alexametrics
26.5 C
Denpasar
Friday, August 12, 2022

Pura Teluk Terima Saksi Cinta Mati Jayaprana-Layonsari

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Bagi penekun sprititual, keberadaan Pura Teluk Terima yang terletak di wilayah hutan Teluk Terima, Desa Sumberkelampok, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, bukanlah tempat yang asing. Keberadaan pura ini tak lepas dari makam Nyoman Jayaprana dan Ni Layonsari, yang kisah romansanya abadi, seperti kisah Romeo-Juliet di Eropa, dan Sampek-Engthai di Negeri Tiongkok.

BALI Express (Jawa Pos Group) beberapa waktu lalu nangkil ke pura yang jaraknya sekitar 67 kilometer sebelah barat Kota Singaraja. Pura yang pujawalinya bertepatan dengan Anggara Kasih Wuku Kulantir ini,  selalu ramai dikunjungi pamedek dari berbagai penjuru wilayah. Bahkan, tidak hanya datang dari Bali saja. Tetapi juga dari Jawa hingga Lombok (Nusa Tenggara Barat).

Untuk menjangkau pura ini memang butuh tenaga ekstra. Sebab, pamedek harus berjalan kaki menaiki anak tangga yang jumlahnya ribuan. Namun rasa lelah akan hilang jika sudah berada di atas bukit. Sebab menyuguhkan pemandangan hamparan laut di Teluk Terima yang begitu indah, disertai semilir angin yang berhembus antara pohon-pohon tropis. Suasana yang langsung membuat tubuh terasa segar, setelah berjalan ratusan meter dari jalan raya.

Ada dua areal pura kawasan suci di Pura Teluk Terima ini. Yakni kawasan Pura Taman Beji yang posisinya berdekatan dengan makam Nyoman Jayaprana, dan kawasan di puncak yang terdapat palinggih berupa patung Jayaprana dan Layonsari.

Khusus di kawasan Pura Taman Beji, terdapat sejumlah palinggih. Areal ini berjarak sekitar 500 meter dari kawasan Pura Puncak. Krama yang hendak nangkil harus rela berjalan kaki di tengah hutan Teluk Terima dengan menuruni ratusan anak tangga.

Baca Juga :  Meminimalkan Sampah Plastik dari Sarana Upakara

Di sepanjang jalan, pamedek akan melihat kawanan kera yang kerap berebut makanan dari sisa sesajen. Pun suara kicuan beragam jenis burung di hutan akan menemani sepanjang perjalanan wisata spiritual.

Dijelaskan Jero Mangku Putu Yasa, 44, kawasan Pura Taman Beji memang dijadikan tempat untuk malukat oleh para pamedek. Di kawasan ini terdapat sejumlah palinggih. Seperti Palinggih Dewa Ayu Taman, Palinggih Kakiang Lingsir, serta kuburan Jayaprana.

“Konon menurut cerita para pendahulu yang tiang (saya) terima, di areal (Pura Taman Beji) beliau (Nyoman Jayaprana) dibunuh dan dikubur di sini,” ujar Mangku Putu Yasa kepada Bali Express (Jawa Pos Group) belum lama ini.

Lanjut Mangku Yasa, jika merujuk dari Geguritan Jayaprana dan Layonsari, dikisahkan ada pasangan suami istri di Desa Kalianget memiliki dua orang anak laki-laki dan satu perempuan. Namun, karena adanya wabah penyakit menimpa desa tersebut, empat orang keluarga tersebut meninggal, dan hanya tersisa seorang laki-laki paling bungsu bernama Nyoman Jayaprana.

Lantaran menjadi seorang anak yatim piatu, Jayaprana kecil memberanikan diri untuk datang dan mengabdi ke istana. Dia sangat rajin, sehingga membuat Raja Kalianget sangat mengasihi dan menyayanginya.

Singkat cerita, Jayaprana tumbuh besar. Dalam usianya yang sudah belasan tahun, sudah terlihat parasnya yang rupawan dan senyumnya yang manis. Suatu hari raja menitahkan agar Jayaprana memilih salah satu dayang-dayang ataupun gadis di luar istana untuk dijadikan sebagai pendamping hidup. Walaupun dia belum ada niat untuk mencari istri karena masih belia, namun dia tidak kuasa menolak.

