alexametrics
30.4 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Siklus Samskara di Pedawa Wajib Ritual Nanggapin dan Nyerimpen 

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Sebagai bagian dari Bali Aga, Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, senantiasa menarik dikupas. Pedawa seolah miniantur lab bagi akademisi dan budayawan untuk mempelajari Bali Mula. Tak hanya dari sisi sosialnya, sisi budaya dan ritualnya yang diwariskan secara turun temurun sebagai tradisi lisan, selalu menimbulkan rasa penasaran untuk dibedah.

Sebagaimana umat Hindu pada umumnya di Bali, siklus penyucian manusia atau Samskara dari dalam kandungan hingga menemui ajal digelar dalam upacara Manusa Yadnya memang terikat oleh desa kala patra. Tak terkecuali di Desa Pedawa. 

Upacara Manusa Yadnya di Desa Pedawa terlihat berbeda dengan pelaksanaan upacara Manusa Yadnya pada umumnya. Tetapi makna yang terkandung dibalik segala prosesi ritual dan upakara yang digunakan, memiliki arti dan makna yang tidak jauh berbeda. 

Pelaksanaan Manusa Yadnya di Pedawa tidak berpatokan pada sumber sastra atau lontar-lontar yang memuat tentang yadnya pada umumnya. Namun, di desa ini dilakukan sesuai dengan tradisi keberagamaan di Desa Adat Pedawa yang diterima secara turun-temurun dengan ritus dan perlengkapan yadnya yang khas Bali kuna. 

Pelaksanaan upacara Manusa Yadnya di Desa Adat Pedawa, lebih banyak melakukan dengan ketentuan Kuna Dresta dan Desa Dresta, namun tidak juga mengesampingkan dresta-dresta lainnya.

Seperti diungkapkan tokoh Adat Pedawa yang juga sebagai Balian Desa, Pan Karpani, 65. Kepada Bali Express (Jawa Pos Group) Pan Karpani menyebut ada sejumlah ritual siklus Samskara atau penyucian manusia di Pedawa dari lahir sampai menghembuskan napas terakhirnya. Diantaranya Kepus Pungsed, Nampi, Nanggapang, Nelubulanin, Nyambutin, Nyerimpen, Pawiwahan, Matatah, Upacara Kematian, dan Ngangkid. 

Ritual ini diyakini sudah ada sebelum masuknya Hindu atau pengaruh Kerajaan Majapahit. Bahkan, ritual Nelubulanin dan Matatah diyakini baru dilaksanakan masyarakat setelah pengaruh Hindu masuk.

“Tradisi penyucian ini diwariskan secara turun-temurun sebagai tradisi kuna. Bahkan, upacara Nelubulanin, Pawiwahan, itu baru-baru ini dilaksanakan. Karena ada warga kami yang tinggal di luar, sehingga ada pengaruh adat lain,” ujar Balian Desa, Pan Karpani.

Upacara kelahiran diawali dengan ritual Kepus Pungsed (puser). Pada saat Kepus Puser hanya dilakukan upacara Mapangarapuhan. Yaitu dengan memohon air suci kepada orang pintar dengan harapan anak yang sudah Kepus Pusernya bisa hidup sehat, dan segala kotorannya hilang. 

Puser yang terlepas, bagi masyarakat Pedawa dilakukan penyimpanan Puser tersebut di atas tempat tidur dengan menggunakan tipat cirikan. Pada tahap ini ada pengharapan agar anak yang lahir mampu hidup sehat tidak kekurangan suatu apapun. 

Salah satunya adalah dengan melakukan upacara Pangarapuhan, dengan nunasang tirta pangarapuhan yang menggunakan cawan putra (Mangkok putih berasal dari keramik) diisi toya anyar dan pengetisannya berasal dari sebelas pucuk pohon yang dipercaya memiliki 11 kekuatan para dewa.

Kemudian ritual selanjutnya Nampi. Ritual ini dilaksanakan setelah bayi lahir sebelas hari, dilakukanlah upacara Nampi. Yaitu dengan mempersembahkan banten Panampi dengan nunas tirta kepada orang pintar. “Artinya agar bayi yang lahir katampi atau diterima secara niskala kelahirannya,” jelasnya.

Selanjutnya ritual Nanggapang yang dilaksanakan saat bayi berusia 42 hari atau abulan pitung lemeng. Nanggapang ini bertujuan mengetahui kepada orang pintar di Pedawa, dan menanyakan tentang siapa yang menjelma atau reinkarnasi itu. 

