alexametrics
28.8 C
Denpasar
Saturday, May 28, 2022

Olah Gelombang Theta, Hipnosis Bisa Atasi Gangguan Ilmu Hitam

DENPASAR, BALI EXPRESS – Stigma orang meruncing ke dua maksud, ketika menilai hipnotis. Pertama, hipnotis dengan konotasi negatif, yakni bisa soal penipuan, pencurian, dan ulah nakal lainnya. 

Sedangkan konotasi positifnya adalah tentang hiburan atau entertain yang sering dipertontonkan, bahkan juga digunakan untuk proses pengobatan.

Lantas, bisakah hipnotis digunakan untuk metode penyembuhan sakit non-medis (black magic), seperti di Bali yang dikenal dengan Bebai?

Ketua DPW Perkumpulan Komunitas Hipnosis Indonesia (PKHI) Bali, AA Lanang Ananda menjelaskan, hipnotis atau lebih modern disebut hipnosis, bukanlah metode baru untuk penyembuhan, terutama penyakit non-medis. Bahkan, hipnosis sudah ada bersamaan dengan berkembangnya peradaban manusia itu sendiri.

“Hal ini dibuktikan dari hasil temuan ilmiah arkeologi  yang menunjukkan sekitar 4400 SM di Mesir, Cina, Yunani, dan bahkan di Assyo Babilonia,” terang kepada Bali Express (Jawa Pos Grup), kemarin di Denpasar.

Namun, penggunaan kata hipnosis baru digunakan oleh seorang dokter bedah yang bernama James Braid pada tahun 1843, dan itulah yang dikenal sampai saat ini.

Dikatakan pria yang akrab disapa Lan Ananda ini, terkait dengan klenik, santet, gendam, hal-hal gaib, meditasi, dan yang sejenis lainnya, disebut sebagai hipnosis tradisional atau klasik, karena teknik induksinya  diantaranya menggunakan mantra, sesajen, dan tirakat. “Sedangkan dalam hipnosis modern yang diterapkan PKHI tidak menggunakan hal tersebut sama sekali,” tegas Lan Anandadi.

Lalu, bagaimana proses penyembuhan jika tidak menggunakan sesajen, mantra atau lainnya?  Lan Ananda yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum Pengprov Taekwondo Indonesia (TI) Bali selama dua periode ini, mengatakan, gelombang Theta pada otak manusia yang diolah.

“Karena persamaan antara klenik, santet dan hipnosis ini sama-sama menjurus ke gelombang Theta itu sendiri. Sakit itu karena gelombang pada otak yang terganggu. Lewat hipnosis, itu bisa diperbaiki dengan cara diolah supaya gelombangnya stabil seperti keadaan normal,” tegasnya.

Dikatakannya, gelombang Theta atau yang disebut pikiran bawah sadar, mengendalikan kehidupan manusia sampai 88 persen. Sedangkan pikiran sadar yang digunakan hanya 12 persen saja. 

Master senior hipnosis di Bali  ini, memastikan bahwa penyakit yang mengandung unsur klenik, santet tradisional seperti Bebai, kesurupan, dan lainnya, dapat disembuhkan dengan cara hipnosis atau hipnotis. Karena sumber penyakitnya bersarang dalam pikiran si penderita yang disebut dengan Psikosomatis. 

Lan Ananda dapat memastikan hal tersebut karena sudah membuktikan sendiri saat turun langsung dan anggota PKHI yang menangani kasus-kasus ilmu magis dan sejenisnya. Terbukti mereka bisa sembuh total. 

“Penyembuhan santet dengan hipnosis bukan metode baru, melainkan karena hipnosis bekerja di gelombang Theta yang  merupakan gelombang otak spiritual ataupun gelombang otaknya santet,” ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskannya, teknik penyembuhan hipnosis memiliki beberapa tahapan, mulai dari mencari akar permasalahan sampai mengobatinya. Dan, ini juga tergantung dari berat atau ringan kasus yang dialami oleh si penderita. Rata-rata menurutnya antara 3-5 kali terapi sudah sembuh. “Saya bisa pastikan tidak ada terapi lanjutan kalau pasien sudah sembuh. Begitu sembuh ya sembuh,” tuturnya.

Lan Ananda menegaskan, anggota PKHI yang melakukan terapi pengobatan dilarang, bahkan haram hukumnya menyakiti pasien, seperti yang digambarkan di media sosial. 

Soal pengalaman, Lan Ananda pernah menangani kasus black magic yang diakui cukup parah. Cuma, lanjutnya, PKHI memiliki kode etik dan benar benar harus dipegang teguh, yakni tidak boleh menyebutkan nama, asal maupun identitas pasien. 

“Sudah ratusan kali di PKHI menyembuhkan orang-orang yang terkena black magic itu. Mulai dari Bebai, dikejar-kejar sosok orang besar, dan lainnya. Hipnosis dapat menghilangkan itu semua,” tandasnya.


