alexametrics
26.5 C
Denpasar
Wednesday, May 18, 2022

Masabatan Biu Uji Fisik & Mental Pemuda Tenganan Jelang Jadi Pemimpin

AMLAPURA, BALI EXPRESS – Pemuda di Desa Tenganan Dauh Tukad, Kecamatan Manggis, Karangasem punya ritus unik, yakni saling lempar dengan pisang mentah. Bisa dibayangkan kalau kena, lumayan terasa di badan. Tradisi yang dinamai Masabatan Biu (saling lempar pisang) ini hingga kini tetap lestari.

Tradisi Masabatan Biu dilaksanakan setiap satu tahun sekali. Dimulai pada rahina Purnama Sasih Ketiga sesuai kalender Tenganan, sedangkan pada kalender Bali pada umumnya adalah Purnama Sasih Jyesta.

Namun, Masabatan Biu tersebut tidaklah dilaksanakan tepat Purnama, tetapi hari kelima setelah Purnama Sasih Ketiga, berdasarkan kalender asat Desa Tenganan.

Bendesa Tenganan Dauh Tukad I Wayan Tisna. Ist

Bendesa Tenganan Dauh Tukad I Wayan Tisna menjelaskan, tradisi Masabatan Biu hanya melibatkan truna adat saja, karena Aci Ketiga ini merupakan tanggung jawab dari pemuda. “Itu murni truna, krama desa hanya mengikuti saja, klian desa mengarahkan saja, kalau sudah benar ya jalan, kalau ada keliru, klian desa yang memberitahu,” ujar Tisna, Kamis (5/5).

Tradisi tersebut sebenarnya dilaksanakan di Pura Bale Agung. Namun para truna sudah melemparkan pisangnya sebelum Pura Bale Agung, tepatnya sebelum balai banjar.

Dalam menjalankan tradisi, ini tidak semua truna (pemuda) yang terlibat ‘perang’ pisang, melainkan terdapat dua truna yang disebut dengan saye dan panampih yang diserang dengan ‘senjata’ pisang kepok oleh para truna setempat. “Kadang tidak sampai di Pura Bale Agung senjatanya sudah habis,” ucapnya.

Tujuan menyerang saye dan panampih ini adalah untuk menguji fisik dan mental keduanya sebelum melangkah ke jenjang yang lebih jauh. Tetapi pemuda di sana diharuskan negen (memikul) kelapa yang berjumlah 20 biji dengan masing-masing di depan 10 buah dan di belakang 10 buah.

Kelapa dan pisang yang dibawa itu merupakan hasil panen di lahan warga di wilayah Tenganan Dauh Tukad. Perlengkapan itu mereka cari selama dua hari sebelum dilaksanakannya tradisi tersebut. “Saya pikir itu untuk beban, supaya tidak keras lemparannya. Kalau tidak ada beban pasti keras,” lanjutnya.

Meskipun saye dan panampih seusai tradisi tersebut mengalami luka-luka akibat lemparan pisang, Tisna menyebut, tidak ada dendam di antara mereka karena itu murni merupakan tradisi untuk menyelesaikan aci. “Karena ini rangkaian dari upacara, tidak ada yang dendam, marah, biarpun mereka lebam. Setelah itu mereka biasa ketawa-ketawa,” paparnya.

Bagi para truna yang melemparkan pisang terhadap saye dan panampih, karena mereka membawa kelapa, tidak diperbolehkan kelapa yang sudah disatukan sampai terpisah. Apabila itu terjadi, maka truna tersebut dikenakan denda setiap kelapa seharga jual kelapa tersebut.

“Karena itu suatu kelalaian. Mereka harus mempersiapkan semuanya, dari memilih kelapa, mengikat, dan lain sebagainya. Makanya kejelian, keterampilan, kedisiplinannya dituntut,” jelas pria 48 tahun tersebut.

Dua truna yang diserang pada saat tradisi Masabatan Biu disebut dengan saye dan panampih. Setiap tahunnya, saye dan panampih tersebut dilakukan secara bergantian.

