25.4 C
Denpasar
Thursday, June 8, 2023

Jangan Kutuk Virusnya, tapi Pahami Cara Mengatasi Corona

DENPASAR, BALI EXPRESS – Corona Virus Disease (Covid-19) tengah mewabah. Berbagai pihak berupaya melakukan pencegahan dan penanggulangan. Baik pemerintah maupun masyarakat. Perlu kesiapan  menghadapi virus yang juga  menyerang paru-paru ini. Jika pemerintah melalui risetnya sudah mengeluarkan beberapa aturan maupun imbauan, bagaimana tiap individu mesti menyikapinya?

Menurut Ketut Gede Suatma Yasa, SH., M.Ag., CHt., MNNLP alias Guru Mangku Hipno, pada bagian awal, perlu dibedah cara pandang melihat fenomena ini. Sebab, cara pandang yang sempit justru menjerumuskan dalam ketakutan dan kepanikan. Saat situasi takut dan panik, keadaan bisa menjadi lebih buruk. Dalam menyikapi sebuah kenyataan yang terjadi, menurut Guru Mangku Hipno, ada tiga pandangan. Pertama adalah pandangan ilmiah, yakni pandangan yang harus diteliti dan dijabarkan secara ilmiah. Semisal pertanyaannya kenapa, mengapa, apa implikasinya, dan sebagainya. Pandangan ini saat ini menjadi dominan.

Kedua adalah pandangan alamiah. Orang-orang yang memiliki pemikiran alamiah, kata Guru Mangku Hipno  adalah orang yang berserah pada hukum Karma Phala. Artinya, ia sangat percaya, jika ia berbuat baik, kebaikan yang muncul. Kalau ia berbuat buruk, maka keburukan yang muncul. Jadi, orang-orang yang memiliki pemikiran alamiah, sangat percaya diri. “Misalnya, jika belum saatnya, maka ia tak mungkin meninggal,” ungkapnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Senin (6/4).

Orang-orang ini, lanjut pria asli Buleleng ini, juga sangat percaya pada kondisi alam. Bahwa sebenarnya apapun yang terjadi pada alam ini, inilah cara alam menuju keharmonisan. “Jadi, tidak perlu ditakutkan, tapi jangan juga jumawa pada keberanian,” kata pakar hipnoterapi ini.

Baca Juga :  Ogoh-ogoh Banjar Dualang Raih Nilai Tertinggi di Denpasar

Sebab, secara alamiah, alam memiliki sistem. Pada saatnya sesuatu akan datang dan pergi. Manusia tidak bisa mengaturnya. Pada saatnya, siklus akan selesai. “Begitu pandangan orang-orang alamiah,” ujarnya.

Ada pula cara pandang ilahiah. Dalam hal ini, semua terpusat pada Sang Kausa Prima. Bahwa pengatur kehidupan yang utama adalah Tuhan. Bagi orang yang berpikir ilahiah, tidak perlu takut, tidak perlu panik, karena semua ada di tangan Tuhan. Jika kita pahami, tak ada satu pun sifat-sifat Tuhan yang buruk. Semuanya adalah kebaikan. “Yang diperlukan saat ini adalah lebih mendekatkan diri pada Tuhan, tidak menjaga jarak dengan Tuhan,” kata pria yang juga psikolog spiritual ini.

Jika ketiga cara pemikiran ini tidak dimengerti, lanjutnya, maka akan ada perbedaan dalam menyikapi sebuah kenyataan. Contohnya, dari sudut pandang ilmiah secara teoritis menuntut pembuktian dulu, baru bisa diyakini. Tapi, bagi orang-orang yang berpandangan alamiah dan ilahiah, bisa terbalik. Manusia harus yakin 100 persen dengan siklus alam dan kekuasaan Tuhan.

Dengan demikian, menurut lulusan pascasarjana IHDN Denpasar ini, dalam situasi seperti sekarang, perlu menggunakan ketiga cara pandang itu. Secara ilmiah perlu dipahami tentang virus ini dan cara pencegahan maupun penanggulangannya. Tapi, secara alamiah kita harus sadar, bahwa ini siklus alam. “Tidak perlu panik. Mau kita bunuh diri pun, siklus ini tidak akan berhenti. Karena ini bukan siklus pribadi, tapi semesta,” tegasnya.

