alexametrics
25.4 C
Denpasar
Wednesday, August 17, 2022

Sejumput Makanan Wujud Perhatian Untuk Saudara Empat

DENPASAR, BALI EXPRESS-Kita sering kali melihat ada orang ketika makan, lalu menjumput sebagian nasi dan lauknya, kemudian ditaruh di pinggir piring atau alas makan. Apa sebenarnya makna dari hal tersebut? 

Perilaku yang sangat sederhana tersebut memiliki makna yang sangat mendalam. Kanista Yadnya atau yadnya kita paling terkecil dan paling sederhana itu, diyakini sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan serta saudara empat.

Jro Komang Sutrisna dan Jro Gusti Ayu Widarini dari Pasemetonan Batu Linggam, Denpasar, menjelaskan, hal tersebut memang seharusnya dilakukan, khususnya sebagai umat Hindu Bali. “Pada intinya, persembahan sederhana itu bermakna wujud rasa syukur atas diberikannya boga (makanan) yang dapat kita nikmati. Berikan efek atau dampak baik kepada tubuh, pikiran, rasa, dan semua yang ada di diri kita,” ucap Jro Komang Sutrisna diyakan Jro Gusti Ayu Putu Wedarini kepada Bali Express (Jawa Post Grup), kemarin.

Dipaparkan olehnya, saat ini banyak orang yang keliru terkait proses sebelum menyantap makanan tersebut, jika tujuannya memang untuk mempersembahkan ke saudara empat (Catur Sanak). Karena ada pula kebiasaan masyarakat, dimana nasi serta lauk dijumput sebagian, lalu ditaruh di luar dari piring atau alas makan.

“Yang dihaturkan di luar piring itu siapa? Kalau misalnya kita berada di lingkungan yang memiliki energi astral yang kuat, kan takutnya apa yang kita sajikan itu menjadi makanan mereka, terutama Bhuta Kala. Padahal tujuan kita menghaturkan sebagai rasa syukur kepada Tuhan dan mengajak saudara empat kita,” bebernya.

Baca Juga :  Roga Pariksa, Cara Memeriksa Penyakit oleh Balian Usada

Maka dari itu, sebaiknya makanan yang ingin disisihkan sedikit itu, ditaruh di dalam piring atau alas makan. Karena nantinya, makanan yang disisihkan itu boleh dimakan setelahnya. “Istilahnya prasadam atau surudan maupun lungsuruan. Karena makanan yang disisihkan itu tidak dibuang, melainkan dinikmati. Tapi harus di akhir setelah semua santapan selesai,” imbuh Jro Komang Sutrisna, yang juga Direktur Eksekutif Daerah Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Bali ini.

Prasadam itu berarti anugerah. Bahkan dalam Bhagawadgita IV-31 disebutkan, ‘yajna-sistamrta-bhujo,yanti brahma sanatanam, nayam loko sty ayajnasya, kuto nah kuru-sattama’. Artinya:  ‘Mereka yang makan sisa persembahan, sebagai amrta, mencapai Brahman yang kekal abadi. Dunia ini bukan bagi yang tidak beryadnya. Apa pula dunia yang lain, wahai Arjuna.’

Ditambahkan Jro Gusti Ayu Putu Widarini, bahkan sebelum menyantap makanan ada mantram yang harus diucapkan, baik itu secara langsung maupun dari dalam hati. “Mantram atau doanya adalah ‘Om Anugraha Amerta Sanjiwani ya Nama Swaha’. Artinya, ya Tuhan semoga makanan ini menjadi amerta yang menghidupkan hamba,” urainya.

Sedangkan mantram atau doa sesudah makan, yakni ‘Om Dirghayur Astu, Awighnam Astu, Çubham Astu, Om Sriyam Bhawantu, Sukkam Bhawantu, Purnam Bhawantu, Ksamasampurna Ya Namah Swaha. Om Santih, Santih, Santih Om’. Yang artinya, ya Tuhan semoga hamba panjang umur, tiada halangan, selalu bahagia, tentram, senang, dan semua menjadi sempurna. Ya Tuhan, semoga damai, damai, damai selalu.

Baca Juga :  Genggong Batuan Tampilkan Materi Gong Kebyar

Dan, yang tak kalah penting, selain bermakna rasa syukur kepada Tuhan, menyisakan makanan sedikit itu juga ditujukan kepada Catur Sanak (saudara empat). Bagi Hindu Bali, manusia lahir ke dunia tidak sendiri, melainkan bersama empat saudara, yakni Sang Anggapati, Sang Mrajapati, Sang Banaspati ,dan Sang Banaspati Raja, yang masih dalam bentuk bhuta.

Bahkan, untuk ngemit atau memanggil saudara empat tersebut, juga ada bahasa khususnya yakni ‘ih’. Kemudian dilanjutkan dengan apa yang kita harapkan kepada mereka. Misalnya ‘ih nyama catur, mangkin tiang ngajeng, ngiring sarengin (ih, saudara empat, sekarang saya sedang makan, mari ikut).

“Cukup seperti itu saja komunikasinya, sangat sederhana. Semakin kita dekat dan ingat dengan saudara empat kita, semakin kuat juga mereka melindungi kita. Apapun yang kita lakukan, harus ingat dengan saudara empat kita juga. Niscaya, mereka pasti akan memberikan perlindungan,” terangnya.

Karena, menyangkut soal makanan adalah paling riskan bagi seseorang, bisa mendapat hal yang tidak baik atau dimasuki energi negatif. Maka dari itu, kedekatan batin dengan saudara empat wajib dilakukan secara terus menerus.


DENPASAR, BALI EXPRESS-Kita sering kali melihat ada orang ketika makan, lalu menjumput sebagian nasi dan lauknya, kemudian ditaruh di pinggir piring atau alas makan. Apa sebenarnya makna dari hal tersebut? 

Perilaku yang sangat sederhana tersebut memiliki makna yang sangat mendalam. Kanista Yadnya atau yadnya kita paling terkecil dan paling sederhana itu, diyakini sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan serta saudara empat.

Jro Komang Sutrisna dan Jro Gusti Ayu Widarini dari Pasemetonan Batu Linggam, Denpasar, menjelaskan, hal tersebut memang seharusnya dilakukan, khususnya sebagai umat Hindu Bali. “Pada intinya, persembahan sederhana itu bermakna wujud rasa syukur atas diberikannya boga (makanan) yang dapat kita nikmati. Berikan efek atau dampak baik kepada tubuh, pikiran, rasa, dan semua yang ada di diri kita,” ucap Jro Komang Sutrisna diyakan Jro Gusti Ayu Putu Wedarini kepada Bali Express (Jawa Post Grup), kemarin.

Dipaparkan olehnya, saat ini banyak orang yang keliru terkait proses sebelum menyantap makanan tersebut, jika tujuannya memang untuk mempersembahkan ke saudara empat (Catur Sanak). Karena ada pula kebiasaan masyarakat, dimana nasi serta lauk dijumput sebagian, lalu ditaruh di luar dari piring atau alas makan.

“Yang dihaturkan di luar piring itu siapa? Kalau misalnya kita berada di lingkungan yang memiliki energi astral yang kuat, kan takutnya apa yang kita sajikan itu menjadi makanan mereka, terutama Bhuta Kala. Padahal tujuan kita menghaturkan sebagai rasa syukur kepada Tuhan dan mengajak saudara empat kita,” bebernya.

Baca Juga :  Netralisasi Energi Negatif, Masepuh Majegau Cara Bali Aga Diminati

Maka dari itu, sebaiknya makanan yang ingin disisihkan sedikit itu, ditaruh di dalam piring atau alas makan. Karena nantinya, makanan yang disisihkan itu boleh dimakan setelahnya. “Istilahnya prasadam atau surudan maupun lungsuruan. Karena makanan yang disisihkan itu tidak dibuang, melainkan dinikmati. Tapi harus di akhir setelah semua santapan selesai,” imbuh Jro Komang Sutrisna, yang juga Direktur Eksekutif Daerah Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Bali ini.

Prasadam itu berarti anugerah. Bahkan dalam Bhagawadgita IV-31 disebutkan, ‘yajna-sistamrta-bhujo,yanti brahma sanatanam, nayam loko sty ayajnasya, kuto nah kuru-sattama’. Artinya:  ‘Mereka yang makan sisa persembahan, sebagai amrta, mencapai Brahman yang kekal abadi. Dunia ini bukan bagi yang tidak beryadnya. Apa pula dunia yang lain, wahai Arjuna.’

Ditambahkan Jro Gusti Ayu Putu Widarini, bahkan sebelum menyantap makanan ada mantram yang harus diucapkan, baik itu secara langsung maupun dari dalam hati. “Mantram atau doanya adalah ‘Om Anugraha Amerta Sanjiwani ya Nama Swaha’. Artinya, ya Tuhan semoga makanan ini menjadi amerta yang menghidupkan hamba,” urainya.

Sedangkan mantram atau doa sesudah makan, yakni ‘Om Dirghayur Astu, Awighnam Astu, Çubham Astu, Om Sriyam Bhawantu, Sukkam Bhawantu, Purnam Bhawantu, Ksamasampurna Ya Namah Swaha. Om Santih, Santih, Santih Om’. Yang artinya, ya Tuhan semoga hamba panjang umur, tiada halangan, selalu bahagia, tentram, senang, dan semua menjadi sempurna. Ya Tuhan, semoga damai, damai, damai selalu.

Baca Juga :  Tempat Nunas Tamba dan Keturunan; Bawa Pasikepan Tiba-tiba Lumpuh

Dan, yang tak kalah penting, selain bermakna rasa syukur kepada Tuhan, menyisakan makanan sedikit itu juga ditujukan kepada Catur Sanak (saudara empat). Bagi Hindu Bali, manusia lahir ke dunia tidak sendiri, melainkan bersama empat saudara, yakni Sang Anggapati, Sang Mrajapati, Sang Banaspati ,dan Sang Banaspati Raja, yang masih dalam bentuk bhuta.

Bahkan, untuk ngemit atau memanggil saudara empat tersebut, juga ada bahasa khususnya yakni ‘ih’. Kemudian dilanjutkan dengan apa yang kita harapkan kepada mereka. Misalnya ‘ih nyama catur, mangkin tiang ngajeng, ngiring sarengin (ih, saudara empat, sekarang saya sedang makan, mari ikut).

“Cukup seperti itu saja komunikasinya, sangat sederhana. Semakin kita dekat dan ingat dengan saudara empat kita, semakin kuat juga mereka melindungi kita. Apapun yang kita lakukan, harus ingat dengan saudara empat kita juga. Niscaya, mereka pasti akan memberikan perlindungan,” terangnya.

Karena, menyangkut soal makanan adalah paling riskan bagi seseorang, bisa mendapat hal yang tidak baik atau dimasuki energi negatif. Maka dari itu, kedekatan batin dengan saudara empat wajib dilakukan secara terus menerus.


Most Read

Artikel Terbaru

/