alexametrics
27.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Tenun Ikat Desa Julah, Dulu Berjaya, Kini Langka, Jadi Sarana Ritual Tak Tergantikan

Kain tenun ikat tradisional di Desa Julah, Kecamatan Tejakula, Buleleng menjadi salah satu warisan yang menjadi penciri sebagai Desa Bali Aga. Kain tenun ini tak hanya digunakan sebagai pakaian semata oleh masyarakat Julah, namun juga dijadikan sebagai sarana ritual upacara yang tidak bisa tergantikan.

Kelian Adat Desa Julah, Jro Ketut Sidemen kepada Bali Express (Jawa Pos Group) menceritakan keberadaan kain tenun ikat tradisonal di Desa Julah memang menjadi warisan turun temurun dari leluhurnya.

Tenun ikat ini umumnya dihasilkan oleh para wanita di Desa Julah. Uniknya, bahan baku berupa benang bersumber dari bahan kapas, yang ditanam oleh masyarakat Julah di areal perkebunan. Kapas tersebut kemudian dipintal menjadi benang, lalu ditenun.

Bahkan sekitar tahun 1960-an tanaman kapas begitu mudahnya ditemukan di areal Desa Julah. Kapas-kapas itu ditanam di kebun milik warga secara berkala. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan akan benang sebagai bahan baku kapas.

“Saat itu kain tenun tradisional Desa Julah menjadi kain yang selalu digunakan dalam kehidupan sehari-hari selain sebagai alat ritual. Kadang dipakai kamen, dipakai tapih. Ada juga untuk dijadikan pakaian, itu dulu. Tetapi sekarang kan banyak kain-kain yang motifinya lebih bagus yang membuat orang menjadi meninggalkan kerajinan menenun ini,” kenangnya.

Sidemen menceritakan, seingatnya banyak para wanita di Julah pandai menenun. Mereka belajar secara turun-temurun. Para wanita tersebut menggarap kain tenun sebagai sambilan, di luar pekerjaannya di kebun maupun di sawah.

Kain-kain tradisional tersebut ditenun menggunakan alat yang masih tradisional, disebut cagcag. Alat ini sebagian besar terbuat dari kayu. Dan cara menggunakannya pun masih sangat sederhana, karena

Motif kain tenun ikat tradisional khas Julah sebut Sidemen masih sangat sederhana. Motifnya rata-rata masih sangat sederhana. Berupa garis-garis dengan perpaduan warna yang sangat simpel namun berkarakter.

“Yang menenun itu memiliki gaya seninya masing-masing. Karena motif kain tenun ikat di julah tidak ada pakem khusus. Tetapi lebih ke estetika masing-masing penenun, maunya bikin motif seperti apa,” imbuhnya.

Lanjut Sidemen, kain tenun ikat Julah saat ini justru mengalami krisis regenerasi. Pasalnya, banyak generasi muda khususnya para wanita tidak tertarik lagi dalam belajar menenun seperti yang dilakukan para wanita Julah pada jaman dahulu.

Hal itu bisa dilihat dari jumlah penenun yang masih bertahan tidak lebih dari lima orang. Mirisnya lagi, mereka semuanya sudah lansia, yang tidak lagi gencar dalam menenun. Namun, para lansia ini masih memiliki ingatan yang kuat dalam menenun.

“Kami sekarang mengalami kesulitan dalam meregenerasi penenun. Karena tidak ada generasi muda yang tertarik menenun. Padahal, kebutuhan akan tenun ikat khas Julah itu sangat konstan, karena digunakan untuk sarana ritual. Nah kalau dibiarkan tentu akan berdampak terhadap kelangkaan kain tenun,” ungkap Sidemen.

Diakui Sidemen, rendahnya minat belajar menenun bagi generasi di Julah sebut Sidemen disebabkan oleh sejumlah faktor. Warga lebih memilih menggarap pekerjaan yang lebih cepat menghasilkan uang, karena tenun ikat butuh waktu lama untuk proses pengerjaannya.