Ciri-ciri dari pelaksanaan Nanggapang Kapertama ini adalah menggunakan tempat tirta dari beruk dan menggunakan pengetisan (untuk memerciki) dengan tiga pucuk pohon, yaitu pucuk dap-dap tis, pucuk tabah dan menireng. Banten yang digunakan sama yaitu banten Pananggapan. “Biasanya ada permintaan dari yang inkarnasi di tubuh Bayi,” imbuhnya.

Terkait upacara Nelubulanin atau tiga bulanan yang dilaksanakan saat bayi menginjak usia 105 hari. Menariknya, jika ritual Nelubulanin, sebut Balian Desa yang ngayah sejak tahun 1999 ini, justru baru-baru ini dilaksanakan oleh krama di Pedawa.

“Baru-baru ini ada yang melaksanakan Nelubulanin. Mungkin karena ada krama kami yang tinggal di luar desa, sehingga kena pengaruh dan mengadopsi tradisi Nelubulanin. Kalau awalnya kami tidak mengenal Nelubulanin. Termasuk saudara saya banyak yang tidak Nelubulanin. Tetapi tergantung sasaudan (nazar) kalau ada yang sakit, makanya dijanjikan Nelubulanin,” kenangnya.

Penyucian selanjutnya adalah Nyambutin. Dilakukan ketika tersedianya dana, tetapi sebelum anak menek kelih, namun beberapa keluarga juga melakukan walaupun umurnya sudah dewasa. Kata Nyambutin hampir memiliki makna sama dengan Nelubulanin. 

Dikatakan Pan Karpani, upacara yang wajib dilaksanakan adalah Nyerimpen. upacara ini dilakukan sebanyak tiga kali pada setiap anak. Yaitu dilakukan pada hari suci Galungan dengan sarana yang bersamaan dengan banten Galungan. 

Upacara yang pertama disebut Nyerimpen Sibakan, kedua disebut dengan Nyerimpen Sibakan, dan ketiga disebut dengan Nyerimpen Nampah Ukudan. Upacara ini juga bisa dilakukan hanya sekali oleh keluarga yang kurang mampu, yaitu Nyerimpen Sibakan saja. 

“Nyerimpen ini bisa dilaksanakan saat anak menginjak SD. Tapi ini wajib dilaksanakan, tidak boleh diabaikan. Bisa sekali saja, tergantung kemampuan ekonomi,” katanya.

Namun, untuk ritual Masangih (Potong Gigi) dikatakan Pan Karpani, baru lazim dilakukan setelah tahun 60-an. Dan, sekarang dilakukan dengan cara massal oleh masyarakat Pedawa. Hal unik dalam upacara Masangih ini adalah adanya ritual Ngendekang apabila warga desa menyelenggarakan upacara Memasangih. 

Hal ini sesuai dengan awig-awig palet 4 pawos 48 indik Manusa Yadnya, yang sampai saat ini dilakukan masyarakat Desa Pedawa. “Ritual Masangih itu biasanya dilaksanakan karena masaudan atau ada sesangi dari orang tua. Tetapi sekarang sudah ramai orang Masangih. Karena masyarakat sudah mendalami agama dan pengaruh budaya,” ungkapnya.

Nganten (Pawiwahan), upacara ini dilakukan dalam dua versi. Pertama dilakukan dengan istilahnya Pragat di Kayehan, yang artinya ada ritual yang dilakukan di tempat permandian umum yang berfungsi sebagai penghilang segala kotoran pada mempelai. 

Kedua, dilakukan dengan istilah Mabasang, yaitu upacara dengan banten lengkap ke merajan dan ayaban di perumahan.

Lalu bagaimana dengan upacara kematiannya? Dikatakan Pan Karpani tradisi di Desa Pedawa untuk jasad yang meninggal dilaksanakan dengan dikubur. Kemudian setelah 42 hari dikubur baru dilanjutkan dengan ritual Mapegat. Selanjutnya disusul dengan upacara Ngangkid atau Ngaben versi Pedawa.

“Setelah itu baru Maajar-ajar sebagai bentuk ngalinggihang ke sanggah keluarga. Upacaranya dilaksanakan di tukad (sungai). Yang muput senantiasa menggunakan Balian Desa. Jadi, Balian Desa ini dipilih secara niskala secara turun temurun,” pungkasnya. 

