Minggu, 28 Nov 2021
Bali Express
Home / Balinese
icon featured
Balinese

Menyatukan Pekarangan, Perlu Nyakapin Karang, Ini Makna dan Tujuannya

12 September 2017, 08: 57: 12 WIB | editor : I Putu Suyatra

Menyatukan Pekarangan, Perlu Nyakapin Karang, Ini Makna dan Tujuannya

MENYATUKAN KARANG Upacara Nyakapin Karang bertujuan untuk membersihkan sekaligus menyatukan pekarangan yang sebelumnya beda kepemilikan. (AGUS YULIAWAN/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Karang atau pekarangan (tanah tempat membangun rumah)  perlu dibersihkan secara sekala dan niskala. Ritualnya pun beragam, tergantung keberadaan pekarangan. Salah satu upacara penting sehubungan dengan karang  adalah upacara Nyakapin Karang,  seperti apa? 

Berbagai jenis upacara dikenal di Bali, mulai dari manusia belum lahir turut dilaksanakan berbagai jenis upacara yadnya. Namun, khusus untuk upacara Nyakapin Karang peruntukanya bukan lagi untuk manusia secara langsung, tetapi dampaknya secara langsung dapat dirasakan manusia. Di Bali, berbagai istilah yang menggunakan kata karang sering dijumpai. Baik itu adalah pekarangan, karang panes, karang awak, hingga panunggun karang. Namun, untuk Nyakapin Karang mungkin akan terjadi ketika masyarakat hendak membeli tanah atau pekarangan tetangganya.
Menurut Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali, Prof. Dr. I Gusti Ngurah Sudiana ketika diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group), Senin (11/9) kemarin, mengatakan,  upacara Nyakapin Karang jika dilihat dari etimologi berasal dari dua kata, yakni Nyakapin yang dapat diartikan sebagai masakapan atau upacara penyatuan. Namun, di sisi lain banyak yang mengatakan nyakapin itu berasal dari kata Nyakupin yang artinya mempersatukan. Sedangkan karang atau pekarangan dapat diartikan sebagai sebuah tanah atau tempat.
Jika digali secara mendalam, lanjutnya,  karang atau tanah di Bali memang memiliki kekuatan magis tersendiri. Walaupun secara kasat mata yang tampak adalah hamparan tananh atau bangunan. Sejatinya tanah di Bali memiliki roh atau jiwa yang hidup.
Dikatakan Sudiana, dalam kepercayaan umat Hindu dikenal istilah Panca Maha Butha yang merupakan lima unsur elemen atau zat dasar yang membentuk lapisan mahluk hidup, termasuk badan manusia (sarira kosha) yang sesuai dengan hukum rta. Adapun bagian-bagianya adalah Apah yang merupakan unsur air, Teja yang merupakan unsur api, dan Bayu yang merupakan unsur angin. Kemudian Akasa yang merupakan unsur eter, dan Pertiwi yang merupakan unsur tanah itu sendiri. “Jadi, tanah di Bali itu sakral dan memiliki kekuatan magis yang kuat,” papar Guru Besar IHDN Denpasar ini.
Berbicara tentang Nyakapin Karang, tentunya upacara ini wajib dilaksanakan ketika umat Hindu memiliki sebuah karang atau tanah dengan posisi berdampingan kanan kiri maupun depan belakang. Posisi tanah ini adalah berbatasan langsung dengan tanah yang dimiliki sebelumnya. Kondisi yang demikian biasanya terjadi ketika seseorang yang telah memiliki pekarangan hendak membeli pekarangan di sebelahnya yang dijual. Dengan demikian, maka yang bersangkutan akan memiliki dua tanah berbeda, tetapi berdampingan. Kondisi yang demikian mewajibkan umat Hindu untuk melaksanakan upacara Nyakapin Karang.
Upacara ini secara jelas tertuang dalam beberapa lontar, di antaranya yakni Lontar Sudra Wikrama dan Widi Sastra Tapini yang menjelaskan tentang tata cara pelaksanaan upacara Nyakapin Karang. Dapat disimpulkan upacara ini merupakan upaya untuk mempersatukan dua tanah atau karang yang berbeda, sehingga menyatu secara sekala dan niskala. Dalam pelaksanaannya, upacara ini digelar dengan mengambil dua tanah dari karang yang berbeda pemilik tersebut. Dilanjutkan dengan mencampur kedua bagian dan selanjutnya diupacarai oleh seorang pendeta atau sulinggih. Sehingga,  ada proses penyatuan dua tananh yang berbeda. “Inilah yang disebut dengan Nyakapin. Kalau Masakapan kan menyatukan dua manusia laki perempuan, kalau ini menyatukan tanah yang terpisah,” jelasnya. Terkait pamuput, menurut Sudiana bisa saja menggunakan pemangku, akan tetapi lebih etisnya menggunakan sulinggih. “Bisa saja menggunakan pemangku, tapi alangkah baik dan tepatnya menggunakan sulinggih,” ungkap Ketua PHDI Bali tiga periode ini.
Sudiana tidak memungkiri banyaknya pertanyaan di masyarakat saat ini. Jika Nyakapin Karang tidak dilakukan itu bagaimana? Padahal, kondisi pekarangannya status kepemilikan sebelumnya  berbeda. Entah dikasi minta atau memperolehnya dengan membeli. Menurut Sudiana, setiap pelanggaran tentu akan mendapati risiko di dalamnya. Tak terkecuali jika umat Hindu yang membeli tanah di sebelah pekarangannya yang tidak menggelar upacara Nyakapin Karang.
Umat Hindu yang demikian akan disebut terkena Pamali atau melanggar aturan yang ada. "Bila ditempati atau siapapun yang hendak tinggal di pekarangan tersebut akan sering terkena penyakit. Selain itu, sebagus apapun rumah yang dibuat, tetap saja yang menempati merasa tidak nyaman, apakah badan terasa ditusuk-tusuk, hingga kepanasan pada saat musim dingin," bebernya. Hal lain yang mungkin terjadi, lanjutnya, adalah hubungan yang kurang harmonis antarsesama keluarga dalam satu rumah. Seperti halnya sering terjadi pertengkaran karena masalah kecil.
Selain itu, berdasakan berbagai pengalaman yang pernah dijumpai, Sudiana mengatakan besar kemungkinan akan terjadi pemborosan oleh keluarga yang menempati karang tersebut. Sehingga, karang tersebut dapat dikatakan sebagai karang panes akibat kurangnya aci-aci atau pelaksanaan upacara di dalamnya. “Karena  keseimbangan antara manusia dengan Tuhan ataupun lingkungan sekitarnya, baik sekala maupun niskala harus tetap menjadi junjungan umat Hindu,” tandasnya. 

Baca juga: Ngurek, Antara Tradisi, Daya Magis, dan Bakti

(bx/gus /rin/yes/JPR)


Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia