alexametrics
25.8 C
Denpasar
Sunday, May 29, 2022

Tradisi Aci Kebo Dongol di Kapal untuk Netralkan Kekuatan Negatif

MANGUPURA, BALI EXPRESS- Selain memiliki tradisi Aci Tabuh Rah Penganggon, Desa Adat Kapal, Kecamatan Mengwi, Badung, Bali, juga memiliki tradisi lain. Yaitu tradisi Aci Kebo Dongol di Banjar Basang Tamiang, Desa Adat Kapal.

Tradisi Aci Kebo Dongol sudah dilestarikan sejak zaman kerajaan. Bendesa Adat Kapal Ketut Sudarsana mengatakan, Aci Kebo Dongol ini dilaksanakan setiap enam bulan sekali di Pura Dalem Bangun Sakti. Tepatnya pada hari Buda Wage langkir.

“Pelaksanaan Aci Kebo Dongol ini atas perintah raja pada saat itu keturunan dari Arya Delancang, karena pada saat itu sebagai penguasa Kapal melihat kesusahan dari masyarakat Kapal,” ujar Sudarsana.

Menurutnya, arti sebenarnya dari Kebo Dongol adalah kebenaran sejati atau kebenaran yang hakiki. Prosesinya aci ini dimulai dengan pujawali di Pura Dalem Bangun Sakti, setelah itu akan dilaksanakan Tari Pendet, Tari Rejang Dewa dan terakhir akan dilaksanakan Tari Rejang Kebo Dongol tersebut. Untuk pelaksanaan tarian akan dipentaskan pada pukul 24.00 atau lebih berdasarkan pawisik yang diterima.

“Dalam prosesinya menggunakan sarana jajan berbentuk kerbau dan pedang sudamala. Tari Kebo Dongol tersebut dipentaskan oleh 33 orang dengan masing-masing membawa keris, dua orang membawa tombak, dan satu yang bertugas sebagai pre kulit membawa pedang sudamala,” ungkapnya.

Jajan berbentuk kerbau tersebut, Sudarsana menjelaskan, sebelum digunakan dalam Tari Kebo Dongol akan dihaturkan di madya mandala tepatnya di pelinggih Ratu Nguug Jagat. Kemudian untuk pedang sudamala akan diupacarai di pelinggih Sang Hyang Pasupati yang berada di utama mandala. Nantinya jajan kerbau yang merupakan simbol predana dan pedang sudamala sebagai simbol purusa akan dipertemukan di ngubeng mandala.

“Jajan kerbau akan ditusuk menggunakan pedang sudamala, pada saat itu para penari akan mengalami trans, masyarakat yang mengikuti prosesi ini sesekali akan mesuryak. Setelah ditusuk jajan seberat 3  kilogram  itu akan diperebutkan oleh masyarakat untuk dimakan. Maknanya itu simbolik dalam kehidupan kita harus berusaha dengan keras untuk memperoleh penghidupan,” jelasnya.

Lebih lanjut Sudarsana menerangkan, Aci Kebo Dongol ini memiliki makna untuk menyejahterakan atau nyomia bhuta kala. Namun yang dimaksud Bhuta Kala disini adalah kekuatan-kekuatan negatif yang ada dalam tubuh masyarakat. Sehingga dalam Aci Kebo Dongol ini ditujukan untuk menetralkan kekuatan negatif menjadi kekuatan positif.  


MANGUPURA, BALI EXPRESS- Selain memiliki tradisi Aci Tabuh Rah Penganggon, Desa Adat Kapal, Kecamatan Mengwi, Badung, Bali, juga memiliki tradisi lain. Yaitu tradisi Aci Kebo Dongol di Banjar Basang Tamiang, Desa Adat Kapal.

Tradisi Aci Kebo Dongol sudah dilestarikan sejak zaman kerajaan. Bendesa Adat Kapal Ketut Sudarsana mengatakan, Aci Kebo Dongol ini dilaksanakan setiap enam bulan sekali di Pura Dalem Bangun Sakti. Tepatnya pada hari Buda Wage langkir.

“Pelaksanaan Aci Kebo Dongol ini atas perintah raja pada saat itu keturunan dari Arya Delancang, karena pada saat itu sebagai penguasa Kapal melihat kesusahan dari masyarakat Kapal,” ujar Sudarsana.

Menurutnya, arti sebenarnya dari Kebo Dongol adalah kebenaran sejati atau kebenaran yang hakiki. Prosesinya aci ini dimulai dengan pujawali di Pura Dalem Bangun Sakti, setelah itu akan dilaksanakan Tari Pendet, Tari Rejang Dewa dan terakhir akan dilaksanakan Tari Rejang Kebo Dongol tersebut. Untuk pelaksanaan tarian akan dipentaskan pada pukul 24.00 atau lebih berdasarkan pawisik yang diterima.

“Dalam prosesinya menggunakan sarana jajan berbentuk kerbau dan pedang sudamala. Tari Kebo Dongol tersebut dipentaskan oleh 33 orang dengan masing-masing membawa keris, dua orang membawa tombak, dan satu yang bertugas sebagai pre kulit membawa pedang sudamala,” ungkapnya.

Jajan berbentuk kerbau tersebut, Sudarsana menjelaskan, sebelum digunakan dalam Tari Kebo Dongol akan dihaturkan di madya mandala tepatnya di pelinggih Ratu Nguug Jagat. Kemudian untuk pedang sudamala akan diupacarai di pelinggih Sang Hyang Pasupati yang berada di utama mandala. Nantinya jajan kerbau yang merupakan simbol predana dan pedang sudamala sebagai simbol purusa akan dipertemukan di ngubeng mandala.

“Jajan kerbau akan ditusuk menggunakan pedang sudamala, pada saat itu para penari akan mengalami trans, masyarakat yang mengikuti prosesi ini sesekali akan mesuryak. Setelah ditusuk jajan seberat 3  kilogram  itu akan diperebutkan oleh masyarakat untuk dimakan. Maknanya itu simbolik dalam kehidupan kita harus berusaha dengan keras untuk memperoleh penghidupan,” jelasnya.

Lebih lanjut Sudarsana menerangkan, Aci Kebo Dongol ini memiliki makna untuk menyejahterakan atau nyomia bhuta kala. Namun yang dimaksud Bhuta Kala disini adalah kekuatan-kekuatan negatif yang ada dalam tubuh masyarakat. Sehingga dalam Aci Kebo Dongol ini ditujukan untuk menetralkan kekuatan negatif menjadi kekuatan positif.  


Most Read

Artikel Terbaru

/