 


SINGARAJA, BALI EXPRESS-Sebagai bagian dari Bali Aga, Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, senantiasa menarik dikupas. Pedawa seolah miniantur lab bagi akademisi dan budayawan untuk mempelajari Bali Mula. Tak hanya dari sisi sosialnya, sisi budaya dan ritualnya yang diwariskan secara turun temurun sebagai tradisi lisan, selalu menimbulkan rasa penasaran untuk dibedah.

Sebagaimana umat Hindu pada umumnya di Bali, siklus penyucian manusia atau Samskara dari dalam kandungan hingga menemui ajal digelar dalam upacara Manusa Yadnya memang terikat oleh desa kala patra. Tak terkecuali di Desa Pedawa. 

Upacara Manusa Yadnya di Desa Pedawa terlihat berbeda dengan pelaksanaan upacara Manusa Yadnya pada umumnya. Tetapi makna yang terkandung dibalik segala prosesi ritual dan upakara yang digunakan, memiliki arti dan makna yang tidak jauh berbeda. 

Pelaksanaan Manusa Yadnya di Pedawa tidak berpatokan pada sumber sastra atau lontar-lontar yang memuat tentang yadnya pada umumnya. Namun, di desa ini dilakukan sesuai dengan tradisi keberagamaan di Desa Adat Pedawa yang diterima secara turun-temurun dengan ritus dan perlengkapan yadnya yang khas Bali kuna. 

Pelaksanaan upacara Manusa Yadnya di Desa Adat Pedawa, lebih banyak melakukan dengan ketentuan Kuna Dresta dan Desa Dresta, namun tidak juga mengesampingkan dresta-dresta lainnya.

Seperti diungkapkan tokoh Adat Pedawa yang juga sebagai Balian Desa, Pan Karpani, 65. Kepada Bali Express (Jawa Pos Group) Pan Karpani menyebut ada sejumlah ritual siklus Samskara atau penyucian manusia di Pedawa dari lahir sampai menghembuskan napas terakhirnya. Diantaranya Kepus Pungsed, Nampi, Nanggapang, Nelubulanin, Nyambutin, Nyerimpen, Pawiwahan, Matatah, Upacara Kematian, dan Ngangkid. 

Ritual ini diyakini sudah ada sebelum masuknya Hindu atau pengaruh Kerajaan Majapahit. Bahkan, ritual Nelubulanin dan Matatah diyakini baru dilaksanakan masyarakat setelah pengaruh Hindu masuk.

“Tradisi penyucian ini diwariskan secara turun-temurun sebagai tradisi kuna. Bahkan, upacara Nelubulanin, Pawiwahan, itu baru-baru ini dilaksanakan. Karena ada warga kami yang tinggal di luar, sehingga ada pengaruh adat lain,” ujar Balian Desa, Pan Karpani.

Upacara kelahiran diawali dengan ritual Kepus Pungsed (puser). Pada saat Kepus Puser hanya dilakukan upacara Mapangarapuhan. Yaitu dengan memohon air suci kepada orang pintar dengan harapan anak yang sudah Kepus Pusernya bisa hidup sehat, dan segala kotorannya hilang. 

Puser yang terlepas, bagi masyarakat Pedawa dilakukan penyimpanan Puser tersebut di atas tempat tidur dengan menggunakan tipat cirikan. Pada tahap ini ada pengharapan agar anak yang lahir mampu hidup sehat tidak kekurangan suatu apapun. 

Salah satunya adalah dengan melakukan upacara Pangarapuhan, dengan nunasang tirta pangarapuhan yang menggunakan cawan putra (Mangkok putih berasal dari keramik) diisi toya anyar dan pengetisannya berasal dari sebelas pucuk pohon yang dipercaya memiliki 11 kekuatan para dewa.

Kemudian ritual selanjutnya Nampi. Ritual ini dilaksanakan setelah bayi lahir sebelas hari, dilakukanlah upacara Nampi. Yaitu dengan mempersembahkan banten Panampi dengan nunas tirta kepada orang pintar. “Artinya agar bayi yang lahir katampi atau diterima secara niskala kelahirannya,” jelasnya.

Selanjutnya ritual Nanggapang yang dilaksanakan saat bayi berusia 42 hari atau abulan pitung lemeng. Nanggapang ini bertujuan mengetahui kepada orang pintar di Pedawa, dan menanyakan tentang siapa yang menjelma atau reinkarnasi itu. 

