alexametrics
26.5 C
Denpasar
Sunday, August 14, 2022

Sang Hyang Jaran Netralisasi Bumi yang Disharmoni Akibat Wabah

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Tari Sang Hyang Jaran merupakan salah satu tarian sakral khas masyarakat Bungkulan, terkhusus masyarakat Banjar Badung, Buleleng. Tarian ini memiliki makna spiritualitas dan religiusitas yang tinggi bagi pangemponnya, apalagi ada kidung khusus bernuansa magis mengiringi pementasan. 

Kidung pengantar sasolahan Sang Hyang Jaran terdengar dengan tempo dan koor yang semakin cepat terlantun.

Dari mulut Nyoman Witarsa, Klian Banjar Adat Badung, Desa Bungkulan, Buleleng, mengalir deras bait demi bait laksana mantra yang syairnya berbunyi : Jaran Dauk angonsng ka Tegallinggah. Kalahin icing mangarit padang. Karengseng kadembwang jagjagin, Jarane ilang. Jaran Dauk sasirikan maakin banyu. Ikang banyu aruk tiang nunas ica. Gendong langke Jaran Dauk. 

Kidung itulah yang digunakan untuk memanggil roh suci Sang Hyang Jaran untuk merasuk ke dalam raga sang penari. 

Tarian ini biasanya dipentaskan bertepatan dengan upacara Nangluk Merana pada Purnama Sasih Kaenem yang biasanya sudah memasuki musim pancaroba. Penyebaran penyakit pun dengan mudah menelusup di setiap inci hidup manusia. 

Perubahan musim yang ekstrem ini pun kerap memunculkan wabah. Entah wabah lama yang kembali menyerang maupun wabah baru yang perlahan mulai menjalar.

Tarian Sang Hyang Jaran inilah yang ditedunkan atau napak pertiwi oleh masyarakat Banjar Badung untuk mencegah penyebaran penyakit atau wabah. 

Masyarakat percaya dengan menedunkan Sang Hyang Jaran mampu menetralisasi bumi yang mengalami ketidakseimbangan (disharmoni) akibat serangan wabah penyakit. 

Tari Sang Hyang Jaran yang berkembang di Banjar Badung, Bungkulan, memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan Sang Hyang Jaran di daerah lain, terutama Bali Selatan. 

Dalam ritual Tari Sang Hyang Jaran di Bali Selatan, penari biasanya menunggangi seekor kuda yang terbuat dari anyaman bambu. Sementara Tari Sang Hyang Jaran yang ada di Desa Bungkulan tidak menggunakan properti apapun. 

Kostum yang digunakan juga cukup sederhana. Penari yang biasanya dipilih berdasarkan keturunan ini, hanya menggunakan badong, ampok-ampok, gongseng di tangan dan kaki, tanpa menggunakan baju. 

Selain itu, pada tangan kanan penari juga ditutupi bambu. Hiasan lainnya terdapat pada dahi, kedua lengan, dada dan punggung sang penari. Bagian-bagian tubuh ini diolesi kapur sirih (pamor) dengan bentuk Swastika atau tapak dara. 

Di samping itu, penari hanya menggunakan celana berwarna gelap. “Sebelum menari diolesi pamor. Bentuknya tapak dara. Tapak dara itu kan berasal dari Swastika, simbol kemakmuran,” jelas Klian Banjar Badung Nyoman Witarsa, pekan kemarin.

Sebelum pementasan dimulai, para panglingsir terlebih dulu melakukan persembahyangan di Pura Dalem Puri Desa Bungkulan untuk memohon izin dan restu akan dilaksanakan pementasan Sang Hyang Jaran.

Kemudian pada sore hari persiapan pementasan mulai dilakukan. Para panglingsir serta penari Sang Hyang Jaran dituntun menuju pertigaan tepat pada pamedal atau pintu keluar Pura Dalem Puri. 

Baca Juga :  Pura Tamansari Agung Kerobokan; Bila Diberkati Tirta Bisa Bercahaya

Dengan didampingi seorang pemangku atau pemuka agama, penari kembali melakukan persembahyangan untuk memanggil roh kuda untuk merasuk ke raganya. 

Dengan duduk bersila, di depan sang penari telah disiapkan bara api yang ditempatkan dalam sebuah pasepan di atas sebuah dulang. 

Sekaa gending pun mulai melakukan tugasnya. Mereka yang terdiri dari ibu-ibu, bapak-bapak dan sekaa teruna-teruni melantunkan nyanyian suci atau kidung pemangil roh kuda. Semakin lama bait-bait lagu dibawakan dengan tempo yang kian cepat. Lagu yang dinyanyikan terus terngiang, semakin cepat, tanpa henti dan tanpa terputus.

