alexametrics
30.4 C
Denpasar
Monday, May 23, 2022

Tragedi Memilukan, Kuda Putih Picu Perang Saudara  

NEGARA, BALI EXPRESS – Pasca didirikannya Kerajaan Pecangakan  di Dauhwaru, Jembrana oleh salah satu keturunan Raja Bakungan, Ki Ageng Mekel Bang yang bergelar I Gusti Ngurah Gde Pecangakan, yang memerintah bersama adiknya Ki Ageng Malele Bang, situasi aman, damai sentosa. Namun, situasinya tak berlangsung lama karena keduanya akhirnya berseteru sangat hebat. 

Juru Sapuh Pura Bakungan, Wayan Lulut, menceritakan pekan kemarin, konon berdasarkan cerita, I Gusti Ngurah Bakungan ingin menguasai kuda putih milik kakaknya, I Gusti Ngurah Gde Pecangakan. Kuda putih yang diberi nama Jaran Bana Rana, anugerah dari Dalem Pasuruan (Sri Bimo Cili) yang masih merupakan kerabatnya itu, ternyata jadi pemicu perseteruan. 

Kecurigaan ini timbul di hati kakaknya. Beberapa tahun kemudian pada akhir bulan yang baik untuk melaksanakan upacara Dewa Yadnya, I Gusti Ngurah Bakungan mengundang kakaknya I Gusti Ngurah Gde Pecangakan. Namun, di dalam hati I Gusti Ngurah Gde Pecangakan mempunyai prasangka buruk terhadap undangan adiknya itu. Padahal, negeri Bakungan sendiri merupakan pusat dari leluhurnya. Prasangka itu timbul, juga dikuatkan mimpi buruk yang dialami istrinya. 

Mengingat dharma sebagai kakak dan sebagai keturunan Bakungan, maka dengan penuh prasangka dia memutuskan untuk menghadiri undangan suci tersebut. Lain halnya dengan I Gusti Ngurah Bakungan yang sudah sadar akan kekeliruannya terhadap apa yang dia inginkan. Dengan hati yang suci dia mengundang akan melaksanakan yadnya sebagai keturunan dari Ki Ageng Malele Cengkrong. 

Dalam sebuah pertemuan di Puri Pecangakan, berpesanlah I Gusti Ngurah Gde Pecangakan kepada adiknya Ki Ageng Malele Bang beserta segenap keluarga puri dan tokoh istana. “Apabila kudaku kembali ke puri berlumuran darah, berarti aku telah tertipu dan terbunuh oleh adikku Bakungan. Para istri supaya melakukan darma satya (bunuh diri), segenap harta supaya disembunyikan dalam tanah. Dan, Adi Malele Bang harus menuntut balas dan menghancurkan habis puri beserta isi Bakungan,” pesan I Gusti Ngurah Gde Pecangakan. 

Setelah itu, berangkatlah iring-iringan Pecangakan menuju Bakungan. Iring-iringan tersebut disambut dengan meriah dan dengan segala kebesaran. Kakak beradik bercakap-cakap dengan gembiranya, tanpa ada niat jahat dari I Gusti Ngurah Bakungan. 

Kemudian saat pagi menyingsing, para jagal mengadakan penyembelihan binatang sapi, kerbau, babi, dan lainnya untuk persediaan upacara. Tetapi tanpa ada sebab sang kuda putih kesayangan Raja Pecangakan menjadi liar dan takut kalau ikut disembelih. Kuda ini lepas dari kandang, melompat dan mengguling-gulingkan badannya di darah panas binatang yang baru di sembelih. Lalu kuda putih itu lari menghilang ke arah Pecangakan. Tidak satu pun orang yang dapat menghalanginya. 

Kejadian itu dilaporkan kepada I Gusti Ngurah Gde Pecangakan dan I Gusti Ngurah Bakungan. Alangkah terkejutnya Raja Pecangakan, yang kemudian menguraikan tentang pesannya di Puri Pecangakan. 

I Gusti Ngurah Gde Pecangakan lalu menyadari akan bahaya yang didapatkan setelah kudanya sampai di Puri Pecangakan. Maka, diperintahkanlah beberapa pasukan Bakungan untuk mengejar kuda. Kuda putih terus berlari melintasi Kelatakan, Melaya, Pegubugan menuju ke timur, dan terus ke selatan menuju Kerajaan Pecangakan. I Gusti Ngurah Gde Pecangakan dan I Gusti Ngurah Bakungan beserta pasukan pun tidak dapat menyusulnya. 

