjung,” urainya.

Diakuibya,  yang Dauh Enjung tenggelam. Oleh karena itu, pihaknya ingin menyeimbangkan karya maestro itu. “Agar tidak tenggelam. Maka kami telusuri itu,” katanya.

Ada perbedaan dari tarian Palawakya Dangin Enjung dan Dauh Enjung. Untuk yang Dauh Enjung dari segi gerak tari tidak lebih agresif dari yang Dangin Enjung. Sementara dari segi gambelannya lebih lembut dari Dangin Enjung. Yang Dauh Enjung lebih fleksibel. Ada pengaruh dari luar Bali. 

“Dapat ditarik kesimpulan yang membagi dirinya dalam karya Dangin Enjung Dauh Enjung sesungguhnya dalam berkarya selalu bersama. Tapi begitu tampil seolah-orang bersaing. Perbedaannya tidak terlalu banyak. Dari segi gerak, Dauh Enjung lebih lembut. Dan gambelannya terdapat kecirian genre luar Buleleng seperti Jawa. Itu berdasarkan pengalaman. Kalau Dangin Enjung masih murni. Itu membuktikan bahwa Dauh Enjung lebih fleksibel untuk menggali ke luar daerah,” ungkapnya.

Sujana menjelaskan, untuk kegiatan rekontruksi yang dilakukan tidak mendapat biaya dari pemerintah. Walau tidak dibiayai, Disbud Buleleng tetap melaju agar tidak terlewat. 

“Pemerintah tidak membiayai. Yang kami berdayakan adalah staf. Karena kita tidak mau terlambat. Mumpung narasumbernya masih ada dan beliau sudah renta, kami tidak mau ketinggalan. Supaya ini tetap lestari dan dapat diingat anak cucu. Syarat untuk rekonstruksi harus ada narasumber, penari, pencipta atau pelakunya. Ada dan tidak ada anggaran, kami punya staf yang punya kemampuan, untuk itu, kami tetap bergerak. Tahun ini sudah ada hasilnya untuk Palawakya Dauh Enjung dan Legong Kebyar Dauh Enjung,” jelasnya.

Tarian Palawakya  ini diciptakan Maestro Tari Bali Utara Pan Wandres yang juga pencipta Tari Teruna Jaya. Tari Palawakya merupakan simbol dari seorang pujangga, pengarang atau penggubah lagu. Konon, paneges atau panandak dalam Tari Palwakya itu dikenal dua orang. 

Dua pangartos ini duduk di belakang penari dan bisa melakukan improvisasi dengan menyelipkan petuah-petuah yang bersifat kontekstual, bahkan bernuansa komedi. Sehingga tariannya bisa berlangsung lama seperti panasar dalam tarian Arja yang sedang magegonjakan. 

Namun kini Tari Palawakya lebih banyak menggunakan paneges hanya satu orang dan itu pun terkesan serius dan jarang diisi selingan untuk improvisasi. Tari Palawakya mengisahkan seseorang yang pintar menari, pintar berirama serta pandai menabuh.

Penari Tari Palawakya ini mirip seperti seorang pujangga yang sedang bersyair. Tari Palawakya telah ada sejak tahun 90-an. Tarian yang diciptakan oleh Wayan Praupan atau yang lebih dikenal dengan sebutannya Pan Wandres berusia puluhan tahun. Sebab, tarian itu telah ada sejak para Maestro Tari di Bali Utara itu masih berusia belia. 

Diharapkan dalam rekonstruksi yang dilakukan gerak dan tari yang dimiliki Bali Utara tidak diubah pakem-pakemnya. Tari Palawakya memang tidak memiliki ketenaran yang sama dengan Tari Teruna Jaya. Tetapi Tari Palawakya memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi dibandingkan Tari Teruna Jaya. Hal itu disebabkan Tari Palawakya harus dibawakan dengan tenaga yang ekstra, mengkombinasikan antara gerak tubuh dan kekawin serta tabuh. 

Tari Palawakya juga memiliki hiasan kepala yang mirip dengan Tari Teruna Jaya, hanya saja dari badan hingga kaki mirip dengn kostum Arja. 


SINGARAJA, BALI EXPRESS — Tahun ini Dinas Kebudayaan (Disbud) Buleleng tengah serius merekonstruksi kesenian khas Buleleng. Walau diakui untuk kegiatan ini tidak dibiayai dana pemerintah. Dinas Kebudayaan pun menyiasatinya dengan memberdayakan staf yang memiliki keahlian di bidang tersebut untuk membina sanggar yang memiliki misi pelestarian. 

Kesenian yang tahun ini direkonstruksi adalah Tari Palawakya Dauh Enjung dan Legong Kebyar Dauh Enjung. Hal itu disampaikan Kabid Kesenian Dinas Kebudayaan Buleleng Wayan Sujana, akhir pekan kemarin.

Sujana memaparkan, rekonstruksi ini dilakukan mengingat saat ini sudah tidak ada lagi yang mendalami Tari Palawakya yang merupakan salah satu tarian asli Buleleng. Menurutnya, saat ini penari yang menarikan Palawakya sangat langka. Pencarian penari pun sulit dilakukan. Sebab, tari Palawakya adalah salah satu tarian yang memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. 