DENPASAR, BALI EXPRESS – Stigma orang meruncing ke dua maksud, ketika menilai hipnotis. Pertama, hipnotis dengan konotasi negatif, yakni bisa soal penipuan, pencurian, dan ulah nakal lainnya. 

Sedangkan konotasi positifnya adalah tentang hiburan atau entertain yang sering dipertontonkan, bahkan juga digunakan untuk proses pengobatan.

Lantas, bisakah hipnotis digunakan untuk metode penyembuhan sakit non-medis (black magic), seperti di Bali yang dikenal dengan Bebai?

Ketua DPW Perkumpulan Komunitas Hipnosis Indonesia (PKHI) Bali, AA Lanang Ananda menjelaskan, hipnotis atau lebih modern disebut hipnosis, bukanlah metode baru untuk penyembuhan, terutama penyakit non-medis. Bahkan, hipnosis sudah ada bersamaan dengan berkembangnya peradaban manusia itu sendiri.

“Hal ini dibuktikan dari hasil temuan ilmiah arkeologi  yang menunjukkan sekitar 4400 SM di Mesir, Cina, Yunani, dan bahkan di Assyo Babilonia,” terang kepada Bali Express (Jawa Pos Grup), kemarin di Denpasar.

Namun, penggunaan kata hipnosis baru digunakan oleh seorang dokter bedah yang bernama James Braid pada tahun 1843, dan itulah yang dikenal sampai saat ini.

Dikatakan pria yang akrab disapa Lan Ananda ini, terkait dengan klenik, santet, gendam, hal-hal gaib, meditasi, dan yang sejenis lainnya, disebut sebagai hipnosis tradisional atau klasik, karena teknik induksinya  diantaranya menggunakan mantra, sesajen, dan tirakat. “Sedangkan dalam hipnosis modern yang diterapkan PKHI tidak menggunakan hal tersebut sama sekali,” tegas Lan Anandadi.

Lalu, bagaimana proses penyembuhan jika tidak menggunakan sesajen, mantra atau lainnya?  Lan Ananda yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum Pengprov Taekwondo Indonesia (TI) Bali selama dua periode ini, mengatakan, gelombang Theta pada otak manusia yang diolah.

“Karena persamaan antara klenik, santet dan hipnosis ini sama-sama menjurus ke gelombang Theta itu sendiri. Sakit itu karena gelombang pada otak yang terganggu. Lewat hipnosis, itu bisa diperbaiki dengan cara diolah supaya gelombangnya stabil seperti keadaan normal,” tegasnya.

Dikatakannya, gelombang Theta atau yang disebut pikiran bawah sadar, mengendalikan kehidupan manusia sampai 88 persen. Sedangkan pikiran sadar yang digunakan hanya 12 persen saja. 

Master senior hipnosis di Bali  ini, memastikan bahwa penyakit yang mengandung unsur klenik, santet tradisional seperti Bebai, kesurupan, dan lainnya, dapat disembuhkan dengan cara hipnosis atau hipnotis. Karena sumber penyakitnya bersarang dalam pikiran si penderita yang disebut dengan Psikosomatis. 

Lan Ananda dapat memastikan hal tersebut karena sudah membuktikan sendiri saat turun langsung dan anggota PKHI yang menangani kasus-kasus ilmu magis dan sejenisnya. Terbukti mereka bisa sembuh total. 

“Penyembuhan santet dengan hipnosis bukan metode baru, melainkan karena hipnosis bekerja di gelombang Theta yang  merupakan gelombang otak spiritual ataupun gelombang otaknya santet,” ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskannya, teknik penyembuhan hipnosis memiliki beberapa tahapan, mulai dari mencari akar permasalahan sampai mengobatinya. Dan, ini juga tergantung dari berat atau ringan kasus yang dialami oleh si penderita. Rata-rata menurutnya antara 3-5 kali terapi sudah sembuh. “Saya bisa pastikan tidak ada terapi lanjutan kalau pasien sudah sembuh. Begitu sembuh ya sembuh,” tuturnya.

Lan Ananda menegaskan, anggota PKHI yang melakukan terapi pengobatan dilarang, bahkan haram hukumnya menyakiti pasien, seperti yang digambarkan di media sosial. 

Soal pengalaman, Lan Ananda pernah menangani kasus black magic yang diakui cukup parah. Cuma, lanjutnya, PKHI memiliki kode etik dan benar benar harus dipegang teguh, yakni tidak boleh menyebutkan nama, asal maupun identitas pasien. 

“Sudah ratusan kali di PKHI menyembuhkan orang-orang yang terkena black magic itu. Mulai dari Bebai, dikejar-kejar sosok orang besar, dan lainnya. Hipnosis dapat menghilangkan itu semua,” tandasnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/