alexametrics
30.4 C
Denpasar
Saturday, May 21, 2022

Lontar Aji Janantaka Ungkap Jenis Kayu yang Pantang untuk Bangunan Suci

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Umat Hindu di Bali meyakini jika memanfaatkan pepohonan maupun aneka jenis tumbuhan bunga tidak boleh sembarangan, karena bisa mempengaruhi keharmonisan. Dalam Lontar Aji Janantaka, diungkap secara gamblang hubungan antara sastra, manusia dan lingkungannya yang merupakan kearifan lokal masyarakat Hindu dan sudah diwariskan secara turun-temurun.
Dosen Filsafat STAHN Mpu Kuturan Singaraja Putu Ariyasa Darmawan mengatakan, Lontar Aji Janantaka mengupas tentang berbagai jenis pepohonan dan aneka tumbuhan bunga yang mendapatkan anugerah panglukatan setelah terkena wabah penyakit.
Dalam lontar tersebut dikisahkan seorang raja yang bernama Ratu Parttipa yang menjadi raja di Kerajaan Janantaka. Rakyatnya sangat banyak, sehingga ada lima maha patih yang terkemuka, masing-masing menjabat sebagai Patih Matuha, Rangga, Tumenggung, Arya, dan Kadeyan. Selain itu juga dilengkapi dengan punggawa, manca, perbekel, pecalang, klian banjar dan kesinoman
Suatu ketika dikisahkan kerajaan Janantaka diserang wabah penyakit lepra yang tidak dapat disembuhkan oleh usada. Raja akhirnya mengutus Patih Matuha untuk menghadap Bhatara Dharma agar menyampaikan musibah yang menimpa negeri Janantaka. Hanya Bhatara Dharma lah yang mampu melenyapkan penyakit yang menyerang kerajaan itu.
Maka, berangkat lah Patih Matuha ke surgaloka untuk menyampaikan keadaan tersebut kepada Bhatara Dharma. Ternyata Bhatara Dharma tidak berkenan untuk mengobati penyakit “cukil daki” yang memang tidak dapat dilukat (disucikan) oleh Siwa Budha. Sebagai jalan keluarnya, Bhatara Dharma menyarankan agar mereka semua pindah dari Janantaka ke Wanapringga.






Reporter: I Putu Mardika

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Umat Hindu di Bali meyakini jika memanfaatkan pepohonan maupun aneka jenis tumbuhan bunga tidak boleh sembarangan, karena bisa mempengaruhi keharmonisan. Dalam Lontar Aji Janantaka, diungkap secara gamblang hubungan antara sastra, manusia dan lingkungannya yang merupakan kearifan lokal masyarakat Hindu dan sudah diwariskan secara turun-temurun.
Dosen Filsafat STAHN Mpu Kuturan Singaraja Putu Ariyasa Darmawan mengatakan, Lontar Aji Janantaka mengupas tentang berbagai jenis pepohonan dan aneka tumbuhan bunga yang mendapatkan anugerah panglukatan setelah terkena wabah penyakit.
Dalam lontar tersebut dikisahkan seorang raja yang bernama Ratu Parttipa yang menjadi raja di Kerajaan Janantaka. Rakyatnya sangat banyak, sehingga ada lima maha patih yang terkemuka, masing-masing menjabat sebagai Patih Matuha, Rangga, Tumenggung, Arya, dan Kadeyan. Selain itu juga dilengkapi dengan punggawa, manca, perbekel, pecalang, klian banjar dan kesinoman
Suatu ketika dikisahkan kerajaan Janantaka diserang wabah penyakit lepra yang tidak dapat disembuhkan oleh usada. Raja akhirnya mengutus Patih Matuha untuk menghadap Bhatara Dharma agar menyampaikan musibah yang menimpa negeri Janantaka. Hanya Bhatara Dharma lah yang mampu melenyapkan penyakit yang menyerang kerajaan itu.
Maka, berangkat lah Patih Matuha ke surgaloka untuk menyampaikan keadaan tersebut kepada Bhatara Dharma. Ternyata Bhatara Dharma tidak berkenan untuk mengobati penyakit “cukil daki” yang memang tidak dapat dilukat (disucikan) oleh Siwa Budha. Sebagai jalan keluarnya, Bhatara Dharma menyarankan agar mereka semua pindah dari Janantaka ke Wanapringga.






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru

/