Baca Juga :  Jasad Jero Mangku Diarak seperti Orang Kesurupan di Lepang, Klungkung

Pada akhirnya Jayaprana menemukan tambatan hatinya seorang gadis jelita bernama Ni Layonsari. Ia adalah putri dari jero bendesa dari wilayah Banjar Sekar. Menerima laporan dari Jayaprana, sang raja menulis sepucuk surat kepada jero bendesa, dan bendesa tersebut setuju.

Hingga akhirnya keduanya sepakat untuk melangsukan upacara pernikahaan. Pada saat menghadap raja, mereka menyembah dengan hormat kepada Sri Baginda Raja, raja terdiam seribu bahasa dan terpesona melihat kecantikan Ni Layonsari.

Setelah acara pernikahan mereka selesai dan kedua sejoli kembali ke rumahnya. Sang raja mengumpulkan semua abdinya meminta pertimbangan untuk memisahkan pasangan tersebut, agar Ni Layonsari bisa menjadi istrinya. Dikatakan kalau tidak, maka raja bisa mangkat karena dirundung kesedihan. Maka setelah berbagai saran dan pertimbangan, maka raja mengeluarkan titah agar Jayaprana pergi ke wilayah Teluk Terima untuk menyelidiki perahu yang hancur karena perompak.

Melalui titah raja tersebut, walaupun baru tujuh hari berbulan madu, Jayaprana tidak bisa menolak titah raja itu. Walaupun sebenarnya tidak disetujui istrinya, karena dia sangat menyintai Jayaprana. Apalagi ada firasat buruk hadir dalam mimpi sang istri.

Akhirnya istrinya hanya bisa pasrah dan berdoa agar suaminya selamat menunaikan tugas raja tersebut. Dalam perjalanan dengan rombongan, Jayaprana sering mendapat firasat buruk, dan tahu kalau dirinya akan dibinasakan. Benar saja, Jayaprana akhirnya dibunuh oleh Patih Sawunggaling di wilayah Teluk Terima. “Nah di areal inilah diyakini kuburan beliau,” jelasnya.


SINGARAJA, BALI EXPRESS-Bagi penekun sprititual, keberadaan Pura Teluk Terima yang terletak di wilayah hutan Teluk Terima, Desa Sumberkelampok, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, bukanlah tempat yang asing. Keberadaan pura ini tak lepas dari makam Nyoman Jayaprana dan Ni Layonsari, yang kisah romansanya abadi, seperti kisah Romeo-Juliet di Eropa, dan Sampek-Engthai di Negeri Tiongkok.

BALI Express (Jawa Pos Group) beberapa waktu lalu nangkil ke pura yang jaraknya sekitar 67 kilometer sebelah barat Kota Singaraja. Pura yang pujawalinya bertepatan dengan Anggara Kasih Wuku Kulantir ini,  selalu ramai dikunjungi pamedek dari berbagai penjuru wilayah. Bahkan, tidak hanya datang dari Bali saja. Tetapi juga dari Jawa hingga Lombok (Nusa Tenggara Barat).

Untuk menjangkau pura ini memang butuh tenaga ekstra. Sebab, pamedek harus berjalan kaki menaiki anak tangga yang jumlahnya ribuan. Namun rasa lelah akan hilang jika sudah berada di atas bukit. Sebab menyuguhkan pemandangan hamparan laut di Teluk Terima yang begitu indah, disertai semilir angin yang berhembus antara pohon-pohon tropis. Suasana yang langsung membuat tubuh terasa segar, setelah berjalan ratusan meter dari jalan raya.

Ada dua areal pura kawasan suci di Pura Teluk Terima ini. Yakni kawasan Pura Taman Beji yang posisinya berdekatan dengan makam Nyoman Jayaprana, dan kawasan di puncak yang terdapat palinggih berupa patung Jayaprana dan Layonsari.

Khusus di kawasan Pura Taman Beji, terdapat sejumlah palinggih. Areal ini berjarak sekitar 500 meter dari kawasan Pura Puncak. Krama yang hendak nangkil harus rela berjalan kaki di tengah hutan Teluk Terima dengan menuruni ratusan anak tangga.

