alexametrics
27.6 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

Ada Puluhan Mata Air Baru Muncul, Diyakini Bisa Hilangkan Sial

BALI EXPRESS, BANGLI – Pancoran Solas Alas Tapa yang terletak di bekas bendungan di Desa Peninjoan, Tembuku Bangli, sumber airnya kini tak hanya berasal dari satu mata air.
Melainkan ada puluhan mata air baru yang muncul dan tersebar di seluruh area Alas Tapa.
Konon, mata air yang keluar dari kesebelas pancoran tersebut berkhasiat sebagai penolak marabahaya.

Pancoran Solas Alas Tapa  yang berada  di tengah tengah bekas area bendungan di daerah terkering di wilayah Bangli ini terbilang menarik. Pasalnya, bendungan yang tak pernah berisi air selama bertahun tahun itu, ternyata memiliki banyak sumber mata air (klebutan) yang muncul secara tiba – tiba.

“Klebutan atau sumber mata air yang muncul tak hanya satu atau dua mata air, melainkan puluhan mata air. Selain itu, posisi mata air  saling berdekatan satu sama lain,” papar Perbekel Desa Peninjoan,Dewa Nyoman Tagel, ketika Bali Express (Jawa Pos Group) berkunjung ke Pancoran Solas Alas Tapa, pekan lalu. Meski masih dalam tahap renovasi, Pancoran Solas Alas Tapa mulai dikunjungi beberapa pamedek yang ingin malukat dan melebur mala.”Saat ini masih dalam tahap renovasi, dan kebetulan belum banyak orang yang tahu, makanya hanya beberapa pamedek saja yang terlihat malukat,” jelas Dewa Tagel.

Diakuinya, dahulu tempat tersebut merupakan sebuah dam atau bendungan yang digunakan untuk mengairi sawah dan untuk kebutuhan masyarakat sehari – hari. Namun, sejak beberapa tahun silam, air yang ada di bendungan tersebut berkurang hingga kini menjadi kering. “Kami tidak tahu mengapa akhirnya tempat ini kering, padahal banyak subak yang bergantung pengairannya dari air bendungan ini,”tuturnya.

Lantas, bagaimana proses ditemukannya puluhan mata air tersebut?

Dewa Tagel menceritakan pengalamannya ketika melakukan pembersihan di sekitar areal Pura Subak. Ia memperhatikan ada aliran air yang keluar dari celah bebatuan. Sebelum ditemukannya puluhan klebutan itu, dahulu di kawasan itu memang ada satu mata air besar yang digunakan sebagai tempat melasti dan nunas tirta untuk upacara manusia yadnya. “Memang sudah ada satu mata air, namun kami tak menyangka di tempat kering begini ternyata ada puluhan klebutan mata air muncul,” ujarnya.

Baca Juga :  Perbedaan Agama Berakhir dengan Pemusnahan Massal

Ketika baru menemukan satu mata air, ia bersama warga kemudian mencoba membuka mata air yang tertutup tebing dan tanah. “Setelah dibuka, ternyata ada puluhan mata air yang tertutup tanah dan diapit tebing paras. Pantas saja tanah di tempat ini selalu lembab, juga  ada rembesan airnya,” terangnya.

Melihat hal itu, ia bersama warga Desa Peninjoan kemudian  melakukan gotong royong dan membuat sebuah penampungan air tepat di depan area Pancoran Solas Alas Tapa. “Karena air yang keluar dari klebutan itu terbuang sia – sia terserap tanah, akhirnya kami berinisiatif untuk membuat sebuah tempat penampungan kecil. Lalu membuat aliran air agar masyarakat  dapat mengairi sawahnya,” terangnya.

Benar saja dengan membuat sebuah tempat penampungan air, masyarakat dapat menikmati panen tiga kali sepanjang tahun. “Dahulu kami cuma bisa panen setahun sekali, sekarang sudah setahun tiga kali, berkat mata air dan penampungan itu,” ungkapnya.

Konon dahulu wilayah Alas Tapa merupakan sebuah kawasan yang digunakan sebagai tempat bertapa. “Dalam babad Dalem Tarukan, tempat ini disebut Alas Tapa atau hutan sunyi yang digunakan untuk bertapa. Banyak tokoh tokoh besar di Bali yang sempat melakukan pertapaan untuk mencapai moksa atau pelepasan di sini. Makanya masyarakat mengenal tempat ini tenget atau pingit,” ungkapnya.

