alexametrics
27.8 C
Denpasar
Sunday, June 26, 2022

Banjar Nesa Kembali Gelar Mapeed

KLUNGKUNG, BALI EXPRESS- Ratusan ibu-ibu krama Banjar Adat Nesa antusias berjalan berbaris dengan banten gebogan di atas kepala ikuti prosesi Mapeed. Tradisi ini sehubungan dengan karya Pujawali Nyatur di Pura Desa Baleagung Pura Kangin, Banjar Adat Nesa, Desa Adat Banjarangkan, Klungkung, Kamis (9/6) sore.

Prajuru Adat Banjar Nesa Anak Agung Gede Ngurah Astawa Putra mengatakan, tradisi Mapeed ini digelar baru pertama kali setelah sekian tahun terhenti. Ia menjelaskan, Mapeed dimaknai sebagai wujud rasa syukur warga adat setempat atas anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

“Tradisi ini sudah ada sejak turun-temurun, namun sekian lama tak digelar. Saat ini digelar lagi karena dikaitkan dengan upacara Nyatur. Kami berupaya bangkitkan lagi tetamian-tetamian yang ada di Pura Kangin, maka tradisi ini dilaksanakan kembali,” ujar Anak Agung Gede Ngurah Astawa.

Krama atau warga adat di Banjar Nesa berjalan beriringan dari balai banjar menuju area Pura Bale Agung Pura Kangin, diawali dengan menghaturkan pujawali di Balai Banjar dan mendak Ida Penyarikan.

“Mapeed Banten Gebogan ini pun menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat sekitar maupun pengendara yang melintas di Jalan Raya Banjarangkan,” ucapnya.

Setelah menggelar Mapeed dilanjutkan dengan menghaturkan pujawali Nyatur diiringi dengan Tari Rejang Dewa, Rejang Sari, Rejang Kesari dan Tari Baris Gede.

“Pujawali dilaksanakan setiap enam bulan sekali bertepatan dengan Umanis Galungan, setiap satu tahun sekali dilaksanakan upacara Nyatur yang mana upakaranya cukup besar,” jelasnya.

 






Reporter: AGUS EKA PURNA NEGARA

KLUNGKUNG, BALI EXPRESS- Ratusan ibu-ibu krama Banjar Adat Nesa antusias berjalan berbaris dengan banten gebogan di atas kepala ikuti prosesi Mapeed. Tradisi ini sehubungan dengan karya Pujawali Nyatur di Pura Desa Baleagung Pura Kangin, Banjar Adat Nesa, Desa Adat Banjarangkan, Klungkung, Kamis (9/6) sore.

Prajuru Adat Banjar Nesa Anak Agung Gede Ngurah Astawa Putra mengatakan, tradisi Mapeed ini digelar baru pertama kali setelah sekian tahun terhenti. Ia menjelaskan, Mapeed dimaknai sebagai wujud rasa syukur warga adat setempat atas anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

“Tradisi ini sudah ada sejak turun-temurun, namun sekian lama tak digelar. Saat ini digelar lagi karena dikaitkan dengan upacara Nyatur. Kami berupaya bangkitkan lagi tetamian-tetamian yang ada di Pura Kangin, maka tradisi ini dilaksanakan kembali,” ujar Anak Agung Gede Ngurah Astawa.

Krama atau warga adat di Banjar Nesa berjalan beriringan dari balai banjar menuju area Pura Bale Agung Pura Kangin, diawali dengan menghaturkan pujawali di Balai Banjar dan mendak Ida Penyarikan.

“Mapeed Banten Gebogan ini pun menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat sekitar maupun pengendara yang melintas di Jalan Raya Banjarangkan,” ucapnya.

Setelah menggelar Mapeed dilanjutkan dengan menghaturkan pujawali Nyatur diiringi dengan Tari Rejang Dewa, Rejang Sari, Rejang Kesari dan Tari Baris Gede.

“Pujawali dilaksanakan setiap enam bulan sekali bertepatan dengan Umanis Galungan, setiap satu tahun sekali dilaksanakan upacara Nyatur yang mana upakaranya cukup besar,” jelasnya.

 






Reporter: AGUS EKA PURNA NEGARA

Most Read

Artikel Terbaru

/