Menurut Tisna, saye dan panampih dilakukan sesuai dengan siapa yang lebih dulu menjadi truna di Desa Tenganan Dauh Tukad. “Siapa yang lebih senior, atau yang lebih dulu tedun menjadi truna, itu yang menjadi panampih,” ujarnya.

Sedangkan yang akan menjadi saye, ia yang sebelumnya menjadi panampih. Sementara saye sebelumnya, akan menjalankan tugas sebagai klian truna Desa Tenganan Dauh Tukad. “Nanti akan memiliki beban menjadi klian truna yang menjadi sasaran Masabatan Biu tersebut,” lanjutnya.

Saye dan panampih disebutnya memiliki tugas yang lebih sebelum dilaksanakannya Masabatan Biu tersebut. Mulai dari membantu mempersiapkan upacara. Setelah itu, barulah mereka akan melangkah ke jenjang yang lebih tinggi, antara menjadi klian truna untuk yang menjadi saye, dan menjadi saye untuk yang sebelumnya menjadi panampih.

Tisna menjelaskan, klian truna di sana berjumlah 10 orang. Tiga orang diantaranya sebagai pamucuk, yakni, ketua, sekretaris, dan bendahara. Tujuh orang lainnya membantu kegiatan atau bisa dikatakan memiliki seksi dan tugas masing-masing.

Meskipun setiap tahunnya akan terus berganti saye, dan saye yang terdahulu akan menjadi klian, akan tetapi apabila di antara klian yang masih menjabat tidak ada yang menikah, maka saye yang belum menjadi klian akan kembali menjadi krama biasa, dan menunggu giliran untuk menjadi klian. “Tetapi dia siap-siap nanti menggantikan klian truna,” tegasnya.

Tugas klian truna sendiri diakui untuk memberikan siaran terhadap truna di sana, mempersiapkan sarana dan prasarana upacara, memungut denda dan tugas lainnya.

Apabila yang sudah menjadi klian truna menikah, otomatis mereka akan paham apa yang harus dilakukan ketika sudah menjadi krama Desa Tenganan Dauh Tukad. “Karena dari truna sudah diajarkan berorganisasi, membuat upakara upacara, bertanggung jawab dengan suatu upacara,” tutupnya. (dir)

 


AMLAPURA, BALI EXPRESS – Pemuda di Desa Tenganan Dauh Tukad, Kecamatan Manggis, Karangasem punya ritus unik, yakni saling lempar dengan pisang mentah. Bisa dibayangkan kalau kena, lumayan terasa di badan. Tradisi yang dinamai Masabatan Biu (saling lempar pisang) ini hingga kini tetap lestari.

Tradisi Masabatan Biu dilaksanakan setiap satu tahun sekali. Dimulai pada rahina Purnama Sasih Ketiga sesuai kalender Tenganan, sedangkan pada kalender Bali pada umumnya adalah Purnama Sasih Jyesta.

Namun, Masabatan Biu tersebut tidaklah dilaksanakan tepat Purnama, tetapi hari kelima setelah Purnama Sasih Ketiga, berdasarkan kalender asat Desa Tenganan.

Bendesa Tenganan Dauh Tukad I Wayan Tisna. Ist

Bendesa Tenganan Dauh Tukad I Wayan Tisna menjelaskan, tradisi Masabatan Biu hanya melibatkan truna adat saja, karena Aci Ketiga ini merupakan tanggung jawab dari pemuda. “Itu murni truna, krama desa hanya mengikuti saja, klian desa mengarahkan saja, kalau sudah benar ya jalan, kalau ada keliru, klian desa yang memberitahu,” ujar Tisna, Kamis (5/5).

Tradisi tersebut sebenarnya dilaksanakan di Pura Bale Agung. Namun para truna sudah melemparkan pisangnya sebelum Pura Bale Agung, tepatnya sebelum balai banjar.

Dalam menjalankan tradisi, ini tidak semua truna (pemuda) yang terlibat ‘perang’ pisang, melainkan terdapat dua truna yang disebut dengan saye dan panampih yang diserang dengan ‘senjata’ pisang kepok oleh para truna setempat. “Kadang tidak sampai di Pura Bale Agung senjatanya sudah habis,” ucapnya.

