alexametrics
25.8 C
Denpasar
Monday, June 27, 2022

Sarasamuccaya (6) : Kesasar, Tersesat dari Jalan yang Benar 

DENPASAR, BALI EXPRESS-Kitab Sarasamuccaya yang membahas perihal kehidupan dan moral umat, melaui Catur Warga atau Catur Purusaartha (Artha, Kama, Dharma, dan Moksa, salah satu kitab penting bagi umat Hindu.

Buku Sarasamuccaya yang diterjemahkan oleh I Nyoman Kajeng Dkk ini, diserikan untuk menambah wawasan umat tentang agama Hindu.

Karmabhumiriya brahman phalabhumirasau mata iha yat kurute karma tat paratropabhujyate. Apan iking janma mangke, pagawayan subha asubhakarma juga ya, ikang ri pena pabhuktyan karmaphala ika, kalinganya, ikang subha asubhakarma mangke ri pena ika an kabukti phalanya, ri pegatni kabhuktyanya, mangjanma ta ya muwah, tumuta wasananing karmaphala, wasana ngaraning sangakara, turahning ambematra, ya tinutning paribhasa, swargacyuta, narakasyuta, kunang ikang subha asubhakarma ri pena, tan paphala ika, matangnyan mangke juga pengponga subha asubhakarma.

Terjemahan : Sebab kelahiran menjadi manusia sekarang ini adalah kesempatan melakukan kerja baik ataupun kerja buruk, yang hasilnya akan dinikmati di akhirat. 

Artinya, kerja baik ataupun kerja buruk sekarang ini, di akhirat sesungguhnya dikecap akan buah hasilnya itu. Setelah selesai menikmatinya, menitislah pengecap itu lagi. Maka turutlah bekas-bekas hasil perbuatannya : wasana disebut sangskara, sisa-sisa yang tinggal sedikit dari bau sesuatu yang masih bekas-bekasnya saja, yang diikuti (peng) hukuman, yaitu jatuh dari tingkatan sorga maupun dari kawah neraka. 

Adapun perbuatan baik ataupun buruk yang dilakukan di akhirat, tidaklah berakibat sesuatu apapun, oleh karena yang sangat menentukan adalah perbuatan baik atau buruk yang dilakukan sekarang juga.

Manusyam durlabham prapya vidyullasitacancalam bhavakṣaye matih karya bhavopakaranesu ca iking tang janma wwang, ksanikaswabhawa ta ya, tan pahi lawan kedapning kilat, durlabha towi, matangnyan pongakena ya ri kagawayanning dharmasadhana, sakarananging manasanang sangsara, swargaphala kunang.

Terjemahan : Kelahiran menjadi orang (manusia) pendek dan cepat keadaannya itu, tak ubahnya dengan gerlapan kilat, dan amat sukar pula untuk diperoleh. Oleh karena itu, gunakanlah sebaik-baiknya kesempatan menjadi manusia ini untuk melakukan penunaian dharma, yang menyebabkan musnahnya proses lahir dan mati, sehingga berhasil mencapai sorga.

Yo durlabhataram prapya manusyam lobhato narah, Dharmavamanta kamatma bhavet sakalavancitah. Hana pwa tumenung dadi wwang, wimukha ring dharmasadhana, jenek ring arthakama arah, lobhambeknya, ya ika kabancana ngaranya.

Terjemahan : Bila ada yang beroleh kesempatan menjadi orang (manusia), ingkar akan pelaksanaan dharma, sebaliknya amat suka ia mengejar harta dan kepuasan nafsu serta berhati tamak, orang itu disebut kesasar, tersesat dari jalan yang benar. 


DENPASAR, BALI EXPRESS-Kitab Sarasamuccaya yang membahas perihal kehidupan dan moral umat, melaui Catur Warga atau Catur Purusaartha (Artha, Kama, Dharma, dan Moksa, salah satu kitab penting bagi umat Hindu.

Buku Sarasamuccaya yang diterjemahkan oleh I Nyoman Kajeng Dkk ini, diserikan untuk menambah wawasan umat tentang agama Hindu.

Karmabhumiriya brahman phalabhumirasau mata iha yat kurute karma tat paratropabhujyate. Apan iking janma mangke, pagawayan subha asubhakarma juga ya, ikang ri pena pabhuktyan karmaphala ika, kalinganya, ikang subha asubhakarma mangke ri pena ika an kabukti phalanya, ri pegatni kabhuktyanya, mangjanma ta ya muwah, tumuta wasananing karmaphala, wasana ngaraning sangakara, turahning ambematra, ya tinutning paribhasa, swargacyuta, narakasyuta, kunang ikang subha asubhakarma ri pena, tan paphala ika, matangnyan mangke juga pengponga subha asubhakarma.

Terjemahan : Sebab kelahiran menjadi manusia sekarang ini adalah kesempatan melakukan kerja baik ataupun kerja buruk, yang hasilnya akan dinikmati di akhirat. 

Artinya, kerja baik ataupun kerja buruk sekarang ini, di akhirat sesungguhnya dikecap akan buah hasilnya itu. Setelah selesai menikmatinya, menitislah pengecap itu lagi. Maka turutlah bekas-bekas hasil perbuatannya : wasana disebut sangskara, sisa-sisa yang tinggal sedikit dari bau sesuatu yang masih bekas-bekasnya saja, yang diikuti (peng) hukuman, yaitu jatuh dari tingkatan sorga maupun dari kawah neraka. 

Adapun perbuatan baik ataupun buruk yang dilakukan di akhirat, tidaklah berakibat sesuatu apapun, oleh karena yang sangat menentukan adalah perbuatan baik atau buruk yang dilakukan sekarang juga.

Manusyam durlabham prapya vidyullasitacancalam bhavakṣaye matih karya bhavopakaranesu ca iking tang janma wwang, ksanikaswabhawa ta ya, tan pahi lawan kedapning kilat, durlabha towi, matangnyan pongakena ya ri kagawayanning dharmasadhana, sakarananging manasanang sangsara, swargaphala kunang.

Terjemahan : Kelahiran menjadi orang (manusia) pendek dan cepat keadaannya itu, tak ubahnya dengan gerlapan kilat, dan amat sukar pula untuk diperoleh. Oleh karena itu, gunakanlah sebaik-baiknya kesempatan menjadi manusia ini untuk melakukan penunaian dharma, yang menyebabkan musnahnya proses lahir dan mati, sehingga berhasil mencapai sorga.

Yo durlabhataram prapya manusyam lobhato narah, Dharmavamanta kamatma bhavet sakalavancitah. Hana pwa tumenung dadi wwang, wimukha ring dharmasadhana, jenek ring arthakama arah, lobhambeknya, ya ika kabancana ngaranya.

Terjemahan : Bila ada yang beroleh kesempatan menjadi orang (manusia), ingkar akan pelaksanaan dharma, sebaliknya amat suka ia mengejar harta dan kepuasan nafsu serta berhati tamak, orang itu disebut kesasar, tersesat dari jalan yang benar. 


Most Read

Artikel Terbaru

/