Menurut  pemangku Pura Dalem Agung Tampuagan, Jero Mangku Gede Merta Sudana, secara niskala tempat tersebut dibagi menjadi dua wiyah, yaitu bagian atas (bukit) dikenal sebagai griya atau puri dan beji pada bagian bawah. “Secara niskala, bagian bukit di atas area pancoran sebelah selatan itu, puri wong samar, dan wilayah pancoran ini disebut bejinya mereka.  Tempat ini sangat pingit. Makanya, tidak boleh membawa jenazah lewat kawasan ini, harus memutar ke jalan lain,” tegasnya.

Baca Juga :  Ulap-ulap, Sarana Wajib Saat Mlaspas, Begini Maknanya

 

Hal itu diperkuat banyaknya pengakuan masyarakat sekitar yang sering melihat banyak penampakan. “Yang paling sering muncul penampakan wanita cantik yang menyerupai Dewi Kwan Im di sini. Ada juga yang menyebutkan sering melihat macan. Setelah ditelusuri memang benar, dalam babad Dalem Tarukan dijelaskan macan itu merupakan perwujudan Ratu Bagus,” terangnya.

Berdasarkan sejumlah penampakan itu, pihak desa berencana membuatkan palinggihan Dewi Kwan Im dan Ratu Bagus. “Sekarang kami hanya memiliki Pura Subak Ulun Suwi. Rencananya kedepan kami akan membuat Palinggihan Ida Bhatara dan Dewi Kwan Im,” ungkapnya.

Ditambahkan Jero Mangku Gede Merta Sudana, di sekeliling Pancoran Solas Alas Tapa terdapat 11 mata air utama yang mengelilingi area, yaitu Tirta Alas Tapa, Tirta Bulan, Tirta Matahari, Tirta Parasmalam, Tirta Dedari, Tirta Banyumas, Tirta Barong, Tirta Sudamala, Tirta Tunggang, Tirta Blutbut, Tirta Mampeh. “Kesebelas klebutan utama itu lokasinya mengelilingi area Pancoran Solas Alas Tapa,” ungkapnya. Pancoran Solas Alas Tapa, lanjutnya,  merupakan Tirta Sudamala.

“Tirta ini adalah Tirta Sudamala, khasiatnya untuk menghilangkan mala atau ibaratnya buang sial. Nah, khasiat selain itu kami belum berani memaparkan lebih jauh karena  pancoran ini terbilang baru,” jelasnya.

Jika ingin tangkil ke Pancoran Solas Alas Tapa, pamedek diharapkan agar membawa pajati dan canang sari.  Pajati dihaturkan di Pura Subak Ulun Suwi dan canang sari di pancoran.


BALI EXPRESS, BANGLI – Pancoran Solas Alas Tapa yang terletak di bekas bendungan di Desa Peninjoan, Tembuku Bangli, sumber airnya kini tak hanya berasal dari satu mata air.
Melainkan ada puluhan mata air baru yang muncul dan tersebar di seluruh area Alas Tapa.
Konon, mata air yang keluar dari kesebelas pancoran tersebut berkhasiat sebagai penolak marabahaya.

Pancoran Solas Alas Tapa  yang berada  di tengah tengah bekas area bendungan di daerah terkering di wilayah Bangli ini terbilang menarik. Pasalnya, bendungan yang tak pernah berisi air selama bertahun tahun itu, ternyata memiliki banyak sumber mata air (klebutan) yang muncul secara tiba – tiba.

“Klebutan atau sumber mata air yang muncul tak hanya satu atau dua mata air, melainkan puluhan mata air. Selain itu, posisi mata air  saling berdekatan satu sama lain,” papar Perbekel Desa Peninjoan,Dewa Nyoman Tagel, ketika Bali Express (Jawa Pos Group) berkunjung ke Pancoran Solas Alas Tapa, pekan lalu. Meski masih dalam tahap renovasi, Pancoran Solas Alas Tapa mulai dikunjungi beberapa pamedek yang ingin malukat dan melebur mala.”Saat ini masih dalam tahap renovasi, dan kebetulan belum banyak orang yang tahu, makanya hanya beberapa pamedek saja yang terlihat malukat,” jelas Dewa Tagel.

Diakuinya, dahulu tempat tersebut merupakan sebuah dam atau bendungan yang digunakan untuk mengairi sawah dan untuk kebutuhan masyarakat sehari – hari. Namun, sejak beberapa tahun silam, air yang ada di bendungan tersebut berkurang hingga kini menjadi kering. “Kami tidak tahu mengapa akhirnya tempat ini kering, padahal banyak subak yang bergantung pengairannya dari air bendungan ini,”tuturnya.

Lantas, bagaimana proses ditemukannya puluhan mata air tersebut?

