alexametrics
26.5 C
Denpasar
Tuesday, May 24, 2022

Tak Tergantikan, Buah Kelapa Sarana Wajib dalam Upakara

DENPASAR, BALI EXPRESS-Kelapa merupakan salah satu sarana penting dalam upakara. Kelapa yang dalam bahasa Bali disebut Nyuh, menjadi sarana wajib yang ada dalam banten tertentu. Sehingga fungsinya tak bisa digantikan dengan sarana lain dalam upakara tersebut. Demikian terungkap dalam penelitian Ir. Ni Luh Wayan Suparmi, M.M.A yang dituangkan dalam disertasi Buah Kelapa dalam Perspektif Teologi Hindu di Kabupaten Badung. 

Dengan penelitiannya tentang buah kelapa ini, Kabid Perkebunan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung ini, berhasil meraih gelar Doktor dalam ujian terbuka promosi doktor Pascasarjana Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Rabu (10/3).

Suparmi, ditemui usai sidang terbuka mengungkapkan, fungsi buah kelapa dalam pelaksanaan upacara keagamaan di Badung meliputi beberapa fungsi penting. “Buah kelapa bukan sekadar difungsikan sebagai ranah biasa, melainkan mengarah kepada fungsi sakral yang mewakili aspek-aspek terdalam dalam ajaran Agama Hindu, yakni tatwa dan teologis,” ujarnya.

Terkait hal itu, buah kelapa sebagai dasar upakara, secara makna simbolik, lanjutnya, disamakan dengan dasar bhuwana atau dasar kosmos. “Dalam hal ini kelapa mewakili lapisan-lapisan jagat raya yang disebut dengan sapta loka dan sapta patala,” terangnya.

Buah kelapa juga sebagai ulu banten atau boleh dinyatakan sebagai kepalanya tatandingan upakara atau upacara yadnya. Tak hanya itu, buah kelapa juga secara simbolis sebagai tunggul banten atau inti sari dari unit banten. 

Buah kelapa sebagai citra Bhatara Siwa, bahkan sebagai tunggul banten sebagai simbol Bhatara Tri Purusa sebagai inti sari dan isi jagat raya.

Sementara itu, buah kelapa maadan atau nyuh maadan merupakan sarana utama (baku) dalam membuat tatandingan Banten Bagia Pula Kerti. “Ada sembilan jenis kelapa maadan yang digunakan dalam hal ini, yakni nyuh bulan, udang, gading, mulung, rangda, surya, julit, bojog, dan sudamala,” paparnya.

Disebutkan, Nyuh bulan adalah simbol dari Bhatara Iswara dengan warna putih, penguasa arah timur. Nyuh Udang adalah simbol Bhatara Brahma, penguasa arah selatan dengan warna merah. Nyuh Gading simbol Bhatara Mahadewa, penguasa arah barat dengan warna kuning. Nyuh Mulung simbol Bhatara Wisnu, penguasa arah utara dengan warna hitam.

Kemudian Nyuh Rangda adalah simbol Bhatara Mahesora, penguasa arah tenggara dengan warna merah muda. Nyuh Surya simbol Bhatara Rudra, penguasa arah barat daya dengan warna jingga. Nyuh Julit simbol Bhatara Sangkara, penguasa arah barat laut dengan warna biru. Nyuh Bojog adalah simbol Bhatara Sambu, penguasa arah timur laut dengan warna hijau. Terakhir, Nyuh Sudamala sebagai simbol Bhatara Siwa Guru, sebagai penguasa pusat arah dengan panca warna.

Beberapa kelapa tersebut langka keberadaannya. Misalnya kelapa rangda dan kelapa bojog yang sulit ditemukan. “Namun saat dibutuhkan untuk upakara, berdasarkan informan, tetap bisa ditemukan. Biasanya ditugaskan satu orang yang khusus mengumpulkan kelapa ini,” katanya.

Upaya budidaya juga tak gampang. Lantaran buah kelapa ini jika ditanam di tempat lain belum tentu menghasilkan kelapa yang sama. Sehingga ke depan diperlukan penelitian lebih lanjut dalam budidayanya.

Ibu dua anak kelahiran 1968 ini berharap hasil penelitiannya bermanfaat bagi umat Hindu di Bali, khususnya Badung. Karena, menurutnya kelapa dalam sarana upakara sangat penting dan tak bisa digantikan dengan sarana lain. 