Lalu, tibalah kuda tersebut di Kerajaan Pecangakan dengan berlumuran darah, hingga membuat rakyat beserta seisi puri terkejut. Dengan penuh dukacita, mengingat kepada pesan I Gusti Ngurah Gde Pecangakan sebelum berangkat ke Bakungan, maka dilaksanakanlah pesan itu tanpa berpikir lebih jauh. 

Para istri, putra-putri telah melaksanakan satya, berikut harta benda dipendam di sumur. Kemudian sesuai pesan I Gusti Ngurah Gde Pecangakan, sang adik, Ki Ageng Malele Bang (I Gusti Ageng Malele Bang) selaku wakil raja bersama patih Ki Tegal Badeng, mengerahkan seluruh pasukan perangnya untuk menyerbu Puri Bakungan. Pasukannya dikumpulkan di daerah Cupel. 

Setibanya di Kerajaan Bakungan, I Gusti Ageng Malele Bang dan Ki Patih Tegal Badeng menghancurkan negeri Bakungan beserta isinya. Dengan gigih Puri Bakungan mempertahankan negerinya, walaupun pada akhirnya Ki Jaya Kusuma tewas dalam pertempuran itu. Negeri Bakungan pun hancur. 

Setelah semuanya selesai dan kalapnya reda, Ki Ageng Malele Bang pun berpikir mengapa mayat I Gusti Ngurah Gde Pecangakan beserta I Gusti Ngurah Bakungan tidak ada. Ia kemudian mengambil keputusan untuk kembali ke Pecangakan, karena tugasnya sudah selesai. Sementara saat diserbu, anak dari I Gusti Ngurah Bakungan meninggalkan Puri Bakungan lari ke Pasuruan (Pangeran Suropati), dan di Jawa dikenal dengan nama Untung Suropati. 

Setibanya I Gusti Ngurah Gde Pecangakan dan I Gusti Ngurah Bakungan di  Pecangakan, mereka disambut dengan isak tangis rakyat menguraikan tragedi yang terjadi terhadap keluarga. Penyesalan pun dirasakan I Gusti Ngurah Gde Pecangakan. Ia menyesalkan kekeliruannya yang diakibatkan sang kuda putih. 

Belum selesai mereka bersembahyang mendoakan mereka yang telah meninggal, terdengarlah sorak-sorai pasukan Pecangakan yang datang dari Bakungan. Saat itulah I Gusti Ageng Malele Bang terkejut melihat I Gusti Ngurah Gde Pecangakan dan I Gusti Ngurah Bakungan bersama dalam keadaan berduka. Ia pun menceritakan segala yang dilakukan di negeri Bakungan. 

Raja Bakungan  marah dengan kehancuran negerinya beserta isinya. Ia kemudian menantang I Gusti Ngurah Gde Pecangakan perang layaknya dharma kesatria. Sedangkan I Gusti Ageng Malele Bang diperintahkan untuk menyatukan dan membangun negeri baru di wilayah Pecangakan. 

Sementara itu, I Gusti Ngurah Gde Pecangakan dan I Gusti Ngurah Bakungan sepakat untuk mengadakan perang tanding sampai titik darah pengabisan. Lokasinya di dekat sebuah muara sungai. Meski bertanding mati-matian, namun keduanya tidak kunjung ada yang tewas. Lalu mereka memutuskan untuk menceburkan diri ke air dengan badan terikat satu sama lainnya. Hingga akhirnya seekor ikan besar menyambar lidah dan puser keduanya, dan keduanya pun tewas. 

Pada suatu hari, mayat keduanya ditemukan seorang menega (pencari ikan) yang masih memakai pakaian seorang raja. Karena merasa takut, mayat kedua raja yang masih bersaudara itu dikubur dan dijadikan satu. 

Lokasi tempat penguburan kedua raja inilah yang sekarang oleh warga dikatakan sebagai Pura Kembar. Keluarga yang menemukan mayat keduanya sampai sekarang pun menjadi panyiwi bakti Pura Kembar tersebut. Sekarang keluarga tersebut tinggal di Perancak, pindah pada masa banjir bandang yang menghancurkan negeri Brangbang.