Dewa Tagel menceritakan pengalamannya ketika melakukan pembersihan di sekitar areal Pura Subak. Ia memperhatikan ada aliran air yang keluar dari celah bebatuan. Sebelum ditemukannya puluhan klebutan itu, dahulu di kawasan itu memang ada satu mata air besar yang digunakan sebagai tempat melasti dan nunas tirta untuk upacara manusia yadnya. “Memang sudah ada satu mata air, namun kami tak menyangka di tempat kering begini ternyata ada puluhan klebutan mata air muncul,” ujarnya.

Baca Juga :  Bacawabup Gede Mangun Serahkan 17 Komputer Untuk Yayasan Guru Kula

Ketika baru menemukan satu mata air, ia bersama warga kemudian mencoba membuka mata air yang tertutup tebing dan tanah. “Setelah dibuka, ternyata ada puluhan mata air yang tertutup tanah dan diapit tebing paras. Pantas saja tanah di tempat ini selalu lembab, juga  ada rembesan airnya,” terangnya.

Melihat hal itu, ia bersama warga Desa Peninjoan kemudian  melakukan gotong royong dan membuat sebuah penampungan air tepat di depan area Pancoran Solas Alas Tapa. “Karena air yang keluar dari klebutan itu terbuang sia – sia terserap tanah, akhirnya kami berinisiatif untuk membuat sebuah tempat penampungan kecil. Lalu membuat aliran air agar masyarakat  dapat mengairi sawahnya,” terangnya.

Benar saja dengan membuat sebuah tempat penampungan air, masyarakat dapat menikmati panen tiga kali sepanjang tahun. “Dahulu kami cuma bisa panen setahun sekali, sekarang sudah setahun tiga kali, berkat mata air dan penampungan itu,” ungkapnya.

Konon dahulu wilayah Alas Tapa merupakan sebuah kawasan yang digunakan sebagai tempat bertapa. “Dalam babad Dalem Tarukan, tempat ini disebut Alas Tapa atau hutan sunyi yang digunakan untuk bertapa. Banyak tokoh tokoh besar di Bali yang sempat melakukan pertapaan untuk mencapai moksa atau pelepasan di sini. Makanya masyarakat mengenal tempat ini tenget atau pingit,” ungkapnya.

Menurut  pemangku Pura Dalem Agung Tampuagan, Jero Mangku Gede Merta Sudana, secara niskala tempat tersebut dibagi menjadi dua wiyah, yaitu bagian atas (bukit) dikenal sebagai griya atau puri dan beji pada bagian bawah. “Secara niskala, bagian bukit di atas area pancoran sebelah selatan itu, puri wong samar, dan wilayah pancoran ini disebut bejinya mereka.  Tempat ini sangat pingit. Makanya, tidak boleh membawa jenazah lewat kawasan ini, harus memutar ke jalan lain,” tegasnya.

Baca Juga :  Belum Tergantikan, Kesucian Pis Bolong Bagaikan Cahaya

 

Hal itu diperkuat banyaknya pengakuan masyarakat sekitar yang sering melihat banyak penampakan. “Yang paling sering muncul penampakan wanita cantik yang menyerupai Dewi Kwan Im di sini. Ada juga yang menyebutkan sering melihat macan. Setelah ditelusuri memang benar, dalam babad Dalem Tarukan dijelaskan macan itu merupakan perwujudan Ratu Bagus,” terangnya.

Berdasarkan sejumlah penampakan itu, pihak desa berencana membuatkan palinggihan Dewi Kwan Im dan Ratu Bagus. “Sekarang kami hanya memiliki Pura Subak Ulun Suwi. Rencananya kedepan kami akan membuat Palinggihan Ida Bhatara dan Dewi Kwan Im,” ungkapnya.

Ditambahkan Jero Mangku Gede Merta Sudana, di sekeliling Pancoran Solas Alas Tapa terdapat 11 mata air utama yang mengelilingi area, yaitu Tirta Alas Tapa, Tirta Bulan, Tirta Matahari, Tirta Parasmalam, Tirta Dedari, Tirta Banyumas, Tirta Barong, Tirta Sudamala, Tirta Tunggang, Tirta Blutbut, Tirta Mampeh. “Kesebelas klebutan utama itu lokasinya mengelilingi area Pancoran Solas Alas Tapa,” ungkapnya. Pancoran Solas Alas Tapa, lanjutnya,  merupakan Tirta Sudamala.

“Tirta ini adalah Tirta Sudamala, khasiatnya untuk menghilangkan mala atau ibaratnya buang sial. Nah, khasiat selain itu kami belum berani memaparkan lebih jauh karena  pancoran ini terbilang baru,” jelasnya.

Jika ingin tangkil ke Pancoran Solas Alas Tapa, pamedek diharapkan agar membawa pajati dan canang sari.  Pajati dihaturkan di Pura Subak Ulun Suwi dan canang sari di pancoran.


Most Read

Artikel Terbaru

/