alexametrics
27.8 C
Denpasar
Saturday, May 28, 2022

Bangun Rumah Satukan Energi Sekala-Niskala, Selaraskan Pemilik & Lahan

SINGARAJA,BALI EXPRESS – Membangun rumah bukan hanya sebatas yang tampak secara fisik, dan mempertimbangkan kualitas material. Dalam agama Hindu, sarana ritual setiap tahapan juga harus diperhatikan. Ritual pembangunan rumah terungkap dalam sejumlah lontar, salah satunya dimuat dalam Lontar Asta Kosala-Kosali.

Akademisi STAHN Mpu Kuturan Singaraja Made Gami Sandi Untara mengatakan, setiap proses tahap pembangunan senantiasa diikuti oleh proses upacara. Mulai dari nyakap palemahan, nasarin dan hingga melaspas setelah bangunan rampung.

Dikatakan Gami, nyakap karang atau palemahan merupakan proses menyatukan secara batin antara pemilik lahan dengan lahan yang akan dipakai perumahan. Ini termuat dalam Lontar Kosala Kosali yang berbunyi: “Sotaning sang ndruwenang tanah palemahan inucap nyakap palemahan punika matatujon prasidane ngawetwang karahayuan karaketan pasilih asih sang ndruwe lawan padruwennya”.

Jika diartikan, terkait dengan sang pemilik tanah untuk perumahan, nyakap pelemahan bertujuan agar dapat mencapai keselamatan dan keselarasan antara sang pemilik tanah dan pemilik rumah.

Dari isi lontar tersebut dapat dimaknai bahwa menyatukan secara batin bertujuan untuk mendapatkan restu dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa bahwa tanah tersebut telah disucikan secara alam skala dan alam niskala.

“Penghuni dapat menemukan kebahagiaan lahir batin bagi seluruh keluarga pemilik pekarangan tersebut. Karena sudah disengker secara niskala sehingga terhindar dari berbagai gangguan,” ujarnya.

Umumnya, banten yang digunakan untuk upacara nyakap karang mulai dari banten piuning. Banten piuning bertujuan untuk melakukan permohonan permakluman ke Pura Kahyangan karena ada proses perubahan status kepemilikan tanah.

“Jika lahan rumah adalah bekas tanah sawah, maka akan dilakukan permakluman/piuning ke ulun carik di Pura Bedugul. Apabila bekas tanah tegalan, maka akan dilakukan upacara piuning ke Pengulun Tegalan di Pura Kahyangan Tiga atau Pura Dangkahyangan,” paparnya.

Jenis banten piuning terdiri dari pras, daksina, ajuman, canang ditambah dengan ngalungsur pakuluh atau air suci di Pura Kahyangan.

Jenis banten dibagi menjadi tiga, diantaranya banten ring sor atau banten caru. Banten ini berfungsi untuk menyucikan pekarangan dari unsur negatif (butha kala). Carunya memakai daging itik warna bulu hitam, maolah sate lembat asem urab barak urab putih selengkapnya.

Caru tersebut dijadikan limang tanding, berisi 33 uang kepeng, masing-masing memakai sengku, laying-layang itik hitam, banten buh dengan alas suyuk dijadikan limang tanding, pras, masesari 27 kepeng. Ada yang menggunakan caru madia, namun tetap disesuaikan dengan kemampuan si pemilik rumah.

Kemudian banten ring laapan bertujuan untuk menyucikan diri pemiliknya dan tanah yang dimilikinya, sehingga terjadi hubungan yang harmonis antara pemilik dengan lahannya. Banten ini terdiri dari sesayut, maulam ayam bulu putih mapanggang pengambean, maulam itik bulu putih maguling, pras, panyeneng, lis selengkapnya.

Banten ke surya (sanggah cucuk). Banten ini diletakkan di bagian hulu upakara.  Tujuannya nunas Guru Saksi Hyang Ciwa Raditya. Jenis banten yang harus ada di sanggah cucuk adalah daksina, suci alit, ajuman putih kuning, canang genten saha runtutannya.

“Kalau sudah semua sarana lengkap, maka sudah bisa dilakukan dengan nunas tirtha pakuluh dengan runtutan ngaturang banten piuning di Pura Kahyangan Ngelarang nganteb banten di laapan, setelah dilakukan upacara upasaksi kepada Ciwa Raditya dengan seperlunya, Ngalarang caru pangerapuh atau panyuda mala. Bila sudah selesai, maka sang pemilik ngaturang bakti kepada seluruh bebanten sampai kepada kegiatan nunas tirtha suci selengkapnya,” ungkapnya.

 






Reporter: I Putu Mardika

SINGARAJA,BALI EXPRESS – Membangun rumah bukan hanya sebatas yang tampak secara fisik, dan mempertimbangkan kualitas material. Dalam agama Hindu, sarana ritual setiap tahapan juga harus diperhatikan. Ritual pembangunan rumah terungkap dalam sejumlah lontar, salah satunya dimuat dalam Lontar Asta Kosala-Kosali.

Akademisi STAHN Mpu Kuturan Singaraja Made Gami Sandi Untara mengatakan, setiap proses tahap pembangunan senantiasa diikuti oleh proses upacara. Mulai dari nyakap palemahan, nasarin dan hingga melaspas setelah bangunan rampung.

Dikatakan Gami, nyakap karang atau palemahan merupakan proses menyatukan secara batin antara pemilik lahan dengan lahan yang akan dipakai perumahan. Ini termuat dalam Lontar Kosala Kosali yang berbunyi: “Sotaning sang ndruwenang tanah palemahan inucap nyakap palemahan punika matatujon prasidane ngawetwang karahayuan karaketan pasilih asih sang ndruwe lawan padruwennya”.

Jika diartikan, terkait dengan sang pemilik tanah untuk perumahan, nyakap pelemahan bertujuan agar dapat mencapai keselamatan dan keselarasan antara sang pemilik tanah dan pemilik rumah.

Dari isi lontar tersebut dapat dimaknai bahwa menyatukan secara batin bertujuan untuk mendapatkan restu dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa bahwa tanah tersebut telah disucikan secara alam skala dan alam niskala.

“Penghuni dapat menemukan kebahagiaan lahir batin bagi seluruh keluarga pemilik pekarangan tersebut. Karena sudah disengker secara niskala sehingga terhindar dari berbagai gangguan,” ujarnya.

Umumnya, banten yang digunakan untuk upacara nyakap karang mulai dari banten piuning. Banten piuning bertujuan untuk melakukan permohonan permakluman ke Pura Kahyangan karena ada proses perubahan status kepemilikan tanah.

“Jika lahan rumah adalah bekas tanah sawah, maka akan dilakukan permakluman/piuning ke ulun carik di Pura Bedugul. Apabila bekas tanah tegalan, maka akan dilakukan upacara piuning ke Pengulun Tegalan di Pura Kahyangan Tiga atau Pura Dangkahyangan,” paparnya.

Jenis banten piuning terdiri dari pras, daksina, ajuman, canang ditambah dengan ngalungsur pakuluh atau air suci di Pura Kahyangan.

Jenis banten dibagi menjadi tiga, diantaranya banten ring sor atau banten caru. Banten ini berfungsi untuk menyucikan pekarangan dari unsur negatif (butha kala). Carunya memakai daging itik warna bulu hitam, maolah sate lembat asem urab barak urab putih selengkapnya.

Caru tersebut dijadikan limang tanding, berisi 33 uang kepeng, masing-masing memakai sengku, laying-layang itik hitam, banten buh dengan alas suyuk dijadikan limang tanding, pras, masesari 27 kepeng. Ada yang menggunakan caru madia, namun tetap disesuaikan dengan kemampuan si pemilik rumah.

Kemudian banten ring laapan bertujuan untuk menyucikan diri pemiliknya dan tanah yang dimilikinya, sehingga terjadi hubungan yang harmonis antara pemilik dengan lahannya. Banten ini terdiri dari sesayut, maulam ayam bulu putih mapanggang pengambean, maulam itik bulu putih maguling, pras, panyeneng, lis selengkapnya.

Banten ke surya (sanggah cucuk). Banten ini diletakkan di bagian hulu upakara.  Tujuannya nunas Guru Saksi Hyang Ciwa Raditya. Jenis banten yang harus ada di sanggah cucuk adalah daksina, suci alit, ajuman putih kuning, canang genten saha runtutannya.

“Kalau sudah semua sarana lengkap, maka sudah bisa dilakukan dengan nunas tirtha pakuluh dengan runtutan ngaturang banten piuning di Pura Kahyangan Ngelarang nganteb banten di laapan, setelah dilakukan upacara upasaksi kepada Ciwa Raditya dengan seperlunya, Ngalarang caru pangerapuh atau panyuda mala. Bila sudah selesai, maka sang pemilik ngaturang bakti kepada seluruh bebanten sampai kepada kegiatan nunas tirtha suci selengkapnya,” ungkapnya.

 






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru

/