Tujuan menyerang saye dan panampih ini adalah untuk menguji fisik dan mental keduanya sebelum melangkah ke jenjang yang lebih jauh. Tetapi pemuda di sana diharuskan negen (memikul) kelapa yang berjumlah 20 biji dengan masing-masing di depan 10 buah dan di belakang 10 buah.

Kelapa dan pisang yang dibawa itu merupakan hasil panen di lahan warga di wilayah Tenganan Dauh Tukad. Perlengkapan itu mereka cari selama dua hari sebelum dilaksanakannya tradisi tersebut. “Saya pikir itu untuk beban, supaya tidak keras lemparannya. Kalau tidak ada beban pasti keras,” lanjutnya.

Meskipun saye dan panampih seusai tradisi tersebut mengalami luka-luka akibat lemparan pisang, Tisna menyebut, tidak ada dendam di antara mereka karena itu murni merupakan tradisi untuk menyelesaikan aci. “Karena ini rangkaian dari upacara, tidak ada yang dendam, marah, biarpun mereka lebam. Setelah itu mereka biasa ketawa-ketawa,” paparnya.

Bagi para truna yang melemparkan pisang terhadap saye dan panampih, karena mereka membawa kelapa, tidak diperbolehkan kelapa yang sudah disatukan sampai terpisah. Apabila itu terjadi, maka truna tersebut dikenakan denda setiap kelapa seharga jual kelapa tersebut.

“Karena itu suatu kelalaian. Mereka harus mempersiapkan semuanya, dari memilih kelapa, mengikat, dan lain sebagainya. Makanya kejelian, keterampilan, kedisiplinannya dituntut,” jelas pria 48 tahun tersebut.

Dua truna yang diserang pada saat tradisi Masabatan Biu disebut dengan saye dan panampih. Setiap tahunnya, saye dan panampih tersebut dilakukan secara bergantian.

Menurut Tisna, saye dan panampih dilakukan sesuai dengan siapa yang lebih dulu menjadi truna di Desa Tenganan Dauh Tukad. “Siapa yang lebih senior, atau yang lebih dulu tedun menjadi truna, itu yang menjadi panampih,” ujarnya.

Sedangkan yang akan menjadi saye, ia yang sebelumnya menjadi panampih. Sementara saye sebelumnya, akan menjalankan tugas sebagai klian truna Desa Tenganan Dauh Tukad. “Nanti akan memiliki beban menjadi klian truna yang menjadi sasaran Masabatan Biu tersebut,” lanjutnya.

Saye dan panampih disebutnya memiliki tugas yang lebih sebelum dilaksanakannya Masabatan Biu tersebut. Mulai dari membantu mempersiapkan upacara. Setelah itu, barulah mereka akan melangkah ke jenjang yang lebih tinggi, antara menjadi klian truna untuk yang menjadi saye, dan menjadi saye untuk yang sebelumnya menjadi panampih.

Tisna menjelaskan, klian truna di sana berjumlah 10 orang. Tiga orang diantaranya sebagai pamucuk, yakni, ketua, sekretaris, dan bendahara. Tujuh orang lainnya membantu kegiatan atau bisa dikatakan memiliki seksi dan tugas masing-masing.

Meskipun setiap tahunnya akan terus berganti saye, dan saye yang terdahulu akan menjadi klian, akan tetapi apabila di antara klian yang masih menjabat tidak ada yang menikah, maka saye yang belum menjadi klian akan kembali menjadi krama biasa, dan menunggu giliran untuk menjadi klian. “Tetapi dia siap-siap nanti menggantikan klian truna,” tegasnya.

Tugas klian truna sendiri diakui untuk memberikan siaran terhadap truna di sana, mempersiapkan sarana dan prasarana upacara, memungut denda dan tugas lainnya.

Apabila yang sudah menjadi klian truna menikah, otomatis mereka akan paham apa yang harus dilakukan ketika sudah menjadi krama Desa Tenganan Dauh Tukad. “Karena dari truna sudah diajarkan berorganisasi, membuat upakara upacara, bertanggung jawab dengan suatu upacara,” tutupnya. (dir)

 


Most Read

Artikel Terbaru

/