alexametrics
27.8 C
Denpasar
Wednesday, June 29, 2022

Tradisi Mebuug-buugan di Kedonganan sebagai Ungkapan Terima Kasih

KUTA, BALI EXPRESS- Masyarakat pesisir  di Desa Kedonganan, Badung memiliki tradisi yang digelar setiap setahun sekali. Tepatnya saat Ngembak Geni atau sehari setelah Hari Raya Nyepi. Namanya Mebuug-buugan.

Tradisi ini dilaksanakan di pantai yang ada di Kedonganan. Warga yang ikut tradisi ini, awalnya menuju pantai timur, atau disebut Suwung. Mereka untuk melumuri sekujur tubuhnya dengan lumpur. Lanjut beriringan menuju pantai di sebelah barat. Tujuannya untuk melakukan pembersihan.

Bendesa Adat Kedonganan I Wayan Mertha mengaku tidak tahu pasti sejak kapan ada tradisi itu. Namun demikian, diakuinya sempat tidak dilaksanakan. “Kira-kira dibangkitkan kembali tahun 2016,” ujar Mertha, Kamis (11/11).

Menurutnya, makna dari tradisi Mebuug-buugan yakni ucapan terima kasih kepada ibu pertiwi karena telah memberikan penghidupan, baik dari hasil laut maupun lahan yang ada di Kedonganan. Hal itu dapat dilihat saat peserta melumuri seluruh tubuhnya dengan lumpur yang melambangkan menyatukan diri dengan ibu pertiwi. “Ini menyangkut kesuburan, jadi kami mengucapkan terima kasih atas kesuburan yang diberikan baik dari hasil laut maupun hasil bumi. Sehingga masyarakat kedonganan dapat hidup di dalamnya,” ungkapnya.

Setelah tubuh dilumuri lumpur, Mertha membeberkan, dalam perjalanan menuju pantai di sebelah barat, ada sebuah lagu yang akan dinyanyikan para peserta. Lagu yang dinyanyikan ‘Mentul menceng, mentul menceng, glendang-glendong, glendang-glendong’. “Kalau dilihat dari lagu tersebut melambangkan alat kelamin perempuan dan laki-laki. Kalau dilihat dari ilmunya ada yang namanya Lingga Yoni, yang juga menghasilkan kesuburan,” bebernya. 

Selain itu, makna kedua yang terkandung dalam tradisi Mebuug-buugan adalah pembersihan diri. Pembersihan yang dimaksud yakni secara jasmani dan rohani. Dalam prosesinya setelah badan kotor dengan lumpur kemudian dibersihkan di pantai barat untuk dibersihkan dan diperciki tirta pembersihan. 

Merta manambahkan, setiap dilaksanakan tradisi ini pasti menyedot perhatian wisatawan. Iring-iringan peserta yang berjalan menuju pantai barat menjadi pusat perhatian.  “Sejak saya ngayah sebagai bendesa di tahun 2018 hanya sekali saja Mebuug-buugan ini dilaksanakan. Ini juga karena pandemi Covid-19 yang menyebabkan semua kegiatan masyarakat ditunda, mudah-mudahan di tahun 2022 sudah diberikan ijin untuk menggelar Mebuug-buugan,” pungkasnya. 


KUTA, BALI EXPRESS- Masyarakat pesisir  di Desa Kedonganan, Badung memiliki tradisi yang digelar setiap setahun sekali. Tepatnya saat Ngembak Geni atau sehari setelah Hari Raya Nyepi. Namanya Mebuug-buugan.

Tradisi ini dilaksanakan di pantai yang ada di Kedonganan. Warga yang ikut tradisi ini, awalnya menuju pantai timur, atau disebut Suwung. Mereka untuk melumuri sekujur tubuhnya dengan lumpur. Lanjut beriringan menuju pantai di sebelah barat. Tujuannya untuk melakukan pembersihan.

Bendesa Adat Kedonganan I Wayan Mertha mengaku tidak tahu pasti sejak kapan ada tradisi itu. Namun demikian, diakuinya sempat tidak dilaksanakan. “Kira-kira dibangkitkan kembali tahun 2016,” ujar Mertha, Kamis (11/11).

Menurutnya, makna dari tradisi Mebuug-buugan yakni ucapan terima kasih kepada ibu pertiwi karena telah memberikan penghidupan, baik dari hasil laut maupun lahan yang ada di Kedonganan. Hal itu dapat dilihat saat peserta melumuri seluruh tubuhnya dengan lumpur yang melambangkan menyatukan diri dengan ibu pertiwi. “Ini menyangkut kesuburan, jadi kami mengucapkan terima kasih atas kesuburan yang diberikan baik dari hasil laut maupun hasil bumi. Sehingga masyarakat kedonganan dapat hidup di dalamnya,” ungkapnya.

Setelah tubuh dilumuri lumpur, Mertha membeberkan, dalam perjalanan menuju pantai di sebelah barat, ada sebuah lagu yang akan dinyanyikan para peserta. Lagu yang dinyanyikan ‘Mentul menceng, mentul menceng, glendang-glendong, glendang-glendong’. “Kalau dilihat dari lagu tersebut melambangkan alat kelamin perempuan dan laki-laki. Kalau dilihat dari ilmunya ada yang namanya Lingga Yoni, yang juga menghasilkan kesuburan,” bebernya. 

Selain itu, makna kedua yang terkandung dalam tradisi Mebuug-buugan adalah pembersihan diri. Pembersihan yang dimaksud yakni secara jasmani dan rohani. Dalam prosesinya setelah badan kotor dengan lumpur kemudian dibersihkan di pantai barat untuk dibersihkan dan diperciki tirta pembersihan. 

Merta manambahkan, setiap dilaksanakan tradisi ini pasti menyedot perhatian wisatawan. Iring-iringan peserta yang berjalan menuju pantai barat menjadi pusat perhatian.  “Sejak saya ngayah sebagai bendesa di tahun 2018 hanya sekali saja Mebuug-buugan ini dilaksanakan. Ini juga karena pandemi Covid-19 yang menyebabkan semua kegiatan masyarakat ditunda, mudah-mudahan di tahun 2022 sudah diberikan ijin untuk menggelar Mebuug-buugan,” pungkasnya. 


Most Read

Artikel Terbaru

/