26.5 C
Denpasar
Sunday, April 2, 2023

Nganten Massal di Pengotan Digelar di Pura Desa, Hamil Kena Denda

BANGLI, BALI EXPRESS – Desa Pengotan, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli masih melestarikan tradisi pawiwahan (perkawinan) massal. Dalam setahun, tradisi yang juga dikenal dengan nganten massal ini dilaksanakan dua kali. Yaitu saat Sasih Kapat (bulan keempat) dan sasih kadasa (bulan kesepuluh), atau sekitar bulan September-Oktober dan Februari-Maret dalam kalender Masehi.

Seperti namanya, pawiwahan massal merupakan suatu upacara perkawinan yang dilaksanakan oleh lebih dari sepasang pengantin atau mempelai yang diselenggarakan secara bersama-sama dalam waktu dan tempat yang sama. Jumlah peserta yang pernah mengikuti upacara ini cukup fantastis. Yakni 70 pasangan pengantin.

Upacara Manusa Yadnya ini memang lebih banyak diikuti oleh pasangan yang baru pertama kalinya melakukan pernikahan. Namun, bisa juga dilakukan oleh warga yang sudah bercerai pada pernikahan sebelumnya. Bisa juga berlaku bagi mereka yang sudah berkeluarga.

Tetapi tentunya harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari istri pertamanya, dengan sejumlah keterangan. Seperti izin diberikan oleh pihak istri karena tidak memiliki anak atau izin karena tidak memiliki anak laki-laki (pewaris). Persyaratan tersebut harus dilengkapi oleh warga yang hendak menikah. Jika melanggar maka akan dikenakan sanksi adat.

Tokoh Adat Pengotan I Wayan Kencu mengatakan perkawinan massal di Desa Pengotan dikenal sebagai ritual pekandelan. Pelaksanaan perkawinan massal ini dipusatkan di Pura Desa dan pamangku yang muput upacaranya.

Pelaksanaan perkawinan ini diawali dengan bendesa adat mengumumkan bahwa pada Sasih Kapat dan Kedasa dilaksanakan perkawinan massal. Anggota keluarga yang ingin melakukan perkawinan, terlebih dulu mendaftarkan diri di kelian banjar masing-masing. Pengumuman ini disampaikan pada Tilem setelah melakukan kerja bakti di areal Pura Bale Agung.

Baca Juga :  Dibentuk Tahun 1969, Sekaa Arja Putra Jelantik Hingga Kini Eksis

Berdasarkan pengumuman tersebut, masyarakat yang ingin melaksanakan perkawinan langsung mendaftarkan diri dengan membawa base kaputan yang berjumlah 11 kaputan. “Pada pagi hari saat pelaksanaan perkawinan massal berlangsung, kentongan dibunyikan sesuai dengan jumlah pasangan pengantin yang mengikuti perkawinan massal tersebut,” ungkapnya.

Untuk setiap pasang pengantin, dibunyikan kentongan sebanyak tiga kali. Sedangkan pada pihak keluarga mempelai sebagai purusa (laki-laki) mengumumkan kepada masyarakat bahwa anaknya melangsungkan perkawinan atas dasar saling mencintai. Pada saat itu juga, perbekel, prajuru adat, paradulu, kelian dinas, mengadakan sangkepan (rapat) di wantilan Pura Bale Agung untuk menyaksikan penyerahan danda pakerang. Jika diterima, sapi sebagai sarana danda pakerang dapat dirempah (disembelih).

Setelah diterima dan disepakati, pamangku selanjutnya ngaturang piuning di Palinggih Sanggar Bale Agung bahwa warganya melaksanakan ritual perkawinan massal naur (membayar) danda pakerang.

Pamangku ini juga sekaligus mohon tirta pangentas ke hadapan Bhatara Gunung Agung. Sapi yang digunakan sebagai danda pakarang harus memenuhi kriteria. “Kriteria yang dimaksud, yaitu sapi pejantan yang tidak memiliki kecacatan fisik, tidak mengidap penyakit dan ukurannya harus nyikut kuping atau ukuran tanduk dan telinga sejajar,” paparnya saat dikonfirmasi belum lama ini.

