alexametrics
26.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Tradisi Tata Linggih Undang Ida Bhatara Turun Lewat Pasutri

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Pujawali di Pura Gede Pemayun, Desa Pakraman Banyuning, Buleleng, memiliki satu tradisi unik. Tradisi tersebut bernama tradisi Tata Linggih. Tradisi ini wajib diikuti seluruh warga di Desa Pakraman Banyuning dengan berbagai rangkaiannya.

Tokoh Masyarakat Kelurahan Banyuning Nyoman Suardika, S.Ag. M.Fil.H, mengatakan, saat tradisi Tata Linggih dilaksanakan, ada Uleman wajib yang dihadirkan. Seperti Pamangku Pura Khayangan Desa, Bendesa, Kelian Adat Desa, Kelian Adat Banjar, PHDI, kelian subak. Para uleman duduk di Balai Pangenem.

Suardika mengatakan, semua Uleman selanjutnya bakal diberikan air cendana atau cane. Kemudian diusapkan pada wajah, terutama pada mata dan telinga. Uleman juga diberikan bunga kamboja untuk pebaktian. Setelah itu diberikan arak untuk wajik patabuh.

Semuan Uleman juga diberikan Canang Pamendak untuk mengundang Ida Bhatara hingga bisa turun melalui Pasutri. Krama desa dan sekaa teruna, mulai bersorak sorak menyoraki para Pasutri agar Ida Bhatara bisa cepat turun melalui pasutri.

Dasar dari pelaksanan tradisi Tata Linggih ini adalah memohon petunjuk niskala sebagai media evaluasi bersama untuk mengurangi dan menghindari kekeliruan dan kesalahan yang bisa menyebabkan musibah dan bencana.

“Evaluasi yang dimaksud adalah dengan adanya petunjuk dari alam gaib mengenai pelaksanaan upacara besar atau Piodalan Agung di Pura Kahyangan, termasuk di Pura Pemayun. Maka umat akan mengetahui apa kekurangan dan kesalahan yang dilakukan yang berhubungan dengan kehidupan manusia dengan dewa, manusia dengan sesama manusia, dan manusia dengan alam,” ucap Suardika.


SINGARAJA, BALI EXPRESS – Pujawali di Pura Gede Pemayun, Desa Pakraman Banyuning, Buleleng, memiliki satu tradisi unik. Tradisi tersebut bernama tradisi Tata Linggih. Tradisi ini wajib diikuti seluruh warga di Desa Pakraman Banyuning dengan berbagai rangkaiannya.

Tokoh Masyarakat Kelurahan Banyuning Nyoman Suardika, S.Ag. M.Fil.H, mengatakan, saat tradisi Tata Linggih dilaksanakan, ada Uleman wajib yang dihadirkan. Seperti Pamangku Pura Khayangan Desa, Bendesa, Kelian Adat Desa, Kelian Adat Banjar, PHDI, kelian subak. Para uleman duduk di Balai Pangenem.

Suardika mengatakan, semua Uleman selanjutnya bakal diberikan air cendana atau cane. Kemudian diusapkan pada wajah, terutama pada mata dan telinga. Uleman juga diberikan bunga kamboja untuk pebaktian. Setelah itu diberikan arak untuk wajik patabuh.

Semuan Uleman juga diberikan Canang Pamendak untuk mengundang Ida Bhatara hingga bisa turun melalui Pasutri. Krama desa dan sekaa teruna, mulai bersorak sorak menyoraki para Pasutri agar Ida Bhatara bisa cepat turun melalui pasutri.

Dasar dari pelaksanan tradisi Tata Linggih ini adalah memohon petunjuk niskala sebagai media evaluasi bersama untuk mengurangi dan menghindari kekeliruan dan kesalahan yang bisa menyebabkan musibah dan bencana.

“Evaluasi yang dimaksud adalah dengan adanya petunjuk dari alam gaib mengenai pelaksanaan upacara besar atau Piodalan Agung di Pura Kahyangan, termasuk di Pura Pemayun. Maka umat akan mengetahui apa kekurangan dan kesalahan yang dilakukan yang berhubungan dengan kehidupan manusia dengan dewa, manusia dengan sesama manusia, dan manusia dengan alam,” ucap Suardika.


Most Read

Artikel Terbaru

/