“Selain itu, agar di masyarakat nantinya tidak hanya berpatokan pada istilah mula keto. Namun minimal bisa menambah pengetahuan masyarakat, sehingga dalam praktiknya bisa menggunakan dan mengerti maknanya,” ujar ibu dari I Gede Vibuti Kumarananda dan I Made Sathya Vijayananda tersebut.

Sesuai bidang ilmu yang ditekuni sebelumnya, yakni pertanian, kelapa, lanjutnya, merupakan produk perkebunan. Tanaman kelapa, kata dia, bersifat multifungsi, mulai dari akar hingga ujung daun. “Sehingga saya tertarik untuk mengungkap makna teologinya,” jelasnya.

Nah, mengingat sedemikian pentingnya kelapa dan harus senantiasa tersedia dalam sarana upakara, ke depan ia berencana membuat langkah-langkah penyediaan kelapa dari segi pertanian. 

“Mungkin nanti dipublikasikan, ada beberapa jenis kelapa genjah yang diperlukan dalam waktu cepat dan jumlahnya banyak, bisa dibantu dengan penyediaan dari pertaniannya,” ucap putri mendiang I Wayan Surpha, tokoh PHDI dengan Ni Nengah Murtiasih Sulasmi ini.

Selain itu, Suparmi pun mengaku sangat bersyukur karena telah berhasil menyelesaikan studi. “Bagaimanapun saya berangkat dari sesuatu yang agak berat, karena basik saya ilmu pertanian. Tapi saya mencoba masuk ke ranah interdisipliner. Jadi masuk ke ranah Teologi, karena saya yakin semua ilmu bisa dibedah dari ilmu agama,” pungkas istri Dekan Fakultas Dharma Duta UHN I Gusti Bagus Sugriwa, Dr. Drs. I Nyoman Ananda, M.Ag ini.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Badung I Wayan Wijana, juga mengapresiasi atas keberhasilan Suparmi yang telah menyelesaikan studi doktor. 

Ia berharap hasil penelitian bisa diinformasikan secara lebih mendalam kepada masyarakat. “Terutama budidaya kelapa di Badung. Masyarakat perlu diberikan sosialisasi, kelapa tak semata-mata bernilai ekonomis, tapi juga bernilai religius,” ucapnya. 


DENPASAR, BALI EXPRESS-Kelapa merupakan salah satu sarana penting dalam upakara. Kelapa yang dalam bahasa Bali disebut Nyuh, menjadi sarana wajib yang ada dalam banten tertentu. Sehingga fungsinya tak bisa digantikan dengan sarana lain dalam upakara tersebut. Demikian terungkap dalam penelitian Ir. Ni Luh Wayan Suparmi, M.M.A yang dituangkan dalam disertasi Buah Kelapa dalam Perspektif Teologi Hindu di Kabupaten Badung. 

Dengan penelitiannya tentang buah kelapa ini, Kabid Perkebunan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung ini, berhasil meraih gelar Doktor dalam ujian terbuka promosi doktor Pascasarjana Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Rabu (10/3).

Suparmi, ditemui usai sidang terbuka mengungkapkan, fungsi buah kelapa dalam pelaksanaan upacara keagamaan di Badung meliputi beberapa fungsi penting. “Buah kelapa bukan sekadar difungsikan sebagai ranah biasa, melainkan mengarah kepada fungsi sakral yang mewakili aspek-aspek terdalam dalam ajaran Agama Hindu, yakni tatwa dan teologis,” ujarnya.

Terkait hal itu, buah kelapa sebagai dasar upakara, secara makna simbolik, lanjutnya, disamakan dengan dasar bhuwana atau dasar kosmos. “Dalam hal ini kelapa mewakili lapisan-lapisan jagat raya yang disebut dengan sapta loka dan sapta patala,” terangnya.

Buah kelapa juga sebagai ulu banten atau boleh dinyatakan sebagai kepalanya tatandingan upakara atau upacara yadnya. Tak hanya itu, buah kelapa juga secara simbolis sebagai tunggul banten atau inti sari dari unit banten. 

Buah kelapa sebagai citra Bhatara Siwa, bahkan sebagai tunggul banten sebagai simbol Bhatara Tri Purusa sebagai inti sari dan isi jagat raya.