Setelah sapi tersebut disembelih, darah dan dagingnya digunakan sesuai dengan kebutuhan ritual. Penggunaan tersebut tidak hanya untuk sesajen. Tetapi juga diberikan kepada pamong adat dan krama Desa Pengotan.

Baca Juga :  Ruang Disabilitas untuk Berkreasi di Lumintang

“Kami masih memegang teguh tradisi yang diwariskan oleh leluhur. Ini terbukti bahwa masyarakat menjalankan ritual keagamaan dengan baik. Salah satu ritual yajna di Desa Pengotan lebih menekankan pada sistem patrilineal,” imbuhnya.

Tanggung jawab pelaksanaan yajna terutama upacara perkawinan di Desa Adat Pengotan yaitu. Pertama, semua material upacara yang dibutuhkan menjadi tanggung jawab keluarga mempelai yang berstatus purusa.

Kedua, danda pekerang dalam upacara mapaserah proses pembuatannya menjadi tanggung jawab krama Desa Adat Pengotan. Selanjutnya, pamangku dalang milik masyarakat Pengotan wajib memimpin berbagai upacara, salah satu di antaranya ritual perkawinan. “Krama Pengotan secara sadar dan keikhlasan membantu jika ada warganya yang melangsungkan upacara dan membutuhkan masyarakat maka krama akan bergotong royong ngayah,” paparnya.

Pernikahan massal itu juga diatur dalam pararem, salah satunya isinya adalah mempelai wanita tidak dalam kondisi hamil. Jika sudah hamil sebelum pernikahan dilaksanakan, maka dikenakan denda Rp 45 ribu. Pihak adat nantinya akan melakukan mediasi dalam upaya penegakkan pararem yang telah disepakati sehingga tidak menimbulkan permasalahan baru.

Dalam mediasi, desa adat tetap berpegang teguh pada asas kekeluargaan dan pendekatan namun, tetap menjunjung teguh aturan yang termuat dalam pararem. “Prajuru adat juga berpesan agar perkawinan senantiasa langgeng dan menghindari perceraian,” sebutnya.

 






Reporter: I Putu Mardika

BANGLI, BALI EXPRESS – Desa Pengotan, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli masih melestarikan tradisi pawiwahan (perkawinan) massal. Dalam setahun, tradisi yang juga dikenal dengan nganten massal ini dilaksanakan dua kali. Yaitu saat Sasih Kapat (bulan keempat) dan sasih kadasa (bulan kesepuluh), atau sekitar bulan September-Oktober dan Februari-Maret dalam kalender Masehi.

Seperti namanya, pawiwahan massal merupakan suatu upacara perkawinan yang dilaksanakan oleh lebih dari sepasang pengantin atau mempelai yang diselenggarakan secara bersama-sama dalam waktu dan tempat yang sama. Jumlah peserta yang pernah mengikuti upacara ini cukup fantastis. Yakni 70 pasangan pengantin.

Upacara Manusa Yadnya ini memang lebih banyak diikuti oleh pasangan yang baru pertama kalinya melakukan pernikahan. Namun, bisa juga dilakukan oleh warga yang sudah bercerai pada pernikahan sebelumnya. Bisa juga berlaku bagi mereka yang sudah berkeluarga.

Tetapi tentunya harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari istri pertamanya, dengan sejumlah keterangan. Seperti izin diberikan oleh pihak istri karena tidak memiliki anak atau izin karena tidak memiliki anak laki-laki (pewaris). Persyaratan tersebut harus dilengkapi oleh warga yang hendak menikah. Jika melanggar maka akan dikenakan sanksi adat.

Tokoh Adat Pengotan I Wayan Kencu mengatakan perkawinan massal di Desa Pengotan dikenal sebagai ritual pekandelan. Pelaksanaan perkawinan massal ini dipusatkan di Pura Desa dan pamangku yang muput upacaranya.

Pelaksanaan perkawinan ini diawali dengan bendesa adat mengumumkan bahwa pada Sasih Kapat dan Kedasa dilaksanakan perkawinan massal. Anggota keluarga yang ingin melakukan perkawinan, terlebih dulu mendaftarkan diri di kelian banjar masing-masing. Pengumuman ini disampaikan pada Tilem setelah melakukan kerja bakti di areal Pura Bale Agung.

