alexametrics
28.8 C
Denpasar
Sunday, July 3, 2022

Oleh : I Made Bagus Andi Purnomo)*

Galungan dan Kontemplasi Dharma Menuju Moderasi

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Hari Raya Suci Galungan secara sederhana dimaknai sebagai momentum perayaan kemenangan dharma melawan adharma. Kebaikan melawan kebatilan.

Dirayakannya setiap enam bulan sekali. Cukup intens. Namun, sudahkah umat Hindu mampu mengontemplasi/memaknai ke dalam diri makna kata dharma itu ke dalam lubuk hati sanubari dan laku keseharian dalam kehidupan? Jawabannya masih tanda tanya.

Di tengah uforia perayaan Galungan yang semarak. Penuh ritus dan kemeriahan sosial dalam perayaannya. Makna esensi ‘dharma’ lebih sering ‘tenggelam’ di dalam lautan uforia tersebut. Apa yang ada di benak kita ketika mendengar istilah dharma?

Pemahaman sebagian besar masyarakat Hindu baik di Bali, Nusantara maupun dunia mengenai dharma adalah kebaikan, kebenaran. Kemudian, apa pengertian dharma dalam aspek yang lebih holistik? Pelbagai literatur kitab suci Weda menjelaskan intilah yang lebih dalam dan luas. Dharma bersifat universal dan abadi.

Dharma berarti hukum alam universal, yang berlaku untuk semua orang. Dharma dianalogikan dalam analogi berikut ini : Misalnya, kita mengatakan bahwa dharma api adalah membakar dan menyebabkan terbakar. Demikian juga, es adalah es. Dharma es adalah menjadi dingin dan menyebabkan dingin. Inilah sifat es, yang bersifat universal dan abadi.

Begitu pula, dharma manusia adalah saling mengasihi dan menyayangi sesama mahkluk hidup. Tak ada beda antara manusia satu dengan yang lainnya. Tuhan Ida Shang Hyang Widhi Wasa adalah ayah yang kekal bagi semua mahkluk hidup di dunia.

Momentum hari raya Galungan tahun ini yang bertepatan dengan tahun toleransi hendaknya diimplementasikan guna memaknai lebih dalam mengenai makna saling menghormati dan menghargai sesama ciptaan Tuhan dalam bingkai moderasi beragama.

Moderasi penting digaungkan di tengah kondisi nyata masyarakat Hindu kita, baik dunia nyata dan medsos yang mulai mengarah pada tindakan intoleransi. Entah itu lingkup intern maupun ekstern umat beragama.

Moderasi artinya tidak ekstrem kiri dan atau kanan. Berada di tengah-tengah. Cenderung mengambil sikap tak memihak. Tidak juga berarti diam. Analoginya sederhana. Ketika melihat teman bertengkar karena sesuatu hal. Kita tidak memihak salah satunya. Tetapi, cenderung memilih untuk bertindak dan melerai jika diperlukan. Juga sikap berada di tengah-tengah dari pertengkaran itu serta tidak memihak salah satunya.

Dharma menuntun kita untuk tidak mudah menghujat orang/kelompok yang mungkin saja berbeda cara dalam memuja kemahakuasaan Tuhan. Dharma mengajari kita bahwa tidak ada beda antara kamu dan aku. Tat Twam Asi. Hendaknya selalu mengusahakan jalan tengah sesuai dengan makna moderasi itu sendiri.

Buku modul moderasi beragama yang digagas Mantan Menteri Agama Lukman Hakin Syafuddun menegaskan bahwa moderasi beragama harus dipahami sebagai sikap beragama yang seimbang antara pengamalan agama sendiri (eksklusif) dan penghormatan kepada praktik beragama orang lain yang berbeda keyakinan (inklusif ).

Keseimbangan atau jalan tengah dalam praktik beragama ini niscaya akan menghindarkan kita dari sikap ekstrem berlebihan, fanatik dan sikap revolusioner dalam beragama.

Seperti telah diisyaratkan sebelumnya, moderasi beragama merupakan  solusi atas hadirnya dua kutub ekstrem dalam beragama, kutub ultra­konservatif atau ekstrem kanan di satu sisi, dan liberal atau ekstrem kiri di sisi lain.

Moderasi beragama sesungguhnya merupakan kunci terciptanya toleransi dan kerukunan, baik di tingkat lokal, nasional, maupun global. Pilihan pada moderasi dengan menolak ekstremisme dan liberalisme dalam beragama adalah kunci keseimbangan, demi terpeliharanya peradaban dan terciptanya perdamaian.

Dengan cara inilah masing­masing umat beragama baik intern maupun ekstern dapat memperlakukan orang lain secara terhormat, menerima perbedaan, serta hidup  bersama dalam damai dan harmoni.