“Lagunya nyambung terus. Tidak boleh berhenti. Ada 15 lagu kalau tidak salah. Kalau 15 lagu itu habis, maka carikan lagu lain seperti Pupuh Jerum dan yang lainnya,” terang Witarsa.

Biasanya jika sang penari telah dirasuki roh kuda, kepalanya mulai mengangguk-angguk. Tubuhnya mulai bergejolak layaknya seekor kuda. Semakin lama gerakan itu semakin menjadi. 

Sang penari akan menjulur kedepan dan meraih bara api yang disiapkan secara membabi buta. Seketika penari mulai tak sadarkan diri dan jatuh terbaring di tengah arena pementasan. Kondisi terbaring sang penari menandakan pementasan akan segera dimulai.

Sekaa gending kembali melantunkan bait demi bait untuk mengiringi Sang Hyang Jaran napak pertiwi. Sang Hyang Jaran baru akan beraksi ketika lagu sudah dimulai. 

Kakidungan yang digunakan adalah kidung khas yang hanya ada di Banjar Badung. Setidaknya terdapat sembilan bagian kakidungan yang masing-masing terdiri 3 hingga 8 bait.

Bagian pertama merupakan bagian penuntun, yang dinyanyikan saat prosesi pemanggilan roh Sang Hyang Jaran. Bagian kedua berjudul Ketut Bangun, ketiga Ketut Jalan Luas, keempat Men Brayut, kelima Nyrengseng Kauh, keenam Ketut Jalan Singgah, ketujuh Ajar-Ujur, kedelapan Ketut Elingan Tyang, dan ditutup dengan Sami Pada Girang.

Dari rangkaian judul-judul kidung tersebut dapat ditafsirkan bahwa Ketut panggilan Sang Hyang Jaran dibangunkan untuk diajak maliang-liang atau melila cita atau jalan-jalan, kemudian diakhiri dengan harapan semua senang, bahagia (pada girang).

Lagu terus terlantun. ‘Tiang mengawi gending makumpulan cerik-cerik. Buduh magending. Sang Hyang tuara side baan mamupuh. Mupuh sakeng tembang saking tiang mapongahin.’

Pada lagu ini Sang Hyang Jaran akan lebih enerjik lagi. Bisa dikatakan puncak kegirangan ada pada bagian lagu ini. Maka gerakannya pun sangat cepat dan bertenaga. “Pada lagu ini selalu terlihat sangat cepat. Gerakannya sangat kuat. Seperti sangat bahagia,” ujarnya.

Roh suci Sang Hyang Jaran diperlakukan bak teman atau adik yang sedang diajak bermain dengan panggilan khasnya Ketut. Kesederhanaan liriknya juga dapat dilihat dari beberapa nama orang asli Banjar Badung yang disebutkan dalam beberapa baitnya seperti, Made Toya, I Cikra, I Sedana, Ketut Armaya, Made Darwi, I Sudika, Luh Perami dan sebagainya. 

Kesederhaan ini dapat dipahami sebagai salah satu ritual yang dekat dengan masyarakat, mudah dipahami, dan ritual yang cukup merakyat.

Baca Juga :  Bumi Adalah Ibu yang Pantang Dikotori

Witarsa menambahkan, ada dua jenis jaran atau kuda yang konon diempon masyarakat Banjar Badung sebagai tradisi sakral. Ada Jaran Gadang dan Jarang Gading atau Dauk. 

Jaran Gadang berstana di Pura Dalem Purwa, sementara Jaran Dauk berstana di Pura Dalem Puri. Keduanya memiliki karakter yang berbeda. 

Jaran Gadang lebih agresif dibandingkan Jaran Dauk. Jika tedun, Jaran Gadang tak segan-segan menerobos apapun yang ada di hadapannya. Kekuatannya pun sangat dahsyat. 

“Pernah dahulu menuntun Jaran Gadang. Sangat melelahkan menghadapi beliau. Tenaganya sangat kuat. Tidak kuat karena agresifnya beliau. Sempat Sang Hyang Jaran Gadang saat tedun berlarian sampai ke banjar lain secara membabi buta. Batu-batu dengan ukuran besar dapat diangkat lalu dilempar. Tidak segan-segan menyeruduk apa saja,” jelasnya.

Karena agresif dan kuatnya tenaga Sang Hyang Jaran Gadang, maka panglingsir memutuskan untuk menuntun Sang Hyang Jaran Dauk atau Gading, karena memiliki karkter lebih kalem dari Sang Hyang Jaran Gadang. 