 

 

 


NEGARA, BALI EXPRESS – Pasca didirikannya Kerajaan Pecangakan  di Dauhwaru, Jembrana oleh salah satu keturunan Raja Bakungan, Ki Ageng Mekel Bang yang bergelar I Gusti Ngurah Gde Pecangakan, yang memerintah bersama adiknya Ki Ageng Malele Bang, situasi aman, damai sentosa. Namun, situasinya tak berlangsung lama karena keduanya akhirnya berseteru sangat hebat. 

Juru Sapuh Pura Bakungan, Wayan Lulut, menceritakan pekan kemarin, konon berdasarkan cerita, I Gusti Ngurah Bakungan ingin menguasai kuda putih milik kakaknya, I Gusti Ngurah Gde Pecangakan. Kuda putih yang diberi nama Jaran Bana Rana, anugerah dari Dalem Pasuruan (Sri Bimo Cili) yang masih merupakan kerabatnya itu, ternyata jadi pemicu perseteruan. 

Kecurigaan ini timbul di hati kakaknya. Beberapa tahun kemudian pada akhir bulan yang baik untuk melaksanakan upacara Dewa Yadnya, I Gusti Ngurah Bakungan mengundang kakaknya I Gusti Ngurah Gde Pecangakan. Namun, di dalam hati I Gusti Ngurah Gde Pecangakan mempunyai prasangka buruk terhadap undangan adiknya itu. Padahal, negeri Bakungan sendiri merupakan pusat dari leluhurnya. Prasangka itu timbul, juga dikuatkan mimpi buruk yang dialami istrinya. 

Mengingat dharma sebagai kakak dan sebagai keturunan Bakungan, maka dengan penuh prasangka dia memutuskan untuk menghadiri undangan suci tersebut. Lain halnya dengan I Gusti Ngurah Bakungan yang sudah sadar akan kekeliruannya terhadap apa yang dia inginkan. Dengan hati yang suci dia mengundang akan melaksanakan yadnya sebagai keturunan dari Ki Ageng Malele Cengkrong. 

Dalam sebuah pertemuan di Puri Pecangakan, berpesanlah I Gusti Ngurah Gde Pecangakan kepada adiknya Ki Ageng Malele Bang beserta segenap keluarga puri dan tokoh istana. “Apabila kudaku kembali ke puri berlumuran darah, berarti aku telah tertipu dan terbunuh oleh adikku Bakungan. Para istri supaya melakukan darma satya (bunuh diri), segenap harta supaya disembunyikan dalam tanah. Dan, Adi Malele Bang harus menuntut balas dan menghancurkan habis puri beserta isi Bakungan,” pesan I Gusti Ngurah Gde Pecangakan. 

Setelah itu, berangkatlah iring-iringan Pecangakan menuju Bakungan. Iring-iringan tersebut disambut dengan meriah dan dengan segala kebesaran. Kakak beradik bercakap-cakap dengan gembiranya, tanpa ada niat jahat dari I Gusti Ngurah Bakungan. 

Kemudian saat pagi menyingsing, para jagal mengadakan penyembelihan binatang sapi, kerbau, babi, dan lainnya untuk persediaan upacara. Tetapi tanpa ada sebab sang kuda putih kesayangan Raja Pecangakan menjadi liar dan takut kalau ikut disembelih. Kuda ini lepas dari kandang, melompat dan mengguling-gulingkan badannya di darah panas binatang yang baru di sembelih. Lalu kuda putih itu lari menghilang ke arah Pecangakan. Tidak satu pun orang yang dapat menghalanginya. 

Kejadian itu dilaporkan kepada I Gusti Ngurah Gde Pecangakan dan I Gusti Ngurah Bakungan. Alangkah terkejutnya Raja Pecangakan, yang kemudian menguraikan tentang pesannya di Puri Pecangakan. 

I Gusti Ngurah Gde Pecangakan lalu menyadari akan bahaya yang didapatkan setelah kudanya sampai di Puri Pecangakan. Maka, diperintahkanlah beberapa pasukan Bakungan untuk mengejar kuda. Kuda putih terus berlari melintasi Kelatakan, Melaya, Pegubugan menuju ke timur, dan terus ke selatan menuju Kerajaan Pecangakan. I Gusti Ngurah Gde Pecangakan dan I Gusti Ngurah Bakungan beserta pasukan pun tidak dapat menyusulnya. 