)* Dosen STAHN Mpu Kuturan Singaraja

 






Reporter: I Putu Mardika

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Hari Raya Suci Galungan secara sederhana dimaknai sebagai momentum perayaan kemenangan dharma melawan adharma. Kebaikan melawan kebatilan.

Dirayakannya setiap enam bulan sekali. Cukup intens. Namun, sudahkah umat Hindu mampu mengontemplasi/memaknai ke dalam diri makna kata dharma itu ke dalam lubuk hati sanubari dan laku keseharian dalam kehidupan? Jawabannya masih tanda tanya.

Di tengah uforia perayaan Galungan yang semarak. Penuh ritus dan kemeriahan sosial dalam perayaannya. Makna esensi ‘dharma’ lebih sering ‘tenggelam’ di dalam lautan uforia tersebut. Apa yang ada di benak kita ketika mendengar istilah dharma?

Pemahaman sebagian besar masyarakat Hindu baik di Bali, Nusantara maupun dunia mengenai dharma adalah kebaikan, kebenaran. Kemudian, apa pengertian dharma dalam aspek yang lebih holistik? Pelbagai literatur kitab suci Weda menjelaskan intilah yang lebih dalam dan luas. Dharma bersifat universal dan abadi.

Dharma berarti hukum alam universal, yang berlaku untuk semua orang. Dharma dianalogikan dalam analogi berikut ini : Misalnya, kita mengatakan bahwa dharma api adalah membakar dan menyebabkan terbakar. Demikian juga, es adalah es. Dharma es adalah menjadi dingin dan menyebabkan dingin. Inilah sifat es, yang bersifat universal dan abadi.

Begitu pula, dharma manusia adalah saling mengasihi dan menyayangi sesama mahkluk hidup. Tak ada beda antara manusia satu dengan yang lainnya. Tuhan Ida Shang Hyang Widhi Wasa adalah ayah yang kekal bagi semua mahkluk hidup di dunia.

Momentum hari raya Galungan tahun ini yang bertepatan dengan tahun toleransi hendaknya diimplementasikan guna memaknai lebih dalam mengenai makna saling menghormati dan menghargai sesama ciptaan Tuhan dalam bingkai moderasi beragama.

Moderasi penting digaungkan di tengah kondisi nyata masyarakat Hindu kita, baik dunia nyata dan medsos yang mulai mengarah pada tindakan intoleransi. Entah itu lingkup intern maupun ekstern umat beragama.

Moderasi artinya tidak ekstrem kiri dan atau kanan. Berada di tengah-tengah. Cenderung mengambil sikap tak memihak. Tidak juga berarti diam. Analoginya sederhana. Ketika melihat teman bertengkar karena sesuatu hal. Kita tidak memihak salah satunya. Tetapi, cenderung memilih untuk bertindak dan melerai jika diperlukan. Juga sikap berada di tengah-tengah dari pertengkaran itu serta tidak memihak salah satunya.

Dharma menuntun kita untuk tidak mudah menghujat orang/kelompok yang mungkin saja berbeda cara dalam memuja kemahakuasaan Tuhan. Dharma mengajari kita bahwa tidak ada beda antara kamu dan aku. Tat Twam Asi. Hendaknya selalu mengusahakan jalan tengah sesuai dengan makna moderasi itu sendiri.

Buku modul moderasi beragama yang digagas Mantan Menteri Agama Lukman Hakin Syafuddun menegaskan bahwa moderasi beragama harus dipahami sebagai sikap beragama yang seimbang antara pengamalan agama sendiri (eksklusif) dan penghormatan kepada praktik beragama orang lain yang berbeda keyakinan (inklusif ).

Keseimbangan atau jalan tengah dalam praktik beragama ini niscaya akan menghindarkan kita dari sikap ekstrem berlebihan, fanatik dan sikap revolusioner dalam beragama.

Seperti telah diisyaratkan sebelumnya, moderasi beragama merupakan  solusi atas hadirnya dua kutub ekstrem dalam beragama, kutub ultra­konservatif atau ekstrem kanan di satu sisi, dan liberal atau ekstrem kiri di sisi lain.

Moderasi beragama sesungguhnya merupakan kunci terciptanya toleransi dan kerukunan, baik di tingkat lokal, nasional, maupun global. Pilihan pada moderasi dengan menolak ekstremisme dan liberalisme dalam beragama adalah kunci keseimbangan, demi terpeliharanya peradaban dan terciptanya perdamaian.

Dengan cara inilah masing­masing umat beragama baik intern maupun ekstern dapat memperlakukan orang lain secara terhormat, menerima perbedaan, serta hidup  bersama dalam damai dan harmoni.

)* Dosen STAHN Mpu Kuturan Singaraja

 






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru

/