Nah, agar tidak panik dan stres, manusia juga harus sadar sebagai makhluk ber-Tuhan. Manusia bisa saja tak merasakan, tapi Tuhan hadir di setiap ruang. “Kita perlu berpasrah, tapi dalam kepasrahan itu tetap harus tawakal dan melakukan upaya seoptimal mungkin, baik secara ilmiah maupun alamiah. Termasuk sesuai arahan pemerintah, karena kita tunduk pada hukum positif,” jelasnya.

Baca Juga :  Soal Ogoh-ogoh, Yowana Denpasar Sampaikan Aspirasi untuk Kepala Daerah

Intinya, kata pemilik Brahma Kunta Center yang beralamat di Perumahan Gunung Sari Indah, Jalan Tukad Buana I Nomor 61 Keboiwa Utara, Denpasar, ini jangan takut dan panik dalam menghadapi virus Korona. Seperti saat malam tiba dan datang kegelapan, tiap orang tidak perlu panik. Tapi dengan kecerdasan intelektual, bisa membuat terang, misalnya dengan menyalakan api atau lampu. “Jadi, bukan mengutuk kegelapan. Demikian pula saat ini, bukan dengan mengutuk virusnya, tapi harus ada pemahaman cara menghadapinya,” tandasnya.

Memang penyakit bisa menimbulkan ketakutan. Namun, akan lebih berbahaya lagi ketika kita panik. Hal ini menandakan kita tidak siap menghadapi penyakit itu. Akibatnya, karena panik, maka bisa berdampak negatif pada kesehatan. Demikian pula keputusan yang kita buat.

Dengan demikian, menurut Guru Mangku Hipno, pertama kita hendaknya menerima bahwa virus ini adalah bagian dari siklus alam semesta. Sehingga pikiran dan hati jadi lebih tenang. Berikutnya, karena musuh tidak kelihatan, secara ilmiah perlu menjaga jarak dan kontak fisik seperti arahan pemerintah. Secara pribadi, kuatkan batin dengan berdoa dan berserah pada Tuhan. “Kita sudah diajarkan, di dunia ini tidak ada yang bukan ciptaan Tuhan. Tidak ada pula penyakit yang tak bisa diatasi. Lalu, mengapa sekarang karena panik, kepintaran kita jadi hilang?” ujarnya. (bersambung)


DENPASAR, BALI EXPRESS – Corona Virus Disease (Covid-19) tengah mewabah. Berbagai pihak berupaya melakukan pencegahan dan penanggulangan. Baik pemerintah maupun masyarakat. Perlu kesiapan  menghadapi virus yang juga  menyerang paru-paru ini. Jika pemerintah melalui risetnya sudah mengeluarkan beberapa aturan maupun imbauan, bagaimana tiap individu mesti menyikapinya?

Menurut Ketut Gede Suatma Yasa, SH., M.Ag., CHt., MNNLP alias Guru Mangku Hipno, pada bagian awal, perlu dibedah cara pandang melihat fenomena ini. Sebab, cara pandang yang sempit justru menjerumuskan dalam ketakutan dan kepanikan. Saat situasi takut dan panik, keadaan bisa menjadi lebih buruk. Dalam menyikapi sebuah kenyataan yang terjadi, menurut Guru Mangku Hipno, ada tiga pandangan. Pertama adalah pandangan ilmiah, yakni pandangan yang harus diteliti dan dijabarkan secara ilmiah. Semisal pertanyaannya kenapa, mengapa, apa implikasinya, dan sebagainya. Pandangan ini saat ini menjadi dominan.

Kedua adalah pandangan alamiah. Orang-orang yang memiliki pemikiran alamiah, kata Guru Mangku Hipno  adalah orang yang berserah pada hukum Karma Phala. Artinya, ia sangat percaya, jika ia berbuat baik, kebaikan yang muncul. Kalau ia berbuat buruk, maka keburukan yang muncul. Jadi, orang-orang yang memiliki pemikiran alamiah, sangat percaya diri. “Misalnya, jika belum saatnya, maka ia tak mungkin meninggal,” ungkapnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Senin (6/4).

Orang-orang ini, lanjut pria asli Buleleng ini, juga sangat percaya pada kondisi alam. Bahwa sebenarnya apapun yang terjadi pada alam ini, inilah cara alam menuju keharmonisan. “Jadi, tidak perlu ditakutkan, tapi jangan juga jumawa pada keberanian,” kata pakar hipnoterapi ini.