“Kalau Jaran Dauk sebenarnya agresif juga. Tapi tidak seperti Jaran Gadang.  Ini lebih kalem dan bisa diatasi. Makanya kami putuskan untuk tuntun Jaran Dauk untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” ucapnya.

Ketika pentas, Sang Hyang Jaran terkadang menuju ke arah Padmasana. Ia meliuk-liuk layaknya seekor kuda yang tengah merasa lapar. Ketika hal itu dilakukan, dengan sigap para pangayah menyiapkan sarana yang disebut Ajengan. 

Sarana tersebut dibawa ke tengah arena untuk dihidangkan kepada Sang Hyang Jaran. Pada sajian tersebut terpampang Ajengan berupa nasi warna berbentuk kuda. 

Sejenak sang penari mengintai sesajian tersebut dan dengan seketika melahap nasi warna itu. Saat sang penari menikmati Ajengan itu, sekaa gending dapat melakukan rehat sebelum sesi berikutnya dimulai. 

Usai menyantap makanannya, sang penari akan tebaring. “Kalau saat makan, ada jeda waktu tukang gending untuk istirahat. Biasanya selesai makan, penari akan berbaring. Kalau kuda habis makan, kenyang kan berbaring. Seperti itulah gambarannya,” jelas Witarsa.

Ketika waktu istirahat dirasa cukup, sesi berikutnya dimuai. Sang penari perlahan bangun kembali. Sekaa gending kembali melantunkan nyanyian suci atau kakidungan Sang Hyang Jaran. 

Pada sesi kedua ini tenaga Sang Hyang Jaran lebih kuat. Penari menjadi lebih agresif dan bahkan tak ragu menerobos barisan krama yang betugas. Tidak hanya itu, Sang Hyang Jaran sangat sensitif terhadap cahaya. Kerlip cahaya sekecil apapun mampu diketahui. 

Jika ada yang melakukannya, tak tanggung-tanggung, maka akan diterjang tanpa basa-basi. Maka tak heran jika pementasannya dilakukan dalam suasana gelap. Hanya cahaya dari Sang Hyang Candra yang mampu menyinari pementasan tersebut, serta hembusan Sang Hyang Bayu yang menambah kekhusyukan pementasan Sang Hyang Jaran. 


SINGARAJA, BALI EXPRESS – Tari Sang Hyang Jaran merupakan salah satu tarian sakral khas masyarakat Bungkulan, terkhusus masyarakat Banjar Badung, Buleleng. Tarian ini memiliki makna spiritualitas dan religiusitas yang tinggi bagi pangemponnya, apalagi ada kidung khusus bernuansa magis mengiringi pementasan. 

Kidung pengantar sasolahan Sang Hyang Jaran terdengar dengan tempo dan koor yang semakin cepat terlantun.

Dari mulut Nyoman Witarsa, Klian Banjar Adat Badung, Desa Bungkulan, Buleleng, mengalir deras bait demi bait laksana mantra yang syairnya berbunyi : Jaran Dauk angonsng ka Tegallinggah. Kalahin icing mangarit padang. Karengseng kadembwang jagjagin, Jarane ilang. Jaran Dauk sasirikan maakin banyu. Ikang banyu aruk tiang nunas ica. Gendong langke Jaran Dauk. 

Kidung itulah yang digunakan untuk memanggil roh suci Sang Hyang Jaran untuk merasuk ke dalam raga sang penari. 

Tarian ini biasanya dipentaskan bertepatan dengan upacara Nangluk Merana pada Purnama Sasih Kaenem yang biasanya sudah memasuki musim pancaroba. Penyebaran penyakit pun dengan mudah menelusup di setiap inci hidup manusia. 

Perubahan musim yang ekstrem ini pun kerap memunculkan wabah. Entah wabah lama yang kembali menyerang maupun wabah baru yang perlahan mulai menjalar.

Tarian Sang Hyang Jaran inilah yang ditedunkan atau napak pertiwi oleh masyarakat Banjar Badung untuk mencegah penyebaran penyakit atau wabah. 

Masyarakat percaya dengan menedunkan Sang Hyang Jaran mampu menetralisasi bumi yang mengalami ketidakseimbangan (disharmoni) akibat serangan wabah penyakit. 

Tari Sang Hyang Jaran yang berkembang di Banjar Badung, Bungkulan, memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan Sang Hyang Jaran di daerah lain, terutama Bali Selatan. 

