alexametrics
28.8 C
Denpasar
Saturday, May 28, 2022

Yatim Piatu Tidak Kena Ayahan Desa Adat Batuaji

TABANAN, BALI EXPRESS – Desa adat merupakan tempat bernaung bagi krama adat, baik dari segi kelembagaan, wilayah, maupun sosial kemasyarakatan. 

Sebagai krama adat, tentu memiliki hak sekaligus kewajiban. Salah satu kewajiban krama adalah ngayah, yang bisa diartikan kegiatan sosial kemasyarakatan berasaskan gotong-royong.

Meski demikian, dalam suatu kelompok masyarakat atau desa adat, kondisi tiap krama tentu berbeda. Terkadang ada alasan hingga pihak desa adat tak mewajibkan seorang krama ngayah, lantaran keadaan yang bersangkutan. Misalnya sudah uzur, mengalami sakit fisik maupun psikis, dan sebagainya. 

Nah di Desa Adat Batuaji, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, krama yang yatim piatu dan selama belum kawin, juga tak diwajibkan ngayah sebagai krama, meski telah berusia 18 tahun. 

“Kalau di sini kan biasanya sudah bisa turun untuk ngayah di banjar atau desa adat jika sudah berusia 18 tahun. Tapi walaupun yang bersangkutan sudah berusia 18 tahun, tapi tidak punya orang tua (yatim piatu), tidak diwajibkan ngayah,” ungkap Bendesa Adat Batuaji, I Gusti Nyoman Madia Utama, Rabu (7/6).

Meski begitu, bukan berarti yang bersangkutan betul-betul bebas ayahan. Pertimbangan tidak diwajibkan ngayah banjar, lantaran yang bersangkutan sudah ngayah di bawah sekaa teruna. “Jadi biar tidak dobel. Kan kasihan yang bersangkutan, karena sudah ngayah sebagai sekaa teruna atau yowana,” jelas pria 60 tahun ini.

Yang bersangkutan baru akan ngayah sebagai krama bilamana telah membangun bahtera rumah tangga alias kawin. Mengingat kewajibannya sebagai sekaa teruna juga berakhir, ketika seorang pemuda resmi menapaki jalan grehasta asrama atau berumah tangga. 

“Ya, baru ngayah sebagai krama kalau sudah kawin,” akunya. Sementara batas akhir kena ayahan, lanjut Jro Bendesa Adat Batuaji, yakni saat yang bersangkutan berusia 60 tahun. 

Usia ini dianggap sudah lingsir, sehingga kewajiban ngayah yang notabene melibatkan fisik maupun psikis, juga tak dibebankan lagi padanya. “Seperti tyang (saya) sekarang sudah memasuki masa pensiun beberapa bulan lagi. Jadi sudah bersiap-siap. Nantinya akan ada yang baru,” tandas I Gusti Nyoman Madia Utama yang telah ngayah sejak berusia muda. 


TABANAN, BALI EXPRESS – Desa adat merupakan tempat bernaung bagi krama adat, baik dari segi kelembagaan, wilayah, maupun sosial kemasyarakatan. 

Sebagai krama adat, tentu memiliki hak sekaligus kewajiban. Salah satu kewajiban krama adalah ngayah, yang bisa diartikan kegiatan sosial kemasyarakatan berasaskan gotong-royong.

Meski demikian, dalam suatu kelompok masyarakat atau desa adat, kondisi tiap krama tentu berbeda. Terkadang ada alasan hingga pihak desa adat tak mewajibkan seorang krama ngayah, lantaran keadaan yang bersangkutan. Misalnya sudah uzur, mengalami sakit fisik maupun psikis, dan sebagainya. 

Nah di Desa Adat Batuaji, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, krama yang yatim piatu dan selama belum kawin, juga tak diwajibkan ngayah sebagai krama, meski telah berusia 18 tahun. 

“Kalau di sini kan biasanya sudah bisa turun untuk ngayah di banjar atau desa adat jika sudah berusia 18 tahun. Tapi walaupun yang bersangkutan sudah berusia 18 tahun, tapi tidak punya orang tua (yatim piatu), tidak diwajibkan ngayah,” ungkap Bendesa Adat Batuaji, I Gusti Nyoman Madia Utama, Rabu (7/6).

Meski begitu, bukan berarti yang bersangkutan betul-betul bebas ayahan. Pertimbangan tidak diwajibkan ngayah banjar, lantaran yang bersangkutan sudah ngayah di bawah sekaa teruna. “Jadi biar tidak dobel. Kan kasihan yang bersangkutan, karena sudah ngayah sebagai sekaa teruna atau yowana,” jelas pria 60 tahun ini.

Yang bersangkutan baru akan ngayah sebagai krama bilamana telah membangun bahtera rumah tangga alias kawin. Mengingat kewajibannya sebagai sekaa teruna juga berakhir, ketika seorang pemuda resmi menapaki jalan grehasta asrama atau berumah tangga. 

“Ya, baru ngayah sebagai krama kalau sudah kawin,” akunya. Sementara batas akhir kena ayahan, lanjut Jro Bendesa Adat Batuaji, yakni saat yang bersangkutan berusia 60 tahun. 

Usia ini dianggap sudah lingsir, sehingga kewajiban ngayah yang notabene melibatkan fisik maupun psikis, juga tak dibebankan lagi padanya. “Seperti tyang (saya) sekarang sudah memasuki masa pensiun beberapa bulan lagi. Jadi sudah bersiap-siap. Nantinya akan ada yang baru,” tandas I Gusti Nyoman Madia Utama yang telah ngayah sejak berusia muda. 


Most Read

Artikel Terbaru

/