alexametrics
25.4 C
Denpasar
Wednesday, August 17, 2022

Masaba Mapag Yeh untuk Halau Wabah

BADUNG, BALI EXPRESS- Masyarakat Desa Adat Sandakan, Desa Sulangai, Kecamatan Petang, Badung rutin melaksanakan upacara Masaba Mapag Yeh sebagai bentuk syukur atas panen padi. Upacara ini pun terus dilaksanakan saat mulai membuka aliran air untuk persawahan.

Bendesa Adat Sandakan Ida Bagus Nata Manuaba menyatakan, adanya upacara Masaba Mapag Yeh tak bisa dipisahkan dengan Tari Baris Kekuung. Namun dirinya tidak mengetahui secara pasti kapan pertama kalinya upacara ini dilaksanakan.

Menurutnya, lokasi upacara berada di areal sawah, tepatnya pada tempat pemisahan sumber air yang akan mengaliri sawah utara dan selatan. Selain untuk mengucapkan rasa syukur,  upacara ini juga dipercaya dapat menghalau wabah penyakit yang dapat merusak tanaman.

“Sampai saat ini pun upacara itu masih dilaksanakan. Dengan tidak adanya wabah yang menyerang padi, hasil panen di Sandakan pun terkenal,” ungkap Nata Manuaba, kemarin.

Baca Juga :  Curi Motor di Pupuan, Suara Sembunyi di Perkebunan

Dalam upacara tersebut, terang Nata Manuaba, akan dihaturkan satu ekor babi guling. Upacara ini awalnya hanya dilaksanakan dari krama Subak Sandakan. Namun seiring berjalannya waktu, upacara ini digelar oleh desa adat setempat.

“Guling itu akan dicincang setelah upacara, kemudian dipersembahkan ke air. Agar airnya bagus,” terangnya.

Terkait Tari Baris Kekuung, Ia menjelaskan, dipentaskan oleh minimal 10 orang. Tarian ini biasanya dibawakan oleh masyarakat yang tulus untuk ngayah. Mereka menggunakan gelungan (hiasan kepala) dari sate kekuung yang terbuat dari lemak babi, kemudian kalung berupa urutan babi, dan anting yang berasal dari daging babi.

“Penari ini merupakan mereka yang memiliki keinginan untuk ngayah, biasanya juga spontan mereka langsung menari. Kemudian akan diberikan beberapa hiasan untuk menari. Kalau dahulu biasanya yang menari akan melepas baju,” jelasnya.

Baca Juga :  Panganyar Kabupaten Jembrana Tutup Pujawali Ida Bhatara Turun Kabeh

Lebih lanjut Nata Manuaba menambahkan, Tari Baris Kekuung ini dipentaskan saat akhir dari upacara. Dari upacara tersebut daging babi guling akan dicincang dan dilemparkan ke aliran sungai. Nantinya para penari berebut untuk menyantap daging babi tersebut.

“Saat daging dilempar, para penari akan berhamburan terjun ke air. Daging yang didapat akan dimakan dan kalau lebih ada yang akan membawa pulang,” imbuhnya.

 






Reporter: I Putu Resa Kertawedangga

BADUNG, BALI EXPRESS- Masyarakat Desa Adat Sandakan, Desa Sulangai, Kecamatan Petang, Badung rutin melaksanakan upacara Masaba Mapag Yeh sebagai bentuk syukur atas panen padi. Upacara ini pun terus dilaksanakan saat mulai membuka aliran air untuk persawahan.

Bendesa Adat Sandakan Ida Bagus Nata Manuaba menyatakan, adanya upacara Masaba Mapag Yeh tak bisa dipisahkan dengan Tari Baris Kekuung. Namun dirinya tidak mengetahui secara pasti kapan pertama kalinya upacara ini dilaksanakan.

Menurutnya, lokasi upacara berada di areal sawah, tepatnya pada tempat pemisahan sumber air yang akan mengaliri sawah utara dan selatan. Selain untuk mengucapkan rasa syukur,  upacara ini juga dipercaya dapat menghalau wabah penyakit yang dapat merusak tanaman.

“Sampai saat ini pun upacara itu masih dilaksanakan. Dengan tidak adanya wabah yang menyerang padi, hasil panen di Sandakan pun terkenal,” ungkap Nata Manuaba, kemarin.

Baca Juga :  Agung Suryawan Siap Gelar Walikota Cup 2020

Dalam upacara tersebut, terang Nata Manuaba, akan dihaturkan satu ekor babi guling. Upacara ini awalnya hanya dilaksanakan dari krama Subak Sandakan. Namun seiring berjalannya waktu, upacara ini digelar oleh desa adat setempat.

“Guling itu akan dicincang setelah upacara, kemudian dipersembahkan ke air. Agar airnya bagus,” terangnya.

Terkait Tari Baris Kekuung, Ia menjelaskan, dipentaskan oleh minimal 10 orang. Tarian ini biasanya dibawakan oleh masyarakat yang tulus untuk ngayah. Mereka menggunakan gelungan (hiasan kepala) dari sate kekuung yang terbuat dari lemak babi, kemudian kalung berupa urutan babi, dan anting yang berasal dari daging babi.

“Penari ini merupakan mereka yang memiliki keinginan untuk ngayah, biasanya juga spontan mereka langsung menari. Kemudian akan diberikan beberapa hiasan untuk menari. Kalau dahulu biasanya yang menari akan melepas baju,” jelasnya.

Baca Juga :  Panganyar Kabupaten Jembrana Tutup Pujawali Ida Bhatara Turun Kabeh

Lebih lanjut Nata Manuaba menambahkan, Tari Baris Kekuung ini dipentaskan saat akhir dari upacara. Dari upacara tersebut daging babi guling akan dicincang dan dilemparkan ke aliran sungai. Nantinya para penari berebut untuk menyantap daging babi tersebut.

“Saat daging dilempar, para penari akan berhamburan terjun ke air. Daging yang didapat akan dimakan dan kalau lebih ada yang akan membawa pulang,” imbuhnya.

 






Reporter: I Putu Resa Kertawedangga

Most Read

Artikel Terbaru

/