Sementara itu, buah kelapa maadan atau nyuh maadan merupakan sarana utama (baku) dalam membuat tatandingan Banten Bagia Pula Kerti. “Ada sembilan jenis kelapa maadan yang digunakan dalam hal ini, yakni nyuh bulan, udang, gading, mulung, rangda, surya, julit, bojog, dan sudamala,” paparnya.

Disebutkan, Nyuh bulan adalah simbol dari Bhatara Iswara dengan warna putih, penguasa arah timur. Nyuh Udang adalah simbol Bhatara Brahma, penguasa arah selatan dengan warna merah. Nyuh Gading simbol Bhatara Mahadewa, penguasa arah barat dengan warna kuning. Nyuh Mulung simbol Bhatara Wisnu, penguasa arah utara dengan warna hitam.

Kemudian Nyuh Rangda adalah simbol Bhatara Mahesora, penguasa arah tenggara dengan warna merah muda. Nyuh Surya simbol Bhatara Rudra, penguasa arah barat daya dengan warna jingga. Nyuh Julit simbol Bhatara Sangkara, penguasa arah barat laut dengan warna biru. Nyuh Bojog adalah simbol Bhatara Sambu, penguasa arah timur laut dengan warna hijau. Terakhir, Nyuh Sudamala sebagai simbol Bhatara Siwa Guru, sebagai penguasa pusat arah dengan panca warna.

Beberapa kelapa tersebut langka keberadaannya. Misalnya kelapa rangda dan kelapa bojog yang sulit ditemukan. “Namun saat dibutuhkan untuk upakara, berdasarkan informan, tetap bisa ditemukan. Biasanya ditugaskan satu orang yang khusus mengumpulkan kelapa ini,” katanya.

Upaya budidaya juga tak gampang. Lantaran buah kelapa ini jika ditanam di tempat lain belum tentu menghasilkan kelapa yang sama. Sehingga ke depan diperlukan penelitian lebih lanjut dalam budidayanya.

Ibu dua anak kelahiran 1968 ini berharap hasil penelitiannya bermanfaat bagi umat Hindu di Bali, khususnya Badung. Karena, menurutnya kelapa dalam sarana upakara sangat penting dan tak bisa digantikan dengan sarana lain. 

“Selain itu, agar di masyarakat nantinya tidak hanya berpatokan pada istilah mula keto. Namun minimal bisa menambah pengetahuan masyarakat, sehingga dalam praktiknya bisa menggunakan dan mengerti maknanya,” ujar ibu dari I Gede Vibuti Kumarananda dan I Made Sathya Vijayananda tersebut.

Sesuai bidang ilmu yang ditekuni sebelumnya, yakni pertanian, kelapa, lanjutnya, merupakan produk perkebunan. Tanaman kelapa, kata dia, bersifat multifungsi, mulai dari akar hingga ujung daun. “Sehingga saya tertarik untuk mengungkap makna teologinya,” jelasnya.

Nah, mengingat sedemikian pentingnya kelapa dan harus senantiasa tersedia dalam sarana upakara, ke depan ia berencana membuat langkah-langkah penyediaan kelapa dari segi pertanian. 

“Mungkin nanti dipublikasikan, ada beberapa jenis kelapa genjah yang diperlukan dalam waktu cepat dan jumlahnya banyak, bisa dibantu dengan penyediaan dari pertaniannya,” ucap putri mendiang I Wayan Surpha, tokoh PHDI dengan Ni Nengah Murtiasih Sulasmi ini.

Selain itu, Suparmi pun mengaku sangat bersyukur karena telah berhasil menyelesaikan studi. “Bagaimanapun saya berangkat dari sesuatu yang agak berat, karena basik saya ilmu pertanian. Tapi saya mencoba masuk ke ranah interdisipliner. Jadi masuk ke ranah Teologi, karena saya yakin semua ilmu bisa dibedah dari ilmu agama,” pungkas istri Dekan Fakultas Dharma Duta UHN I Gusti Bagus Sugriwa, Dr. Drs. I Nyoman Ananda, M.Ag ini.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Badung I Wayan Wijana, juga mengapresiasi atas keberhasilan Suparmi yang telah menyelesaikan studi doktor. 

Ia berharap hasil penelitian bisa diinformasikan secara lebih mendalam kepada masyarakat. “Terutama budidaya kelapa di Badung. Masyarakat perlu diberikan sosialisasi, kelapa tak semata-mata bernilai ekonomis, tapi juga bernilai religius,” ucapnya. 


Most Read

Artikel Terbaru

/