Lalu, tibalah kuda tersebut di Kerajaan Pecangakan dengan berlumuran darah, hingga membuat rakyat beserta seisi puri terkejut. Dengan penuh dukacita, mengingat kepada pesan I Gusti Ngurah Gde Pecangakan sebelum berangkat ke Bakungan, maka dilaksanakanlah pesan itu tanpa berpikir lebih jauh. 

Para istri, putra-putri telah melaksanakan satya, berikut harta benda dipendam di sumur. Kemudian sesuai pesan I Gusti Ngurah Gde Pecangakan, sang adik, Ki Ageng Malele Bang (I Gusti Ageng Malele Bang) selaku wakil raja bersama patih Ki Tegal Badeng, mengerahkan seluruh pasukan perangnya untuk menyerbu Puri Bakungan. Pasukannya dikumpulkan di daerah Cupel. 

Setibanya di Kerajaan Bakungan, I Gusti Ageng Malele Bang dan Ki Patih Tegal Badeng menghancurkan negeri Bakungan beserta isinya. Dengan gigih Puri Bakungan mempertahankan negerinya, walaupun pada akhirnya Ki Jaya Kusuma tewas dalam pertempuran itu. Negeri Bakungan pun hancur. 

Setelah semuanya selesai dan kalapnya reda, Ki Ageng Malele Bang pun berpikir mengapa mayat I Gusti Ngurah Gde Pecangakan beserta I Gusti Ngurah Bakungan tidak ada. Ia kemudian mengambil keputusan untuk kembali ke Pecangakan, karena tugasnya sudah selesai. Sementara saat diserbu, anak dari I Gusti Ngurah Bakungan meninggalkan Puri Bakungan lari ke Pasuruan (Pangeran Suropati), dan di Jawa dikenal dengan nama Untung Suropati. 

Setibanya I Gusti Ngurah Gde Pecangakan dan I Gusti Ngurah Bakungan di  Pecangakan, mereka disambut dengan isak tangis rakyat menguraikan tragedi yang terjadi terhadap keluarga. Penyesalan pun dirasakan I Gusti Ngurah Gde Pecangakan. Ia menyesalkan kekeliruannya yang diakibatkan sang kuda putih. 

Belum selesai mereka bersembahyang mendoakan mereka yang telah meninggal, terdengarlah sorak-sorai pasukan Pecangakan yang datang dari Bakungan. Saat itulah I Gusti Ageng Malele Bang terkejut melihat I Gusti Ngurah Gde Pecangakan dan I Gusti Ngurah Bakungan bersama dalam keadaan berduka. Ia pun menceritakan segala yang dilakukan di negeri Bakungan. 

Raja Bakungan  marah dengan kehancuran negerinya beserta isinya. Ia kemudian menantang I Gusti Ngurah Gde Pecangakan perang layaknya dharma kesatria. Sedangkan I Gusti Ageng Malele Bang diperintahkan untuk menyatukan dan membangun negeri baru di wilayah Pecangakan. 

Sementara itu, I Gusti Ngurah Gde Pecangakan dan I Gusti Ngurah Bakungan sepakat untuk mengadakan perang tanding sampai titik darah pengabisan. Lokasinya di dekat sebuah muara sungai. Meski bertanding mati-matian, namun keduanya tidak kunjung ada yang tewas. Lalu mereka memutuskan untuk menceburkan diri ke air dengan badan terikat satu sama lainnya. Hingga akhirnya seekor ikan besar menyambar lidah dan puser keduanya, dan keduanya pun tewas. 

Pada suatu hari, mayat keduanya ditemukan seorang menega (pencari ikan) yang masih memakai pakaian seorang raja. Karena merasa takut, mayat kedua raja yang masih bersaudara itu dikubur dan dijadikan satu. 

Lokasi tempat penguburan kedua raja inilah yang sekarang oleh warga dikatakan sebagai Pura Kembar. Keluarga yang menemukan mayat keduanya sampai sekarang pun menjadi panyiwi bakti Pura Kembar tersebut. Sekarang keluarga tersebut tinggal di Perancak, pindah pada masa banjir bandang yang menghancurkan negeri Brangbang.

 

 

 


Most Read

Artikel Terbaru

/