“Bisa butuh sampai satu minggu atau lebih untuk menggarapnya. Nah mungkin realistis, agar bisa dapat uang lebih cepat, sehingga memilih bekerja di tempat lain, seperti di kebun, wiraswasta,” akunya. (bersambung)






Reporter: I Putu Mardika

Kain tenun ikat tradisional di Desa Julah, Kecamatan Tejakula, Buleleng menjadi salah satu warisan yang menjadi penciri sebagai Desa Bali Aga. Kain tenun ini tak hanya digunakan sebagai pakaian semata oleh masyarakat Julah, namun juga dijadikan sebagai sarana ritual upacara yang tidak bisa tergantikan.

Kelian Adat Desa Julah, Jro Ketut Sidemen kepada Bali Express (Jawa Pos Group) menceritakan keberadaan kain tenun ikat tradisonal di Desa Julah memang menjadi warisan turun temurun dari leluhurnya.

Tenun ikat ini umumnya dihasilkan oleh para wanita di Desa Julah. Uniknya, bahan baku berupa benang bersumber dari bahan kapas, yang ditanam oleh masyarakat Julah di areal perkebunan. Kapas tersebut kemudian dipintal menjadi benang, lalu ditenun.

Bahkan sekitar tahun 1960-an tanaman kapas begitu mudahnya ditemukan di areal Desa Julah. Kapas-kapas itu ditanam di kebun milik warga secara berkala. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan akan benang sebagai bahan baku kapas.

“Saat itu kain tenun tradisional Desa Julah menjadi kain yang selalu digunakan dalam kehidupan sehari-hari selain sebagai alat ritual. Kadang dipakai kamen, dipakai tapih. Ada juga untuk dijadikan pakaian, itu dulu. Tetapi sekarang kan banyak kain-kain yang motifinya lebih bagus yang membuat orang menjadi meninggalkan kerajinan menenun ini,” kenangnya.

Sidemen menceritakan, seingatnya banyak para wanita di Julah pandai menenun. Mereka belajar secara turun-temurun. Para wanita tersebut menggarap kain tenun sebagai sambilan, di luar pekerjaannya di kebun maupun di sawah.

Kain-kain tradisional tersebut ditenun menggunakan alat yang masih tradisional, disebut cagcag. Alat ini sebagian besar terbuat dari kayu. Dan cara menggunakannya pun masih sangat sederhana, karena

Motif kain tenun ikat tradisional khas Julah sebut Sidemen masih sangat sederhana. Motifnya rata-rata masih sangat sederhana. Berupa garis-garis dengan perpaduan warna yang sangat simpel namun berkarakter.

“Yang menenun itu memiliki gaya seninya masing-masing. Karena motif kain tenun ikat di julah tidak ada pakem khusus. Tetapi lebih ke estetika masing-masing penenun, maunya bikin motif seperti apa,” imbuhnya.

Lanjut Sidemen, kain tenun ikat Julah saat ini justru mengalami krisis regenerasi. Pasalnya, banyak generasi muda khususnya para wanita tidak tertarik lagi dalam belajar menenun seperti yang dilakukan para wanita Julah pada jaman dahulu.

Hal itu bisa dilihat dari jumlah penenun yang masih bertahan tidak lebih dari lima orang. Mirisnya lagi, mereka semuanya sudah lansia, yang tidak lagi gencar dalam menenun. Namun, para lansia ini masih memiliki ingatan yang kuat dalam menenun.

“Kami sekarang mengalami kesulitan dalam meregenerasi penenun. Karena tidak ada generasi muda yang tertarik menenun. Padahal, kebutuhan akan tenun ikat khas Julah itu sangat konstan, karena digunakan untuk sarana ritual. Nah kalau dibiarkan tentu akan berdampak terhadap kelangkaan kain tenun,” ungkap Sidemen.

Diakui Sidemen, rendahnya minat belajar menenun bagi generasi di Julah sebut Sidemen disebabkan oleh sejumlah faktor. Warga lebih memilih menggarap pekerjaan yang lebih cepat menghasilkan uang, karena tenun ikat butuh waktu lama untuk proses pengerjaannya.

“Bisa butuh sampai satu minggu atau lebih untuk menggarapnya. Nah mungkin realistis, agar bisa dapat uang lebih cepat, sehingga memilih bekerja di tempat lain, seperti di kebun, wiraswasta,” akunya. (bersambung)






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru

/