Baca Juga :  Upacara Ngendag, Ganti Jenazah dengan Pohon Pisang sebelum Diaben

Di sepanjang jalan, pamedek akan melihat kawanan kera yang kerap berebut makanan dari sisa sesajen. Pun suara kicuan beragam jenis burung di hutan akan menemani sepanjang perjalanan wisata spiritual.

Dijelaskan Jero Mangku Putu Yasa, 44, kawasan Pura Taman Beji memang dijadikan tempat untuk malukat oleh para pamedek. Di kawasan ini terdapat sejumlah palinggih. Seperti Palinggih Dewa Ayu Taman, Palinggih Kakiang Lingsir, serta kuburan Jayaprana.

“Konon menurut cerita para pendahulu yang tiang (saya) terima, di areal (Pura Taman Beji) beliau (Nyoman Jayaprana) dibunuh dan dikubur di sini,” ujar Mangku Putu Yasa kepada Bali Express (Jawa Pos Group) belum lama ini.

Lanjut Mangku Yasa, jika merujuk dari Geguritan Jayaprana dan Layonsari, dikisahkan ada pasangan suami istri di Desa Kalianget memiliki dua orang anak laki-laki dan satu perempuan. Namun, karena adanya wabah penyakit menimpa desa tersebut, empat orang keluarga tersebut meninggal, dan hanya tersisa seorang laki-laki paling bungsu bernama Nyoman Jayaprana.

Lantaran menjadi seorang anak yatim piatu, Jayaprana kecil memberanikan diri untuk datang dan mengabdi ke istana. Dia sangat rajin, sehingga membuat Raja Kalianget sangat mengasihi dan menyayanginya.

Singkat cerita, Jayaprana tumbuh besar. Dalam usianya yang sudah belasan tahun, sudah terlihat parasnya yang rupawan dan senyumnya yang manis. Suatu hari raja menitahkan agar Jayaprana memilih salah satu dayang-dayang ataupun gadis di luar istana untuk dijadikan sebagai pendamping hidup. Walaupun dia belum ada niat untuk mencari istri karena masih belia, namun dia tidak kuasa menolak.

Baca Juga :  Pura Siwa Tempat Meditasi Semua Umat

Pada akhirnya Jayaprana menemukan tambatan hatinya seorang gadis jelita bernama Ni Layonsari. Ia adalah putri dari jero bendesa dari wilayah Banjar Sekar. Menerima laporan dari Jayaprana, sang raja menulis sepucuk surat kepada jero bendesa, dan bendesa tersebut setuju.

Hingga akhirnya keduanya sepakat untuk melangsukan upacara pernikahaan. Pada saat menghadap raja, mereka menyembah dengan hormat kepada Sri Baginda Raja, raja terdiam seribu bahasa dan terpesona melihat kecantikan Ni Layonsari.

Setelah acara pernikahan mereka selesai dan kedua sejoli kembali ke rumahnya. Sang raja mengumpulkan semua abdinya meminta pertimbangan untuk memisahkan pasangan tersebut, agar Ni Layonsari bisa menjadi istrinya. Dikatakan kalau tidak, maka raja bisa mangkat karena dirundung kesedihan. Maka setelah berbagai saran dan pertimbangan, maka raja mengeluarkan titah agar Jayaprana pergi ke wilayah Teluk Terima untuk menyelidiki perahu yang hancur karena perompak.

Melalui titah raja tersebut, walaupun baru tujuh hari berbulan madu, Jayaprana tidak bisa menolak titah raja itu. Walaupun sebenarnya tidak disetujui istrinya, karena dia sangat menyintai Jayaprana. Apalagi ada firasat buruk hadir dalam mimpi sang istri.

Akhirnya istrinya hanya bisa pasrah dan berdoa agar suaminya selamat menunaikan tugas raja tersebut. Dalam perjalanan dengan rombongan, Jayaprana sering mendapat firasat buruk, dan tahu kalau dirinya akan dibinasakan. Benar saja, Jayaprana akhirnya dibunuh oleh Patih Sawunggaling di wilayah Teluk Terima. “Nah di areal inilah diyakini kuburan beliau,” jelasnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/