alexametrics
27.8 C
Denpasar
Saturday, May 28, 2022

Ini Fungsi Sanggah Cucuk dalam Ngereh Pengleakan

BALI EXPRESS, DENPASAR – Ilmu Leak Bali memiliki satu proses, yakni ngereh. Ngereh bermakna memohonkan kekuatan atau kesaktian kehadapan Ida Bhatara. Selain ngereh pangleakan, ada juga ngereh sasuhunan. Namun , yang akan dibahas dalam tulisan ini, khusus ke ngereh pangleakan. 

Ngereh adalah tahap puncak dari prosesi ritual pangleakan. Pada saat ritual ini, salah satu sarana yang digunakan adalah sanggah cucuk. Mengapa harus menggunakan sanggah cucuk?

Praktisi Ilmu Leak, Dr. Jro Mangku Gede Made Subagia, SH., M.Fil.H menyampaikan, ngereh sama dengan ngarereh atau mencari, dalam hal ini kasiddhian atau kekuatan spiritual. Dalam prosesinya menggunakan salah satu sarana, berupa sanggah cucuk.

“Sanggah cucuk adalah lambang dari suku tunggal dan tri murti. Segitiga pada sanggah cucuk adalah trimurti, sedangkan tiangnya adalah Sang Hyang Acintya,” terangnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Lebih lanjut Jro Mangku mengatakan, sanggah cucuk adalah yantra atau simbol. Dengan simbol tersebut, maka manusia yang memiliki keterbatasan bisa lebih mudah menyatukan pikiran untuk memuja keesaan Tuhan. “Tanpa simbol kita tak bisa menuju Tuhan. Sama dengan palawatan seperti rangda dan barong. Tanpa palawatan, kita susah memujaTuhan,” jelasnya.

Lalu apa saja banten yang digunakan untuk pangerehan pangleakan yang diletakkan di sanggah cucuk itu? Lulusan Doktor Ilmu Agama Pascasarjana IHDN Denpasar tersebut menyebutkan, di antaranya adalah burat wangi dan lenga wangi. Di bawahnya ada tebasan tumpeng bang atau merah, yang berisi jeroan mentah babi atau ayam, seperti bol atau anus babi dan sepasang mata babi. Selanjutnya ada pula darah, nasi muncuk kukusan, bawang, jahe, serta terasi dipanggang.

Meski demikian,  Jro Mangku Subagia menyampaikan, ngereh ada tingkatannya. Kalau Leak paling bawah, dikatakannya ada prosesnya ke pamuhunan (tempat pembakaran mayat di kuburan, Red), di depan palinggih rong tiga, panunggun karang, di Brahma, dan ada prosesnya di kamar. Namun, jika kemampuannya sudah tinggi, yang bersangkutan bisa mengambil tempat sesuai situasi dan kondisi. 

“Semua ada konsepnya. Tergantung sekarang jnana yang bersangkutan. Kalau jnananya sudah tinggi, tidak perlu dia kemana-mana. Dengan jnana dia tangkil ke Pura Dalem dan sebagainya, makanya cakra-cakranya hidup. Nah, kekuatan dari cakra-cakra itu kemudian bisa muncul seperti api atau sinar yang bisa ke sana-kemari,” tandasnya. 


BALI EXPRESS, DENPASAR – Ilmu Leak Bali memiliki satu proses, yakni ngereh. Ngereh bermakna memohonkan kekuatan atau kesaktian kehadapan Ida Bhatara. Selain ngereh pangleakan, ada juga ngereh sasuhunan. Namun , yang akan dibahas dalam tulisan ini, khusus ke ngereh pangleakan. 

Ngereh adalah tahap puncak dari prosesi ritual pangleakan. Pada saat ritual ini, salah satu sarana yang digunakan adalah sanggah cucuk. Mengapa harus menggunakan sanggah cucuk?

Praktisi Ilmu Leak, Dr. Jro Mangku Gede Made Subagia, SH., M.Fil.H menyampaikan, ngereh sama dengan ngarereh atau mencari, dalam hal ini kasiddhian atau kekuatan spiritual. Dalam prosesinya menggunakan salah satu sarana, berupa sanggah cucuk.

“Sanggah cucuk adalah lambang dari suku tunggal dan tri murti. Segitiga pada sanggah cucuk adalah trimurti, sedangkan tiangnya adalah Sang Hyang Acintya,” terangnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Lebih lanjut Jro Mangku mengatakan, sanggah cucuk adalah yantra atau simbol. Dengan simbol tersebut, maka manusia yang memiliki keterbatasan bisa lebih mudah menyatukan pikiran untuk memuja keesaan Tuhan. “Tanpa simbol kita tak bisa menuju Tuhan. Sama dengan palawatan seperti rangda dan barong. Tanpa palawatan, kita susah memujaTuhan,” jelasnya.

Lalu apa saja banten yang digunakan untuk pangerehan pangleakan yang diletakkan di sanggah cucuk itu? Lulusan Doktor Ilmu Agama Pascasarjana IHDN Denpasar tersebut menyebutkan, di antaranya adalah burat wangi dan lenga wangi. Di bawahnya ada tebasan tumpeng bang atau merah, yang berisi jeroan mentah babi atau ayam, seperti bol atau anus babi dan sepasang mata babi. Selanjutnya ada pula darah, nasi muncuk kukusan, bawang, jahe, serta terasi dipanggang.

Meski demikian,  Jro Mangku Subagia menyampaikan, ngereh ada tingkatannya. Kalau Leak paling bawah, dikatakannya ada prosesnya ke pamuhunan (tempat pembakaran mayat di kuburan, Red), di depan palinggih rong tiga, panunggun karang, di Brahma, dan ada prosesnya di kamar. Namun, jika kemampuannya sudah tinggi, yang bersangkutan bisa mengambil tempat sesuai situasi dan kondisi. 

“Semua ada konsepnya. Tergantung sekarang jnana yang bersangkutan. Kalau jnananya sudah tinggi, tidak perlu dia kemana-mana. Dengan jnana dia tangkil ke Pura Dalem dan sebagainya, makanya cakra-cakranya hidup. Nah, kekuatan dari cakra-cakra itu kemudian bisa muncul seperti api atau sinar yang bisa ke sana-kemari,” tandasnya. 


Most Read

Artikel Terbaru

/