alexametrics
26.5 C
Denpasar
Friday, May 20, 2022

Majaga-jaga, Jauhkan Desa dari Mara Bahaya

AMLAPURA, BALI EXPRESS — Masyarakat Desa Adat Telunwayah, Desa Tri Eka Bhuana, Kecamatan Sidemen, Karangasem, punya tradisi Majaga-jaga yang digelar saat Tilem Sasih Kasanga. Tradisi itu digelar sekaligus sebagai upacara Tawur Kasanga pada Pangerupukan, sehari sebelum Nyepi.

Tradisi Majaga-jaga biasanya dilaksanakan semua warga desa. Sarana upacara yang digunakan yakni seekor banteng yang tidak boleh cacat. Baik dari segi warna bulu, bentuk fisik, dan sebagainya. Banteng itu mulanya diupacarai, lalu kemudian diarak keliling desa sebagai persembahan. 

Menurut Bendesa Adat Telunwayah, I Wayan Gede Gunarsa, Majaga-jaga bermakna korban persembahan kepada Ida Bhatara Puseh Bale Agung dan Ida Bhatara Setra di kuburan desa setempat.

Krama percaya, tradisi Majaga-jaga sebagai simbol penolak bala. Seluruh alam semesta, termasuk wilayah desa dibersihkan dari hal negatif.

Majaga-jaga sudah dilakukan turun-temurun dan jadi bagian dalam upacara Tawur Tabuh Rah. Untuk mendapatkan banteng tanpa cacat, diakuinya cukup sulit dicari. Butuh dua pekan menyiapkan semua kebutuhan upacara. Namun, upacara tersebut tidak pernah ditiadakan. 

Upacara dimulai sejak pagi pada hari Pangerupukan atau saat Tilem Kasanga di Pura Puseh dan Bale Agung desa setempat.

Dijelaskan Gunarsa, banteng dihias dengan aneka rupa bunga dan janur, lalu diupacarai mengitari banten tiga kali di jaba sisi pura, depan kori agung.

Tombak yang akan dipakai untuk menghunus bagian belakang banteng sudah disiapkan. Darah yang mengucur itu simbol persembahan. “Banteng diarak keliling desa menuju kuburan. Sepanjang jalan warga semarak,” jelasnya.

Darah banteng mengucur sepanjang jalan. Prosesi diiringi gong baleganjur serta kulkul dan tek-tekan. Beberapa warga juga sudah menanti di depan rumah sambil membawa ranting kayu. 

Kayu itu yang bakal dihentak ke tubuh banteng. Konon, warga yang sudah menunggu arak-arakan banteng di depan rumah jadi cikal-bakal nama tradisi Majaga-jaga.

Setiap melintasi persimpangan, juga wajib mengitarinya sebanyak tiga kali. Banteng dipukul pelan-pelan agar tidak mati di tengah jalan. “Tidak boleh mati sebelum sampai setra (kuburan). Kalau mati, upacara dinyatakan gagal, karena yang kita haturkan harus dalam keadaan hidup,” terang Gunarsa.

Sampai di kuburan, banteng kembali diarak memutar sebanyak tiga kali di atas lahan pembakaran jenazah. Setelah banteng tak berdaya, kemudian disembelih dan dagingnya dibagikan kepada warga. Yang disisakan cuma kulit, kepala, dan empat kakinya untuk upacara yang dipandu Jro Mangku Dalem sekitar pukul 17.00 Wita. Ceceran darahnya untuk menetralisasi para bhuta di area kuburan. 


AMLAPURA, BALI EXPRESS — Masyarakat Desa Adat Telunwayah, Desa Tri Eka Bhuana, Kecamatan Sidemen, Karangasem, punya tradisi Majaga-jaga yang digelar saat Tilem Sasih Kasanga. Tradisi itu digelar sekaligus sebagai upacara Tawur Kasanga pada Pangerupukan, sehari sebelum Nyepi.

Tradisi Majaga-jaga biasanya dilaksanakan semua warga desa. Sarana upacara yang digunakan yakni seekor banteng yang tidak boleh cacat. Baik dari segi warna bulu, bentuk fisik, dan sebagainya. Banteng itu mulanya diupacarai, lalu kemudian diarak keliling desa sebagai persembahan. 

Menurut Bendesa Adat Telunwayah, I Wayan Gede Gunarsa, Majaga-jaga bermakna korban persembahan kepada Ida Bhatara Puseh Bale Agung dan Ida Bhatara Setra di kuburan desa setempat.

Krama percaya, tradisi Majaga-jaga sebagai simbol penolak bala. Seluruh alam semesta, termasuk wilayah desa dibersihkan dari hal negatif.

Majaga-jaga sudah dilakukan turun-temurun dan jadi bagian dalam upacara Tawur Tabuh Rah. Untuk mendapatkan banteng tanpa cacat, diakuinya cukup sulit dicari. Butuh dua pekan menyiapkan semua kebutuhan upacara. Namun, upacara tersebut tidak pernah ditiadakan. 

Upacara dimulai sejak pagi pada hari Pangerupukan atau saat Tilem Kasanga di Pura Puseh dan Bale Agung desa setempat.

Dijelaskan Gunarsa, banteng dihias dengan aneka rupa bunga dan janur, lalu diupacarai mengitari banten tiga kali di jaba sisi pura, depan kori agung.

Tombak yang akan dipakai untuk menghunus bagian belakang banteng sudah disiapkan. Darah yang mengucur itu simbol persembahan. “Banteng diarak keliling desa menuju kuburan. Sepanjang jalan warga semarak,” jelasnya.

Darah banteng mengucur sepanjang jalan. Prosesi diiringi gong baleganjur serta kulkul dan tek-tekan. Beberapa warga juga sudah menanti di depan rumah sambil membawa ranting kayu. 

Kayu itu yang bakal dihentak ke tubuh banteng. Konon, warga yang sudah menunggu arak-arakan banteng di depan rumah jadi cikal-bakal nama tradisi Majaga-jaga.

Setiap melintasi persimpangan, juga wajib mengitarinya sebanyak tiga kali. Banteng dipukul pelan-pelan agar tidak mati di tengah jalan. “Tidak boleh mati sebelum sampai setra (kuburan). Kalau mati, upacara dinyatakan gagal, karena yang kita haturkan harus dalam keadaan hidup,” terang Gunarsa.

Sampai di kuburan, banteng kembali diarak memutar sebanyak tiga kali di atas lahan pembakaran jenazah. Setelah banteng tak berdaya, kemudian disembelih dan dagingnya dibagikan kepada warga. Yang disisakan cuma kulit, kepala, dan empat kakinya untuk upacara yang dipandu Jro Mangku Dalem sekitar pukul 17.00 Wita. Ceceran darahnya untuk menetralisasi para bhuta di area kuburan. 


Most Read

Artikel Terbaru

/