27.6 C
Denpasar
Saturday, February 4, 2023

Niat Membantu Orang, Balian Jro Komang Meneng Tampik Sesari

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Jro Komang Meneng, 59, dari Dusun Sema, Desa Patemon, Kecamatan Seririt, namanya kian dikenal lantaran menjadi balian spesialis tulang di Buleleng

Dalam situasi pandemi Covid-19 pun, pasien tak mengurungkan niatnya untuk berobat ke rumahnya. Dalam sehari, ia bisa melayani 80 hingga 150 orang yang punya masalah dengan tulang dan otot, termasuk patah tulang karena musibah.

Pasien yang datang ke rumahnya untuk berobat tidak hanya berasal dari Bali saja. Bahkan ada pula dari luar Bali, seperti Jawa. Tidak itu saja, ada juga beberapa pasien yang malah datang dari luar negeri. Ia pun tidak tahu pasti dari mana mereka mengetahui keberadaannya.

“Malah tamu dari luar negeri juga ada. Terus terang tiang memang belog, tidak tahu, mereka dapat info darimana. Tapi astungkara berkat Ida Bhatara Dalem, pasien bisa diberikan jalan untuk sembuh” jelas Jero Meneng didampingi sang istri, Jro Dalang Made Sri, saat ditemui Bali Express ( Jawa Pos Group), kemarin.

Disinggung mengenai sesajen yang mesti dibawa pasien yang hendak berobat, Jro Meneng mengaku tak pernah mematok sesajen yang dibawa. Ia tetap akan menerima pasien untuk berobat, meskipun tanpa membawa canang sari.

“Saya tidak pernah menekankan harus bawa begini, begitu. Tiang hanya berbakti kepada Ida Sasuhunan. Kemudian menjadi perantara Beliau. Jadi, malah tiang menolak dengan sesari (uang yang biasanya ditaruh di sesajen). Karena memang niat ingin menolong,” akunya.

Tidak jarang pula, ketika ada pasien yang berobat hingga sembuh, mereka memiliki sesangi (kaul) untuk menghaturkan sejumlah uang kepada Jro Meneng. Mau tidak mau, kalau niat yang berobat dari awal seperti itu, ia pun terpaksa menerima, lantaran itu sifatnya kaul.

“Pernah ada pasien begitu (masesangi). Kalau sembuh ia menghaturkan uang. Nah karena itu sifatnya sesangi, mau tidak mau harus diterima. Tetapi tiang memang menolak sesari bagi pamedek. Ini sifatnya pelayanan kepada masyarakat. Dan, tiang hanya ngayah saja sebagai perantara,” katanya lagi.

Jro Meneng tak menampik, berkat kemampuannya itu, tahun 90-an ia sempat ditawari pihak RS Sanglah untuk membuka praktik pengobatan alternatif di rumah sakit tersebut. Hanya saja, tawaran tersebut ia tolak, lantaran ingin fokus melayani secara pribadi di rumahnya.

Ia khawatir, jika membuka praktik usada di lokasi lain, kemampuannya untuk menerawang titik sakit yang diderita para pasiennya hilang. 

“Tiang khawatir Ida Sasuhunan tidak berkenan membuka praktik di luar rumah. Kalaupun saya menyanggupinya, takutnya nanti malah tidak bisa memberikan kesembuhan, tentu akan mengecewakan,” paparnya. 

Proses menangani orang sakit prosesinya terbilang singkat. Seusai doa, Jro Meneng sudah tau apa problem yang sakit (pasien) dan cara mengatasinya, berkat Bethara Dalem yang memberikan petunjuk.

Jadi, Jro Meneng mendapat pawisik ( petunjuk gaib) dari Ida Sasuhunan Bhatara Dalem terkait titik yang bermasalah di tubuh pasien yang datang. 


SINGARAJA, BALI EXPRESS-Jro Komang Meneng, 59, dari Dusun Sema, Desa Patemon, Kecamatan Seririt, namanya kian dikenal lantaran menjadi balian spesialis tulang di Buleleng

Dalam situasi pandemi Covid-19 pun, pasien tak mengurungkan niatnya untuk berobat ke rumahnya. Dalam sehari, ia bisa melayani 80 hingga 150 orang yang punya masalah dengan tulang dan otot, termasuk patah tulang karena musibah.

Pasien yang datang ke rumahnya untuk berobat tidak hanya berasal dari Bali saja. Bahkan ada pula dari luar Bali, seperti Jawa. Tidak itu saja, ada juga beberapa pasien yang malah datang dari luar negeri. Ia pun tidak tahu pasti dari mana mereka mengetahui keberadaannya.

“Malah tamu dari luar negeri juga ada. Terus terang tiang memang belog, tidak tahu, mereka dapat info darimana. Tapi astungkara berkat Ida Bhatara Dalem, pasien bisa diberikan jalan untuk sembuh” jelas Jero Meneng didampingi sang istri, Jro Dalang Made Sri, saat ditemui Bali Express ( Jawa Pos Group), kemarin.

Disinggung mengenai sesajen yang mesti dibawa pasien yang hendak berobat, Jro Meneng mengaku tak pernah mematok sesajen yang dibawa. Ia tetap akan menerima pasien untuk berobat, meskipun tanpa membawa canang sari.

“Saya tidak pernah menekankan harus bawa begini, begitu. Tiang hanya berbakti kepada Ida Sasuhunan. Kemudian menjadi perantara Beliau. Jadi, malah tiang menolak dengan sesari (uang yang biasanya ditaruh di sesajen). Karena memang niat ingin menolong,” akunya.

Tidak jarang pula, ketika ada pasien yang berobat hingga sembuh, mereka memiliki sesangi (kaul) untuk menghaturkan sejumlah uang kepada Jro Meneng. Mau tidak mau, kalau niat yang berobat dari awal seperti itu, ia pun terpaksa menerima, lantaran itu sifatnya kaul.

“Pernah ada pasien begitu (masesangi). Kalau sembuh ia menghaturkan uang. Nah karena itu sifatnya sesangi, mau tidak mau harus diterima. Tetapi tiang memang menolak sesari bagi pamedek. Ini sifatnya pelayanan kepada masyarakat. Dan, tiang hanya ngayah saja sebagai perantara,” katanya lagi.

Jro Meneng tak menampik, berkat kemampuannya itu, tahun 90-an ia sempat ditawari pihak RS Sanglah untuk membuka praktik pengobatan alternatif di rumah sakit tersebut. Hanya saja, tawaran tersebut ia tolak, lantaran ingin fokus melayani secara pribadi di rumahnya.

Ia khawatir, jika membuka praktik usada di lokasi lain, kemampuannya untuk menerawang titik sakit yang diderita para pasiennya hilang. 

“Tiang khawatir Ida Sasuhunan tidak berkenan membuka praktik di luar rumah. Kalaupun saya menyanggupinya, takutnya nanti malah tidak bisa memberikan kesembuhan, tentu akan mengecewakan,” paparnya. 

Proses menangani orang sakit prosesinya terbilang singkat. Seusai doa, Jro Meneng sudah tau apa problem yang sakit (pasien) dan cara mengatasinya, berkat Bethara Dalem yang memberikan petunjuk.

Jadi, Jro Meneng mendapat pawisik ( petunjuk gaib) dari Ida Sasuhunan Bhatara Dalem terkait titik yang bermasalah di tubuh pasien yang datang. 


Most Read

Artikel Terbaru