alexametrics
26.5 C
Denpasar
Wednesday, May 18, 2022

Tari Baris Kupu-Kupu, Gunakan Daun Kelapa Simbol Kebijaksanaan

Layaknya tarian baris pada umumnya, pementasan Tari Baris Kupu-Kupu juga memiliki sejumlah kostum. Kostum ini merupakan kombinasi dari tiga jenis pakaian antara lain memakai sayap, bapang, kemeja putih, lamak, sabuk, awiran, dan celana panjang.

Dikatakan Tokoh adat Desa Bungkulan, Dewa Ketut Djareken, ada sejumlah kostum yang digunakan. Diantaranya, Gelungan yang digunakan pada bagian kepala. Kemudian ada pula Kemeja ini dibuat dari kain yang disesuaikan dengan karakter yang akan dibawakan oleh masing-masing penari.

Ada juga penggunaan Bapang yang berfungsi sebagai penutup leher dan bentuknya melengkung yang terbuat dari kain beludru yang dihiasi. Kemudian Lamak dalam tari baris kupu-kupu di taruh atau di gantungkan di dada penari.

Sabuk ini berbeda dengan sabuk pada umumnya. Karena sabuk ini dihiasi dengan beberapa ilustrasi. Selanjutnya penari juga menggunakan Awiran yang merupakan selendang prada dan digantungkan dileher. Bisa juga diikatkan dibawah ketiak. Penari juga menggunakan Celana Panjang.

Sebelum dimulai, terlebih dahulu harus mempersiapakan daun kelapa yang tidak di potong ujungnya yang sudah kering. Kemudian daun kelapa gading atau kuning ditancapkan berbentuk bundar sesuai posisi penari nantinya melakukan tarian yang persisnya berbentuk persegi lima.

Daun kelapa ini akan dipergunakan sebagai media yang nantinya dikelilingi oleh masing-masing penari. “Daun kelapa ini sebagai simbol kebijaksanaan. Penggunaan sarana daun kelapa kuning yang dipergunakan untuk tiang atau posisi penari dan juga dipergunakan untuk sayapnya,” kata Djareken.

Makna daun kelapa secara simbolik sebut Djareken agar dalam aktivitas kehidupan bersosial, beragama, berpolitik dan sebagainya didasarkan pada kebijaksanaan. “Bijaksana terhadap diri sendiri, terhadap orang lain, terhadap alam dan dalam situasi apapun. Ini maknanya,” sebutnya.

Dari sisi gerakan, tarian ini sangatlah sederhana. Penari umumnya mengepaskan atau mengkebaskan sayapnya berulang-ulang dalam setiap langkahnya. Gerakan kaki berayun-ayun atau disebut dengan Ngenjot dengan gerakan tangan seperti halnya tarian baris lainnya atau disebut dengan agem dan ngeed.

Pada bagian pembukaan bentuk tabuhan diberi nama tabuhan pepeson, sedangkan pada bagian inti tabuhannya disebut Pengawak dan pengecet, demikian juga saat penutupan tabuhannya bernama Pekaad.

Ada sejumlah sesajen yang digunakan untuk gelungan. Antara lain Canang Ajengan, Pesucian, Lekesan, Penyeneng, Tetabuhan, Arak, Berem, Dupa, Segehan Sembilan Tanding, Rokok lima batang, canang seperlunya.

Ditempat pementasan atau kalangan dihaturkan sesajen sebelum pertunjukan dimulai yaitu Segehan Sembilan Tanding, Canang Sari Satu Tanding, Tetabuhan, seperti Air, Arak, Berem dan Dupa.