Dalam ritual Tari Sang Hyang Jaran di Bali Selatan, penari biasanya menunggangi seekor kuda yang terbuat dari anyaman bambu. Sementara Tari Sang Hyang Jaran yang ada di Desa Bungkulan tidak menggunakan properti apapun. 

Kostum yang digunakan juga cukup sederhana. Penari yang biasanya dipilih berdasarkan keturunan ini, hanya menggunakan badong, ampok-ampok, gongseng di tangan dan kaki, tanpa menggunakan baju. 

Selain itu, pada tangan kanan penari juga ditutupi bambu. Hiasan lainnya terdapat pada dahi, kedua lengan, dada dan punggung sang penari. Bagian-bagian tubuh ini diolesi kapur sirih (pamor) dengan bentuk Swastika atau tapak dara. 

Di samping itu, penari hanya menggunakan celana berwarna gelap. “Sebelum menari diolesi pamor. Bentuknya tapak dara. Tapak dara itu kan berasal dari Swastika, simbol kemakmuran,” jelas Klian Banjar Badung Nyoman Witarsa, pekan kemarin.

Sebelum pementasan dimulai, para panglingsir terlebih dulu melakukan persembahyangan di Pura Dalem Puri Desa Bungkulan untuk memohon izin dan restu akan dilaksanakan pementasan Sang Hyang Jaran.

Kemudian pada sore hari persiapan pementasan mulai dilakukan. Para panglingsir serta penari Sang Hyang Jaran dituntun menuju pertigaan tepat pada pamedal atau pintu keluar Pura Dalem Puri. 

Baca Juga :  Pura Tamansari Agung Kerobokan; Bila Diberkati Tirta Bisa Bercahaya

Dengan didampingi seorang pemangku atau pemuka agama, penari kembali melakukan persembahyangan untuk memanggil roh kuda untuk merasuk ke raganya. 

Dengan duduk bersila, di depan sang penari telah disiapkan bara api yang ditempatkan dalam sebuah pasepan di atas sebuah dulang. 

Sekaa gending pun mulai melakukan tugasnya. Mereka yang terdiri dari ibu-ibu, bapak-bapak dan sekaa teruna-teruni melantunkan nyanyian suci atau kidung pemangil roh kuda. Semakin lama bait-bait lagu dibawakan dengan tempo yang kian cepat. Lagu yang dinyanyikan terus terngiang, semakin cepat, tanpa henti dan tanpa terputus.

“Lagunya nyambung terus. Tidak boleh berhenti. Ada 15 lagu kalau tidak salah. Kalau 15 lagu itu habis, maka carikan lagu lain seperti Pupuh Jerum dan yang lainnya,” terang Witarsa.

Biasanya jika sang penari telah dirasuki roh kuda, kepalanya mulai mengangguk-angguk. Tubuhnya mulai bergejolak layaknya seekor kuda. Semakin lama gerakan itu semakin menjadi. 

Sang penari akan menjulur kedepan dan meraih bara api yang disiapkan secara membabi buta. Seketika penari mulai tak sadarkan diri dan jatuh terbaring di tengah arena pementasan. Kondisi terbaring sang penari menandakan pementasan akan segera dimulai.

Sekaa gending kembali melantunkan bait demi bait untuk mengiringi Sang Hyang Jaran napak pertiwi. Sang Hyang Jaran baru akan beraksi ketika lagu sudah dimulai. 

Kakidungan yang digunakan adalah kidung khas yang hanya ada di Banjar Badung. Setidaknya terdapat sembilan bagian kakidungan yang masing-masing terdiri 3 hingga 8 bait.

Bagian pertama merupakan bagian penuntun, yang dinyanyikan saat prosesi pemanggilan roh Sang Hyang Jaran. Bagian kedua berjudul Ketut Bangun, ketiga Ketut Jalan Luas, keempat Men Brayut, kelima Nyrengseng Kauh, keenam Ketut Jalan Singgah, ketujuh Ajar-Ujur, kedelapan Ketut Elingan Tyang, dan ditutup dengan Sami Pada Girang.

Dari rangkaian judul-judul kidung tersebut dapat ditafsirkan bahwa Ketut panggilan Sang Hyang Jaran dibangunkan untuk diajak maliang-liang atau melila cita atau jalan-jalan, kemudian diakhiri dengan harapan semua senang, bahagia (pada girang).

Lagu terus terlantun. ‘Tiang mengawi gending makumpulan cerik-cerik. Buduh magending. Sang Hyang tuara side baan mamupuh. Mupuh sakeng tembang saking tiang mapongahin.’