“Sekarang memang sudah langka untuk penari yang menarikan Palawakya. Sangat susah menemukan. Ada penari yang bagus, tapi tidak bisa matembang atau magambel. Ada yang bisa matembang, tapi tidak bisa menari,” ungkap Sujana.

Ia menambahkan, karena Tari Palawakya merupakan tarian yang lengkap, maka penarinya pun dituntut untu bisa menguasai gerak, tabuh dan harus pandai matembang.

“Oleh karena itu kami bekerjasama dengan sanggar-sanggar untuk pembinaan khusus agar tarian ini tetap ada. Sanggar yang nanti kami rekomendasi bekerjasama dengan pemerintah adalah sanggar yang memiliki kriteria visi misi pelestarian dan pengembangan. Itu yang harus dilakukan,” tambahnya.

Sujana pun mengungkapkan ada dua versi Tari Palawakya dan Legong Kebyar. Yakni Tari Palawakya Dangin Enjung dan Dauh Enjung. Begitu juga dengan Legong Kebyar Dangin Enjung dan Dauh Enjung.

 “Yang saat ini direkonstruksi adalah Tari Palawakya Dauh Enjung dan Tari Legong Kebyar Dauh Enjung. Yang kita tau Legong Kebyar Dangin Enjung dan Palawakya Dangin Enjung,” urainya.

Diakuibya,  yang Dauh Enjung tenggelam. Oleh karena itu, pihaknya ingin menyeimbangkan karya maestro itu. “Agar tidak tenggelam. Maka kami telusuri itu,” katanya.

Ada perbedaan dari tarian Palawakya Dangin Enjung dan Dauh Enjung. Untuk yang Dauh Enjung dari segi gerak tari tidak lebih agresif dari yang Dangin Enjung. Sementara dari segi gambelannya lebih lembut dari Dangin Enjung. Yang Dauh Enjung lebih fleksibel. Ada pengaruh dari luar Bali. 

“Dapat ditarik kesimpulan yang membagi dirinya dalam karya Dangin Enjung Dauh Enjung sesungguhnya dalam berkarya selalu bersama. Tapi begitu tampil seolah-orang bersaing. Perbedaannya tidak terlalu banyak. Dari segi gerak, Dauh Enjung lebih lembut. Dan gambelannya terdapat kecirian genre luar Buleleng seperti Jawa. Itu berdasarkan pengalaman. Kalau Dangin Enjung masih murni. Itu membuktikan bahwa Dauh Enjung lebih fleksibel untuk menggali ke luar daerah,” ungkapnya.

Sujana menjelaskan, untuk kegiatan rekontruksi yang dilakukan tidak mendapat biaya dari pemerintah. Walau tidak dibiayai, Disbud Buleleng tetap melaju agar tidak terlewat. 

“Pemerintah tidak membiayai. Yang kami berdayakan adalah staf. Karena kita tidak mau terlambat. Mumpung narasumbernya masih ada dan beliau sudah renta, kami tidak mau ketinggalan. Supaya ini tetap lestari dan dapat diingat anak cucu. Syarat untuk rekonstruksi harus ada narasumber, penari, pencipta atau pelakunya. Ada dan tidak ada anggaran, kami punya staf yang punya kemampuan, untuk itu, kami tetap bergerak. Tahun ini sudah ada hasilnya untuk Palawakya Dauh Enjung dan Legong Kebyar Dauh Enjung,” jelasnya.

Tarian Palawakya  ini diciptakan Maestro Tari Bali Utara Pan Wandres yang juga pencipta Tari Teruna Jaya. Tari Palawakya merupakan simbol dari seorang pujangga, pengarang atau penggubah lagu. Konon, paneges atau panandak dalam Tari Palwakya itu dikenal dua orang. 

Dua pangartos ini duduk di belakang penari dan bisa melakukan improvisasi dengan menyelipkan petuah-petuah yang bersifat kontekstual, bahkan bernuansa komedi. Sehingga tariannya bisa berlangsung lama seperti panasar dalam tarian Arja yang sedang magegonjakan. 

Namun kini Tari Palawakya lebih banyak menggunakan paneges hanya satu orang dan itu pun terkesan serius dan jarang diisi selingan untuk improvisasi. Tari Palawakya mengisahkan seseorang yang pintar menari, pintar berirama serta pandai menabuh.

Penari Tari Palawakya ini mirip seperti seorang pujangga yang sedang bersyair. Tari Palawakya telah ada sejak tahun 90-an. Tarian yang diciptakan oleh Wayan Praupan atau yang lebih dikenal dengan sebutannya Pan Wandres berusia puluhan tahun. Sebab, tarian itu telah ada sejak para Maestro Tari di Bali Utara itu masih berusia belia. 

Diharapkan dalam rekonstruksi yang dilakukan gerak dan tari yang dimiliki Bali Utara tidak diubah pakem-pakemnya. Tari Palawakya memang tidak memiliki ketenaran yang sama dengan Tari Teruna Jaya. Tetapi Tari Palawakya memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi dibandingkan Tari Teruna Jaya. Hal itu disebabkan Tari Palawakya harus dibawakan dengan tenaga yang ekstra, mengkombinasikan antara gerak tubuh dan kekawin serta tabuh. 

Tari Palawakya juga memiliki hiasan kepala yang mirip dengan Tari Teruna Jaya, hanya saja dari badan hingga kaki mirip dengn kostum Arja. 


Most Read

Artikel Terbaru

/