Baca Juga :  Gambelan Palegongan, Historis Puri Tain Siat dengan Binoh

Sebab, secara alamiah, alam memiliki sistem. Pada saatnya sesuatu akan datang dan pergi. Manusia tidak bisa mengaturnya. Pada saatnya, siklus akan selesai. “Begitu pandangan orang-orang alamiah,” ujarnya.

Ada pula cara pandang ilahiah. Dalam hal ini, semua terpusat pada Sang Kausa Prima. Bahwa pengatur kehidupan yang utama adalah Tuhan. Bagi orang yang berpikir ilahiah, tidak perlu takut, tidak perlu panik, karena semua ada di tangan Tuhan. Jika kita pahami, tak ada satu pun sifat-sifat Tuhan yang buruk. Semuanya adalah kebaikan. “Yang diperlukan saat ini adalah lebih mendekatkan diri pada Tuhan, tidak menjaga jarak dengan Tuhan,” kata pria yang juga psikolog spiritual ini.

Jika ketiga cara pemikiran ini tidak dimengerti, lanjutnya, maka akan ada perbedaan dalam menyikapi sebuah kenyataan. Contohnya, dari sudut pandang ilmiah secara teoritis menuntut pembuktian dulu, baru bisa diyakini. Tapi, bagi orang-orang yang berpandangan alamiah dan ilahiah, bisa terbalik. Manusia harus yakin 100 persen dengan siklus alam dan kekuasaan Tuhan.

Dengan demikian, menurut lulusan pascasarjana IHDN Denpasar ini, dalam situasi seperti sekarang, perlu menggunakan ketiga cara pandang itu. Secara ilmiah perlu dipahami tentang virus ini dan cara pencegahan maupun penanggulangannya. Tapi, secara alamiah kita harus sadar, bahwa ini siklus alam. “Tidak perlu panik. Mau kita bunuh diri pun, siklus ini tidak akan berhenti. Karena ini bukan siklus pribadi, tapi semesta,” tegasnya.

Nah, agar tidak panik dan stres, manusia juga harus sadar sebagai makhluk ber-Tuhan. Manusia bisa saja tak merasakan, tapi Tuhan hadir di setiap ruang. “Kita perlu berpasrah, tapi dalam kepasrahan itu tetap harus tawakal dan melakukan upaya seoptimal mungkin, baik secara ilmiah maupun alamiah. Termasuk sesuai arahan pemerintah, karena kita tunduk pada hukum positif,” jelasnya.

Baca Juga :  DJ Tiara Dewy Tampil Garang di Event Night Party

Intinya, kata pemilik Brahma Kunta Center yang beralamat di Perumahan Gunung Sari Indah, Jalan Tukad Buana I Nomor 61 Keboiwa Utara, Denpasar, ini jangan takut dan panik dalam menghadapi virus Korona. Seperti saat malam tiba dan datang kegelapan, tiap orang tidak perlu panik. Tapi dengan kecerdasan intelektual, bisa membuat terang, misalnya dengan menyalakan api atau lampu. “Jadi, bukan mengutuk kegelapan. Demikian pula saat ini, bukan dengan mengutuk virusnya, tapi harus ada pemahaman cara menghadapinya,” tandasnya.

Memang penyakit bisa menimbulkan ketakutan. Namun, akan lebih berbahaya lagi ketika kita panik. Hal ini menandakan kita tidak siap menghadapi penyakit itu. Akibatnya, karena panik, maka bisa berdampak negatif pada kesehatan. Demikian pula keputusan yang kita buat.

Dengan demikian, menurut Guru Mangku Hipno, pertama kita hendaknya menerima bahwa virus ini adalah bagian dari siklus alam semesta. Sehingga pikiran dan hati jadi lebih tenang. Berikutnya, karena musuh tidak kelihatan, secara ilmiah perlu menjaga jarak dan kontak fisik seperti arahan pemerintah. Secara pribadi, kuatkan batin dengan berdoa dan berserah pada Tuhan. “Kita sudah diajarkan, di dunia ini tidak ada yang bukan ciptaan Tuhan. Tidak ada pula penyakit yang tak bisa diatasi. Lalu, mengapa sekarang karena panik, kepintaran kita jadi hilang?” ujarnya. (bersambung)


Most Read

Artikel Terbaru