alexametrics
26.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Nginyahang Mayat, Pantang Dilanggar, Ada Batu Penyemuhan

DESA Sepang, Kecamatan Busungbiu, Buleleng memiliki tradisi unik dalam ritual kematian, yaitu nginyahang mayat di atas batu penyemuhan. Tradisi ini sudah dilangsungkan secara turun-temurun, dan hingga kini dijalankan setiap ada orang meninggal.

 

Kelian Desa Adat Sepang I Made Parmayasa mengatakan, tidak ada catatan tertulis sejak kapan tradisi itu. Dia sebatas memastikan bahwa tradisi itu sudah dilangsungkan dari generasi ke generasi di Sepang.

 

Sebagaimana pelaksanaan ritual kematian di wilayah lain, di Sepang upacara kematian tetap memperhatikan padewasaan. Parmayasa menyebut, upacara kematian dilarang dilaksanakan pada purnama, tilem, purwani purnama, purwani tilem, anggara kasih, tumpek, buda kliwon, semut sedulur, kala gotongan, was penganten, ngeresidi (wraspati kliwon).

 

Dari penuturan lisan para pendahulunya, pria berusia 53 tahun ini menyebut jika tradisi nginyahang mayat di atas batu penginyahan yang posisinya dekat setra dilaksanakan karena pada dulu kuburannya masih berupa semak belukar.  Tidak ada tempat untuk menaruh mayat selama proses penggalian kuburan.

 

Dengan alasan itu, sambil menunggu pembuatan lubang kuburan, mayat diletakkan di atas batu penyemuhan, dengan istilah nginyahang mayat. Selain itu juga karena belum adanya Pura Mrajapati, sehingga batu tersebut digunakan sebagai tempat untuk melakukan penghormatan terakhir bagi orang yang meninggal. “Karena kala itu belum adanya Pura Mrajapati yang seharusnya dipakai sebagai tempat persembahyangan, sehingga dipakailah batu penginyahan itu sebagai penggantinya,” jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

 

Dikatakan Parmayasa, saat mayat atau layon dibawa ke setra, membutuhkan waktu yang tidak singkat sembari menunggu krama tuntas menggali liang kubur. Nah, jeda waktu menunggu liang kubur tuntas dibuat, maka selama itulah proses nginyahang mayat dilakukan. Semua sanak saudara yang ikut melayat termasuk yang mengusung layon datang ke batu itu. Sarana upakara yang dibawa pun juga ikut diletakkan di batu berukuran besar dan lonjong itu.

 

Saat mayat ditempatkan tepat di atas batu tersebut, maka anggota keluarga yang lain melakukan penggalian liang kubur. Pada proses ini digunakan beberapa sarana upakara seperti uang keteng sebanyak 11, cawan, pecanangan dan banten untuk di Sanggah Surya. Setelah semuanya selesai, salah seorang membawa sarana yang digunakan tadi ke batu penyemuhan sambil memberitahukan bahwa pembuatan lubang telah selesai. Berikutnya mayat dibawa ke kuburan untuk dikubur.

 

Parmayasa meyakini, saat berhenti di batu inilah, roh yang meninggal baru mengetahui jika dirinya meninggal. Meski saat ini sudah memiliki Pura Mrajapati, namun tidak ada yang berani melanggar dengan melewatkan batu penyemuhan ini saat mengusung jenazah.  “Konon dari penuturan para tetua kami, kalau yang meninggal baru diketahui jika kukunya sudah berbau, itu pertanda jika roh sudah sadar jika badan kasarnya sudah meninggal,” paparnya. (bersambung)


DESA Sepang, Kecamatan Busungbiu, Buleleng memiliki tradisi unik dalam ritual kematian, yaitu nginyahang mayat di atas batu penyemuhan. Tradisi ini sudah dilangsungkan secara turun-temurun, dan hingga kini dijalankan setiap ada orang meninggal.

 

Kelian Desa Adat Sepang I Made Parmayasa mengatakan, tidak ada catatan tertulis sejak kapan tradisi itu. Dia sebatas memastikan bahwa tradisi itu sudah dilangsungkan dari generasi ke generasi di Sepang.

 

Sebagaimana pelaksanaan ritual kematian di wilayah lain, di Sepang upacara kematian tetap memperhatikan padewasaan. Parmayasa menyebut, upacara kematian dilarang dilaksanakan pada purnama, tilem, purwani purnama, purwani tilem, anggara kasih, tumpek, buda kliwon, semut sedulur, kala gotongan, was penganten, ngeresidi (wraspati kliwon).

 

Dari penuturan lisan para pendahulunya, pria berusia 53 tahun ini menyebut jika tradisi nginyahang mayat di atas batu penginyahan yang posisinya dekat setra dilaksanakan karena pada dulu kuburannya masih berupa semak belukar.  Tidak ada tempat untuk menaruh mayat selama proses penggalian kuburan.

 

Dengan alasan itu, sambil menunggu pembuatan lubang kuburan, mayat diletakkan di atas batu penyemuhan, dengan istilah nginyahang mayat. Selain itu juga karena belum adanya Pura Mrajapati, sehingga batu tersebut digunakan sebagai tempat untuk melakukan penghormatan terakhir bagi orang yang meninggal. “Karena kala itu belum adanya Pura Mrajapati yang seharusnya dipakai sebagai tempat persembahyangan, sehingga dipakailah batu penginyahan itu sebagai penggantinya,” jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

 

Dikatakan Parmayasa, saat mayat atau layon dibawa ke setra, membutuhkan waktu yang tidak singkat sembari menunggu krama tuntas menggali liang kubur. Nah, jeda waktu menunggu liang kubur tuntas dibuat, maka selama itulah proses nginyahang mayat dilakukan. Semua sanak saudara yang ikut melayat termasuk yang mengusung layon datang ke batu itu. Sarana upakara yang dibawa pun juga ikut diletakkan di batu berukuran besar dan lonjong itu.

 

Saat mayat ditempatkan tepat di atas batu tersebut, maka anggota keluarga yang lain melakukan penggalian liang kubur. Pada proses ini digunakan beberapa sarana upakara seperti uang keteng sebanyak 11, cawan, pecanangan dan banten untuk di Sanggah Surya. Setelah semuanya selesai, salah seorang membawa sarana yang digunakan tadi ke batu penyemuhan sambil memberitahukan bahwa pembuatan lubang telah selesai. Berikutnya mayat dibawa ke kuburan untuk dikubur.

 

Parmayasa meyakini, saat berhenti di batu inilah, roh yang meninggal baru mengetahui jika dirinya meninggal. Meski saat ini sudah memiliki Pura Mrajapati, namun tidak ada yang berani melanggar dengan melewatkan batu penyemuhan ini saat mengusung jenazah.  “Konon dari penuturan para tetua kami, kalau yang meninggal baru diketahui jika kukunya sudah berbau, itu pertanda jika roh sudah sadar jika badan kasarnya sudah meninggal,” paparnya. (bersambung)


Most Read

Artikel Terbaru

/