“Pada gambelan juga dihaturkan sesajen, karena mengiringi Baris Kupu-kupu antara lain: Peras, Daksina, Segehan Mancawarna, Pipis Tapisan, Ketipat Dampulan, Biyu Mas, Telur Itik Satu Butir, Tetabuhan (Air, Arak, Barem), Dupa, Sesari Daksina, Sesari Peras,” pungkasnya. (habis)






Reporter: I Putu Mardika

Layaknya tarian baris pada umumnya, pementasan Tari Baris Kupu-Kupu juga memiliki sejumlah kostum. Kostum ini merupakan kombinasi dari tiga jenis pakaian antara lain memakai sayap, bapang, kemeja putih, lamak, sabuk, awiran, dan celana panjang.

Dikatakan Tokoh adat Desa Bungkulan, Dewa Ketut Djareken, ada sejumlah kostum yang digunakan. Diantaranya, Gelungan yang digunakan pada bagian kepala. Kemudian ada pula Kemeja ini dibuat dari kain yang disesuaikan dengan karakter yang akan dibawakan oleh masing-masing penari.

Ada juga penggunaan Bapang yang berfungsi sebagai penutup leher dan bentuknya melengkung yang terbuat dari kain beludru yang dihiasi. Kemudian Lamak dalam tari baris kupu-kupu di taruh atau di gantungkan di dada penari.

Sabuk ini berbeda dengan sabuk pada umumnya. Karena sabuk ini dihiasi dengan beberapa ilustrasi. Selanjutnya penari juga menggunakan Awiran yang merupakan selendang prada dan digantungkan dileher. Bisa juga diikatkan dibawah ketiak. Penari juga menggunakan Celana Panjang.

Sebelum dimulai, terlebih dahulu harus mempersiapakan daun kelapa yang tidak di potong ujungnya yang sudah kering. Kemudian daun kelapa gading atau kuning ditancapkan berbentuk bundar sesuai posisi penari nantinya melakukan tarian yang persisnya berbentuk persegi lima.

Daun kelapa ini akan dipergunakan sebagai media yang nantinya dikelilingi oleh masing-masing penari. “Daun kelapa ini sebagai simbol kebijaksanaan. Penggunaan sarana daun kelapa kuning yang dipergunakan untuk tiang atau posisi penari dan juga dipergunakan untuk sayapnya,” kata Djareken.

Makna daun kelapa secara simbolik sebut Djareken agar dalam aktivitas kehidupan bersosial, beragama, berpolitik dan sebagainya didasarkan pada kebijaksanaan. “Bijaksana terhadap diri sendiri, terhadap orang lain, terhadap alam dan dalam situasi apapun. Ini maknanya,” sebutnya.

Dari sisi gerakan, tarian ini sangatlah sederhana. Penari umumnya mengepaskan atau mengkebaskan sayapnya berulang-ulang dalam setiap langkahnya. Gerakan kaki berayun-ayun atau disebut dengan Ngenjot dengan gerakan tangan seperti halnya tarian baris lainnya atau disebut dengan agem dan ngeed.

Pada bagian pembukaan bentuk tabuhan diberi nama tabuhan pepeson, sedangkan pada bagian inti tabuhannya disebut Pengawak dan pengecet, demikian juga saat penutupan tabuhannya bernama Pekaad.

Ada sejumlah sesajen yang digunakan untuk gelungan. Antara lain Canang Ajengan, Pesucian, Lekesan, Penyeneng, Tetabuhan, Arak, Berem, Dupa, Segehan Sembilan Tanding, Rokok lima batang, canang seperlunya.

Ditempat pementasan atau kalangan dihaturkan sesajen sebelum pertunjukan dimulai yaitu Segehan Sembilan Tanding, Canang Sari Satu Tanding, Tetabuhan, seperti Air, Arak, Berem dan Dupa.

“Pada gambelan juga dihaturkan sesajen, karena mengiringi Baris Kupu-kupu antara lain: Peras, Daksina, Segehan Mancawarna, Pipis Tapisan, Ketipat Dampulan, Biyu Mas, Telur Itik Satu Butir, Tetabuhan (Air, Arak, Barem), Dupa, Sesari Daksina, Sesari Peras,” pungkasnya. (habis)






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru

/