Ciri-ciri dari pelaksanaan Nanggapang Kapertama ini adalah menggunakan tempat tirta dari beruk dan menggunakan pengetisan (untuk memerciki) dengan tiga pucuk pohon, yaitu pucuk dap-dap tis, pucuk tabah dan menireng. Banten yang digunakan sama yaitu banten Pananggapan. “Biasanya ada permintaan dari yang inkarnasi di tubuh Bayi,” imbuhnya.

Terkait upacara Nelubulanin atau tiga bulanan yang dilaksanakan saat bayi menginjak usia 105 hari. Menariknya, jika ritual Nelubulanin, sebut Balian Desa yang ngayah sejak tahun 1999 ini, justru baru-baru ini dilaksanakan oleh krama di Pedawa.

“Baru-baru ini ada yang melaksanakan Nelubulanin. Mungkin karena ada krama kami yang tinggal di luar desa, sehingga kena pengaruh dan mengadopsi tradisi Nelubulanin. Kalau awalnya kami tidak mengenal Nelubulanin. Termasuk saudara saya banyak yang tidak Nelubulanin. Tetapi tergantung sasaudan (nazar) kalau ada yang sakit, makanya dijanjikan Nelubulanin,” kenangnya.

Penyucian selanjutnya adalah Nyambutin. Dilakukan ketika tersedianya dana, tetapi sebelum anak menek kelih, namun beberapa keluarga juga melakukan walaupun umurnya sudah dewasa. Kata Nyambutin hampir memiliki makna sama dengan Nelubulanin. 

Dikatakan Pan Karpani, upacara yang wajib dilaksanakan adalah Nyerimpen. upacara ini dilakukan sebanyak tiga kali pada setiap anak. Yaitu dilakukan pada hari suci Galungan dengan sarana yang bersamaan dengan banten Galungan. 

Upacara yang pertama disebut Nyerimpen Sibakan, kedua disebut dengan Nyerimpen Sibakan, dan ketiga disebut dengan Nyerimpen Nampah Ukudan. Upacara ini juga bisa dilakukan hanya sekali oleh keluarga yang kurang mampu, yaitu Nyerimpen Sibakan saja. 

“Nyerimpen ini bisa dilaksanakan saat anak menginjak SD. Tapi ini wajib dilaksanakan, tidak boleh diabaikan. Bisa sekali saja, tergantung kemampuan ekonomi,” katanya.

Namun, untuk ritual Masangih (Potong Gigi) dikatakan Pan Karpani, baru lazim dilakukan setelah tahun 60-an. Dan, sekarang dilakukan dengan cara massal oleh masyarakat Pedawa. Hal unik dalam upacara Masangih ini adalah adanya ritual Ngendekang apabila warga desa menyelenggarakan upacara Memasangih. 

Hal ini sesuai dengan awig-awig palet 4 pawos 48 indik Manusa Yadnya, yang sampai saat ini dilakukan masyarakat Desa Pedawa. “Ritual Masangih itu biasanya dilaksanakan karena masaudan atau ada sesangi dari orang tua. Tetapi sekarang sudah ramai orang Masangih. Karena masyarakat sudah mendalami agama dan pengaruh budaya,” ungkapnya.

Nganten (Pawiwahan), upacara ini dilakukan dalam dua versi. Pertama dilakukan dengan istilahnya Pragat di Kayehan, yang artinya ada ritual yang dilakukan di tempat permandian umum yang berfungsi sebagai penghilang segala kotoran pada mempelai. 

Kedua, dilakukan dengan istilah Mabasang, yaitu upacara dengan banten lengkap ke merajan dan ayaban di perumahan.

Lalu bagaimana dengan upacara kematiannya? Dikatakan Pan Karpani tradisi di Desa Pedawa untuk jasad yang meninggal dilaksanakan dengan dikubur. Kemudian setelah 42 hari dikubur baru dilanjutkan dengan ritual Mapegat. Selanjutnya disusul dengan upacara Ngangkid atau Ngaben versi Pedawa.

“Setelah itu baru Maajar-ajar sebagai bentuk ngalinggihang ke sanggah keluarga. Upacaranya dilaksanakan di tukad (sungai). Yang muput senantiasa menggunakan Balian Desa. Jadi, Balian Desa ini dipilih secara niskala secara turun temurun,” pungkasnya. 

 


Most Read

Artikel Terbaru

/