KARANGASEM, BALI EXPRESS-Tari Rejang Pala, salah satu tarian sakral yang dimiliki Desa Adat Nongan, Kecamatan Rendang, Karangasem. Tarian sakral sebagai warisan Pura Balang Tamak ini dipentaskan saat Usaba Desa di Pura Pesamuhan Agung.
Tari Rejang Pala ditarikan oleh anak-anak, remaja hingga orang dewasa. Tata busananya pun berbeda. Ada tiga jenis Tari Rejang Pala berdasarkan penarinya, yakni Rejang Alit, Rejang Daha, dan Rejang Lingsir.
Tokoh Adat Desa Nongan I Gusti Ngurah Wiryanata menjelaskan, tata busana tari yang digunakan oleh penari Rejang Alit terdiri dari tapih dan kain (kamen) sebagai penutup bagian kaki, selendang blengket yang dililitkan di badan, selendang kain warna-warni dikalungkan di leher dan menggunakan hiasan kepala yang terbuat dari rangkaian janur (busung) dan daun pohon aren (ron).
Hiasan kepala Rejang Alit dihiasi dengan buah-buahan seperti kepundung dan boni, serta untuk memperindah tampilannya juga dihiasi dengan beberapa kuntum bunga seperti bunga kamboja, bunga merak, maupun bunga gumitir.
Kemudian untuk penari Rejang Daha, tata busana yang digunakan terdiri dari tapih dan kain (kamen) digunakan sebagai penutup tubuh bagian bawah atau kaki, selendang blengket dililitkan di bagian badan. Ada pula menggunakan beberapa lembar selendang kain berwarna-warni yang diikatkan di bagian pinggang, gelang tangan yang terbuat dari buah-buahan, dan menggunakan gelungan.
Gelungan penari Rejang Daha untuk kerangkanya terbuat dari rangkaian bambu. Kemudian dihiasi dengan rangkaian busung dan ron, serta dilengkapi berbagai jenis buah seperti salak, rambutan, kepundung, boni, dan juga diperindah dengan memasangkan beberapa kuntum bunga seperti bunga gumitir, bunga merak, maupun bunga pucuk (kembang sepatu).
“Kalau penari Rejang Lingsir menggunakan tata busana yang terdiri dari kain (kamen) yang digunakan untuk menutupi bagian kaki, baju kebaya warna putih, selendang kain berwarna-warni yang diikatkan di pinggang, dan subeng (hiasan telinga,” papar tokoh Adat Desa Nongan I Gusti Ngurah Wiryanata.