alexametrics
29.8 C
Denpasar
Wednesday, May 25, 2022

Tari Rejang Sari Tegallinggah, Tidak Boleh Cacat, Harus Gadis

AMLAPURA, BALI EXPRESS-Dalam Awig-awig Desa Adat Karangasem, setiap piodalan atau karya upacara besar wajib mementaskan Tari Rejang Sari. Hal tersebut juga berlaku di Banjar Adat Tegallinggah, Kecamatan Karangasem.

Tari Rejang Sari biasanya diiringi alat musik tradisional, terdiri atas gangsa dan jublak. Keduanya wajib dimainkan untuk mengiringi Tari Rejang Sari. Warga setempat pantang meniadakan tetabuhan dan Tari Rejang Sari saat prosesi upacara demi menghindari hal yang tak diinginkan.

Bendesa Adat Karangasem I Wayan Bagiarta mengatakan, tak sembarang orang boleh memainkan tabuh atau gamelan tersebut. Poin utama, penabuh harus ikhlas ngayah. Calon penabuh akan ditunjuk melalui rapat adat. Setelah itu, barulah bisa bergabung dalam sekaa atau kelompok tabuh.

Bagiarta menjelaskan, dua jenis gamelan ini dimainkan untuk mengiringi Tari Rejang Sari Tegallinggah. Tarian yang tergolong sakral itu dipentaskan setiap pujawali di Pura Puseh Banjar Adat Tegallinggah yang jatuh pada Purnama Kalima dan Hari Raya Kuningan. “Gambelan ini sakral karena mengiringi tarian sakral. Dipentaskan sore hari,” jelasnya.

Karena sakral, orang yang memainkan gangsa dan jublak itu haruslah sempurna. Tidak cacat fisik dan mental. Penabuh harus melewati prosesi upacara Majaya-jaya sebelum sah memainkan gambelan. “Setelah diupacarai, yang bersangkutan boleh memainkan gambelan itu seterusnya. Sampai penabuh itu tidak bisa ngayah lagi. Setelah itu, dimulai lagi untuk mencari pengganti dengan prosesi yang sama,” terang bendesa yang juga pengacara ini.

Tidak hanya penabuh, kriteria khusus juga berlaku bagi para penari Rejang Sari. Dalam Awig-awig juga disebutkan, penari haruslah perempuan yang masih gadis atau perawan atau belum menikah. Filosofinya sebagai persembahan yang suci. 

“Yang akan menjadi penari pun tidak akan berani kalau sudah tahu ketentuan itu. Makanya harus yang masih perawan. Jumlah penarinya pun harus ganjil, paling sedikit sembilan orang. Kami juga selalu menampilkan. Tidak berani meniadakan prosesi itu,” pungkas Bagiarta.


AMLAPURA, BALI EXPRESS-Dalam Awig-awig Desa Adat Karangasem, setiap piodalan atau karya upacara besar wajib mementaskan Tari Rejang Sari. Hal tersebut juga berlaku di Banjar Adat Tegallinggah, Kecamatan Karangasem.

Tari Rejang Sari biasanya diiringi alat musik tradisional, terdiri atas gangsa dan jublak. Keduanya wajib dimainkan untuk mengiringi Tari Rejang Sari. Warga setempat pantang meniadakan tetabuhan dan Tari Rejang Sari saat prosesi upacara demi menghindari hal yang tak diinginkan.

Bendesa Adat Karangasem I Wayan Bagiarta mengatakan, tak sembarang orang boleh memainkan tabuh atau gamelan tersebut. Poin utama, penabuh harus ikhlas ngayah. Calon penabuh akan ditunjuk melalui rapat adat. Setelah itu, barulah bisa bergabung dalam sekaa atau kelompok tabuh.

Bagiarta menjelaskan, dua jenis gamelan ini dimainkan untuk mengiringi Tari Rejang Sari Tegallinggah. Tarian yang tergolong sakral itu dipentaskan setiap pujawali di Pura Puseh Banjar Adat Tegallinggah yang jatuh pada Purnama Kalima dan Hari Raya Kuningan. “Gambelan ini sakral karena mengiringi tarian sakral. Dipentaskan sore hari,” jelasnya.

Karena sakral, orang yang memainkan gangsa dan jublak itu haruslah sempurna. Tidak cacat fisik dan mental. Penabuh harus melewati prosesi upacara Majaya-jaya sebelum sah memainkan gambelan. “Setelah diupacarai, yang bersangkutan boleh memainkan gambelan itu seterusnya. Sampai penabuh itu tidak bisa ngayah lagi. Setelah itu, dimulai lagi untuk mencari pengganti dengan prosesi yang sama,” terang bendesa yang juga pengacara ini.

Tidak hanya penabuh, kriteria khusus juga berlaku bagi para penari Rejang Sari. Dalam Awig-awig juga disebutkan, penari haruslah perempuan yang masih gadis atau perawan atau belum menikah. Filosofinya sebagai persembahan yang suci. 

“Yang akan menjadi penari pun tidak akan berani kalau sudah tahu ketentuan itu. Makanya harus yang masih perawan. Jumlah penarinya pun harus ganjil, paling sedikit sembilan orang. Kami juga selalu menampilkan. Tidak berani meniadakan prosesi itu,” pungkas Bagiarta.


Most Read

Artikel Terbaru

/