Pada lagu ini Sang Hyang Jaran akan lebih enerjik lagi. Bisa dikatakan puncak kegirangan ada pada bagian lagu ini. Maka gerakannya pun sangat cepat dan bertenaga. “Pada lagu ini selalu terlihat sangat cepat. Gerakannya sangat kuat. Seperti sangat bahagia,” ujarnya.

Roh suci Sang Hyang Jaran diperlakukan bak teman atau adik yang sedang diajak bermain dengan panggilan khasnya Ketut. Kesederhanaan liriknya juga dapat dilihat dari beberapa nama orang asli Banjar Badung yang disebutkan dalam beberapa baitnya seperti, Made Toya, I Cikra, I Sedana, Ketut Armaya, Made Darwi, I Sudika, Luh Perami dan sebagainya. 

Kesederhaan ini dapat dipahami sebagai salah satu ritual yang dekat dengan masyarakat, mudah dipahami, dan ritual yang cukup merakyat.

Baca Juga :  PHDI Berharap Nyepi Jadi Contoh Dunia

Witarsa menambahkan, ada dua jenis jaran atau kuda yang konon diempon masyarakat Banjar Badung sebagai tradisi sakral. Ada Jaran Gadang dan Jarang Gading atau Dauk. 

Jaran Gadang berstana di Pura Dalem Purwa, sementara Jaran Dauk berstana di Pura Dalem Puri. Keduanya memiliki karakter yang berbeda. 

Jaran Gadang lebih agresif dibandingkan Jaran Dauk. Jika tedun, Jaran Gadang tak segan-segan menerobos apapun yang ada di hadapannya. Kekuatannya pun sangat dahsyat. 

“Pernah dahulu menuntun Jaran Gadang. Sangat melelahkan menghadapi beliau. Tenaganya sangat kuat. Tidak kuat karena agresifnya beliau. Sempat Sang Hyang Jaran Gadang saat tedun berlarian sampai ke banjar lain secara membabi buta. Batu-batu dengan ukuran besar dapat diangkat lalu dilempar. Tidak segan-segan menyeruduk apa saja,” jelasnya.

Karena agresif dan kuatnya tenaga Sang Hyang Jaran Gadang, maka panglingsir memutuskan untuk menuntun Sang Hyang Jaran Dauk atau Gading, karena memiliki karkter lebih kalem dari Sang Hyang Jaran Gadang. 

“Kalau Jaran Dauk sebenarnya agresif juga. Tapi tidak seperti Jaran Gadang.  Ini lebih kalem dan bisa diatasi. Makanya kami putuskan untuk tuntun Jaran Dauk untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” ucapnya.

Ketika pentas, Sang Hyang Jaran terkadang menuju ke arah Padmasana. Ia meliuk-liuk layaknya seekor kuda yang tengah merasa lapar. Ketika hal itu dilakukan, dengan sigap para pangayah menyiapkan sarana yang disebut Ajengan. 

Sarana tersebut dibawa ke tengah arena untuk dihidangkan kepada Sang Hyang Jaran. Pada sajian tersebut terpampang Ajengan berupa nasi warna berbentuk kuda. 

Sejenak sang penari mengintai sesajian tersebut dan dengan seketika melahap nasi warna itu. Saat sang penari menikmati Ajengan itu, sekaa gending dapat melakukan rehat sebelum sesi berikutnya dimulai. 

Usai menyantap makanannya, sang penari akan tebaring. “Kalau saat makan, ada jeda waktu tukang gending untuk istirahat. Biasanya selesai makan, penari akan berbaring. Kalau kuda habis makan, kenyang kan berbaring. Seperti itulah gambarannya,” jelas Witarsa.

Ketika waktu istirahat dirasa cukup, sesi berikutnya dimuai. Sang penari perlahan bangun kembali. Sekaa gending kembali melantunkan nyanyian suci atau kakidungan Sang Hyang Jaran. 

Pada sesi kedua ini tenaga Sang Hyang Jaran lebih kuat. Penari menjadi lebih agresif dan bahkan tak ragu menerobos barisan krama yang betugas. Tidak hanya itu, Sang Hyang Jaran sangat sensitif terhadap cahaya. Kerlip cahaya sekecil apapun mampu diketahui. 

Jika ada yang melakukannya, tak tanggung-tanggung, maka akan diterjang tanpa basa-basi. Maka tak heran jika pementasannya dilakukan dalam suasana gelap. Hanya cahaya dari Sang Hyang Candra yang mampu menyinari pementasan tersebut, serta hembusan Sang Hyang Bayu yang menambah kekhusyukan pementasan Sang Hyang Jaran. 


Most Read

Artikel Terbaru

/