Baca Juga :  Tutur Atma Prasangsa Ungkap Perjalanan Atman Setelah Meninggal

Berdasarkan pengumuman tersebut, masyarakat yang ingin melaksanakan perkawinan langsung mendaftarkan diri dengan membawa base kaputan yang berjumlah 11 kaputan. “Pada pagi hari saat pelaksanaan perkawinan massal berlangsung, kentongan dibunyikan sesuai dengan jumlah pasangan pengantin yang mengikuti perkawinan massal tersebut,” ungkapnya.

Untuk setiap pasang pengantin, dibunyikan kentongan sebanyak tiga kali. Sedangkan pada pihak keluarga mempelai sebagai purusa (laki-laki) mengumumkan kepada masyarakat bahwa anaknya melangsungkan perkawinan atas dasar saling mencintai. Pada saat itu juga, perbekel, prajuru adat, paradulu, kelian dinas, mengadakan sangkepan (rapat) di wantilan Pura Bale Agung untuk menyaksikan penyerahan danda pakerang. Jika diterima, sapi sebagai sarana danda pakerang dapat dirempah (disembelih).

Setelah diterima dan disepakati, pamangku selanjutnya ngaturang piuning di Palinggih Sanggar Bale Agung bahwa warganya melaksanakan ritual perkawinan massal naur (membayar) danda pakerang.

Pamangku ini juga sekaligus mohon tirta pangentas ke hadapan Bhatara Gunung Agung. Sapi yang digunakan sebagai danda pakarang harus memenuhi kriteria. “Kriteria yang dimaksud, yaitu sapi pejantan yang tidak memiliki kecacatan fisik, tidak mengidap penyakit dan ukurannya harus nyikut kuping atau ukuran tanduk dan telinga sejajar,” paparnya saat dikonfirmasi belum lama ini.

Setelah sapi tersebut disembelih, darah dan dagingnya digunakan sesuai dengan kebutuhan ritual. Penggunaan tersebut tidak hanya untuk sesajen. Tetapi juga diberikan kepada pamong adat dan krama Desa Pengotan.

Baca Juga :  Pura Goa Raja Tajun; Saat Nangkil Persis Seperti Dalam Mimpi

“Kami masih memegang teguh tradisi yang diwariskan oleh leluhur. Ini terbukti bahwa masyarakat menjalankan ritual keagamaan dengan baik. Salah satu ritual yajna di Desa Pengotan lebih menekankan pada sistem patrilineal,” imbuhnya.

Tanggung jawab pelaksanaan yajna terutama upacara perkawinan di Desa Adat Pengotan yaitu. Pertama, semua material upacara yang dibutuhkan menjadi tanggung jawab keluarga mempelai yang berstatus purusa.

Kedua, danda pekerang dalam upacara mapaserah proses pembuatannya menjadi tanggung jawab krama Desa Adat Pengotan. Selanjutnya, pamangku dalang milik masyarakat Pengotan wajib memimpin berbagai upacara, salah satu di antaranya ritual perkawinan. “Krama Pengotan secara sadar dan keikhlasan membantu jika ada warganya yang melangsungkan upacara dan membutuhkan masyarakat maka krama akan bergotong royong ngayah,” paparnya.

Pernikahan massal itu juga diatur dalam pararem, salah satunya isinya adalah mempelai wanita tidak dalam kondisi hamil. Jika sudah hamil sebelum pernikahan dilaksanakan, maka dikenakan denda Rp 45 ribu. Pihak adat nantinya akan melakukan mediasi dalam upaya penegakkan pararem yang telah disepakati sehingga tidak menimbulkan permasalahan baru.

Dalam mediasi, desa adat tetap berpegang teguh pada asas kekeluargaan dan pendekatan namun, tetap menjunjung teguh aturan yang termuat dalam pararem. “Prajuru adat juga berpesan agar perkawinan senantiasa langgeng dan menghindari perceraian,” sebutnya.

 






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru